Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
225 - Sesuatu yang Tidak Terduga II


__ADS_3

Tetua Rasmi memutuskan menginap untuk membantu mengistirahatkan Amdara. Dirinya jadi merasa iba karena kondisi Amdara yang tidak sehat karena berpikir bocah itu masih syok atas penjelasan sesepuh Klan Ang. Bahkan Amdara sampai melampiaskan dengan makan sebanyak dua puluh mangkuk nasi beserta lauk pauk.


Tetua Rasmi memesankan kamar sendiri untuk ketiga murid. Mungkin mereka sudah istirahat sekarang.


Saat ini Tetua Rasmi memutuskan untuk pergi ke tempat lain yang jaraknya tidak jauh dari penginapan.


Malam tenang di desa tersebut terasa seperti sebuah anugerah. Hembusan angin dingin mulai membawa perasaan tidak tenang bagi beberapa orang. Semakin larut, semakin kegelisahan mulai muncul.


Di penginapan, masih ada yang berada di lantai dasar untuk makan. Mereka masih merasa tenang tanpa tahu bahwa akan ada bahaya datang.


Asap hitam dengan bau tidak sedap mulai muncul dari tanah. Menyeruak, menghalangi pandangan tiba-tiba. Sesosok makhluk mengerikan muncul dari balik asap. Bermata merah menyala menatap nyalang ke depan. Tubuhnya hitam berbulu, dengan tanduk di kepala.


Dia menggeram, menyeramkan. Sampai beberapa orang yang mendengar geraman itu langsung berlari mencari sumber suara.


Makhluk tersebut adalah Roh Hitam. Dia tidak sendiri, melainkan ada lima Roh Hitam yang kemudian muncul. Mahluk-mahluk itu menggeram, dan pergi ke tempat berbeda.


Orang-orang yang melihatnya menahan napas melihat besar tubuh Roh Hitam. Seketika mereka berteriak kencang, meminta pertolongan.


"Roh Hitam ...! Ada Roh Hitam ...!"


Suara beberapa warga membangunkan orang yang sedang tertidur. Buru-buru mereka pergi untuk menyaksikan sendiri.


Orang-orang langsung bekerjasama untuk menyerang. Mereka mengeluarkan kekuatan tidak main-main untuk mengalahkan makhluk tersebut.


Dalam sekejap, malam hening dan menenangkan berubah menjadi suara debaman dan ledakan besar. Kekuatan nyasar sampai menghancurkan sebuah rumah.


Satu Roh Hitam menuju penginapan yang ditempati Cakra dan yang lain. Orang-orang di dalam penginapan sontak langsung gemetar melihat Roh Hitam. Mereka ada yang lari bersembunyi, tapi ada juga yang langsung melesatkan serangan untuk melindungi.


Cakra dan Shi merasakan adanya bahaya. Keduanya keluar kamar dan melihat ke lantai dasar. Terkejut bukan main menyaksikan Roh Hitam yang benar-benar kuat bahkan ketika dihantam oleh kekuatan dahsyat.


"Roh Hitam."


Cakra mengepalkan tangan kuat. Tatapannya menajam dan langsung melesat menyerang.


Sebuah petir muncul ketika jarinya bergerak. Menghantam tubuh Roh Hitam cepat. Sesaat, Roh Hitam merasakan tubuhnya merasakan sakit. Mata merahnya langsung tertuju pada manusia yang telah menggunakan kekuatan petir.


Dia menggeram keras, mengeluarkan asap hitam sebagai senjata dan melesatkannya ke Cakra yang langsung mengelak cepat.

__ADS_1


Shi juga turut turun tangan membantu. Kekuatannya jauh lebih besar saat ini. Dia sampai membuat gedung penginapan bergetar hebat.


Cakra dan Shi lah yang sekarang secara cepat menguasai pertarungan. Keduanya sengaja memancing Roh Hitam keluar penginapan agar mudah menyerang.


Petir menyambar di mana-mana. Cakra dan Shi melihat sendiri bagaimana warga juga melawan Roh Hitam di tempat lain. Ledakan demi ledakan terus berlangsung lama.


"Ada berapa Roh Hitam yang muncul?!"


Shi melesatkan serangan secara gesit. Pertanyaannya barusan dijawab oleh salah satu warga yang sedang membantu menyerang.


"Ini pertama kalinya desa kami diserang. Jadi kami tidak tahu, Nona."


Shi mendesis mendengar jawaban. Dia melakukan gerakan sebuah jurus, kemudian siluet merah muda dari langit jatuh tepat mengenai Roh Hitam yang baru saja dihantam kekuatan listrik.


BAAM!


Roh Hitam menggeram kesakitan. Tubuhnya ambruk seketika. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Cakra melakukan serangan beruntun.


"Kuserahkan padamu, Cakra. Aku akan membantu warga lain."


Shi melesat setelah mengatakan hal barusan.


Hanya satu orang yang masih tertidur dengan begitu nyenyak di situasi ini. Entah memang terlalu terlelap atau ada hal lain di alam bawah sadarnya.


Dia adalah Amdara. Walau penginapan beberapa kali terkena guncangan, akan tetapi dia masih belum sadarkan diri dari mimpi.


Wajahnya terlihat tenang, dan kelelahan. Di dunia nyata memang begitu, akan tetapi alam bawah sadarnya berbanding balik.


Di alam bawah sadar, Amdara tiba-tiba disuguhkan pemandangan mengerikan. Di mana sebuah perang besar terjadi antara manusia dengan mahkluk mengerikan.


Perlahan kakinya mundur. Mengedarkan pandangan takut. Pemdangan mengerikan ini sungguh mengguncang jiwa.


Banyak manusia tewas dengan keadaan mengenaskan. Baik dari anak kecil atau orang tua, banyak yang tidak selamat. Sementara orang dewasa sudah terluka parah akibat serangan musuh.


Keadaan benar-benar kacau. Tanah sudah seperti genangan darah. Hujan yang tiada henti terus mengguyur bumi. Awan gelap telah menghalangi sang mentari. Tidak terlihat jelas apakah saat itu siang hari atau malam. Suara teriakkan kesakitan memekakkan telinga. Debaman, petir yang menyambar serta ledakan yang tidak pernah berhenti terus berlangsung lama.


Di sana, Amdara terbang dengan keadaan lemas. Dia tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi melihat banyak orang yang ia kenal telah binasa dalam sekejap mata oleh mahluk mengerikan itu.

__ADS_1


"A-apa yang terjadi?"


Napasnya naik turun tidak karuan. Keringat dingin sudah bercucuran membasahi tubuh. Dia menggeleng, perasaan takut mulai menggerogoti.


Perang ini bukan hanya dari Negeri Nirwana Bumi, tapi semua negeri tengah berperang melawan makhluk itu. Kehancuran yang belum pernah Amdara lihat selama hidupnya.


Netranya melihat seorang pria yang sudah terluka parah berusaha melindungi seorang gadis. Dia kemudian menyerang musuh dengan sisa kekuatan, akan tetapi tidak sadar ada serangan lain dari arah tidak terduga.


Amdara membulatkan mata. Tubuhnya ingin menyelamatkan pria itu, tapi tubuhnya sangat kaku tidak bisa digerakkan.


"Tidak. Tetua Bram ...!"


Darah mencuat dari kepala orang yang dia teriaki. Hancur, terkena serangan dahsyat.


Bagai sambaran petir di hati Amdara, ambruk lemas. Menyaksikan Tetua Bram lenyap dalam sekejap mata. Amdara menggeleng, berusaha menguatkan diri.


"A-apa? Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak!"


Buliran bening mulai menggenang di pelupuk mata, sampai akhirnya mengalir melewati pipi. Tangannya terkepal, bersama giginya yang bergemerutuk.


Suara perang masih terdengar di indera pendengaran. Amdara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, saat ini hatinya sedang dilanda kesedihan mendalam.


"Luffy, tolong kami. Akhhh, sakit ...!"


"Kau harus menolong kami, Luffy. Cepat ...! Aku tidak bisa menahan serangan ini."


"Amdara, cepat lawan musuh dan hentikan perang ini. Kumohon, Dara. Aaaakhhh ...!"


Suara permintaan tolong disertai jeritan kesakitan terdengar. Itu adalah suara dari teman-teman Amdara. Bahkan Tetua dari Akademi Magic Awan Langit turut meneriakinya untuk membantu mereka.


Seketika Amdara mendongak, tapi saat itu juga netranya melihat tewasnya teman-teman dengan satu serangan musuh.


"A-apa?! Tidak ...!"


Tangannya hanya mampu bergerak. Tapi tubuhnya seperti ditahan oleh sesuatu. Tangisnya kali ini benar-benar deras. Hatinya pilu menyaksikan perang ini.


Dia menunduk ketakutan. Perasaan sedih dan bersalah mulai menyelimuti karena tidak bisa membantu. Dia hanya bisa menangis, tidak bisa berbuat apa pun.

__ADS_1


"Siapa yang akan kau pilih?"


__ADS_2