Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
142 - Hutan


__ADS_3

Serangan yang dilesatkan Amdara bukan mengenai Shi, melainkan akar pohon yang bergerak liar hendak mengenai tubuh Shi jika saja Amdara tidak langsung melesatkan serangan. Shi tersentak, sontak membalikkan badan. Matanya terbuka lebar melihat sekarang banyak akar hendak menyerang.


"A-apa itu?!"


Shi menelan ludah susah payah. Tanpa sadar berdiri di belakang Amdara yang bersiap menyerang kembali. Cakra juga bersiap. Dia bahkan tidak menyadari ada pergerakan lawan. Bocah laki-laki itu melempar kekuatan petir ke arah akar pohon itu. Namun, sesuatu tak terduga terjadi.


Akar-akar itu malah semakin liar bergerak. Salah satunya bahkan nyaris menarik kaki Shi jika Amdara tidak segera menolong. Akar-akar pohon itu jadi lebih agresif setelah terkena serangan.


"B-bagaimana ini?"


Shi dibuat gemetar. Tapi bukan karena merasa takut, melainkan udara sekitar berhembus lebih dingin dari biasanya.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Amdara mencoba menenangkan. Dia masih belum memberi tindakan. Tangan Amdara terangkat dan memberi aba-aba kepada Shi dan juga Cakra yang seolah mengerti langsung mengangguk tanpa pikir panjang.


Shi berusaha menahan gemetar. Dia berjejer dengan Amdara, bersiap mengeluarkan jurus untuk melaawan.


Amdara menarik napas dalam sebelum berkata tanpa nada, "siap, lari!"


Amdara dengan kecepatan tinggi melesat pergi meninggalkan kedua temannya yang terkejut bukan main. Bahkan Shi yang nyaris terjungkal karena kehilangan keseimbangan belum sempat pergi. Masih tidak menyangka dengan ucapan bocah berambut putih itu.


"Tunggu apa? Cepat."


Cakra terakhir kali melempar petir ke arah akar-akar pohon yang langsung bergerak agresif tanpa tentu arah. Shi sontak menghindar saat satu akar hendak menebas tepat di wajahnya.


"He-hei, kalian ...! T-tunggu aku ...! Kenapa kita malah melarikan diri?! Bukankah seharusnya melawan akar-akar itu sampai habis?!"


Shi hampir saja menangis karena jaraknya dengan jarak Amdara dan Cakra sudah cukup jauh. Belum lagi sekarang akar-akar pohon yang seperti memiliki pemikiran sendiri malah mengejar Shi dengan cepat.


"Ada apa dengan akar-akar ini?! Kenapa terus mengejarku?! Hei, pergi jauh-jauh dariku sana ...!"

__ADS_1


Kaki kiri Shi terlilit salah satu akar yang ternyata sangat lentur. Shi membelalakkan mata, kakinya mencoba melepaskan diri dari akar tersebut tapi sangat sulit. Dengan buru-buru Shi melesatkan serangan pada akar tersebut yang langsung terpotong tapi akar yang mengikat kakinya belum lepas juga.


Shi langsung menambah kecepatan terbang ketika akar-akar lain lebih agresif lagi dan langsung pergi menyerang Shi yang sudah gelagapan ketakutan. Jantung Shi sudah berdetak lebih keras dari sebelumnya, napasnya juga tidak beraturan. Apalagi suasana sangat sepi, bahkan Amdara dan Cakra sudah tidak terlihat lagi.


"Luffy, Cakra tunggu aku ...! Kalian apa benar-benar melupakanku di sini?! Hua ...!"


Shi sekuat tenaga berlari terus menerus, sampai-sampai pohon di depannya dia tebas menggunakan kekuatan. Tanpa dia sadari, bahkan sekarang tingkatan kecepatan terbangnya meningkat. Kepekaannya juga teruji saat ini. Shi tidak menoleh ke belakang, fokus ke depan mencari di mana Amdara dan Cakra sekarang berada.


Shi berteriak, tapi baik Amdara maupun Cakra tidak ada yang menjawab. Keduanya sepakat membiarkan Shi mengatasi akar-akar tersebut. Karena yakin Shi sebenarnya bisa menghabisi akar-akar itu.


Amdara terus meningkatkan kecepatan terbang, di belakangnya Cakra sudah menyusul. Cakra lalu mendekati Amdara yang tidak mengatakan mengapa dia memilih melarikan diri daripada melawan tapi nampaknya Cakra tahu mengapa dia melakukan ini.


Bukan hanya akan menghabiskan waktu lama hanya untuk meladeni akar-akar tidak penting itu. Saat ini mereka juga tidak boleh memancing keributan, takutnya Siluman-siluman di sini mengetahui keberadaan mereka bukan tidak mungkin akan terjadi pertarungan besar lagi. Kondisi malam hari tentu jauh lebih sulit untuk mereka melawan para Siluman. Untuk itulah, Amdara memilih melarikan diri dan membiarkan Shi yang mengatasinya juga untuk melatih diri Shi sendiri.


"Kapan kau mengajariku membuat portal?"


Cakra buka suara. Dia membuat Amdara seketika menolah dan berkata tanpa nada, "mn, kau harus bisa sangat fokus."


Perkataan Cakra membuat Amdara kemudian menyalurkan kekuatannya kepada Cakra yang terkejut bukan main. Tubuh Cakra seperti disengat oleh sesuatu yang menyakitkan dan juga membuatnya melemas saat itu juga.


"Fokus," satu kata dari Amdara samar-samar masih didengar Cakra yang menelan ludah kesulitan.


Cakra menggelengkan kepala, nyaris tidak mampu mengontrol kekuatan yang membludak dalam tubuh. Rasa sakit semakin menjalar sampai ke otak. Dia mengepalkan tangan, terbangpun mulai melambat.


Amdara yang melihatnya mendengus. Dia mengatakan bahwa membuat portal untuk seorang pemula seperti Cakra memang sangat sulit. Di waktu apa pun harus selalu fokus, tidak boleh terpengaruh oleh keadaan dalam tubuh dan juga luar. Jika Cakra tidak mampu mengendalikan kekuatan dalam tubuhnya maka, bisa dikatakan metode pembelajaran pertama yang diajarkan Amdara gagal.


Amdara kemudian menarik kekuatannya, dan berkata tanpa nada, "kau tidak bisa melakukannya."


Cakra mengatur pernapasan, setelah kekuatan asing itu diambil Amdara, tubuh Cakra jauh lebih ringan dan juga kembali seperti semula. Cakra bertanya apa yang sebenarnya Amdara katakan.

__ADS_1


"Apa hanya dengan menguji kefokusan dan aku langsung gagal?"


Amdara mengangguk tanpa memedulikan raut wajah Cakra yang agar berbeda dari sebelumnya. Amdara berujar, "satu hal yang kuajarkan, kau langsung gagal."


Cakra tersedak dia kemudian membalas perkataan Amdara tidak mau terima. "Bagaimana mungkin? Aku bisa menahannya lebih lama."


Namun, Amdara lagi-lagi hanya menggelengkan kepala. Dan mengatakan sesuatu yang langsung membuat Cakra seketika tidak bersemangat.


"Kau tidak mampu, yang ada tubuhmu meledak."


Kekuatan Amdara memang cukup istimewa sama seperti tubuhnya. Lima menit, jika seseorang tetap tidak bisa mengontrolnya dan melakukan kefokusan maka sudah bisa dianggap gagal total. Pelajaran yang Amdara berikan mengenai cara Cakra mengingat suatu tempat dengan begitu detail, lalu menggunakan kekuatan untuk mencoba mewujudkan tempat yang dipikirkan itu.


Cakra yang mendengarnya menggeleng tidak percaya. Dia merasa sangat mustahil untuk melakukan hal tersebut. Jawaban Cakra membuat Amdara mendengus kesal.


"Kelemahanmu sekarang terlihat. Kau berpikir hal yang tidak mungkin bisa dilakukan. Tapi kau belum sempat mencoba."


Amdara menggelengkan kepala. Dia tidak menghiraukan Cakra yang seketika menghentikan langkah terbang. Mencerna ucapan Amdara yang menusuk hati Cakra.


Suara Shi terdengar dari belakang, dalam beberapa menit akhirnya bocah perempuan itu terlihat ngos-ngosan sambil terus melesat terbang di samping Amdara. Nyatanya untuk mengurus akar-akar pohon itu tidaklah mudah seperti yang dipikirkan Amdara sebelumnya.


Shi harus mengeluarkan banyak kekuatan, dan sialnya salah satu siluman berhasil menemukan keberadaan Shi. Karena waktu itu Shi kebablasan menggunakan kekuatan, akhirnya dalam beberapa jurus bisa langsung melenyapkan siluman itu. Shi terus saja bercerita kepada Amdara yang hanya menanggapi dengan gumaman atau anggukan kepala.


"H-haih, yang tadi itu hampir saja." Shi mengusap keringat di dahi menggunakan punggung tangan. Dia kembali berkata, "kenapa kau meninggalkanku, hah?! Luffy, jika aku tidak kuat maka lenyap sudah aku dihabisi akar-akar tidak waras itu."


"Senior memang kuat."


Shi berkedip mendengar tiga kata tanpa nada dari Amdara yang sama sekali tidak menoleh. Shi mengelus dada sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu membatin, "kenapa kau menyebalkan? Bukankah seharusnya kau mengkhawatirkan seniormu ini? Ya Tuhan, mengapa aku dipertemukan dengan orang-orang yang hemat bicara ini?"


Shi menoleh ke belakang di mana Cakra yang juga diam tidak menanggapi. Bertambah sesak hati Shi melihatnya.

__ADS_1


Ketiga bocah itu terus melajukan terbang, tanpa henti dan merasakan kelelahan sama sekali. Saat ini ketiganya hanya terbang lurus, walaupun tidak tahu arah ke kediaman Tetua Haki, tapi ketiga bocah itu masih bersikap santai dan yakin bisa menemukan kediaman Tetua Haki.


__ADS_2