Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
114 - Serangan Dari Lawan


__ADS_3

Serangan dahsyat begitu tiba-tiba tersebut membuat para penonton sangat menikmati pertandingan. Mereka mengira pertandingan ini akan membosankan, nyatanya mereka malah dibuat tidak menyangka dengan serangan dari kelompok kelas Satu C yang nyaris mengalahkan kelas Dua I yang nyaris keluar dari arena pertandingan. Namun, sekarang keadaan malah berbanding balik. Kelompok kelas Dua I melesatkan serangan dahsyat yang sulit dihindari oleh kelompok kelas Satu C.


BAAM!


Debaman keras terjadi ketika lima puluh dedaunan sekaligus jurus milik Yaji melesat ke arah kelompok kelas Satu C. Tidak sampai di sana, Opi yang biasanya tenang menghantamkan tanaman merambatnya ke arah lawan tanpa peduli apa pun.


Asap mengepul di udara. Arena pertandingan sebagian sudah hancur. Semua orang yang melihatnya nampak tidak percaya. Serangan dahsyat itu tidak bisa dihindari, jika pun membuat perisai pelindung pasti akan pecah seketika.


"Apa?! Apa yang terjadi dengan kelas satu C itu?!"


"Mereka tidak akan selamat!"


"Hei, cepat menyerah saja! Aku sungguh tidak tega melihat kalian mendapat luka parah ...!"


Teriakan-teriakan terdengar bersahut-sahutan. Para penonton sampai menahan napas ketika serangan besar tersebut terjadi.


Mereka ada yang merinding sendiri melihatnya. Bahkan para peserta juga dibuat terperanjat kaget. Ketegangan terjadi ketika asap hitam tidak juga menghilang.


Salah satu peserta yakni Mega sampai berdiri dan tidak sempat memperingati Amdara yang entah kini keadaannya seperti apa. Responnya barusan membuat teman-temannya mengerutkan alis.


Salah satu teman Mega berceletuk, "Mega, kau seperti mengenal mereka saja."


Mega yang sedang dibuat risau menoleh ke belakang dan berdecak kesal. Dia tentu saja kenal Amdara, bocah yang menurutnya pemberani layaknya pahlawan. Bocah yang telah menerima seribu lebih cambukan untuk membantu temannya. Bocah yang telah mengalahkan Bena, dan bocah yang telah memberikan Mega sekantung emas.


"Dia sudah kuanggap adik sendiri. Luffy, dia anak baik asal kalian tahu!"


Mega berkacak pinggang menatap temannya dengan emosi. Dia membuat teman-temannya mengedutkan sebelah alis tidak menyangka dengan ucapan Mega.


"Adik? Kau menganggap bocah lemah sebagai adik?" Teman Mega menyela. Dia nampak tersenyum miring ke arah Mega yang kini bersungut-sungut mendengarnya.


"Dia tidak lemah! Luffy itu jauh dari bayangan kalian semua. Apa kalian lupa bahwa dia pernah mengalahkan Bena dengan kekuatan dahsyatnya?!"


Suara menggelegar Mega membuat teman-temannya seketika membeku. Mengingat bocah berambut putih yang telah berhasil mengalahkan Bena dengan kekuatan angin.


Mega yang berteriak itu jelas mengundang perhatian. Beberapa yang mendengarnya nampak jadi mengingat Bena kalah dari seorang bocah dari Kelas Satu C.


Kini Bena yang menjadi pusat perhatian karena mulut Mega berdecak kesal. Bena mengepalkan tangan tidak suka. Dirinya mengalihkan pandangan, tidak ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Kuakui kekuatan bocah berambut putih itu memang besar." Sewaktu melawan Amdara, Bena awalnya tidak merasakan kekuatan besar. Setelah selama ini dia merenungkan perbuatannya, Bena pernah menyinggung orang tua Amdara. Dan hal tersebut membuat kekuatan lawan jadi sangat besar sampai Bena tidak bisa menduga serangan lanjutan.


Tatapan Bena tertuju pada arena pertandingan. Perasaan Bena mengatakan bocah berambut putih akan bertahan sampai akhir. Tidak tahu apakah akan memenangkan pertandingan atau tidak, tapi Bena tahu Amdara memiliki kekuatan besar.


Guru Aneh yang melihat dengan mata kepala sendiri sontak berdiri. Menyaksikan murid didiknya yang mungkin sudah terluka parah karena hantaman dan debaman keras barusan. Kecemasan menyelimuti Guru Aneh, dia mengepalkan tangan.


"Kalian, bertahanlah."


Guru Aneh sekarang hanya bisa berdoa agar murid-muridnya tidak akan tewas dalam serangan ini. Harusnya Guru Aneh lebih banyak membuat strategi agar kesempatan mengalahkan lawan bisa terjadi dengan cepat. Sekarang dia menyesal karena tidak membuat banyak rencana.


Para Tetua juga nampak terlonjak kaget. Mereka melihat kekuatan besar Opi dan Yaji.


Tetua Widya mengusap tengkuknya melihat pemandangan barusan. "Baru kali ini aku melihat kelas Satu C benar-benar mendapatkan serangan dahsyat."


Tetua Rasmi mengangguk setuju. Dia menyilangkan kaki, dan menatap penuh kasihan pada kelompok kelas Satu C.


"Aku yakin setelah ini mereka akan langsung dibawa ke ruang perawatan."


Perkataan Tetua Rasmi memang tidak salah. Dia juga menduga kelas Satu C sudah tidak berdaya sekarang.


"Pada dasarnya mereka memang belum mampu." Tetua Genta mengembuskan napas. Dia mengetuk-etuk jari di paha sambil terus mengawasi pertandingan.


Tetua Rasmi bertanya apa yang membuat Tetua Haki yakin ada yang bertahan dari serangan dahsyat itu. Namun, Tetua Haki malah menunjuk ke arena pertandingan dengan dagunya.


Di arena pertandingan sendiri, asap masih mengepul menghalangi pandangan dari luar. Yuji mengatur pernapasan, dia mundur beberapa langkah. Karena jurus dedaunan miliknya, debaman jadi terdengar banyak dan juga besar.


Opi menghilangkan tanaman merambat miliknya. Dia seketika sadar telah kehilangan ketenangan akibat serangan dari lawan sebelumnya. Opi menggeleng, sungguh barusan serangan yang refleks.


Teman-temannya membeku di tempat. Tidak melakukan penyerangan lagi. Takut-takut jika sampai melanggar aturan, mereka akan langsung dikeluarkan. Walaupun sebelumnya mereka yang menerima akan mendapat serangan, tapi tentu tidak menduga serangan lawan nyaris membuat mereka kalah telak.


Harap-harap cemas menunggu asap mengepul di udara menghilang. Mereka tidak mengalihkan perhatian ke depan.


Tepat ketika asap mulai menghilang. Sebuah kurungan besar yang terbuat dari rambut dan diselimuti kekuatan perisai pelindung serta pusaran angin tipis yang mengelilingi membuat siapa pun yang melihatnya terbelalak kaget.


"Apa?! Bagaimana mungkin mereka bisa menahan seranganku?!"


Yuji tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Dia sama dengan Opi dan teman-temannya yang lain. Dia bahkan sampai termundur beberapa kali.

__ADS_1


Ketika perisai buatan kelompok kelas Satu C perlahan memudar, memperlihatkan wajah-wajah polos yang tanpa luka sedikit pun terkecuali Aray yang ambruk. Dia meneteskan darah dari dalam mulut. Karena terlalu memaksakan diri membuat perisai pelindung yang kuat. Sontak Atma yang melihatnya langsung membantu Aray agar berdiri.


Keadaan Inay juga sama, dia dibantu oleh Nada agar tidak terjatuh. Amdara sendiri bisa langsung menyerap kekuatan alam agar memulihkan kekuatan.


Angin meniup-niup ikat rambut Amdara yang dia pakai. Ikat rambut berukiran naga emas.


Dirgan menanyakan keadaan Amdara yang dijawab baik-baik saja oleh Amdara. Beruntung mereka menyatukan kekuatan untuk membuat perisai pelindung dari serangan.


Melihat keadaan teman-temannya, Dirgan berniat mengajak teman-temannya untuk menyerah. Karena keselamatan mereka jauh lebih penting. Menyerang menggunakan strategi awal sungguh luar biasa baginya yang baru pertama kali bisa melesatkan serangan.


Namun, tiba-tiba saja terlihat pergerakan Yuji yang kembali melesatkan dedaunan. Begitu pula dengan Opi bersiap menghantamkan tanaman merambat. Kali ini dua kembar Kic dan Koc juga sudah bersiap membuat perisai pelindung.


Amdara yang melihatnya dengan cepat membuat perisai pelindung kembali dengan kekuatan besar.


"Ketua Kelas, belum bisa mundur. Kau atur yang lain. Aku akan melawan dari depan langsung."


Setelah berkata demikian, Amdara kemudian menggunakan portal tanpa menunggu jawaban Dirgan. Amdara muncul tepat sebelum Opi menghantamkan serangan. Dia dengan cepat menendang dada Opi dengan memusatkan kekuatan pada kaki. Amdara secara bersamaan juga melesatkan jurus menyerang Yuji yang melesatkan dedaunan.


"Kilatan Angin Aliran Pertama."


Sebuah pusaran angin berwana biru terlihat tajam melesat ke arah dedaunan milik Yuji yang langsung terlental dan ada yang nyasar ke area penonton. Debaman-debaman terdengar, pusaran angin milik Amdara kemudian menuju Yuji dengan cepat langsung terpental ke belakang.


Melihat pusaran angin tersebut, sontak Kic dan Koc langsung membuat perisai terkuat mereka. Angin milik Amdara berbenturan keras dengan perisai milik keduanya hingga memercikkan api.


Opi juga terpental akibat tendangan keras dari Amdara. Dia sampai merasakan ada yang retak di bagian dada, sampai dirinya memuntahkan darah segar.


Amdara termundur. Dia mengatur pernapasan. Kekuatannya terkuras habis, perlahan dia menyerap kekuatan alam kembali. Namun, dadanya terasa sesak. Amdara memegang dadanya.


"Tidak. Ini belum berakhir."


Rinai segera membantu Amdara yang berada di depan. Teman-temannya terkejut dengan serangan Amdara barusan.


Begitu pula dengan Opi dan Yuji yang langsung dibantu oleh rekan. Mereka nampak masih syok dengan apa yang terjadi. Lasi menatap tajam Amdara, tepat saat Amdara melihat mata Lasi, dia langsung membeku hanyut dalam jurus mata milik Lasi.


Rinai yang tidak tahu Amdara terkena serangan mata berkali-kali memanggil Amdara yang diam tidak merespon dengan mata yang mulai tertutup. Tubuh Amdara lemas, Rinai yang kesulitan menyangga tubuh Amdara langsung meminta bantuan Dirgan untuk membawa Amdara ke belakang.


Keadaan jadi runyam sekarang. Aray, Atma, Inay, Nada segera menghampiri Amdara yang didudukkan sambil menyender pada Rinai. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka bisa tebak adalah Amdara terlalu banyak mengeluarkan kekuatan.

__ADS_1


Sementara jurus angin Amdara mulai menghilang. Pertandingan belum usai. Terlihat Rara yang wajahnya merah karena marah tidak terima temannya terluka berlari. Kakinya yang berpijak pada arena pertandingan yang sudah hancur terlihat langsung meleleh seketika.


Lusi juga nampak berlari, dia menatap tajam kelompok kelas Satu C yang tidak menyadari keduanya sedang mengincar mereka dengan kekuatan mengerikan.


__ADS_2