
Mentari pagi menyambut bumi dengan cahaya serta kehangatan tersendiri. Membangunkan makhluk di muka bumi untuk segera beraktivitas.
Di salah satu tempat tidur, Amdara masih setia memejamkan mata tanpa berkutik. Sejak kehilangan kesadaran kemarin, dia belum juga bangun. Padahal teman-temannya yang lain sudah sadarkan diri.
Tidak ada yang tahu bahwa sejak Amdara kehilangan kesadaran, sebuah pusaran angin kecil transparan terus mengelilingi Amdara. Membawakan kekuatan alam murni masuk ke tubuh yang secara perlahan menyembuhkan luka dalam dan luar.
Orion dan teman-teman sudah memastikan jika Amdara sudah sembuh. Hanya saja anak itu tidak membuka mata. Entah itu tidur karena terlalu lelah atau karena suatu hal lain.
Inay, Rinai, dan Nada duduk di kursi dekat Amdara. Ketiganya berharap Amdara cepat sadarkan diri. Sementara Dirgan, Atma, dan Aray duduk di kursi lain sambil berbincang.
Inay menyangga dagu menggunakan tangan dan memperhatikan wajah Amdara.
"Apa kau tidak lelah tidur terus, Dara? Haih, cepatlah bangun."
Dalam hati Inay berkata, "kau tidak lupa dengan janjimu membantuku kembali pulang, 'kan?"
Hembusan napas terdengar darinya. Walau duduk berhadapan dengan Rinai, dan Nada tapi dia sama sekali tidak ingin berbicara.
Rinai dan Nada juga hanya diam tanpa memulai percakapan.
Derit pintu terdengar, seseorang menggunakan topeng rubah masuk dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur Amdara.
Sontak kedatangannya membuat mereka bangun dan memberi hormat, terkecuali Amdara.
"Dia baru datang, membuat masalah dan dihukum. Aku bahkan belum sempat bertemu dengannya sejak kemarin, saat datang Luffy malah tidak membuka mata."
Dia adalah Guru Aneh. Mendengar kabar dari beberapa murid dan guru membuatnya terkejut. Apalagi Atma datang dan mengatakan bahwa Amdara sudah kembali.
Tangan kekarnya terurur, mengusap lembut dahi Amdara. Di balik topengnya, dia sedikit mengerutkan dahi.
"Ada aura tak biasa. Aura ini ...."
Mata Amdara bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Biru dan menenangakan bagi Guru Aneh sendiri sampai dia mengingat seseorang.
"Guru ...?"
Guru Aneh baru sadar, dan tersenyum mendengar suara Amdara. Dirinya menarik tangan kembali.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Mn. Lebih baik."
"Syukurlah."
Inay, Rinai, dan Nada terlihat senang melihat Amdara yang sudah sadarkan diri. Inay sebenarnya ingin bertanya, tetapi tidak ingin mengganggu pembicaraan Amdara dan Guru Aneh.
Dirgan, Aray, dan Atma segera mendekat.
Perlahan Amdara duduk, tanpa dicegah siapa pun karena mereka tahu Amdara sudah sembuh.
"Luffy, aku mendengar banyak hal tentangmu. Ada banyak pertanyaan di kepalaku. Tapi pertama aku akan bertanya satu hal, bagaimana perkembanganmu selama ini?"
Amdara tersenyum samar. Dia kemudian berkata, "sangat baik, Guru."
"Hmph. Guru, Luffy baru saja sadar. Tolong jangan tanya dia dulu."
__ADS_1
Perkataan Aray membuat Guru Aneh tertawa kecil, dan mengangguk kecil.
Mendengar perkembangan anak ini baik, jelas Guru Aneh merasa senang sekaligus bangga.
Derit pintu kembali terdengar. Tetua Genta masuk, dan langsung disambut hormat oleh orang-orang di dalam ruangan bahkan Amdara sendiri langsung turun dari tempat tidur.
Tetua Genta mengangkat tangan, petanda bahwa mereka boleh berhenti. Pandangannya beralih ke Amdara yang juga menatap.
"Bagaimana keadaanmu?"
Amdara tersenyum tipis. Kedatangan Tetua Genta mengingatkannya harus pergi ke Klan Ang untuk mencari tahu sesuatu.
"Lebih baik."
Tetua Genta mengangguk. Dirinya kembali berucap, "jika begitu, kita bisa pergi sekarang."
Amdara mengangguk.
"Tentu."
Tetua Genta tersenyum, dia pergi kembali. Dia mengatakan pergi sekarang karena merasa Amdara juga sudah tidak sabar pergi ke Klan Ang walau dirinya baru sadarkan diri.
Kini pandangan semua orang beralih ke Amdara bingung dan penuh tanya.
Aray mendekat dan bertanya, "kau baru saja sadarkan diri dan akan pergi?"
Inay berdecak kesal. "Cih. Aku sudah menunggumu lama dan kau akan pergi bersama Tetua Genta? Wah, benar-benar keterlaluan."
irgan, "Luffy, apa benar kau sudah baik-baik saja?"
Rinai, "huhuhu. Padaha vi viil kita belum mengobrol. Tapi kau akan pergi."
Nada, "apa setelah kau pergi kita bisa mengobrol dan tertawa lagi. Kahkhaa?"
Mereka protes dan tidak terima jika Amdara harus pergi.
Guru Aneh nampak menghela napas, menatap Amdara. Dirinya berkata, "jaga dirimu baik-baik."
Amdara mengangguk dan memberikan hormat tanpa peduli dengan ucapan teman-temannya.
"Murid izin mengundurkan diri, Guru."
Guru Aneh mengangguk. Membiarkan murid satu ini pergi.
"Maaf, aku harus segera pergi."
Kata Amdara menatap satu persatu teman-temannya. Dia kemudian melangkah keluar pintu, mencari Tetua Genta.
Tetua Genta berada di samping pohon besar depan Akademi. Dia nampak menunggu Amdara dengan tenang.
Amdara memanggil Tetua Genta, dan langsung menoleh. Amdara memberikan hormat.
Tetua Genta mengangguk, dan langsung mengajak Amdara pergi keluar Akademi.
Klan Ang berada tidak jauh dari Akademi Magic Awan Langit. Hanya membutuhkan beberapa jam jika terbang dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Di perjalanan, Tetua Genta mulai menjelaskan mengenai Klan Ang.
"Nak, Klan Ang adalah pengendali angin hebat di Negeri Nirwana Bumi. Keturunannya memang lebih mengutamakan kekuatan angin, daripada kekuatan yang lain."
Dalam hal pendidikan, Tetua dari Klan Ang mewajibkan anak berumur 4 tahun untuk mulai berlatih hal yang paling dasar. Cara pelatihannya tidak ada yang tahu karena tertutup. Namun, anak-anak dari Klan Ang sudah memiliki kemampuan luar biasa.
Akan tetapi mereka lebih memprioritaskan kekuatan angin, daripada kekuatan lain. Karena mereka berpikir bahwa jurus untuk membuat angin dari Klan Ang sudah cukup hebat. Hanya perlu mengembangkannya dan terus berlatih keras.
Klan Ang kebanyakan memiliki sifat dingin dan cermat. Mereka jarang sekali bergaul dengan orang luar jika bukan karena kepentingan. Karena sifat inilah, banyak yang tidak suka dan menganggap mereka sombong. Walau banyak juga yang menyegani Klan Ang.
Tetua Genta menarik napas dalam dan tersenyum kecut. Dia sedikit menunduk mengingat sesuatu.
Amdara menangkap itu semua. Dirinya bertanya, "Tetua, ada apa?"
Tetua Genta menoleh, dan menggeleng pelan.
"Tidak ada. Aku hanya teringat cerita Tetua Besar Moksa."
Amdara hanya diam, menunggu Tetua Genta menceritakannya sendiri.
Selang lima menit, Tetua Genta akhirnya bercerita.
"Ada satu orang dari Klan Ang yang sangat hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Kekuatannya cukup membuat orang membeku saat melihat sekilas tatapan matanya."
Tetua Genta mengedarkan pandangan. Tidak terasa sudah cukup jauh dari Akademi karena mereka terbang dengan kecepatan tinggi. Dirinya juga berdecak kagum Amdara bisa mengikutinya.
Angin berhembus menerpa wajah putih Amdara. Dia terlihat memejamkan mata sesaat dan membukanya lagi perlahan. Angin meniup-niupkan rambut putih dan ikat rambut corak naga.
Sekilas Tetua Genta melihatnya mengerutkan dahi.
"Tetua Besar Moksa sangat mengagumi orang itu. Dia memiliki mata biru dan berambut putih. Mungkin seperti kau."
Amdara menaikkan sebelah alis. Memikirkan ucapan Tetua Genta. Dirinya juga jadi teringat Tetua Besar Moksa pernah mengatakannya mirip dengan seseorang ... Sang Langit!
"Dia diberi gelar Sang Langit. Sudah menjadi legenda luar biasa sampai sekarang." Tetua Genta tersenyum tipis. Memandang ke depan tenang. Bibirnya mulai terbuka dan berbicara kembali.
"Bukan hanya kekuatan, tetapi karena suatu hal besar. Beliau menghentikan kekacauan Makhluk Mengerikan. Kekuatan besar itu membuat beberapa orang berpikir berbeda dan berusaha mengambil kekuatan tersebut. Dan pada akhirnya entah apa yang terjadi padanya sampai kekuatannya diambil oleh orang-orang jahat. Di saat itu juga orang-orang tidak lagi melambungkan namanya, mereka menghindar, dan pergi meninggalkan."
Tetua Genta menarik napas setelah mengatakan banyak hal. Membuang pandangan.
"Sang Langit pergi entah kemana. Tidak ada yang tahu setelah kejadian itu."
Tetua Genta menatap ke atas, matahari cukup terik siang ini. Namun, dirinya bisa menggunakan kekuatan untuk membuat hawa sekitar lebih sejuk. Namun, tiba-tiba hawa dingin mulai terasa. Sampai membuatnya tersentak dan segera menoleh ke arah samping.
Amdara ternyata tengah menunduk, matanya berubah menjadi putih. Aura es dan angin bercampur jadi satu mengelilinginya. Dia tidak tahu bahwa sekarang Tetua Genta sampai menahan napas merasakan tekanan.
"Tetua, mengapa orang-orang melakukannya pada Sang Langit?"
Nada suara Amdara terdengar jauh lebih dingin. Dia bahkan tanpa menoleh saat bertanya. Pikirannya tengah sedikit kacau. Perasaan Amdara mendadak sesak.
"Mereka tidak lagi menganggap Sang Langit sebagai pahlawan karena kekuatannya telah terserap musuh."
Kepalan tangan terlihat di tangan Amdara. Menelan ludah saja rasanya sangat sulit saat ini. Bibirnya bungkam. Matanya kembali seperti semula. Dia lebih mencepatkan langkah kaki untuk melesat.
Tetua Genta jelas tersentak. Dia bisa melihat angin di sekitar yang dilewati Amdara sedikit berubah menjadi es. Tetua Genta menggeleng dan membatin.
__ADS_1
"Apa aku salah mengajaknya ke Klan Ang? Sekarang dia lebih mendominasi kekuatan es."