Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
32 Tawaran


__ADS_3

Amdara tersentak saat mendengar penuturan Nenek Nian. Dia tidak menyangka tidak sadarkan selama dua hari. Pikirannya kini tertuju pada keadaan teman-temannya yang entah berada di mana. Perasaan Amdara benar-benar berkecambuk. Dia menyalahkan diri sendiri yang tidak berguna. Menyalahkan diri sendiri yang lemah sampai terpukul mundur oleh lawan dan sekarang karena tidak sadarkan diri entah bagaimana keadaan teman-temannya.


Amdara segera bangkit, walaupun tubuhnya masih lemas dan luka dalamnya yang kini belum sembuh total. Nenek Nian meminta Amdara agar beristirahat sebentar karena kondisi Amdara yang belum pulih dan benar sajan Amdara merasakan kepalanya yang pusing tiba-tiba. Bocah berambut putih tersebut terduduk di tepian ranjang.


Nenek Nian menggeleng. "Kau belum sembuh, Nak. Memang kau sedang mencemaskan apa?"


Amdara memegang kepalanya dan menjawab, "teman."


Satu kata tersebut mampu membuat Nenek Nian menaikkan sebelah alis. Dia pikir di penginapan hanya Amdara seorang.


"Nak, boleh aku bertanya sesuatu?"


Amdara menjawab dengan gumaman.


Nenek Nian menatap lama wajah Amdara seperti meneliti setiap inci wajah yang manis tetapi tidak dengan tatapan mata. Tatapan mata yang tidak akan goyah oleh rintangan, selalu tegas dan tanpa belas kasih itu terlihat oleh Nenek Nian.


"Kau dari negeri mana?"


Pertanyaan tersebut membuat Amdara tersentak. Dia me Entah bagaimana Nenek Nian bisa mengetahui dia bukan orang asli Negeri Nirwana Bumi. Mungkin dari wajah khas negeri lain. Tetapi jika dilihat-lihat lebih teliti Amdara memiliki wajah mirip orang-orang Nirwana Bumi.


"Negeri Elang Langit."


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?"


"Mn, aku pindah dan sekolah di sini."


"Apa ada orang tuamu di sini?"


"Aku tidak tahu." Amdara menggeleng pelan. Dia menunduk teringat ucapan Tetua Bram. "Tetapi Kakek Baba mengatakan orang tuaku berada di sini."


Nenek Nian tidak menyangka bahwa Amdara kemari mencari orang tuanya yang belum pasti ada di sini. Tidak tahu nasibnya selama ini. Namun, ada sesuatu yang perlu Nenek Nian pastikan.

__ADS_1


"Saat malam itu kau membeli jepit rambut ...." Nenek Nian mengingat bagaimana seorang bocah mengeluarkan aura hitam yang bahkan dirinya tidak bisa melakukan. "Kau berhasil melenyapkan Roh Hitam."


Nenek Nian tersenyum. Lalu melanjutkan kalimatnya dengan santai. "Kau bukan bocah biasa. Apa kau sengaja di kirim dari Negeri Elang Langit?"


Nenek Nian melipat kedua tangan. Dia bukan penjual jepit rambut biasa. Identitasnya selama ini hanya diketahui oleh orang-orang dekat pasar. Ketika melihat aura hitam yang dikeluarkan seorang bocah, Nenek Nian mengikuti Amdara dan temannya yang pergi jauh ke hutan. Betapa terkejutnya saat dia menyaksikan kehebatan dua bocah melenyapkan Roh Hitam. Gerakan-gerakan mereka seperti terbiasa melihat dan melawan Roh Hitam. Pemikiran mengenai pelenyapan Roh Hitam bisa menjadi alasan Nenek Nian menunjuk Amdara sengaja dikirim. Memang di Negeri Elang Bulan terkenal sebagai negeri yang paling banyak memiliki organisasi pelenyap roh sebab di Negeri Nirwana Bumi sendiri sangat jarang ada orang yang berurusan dengan Roh Hitam.


Amdara menatap waspada Nenek Nian yang sama sekali tidak dia duga. Kepekaannya sangat payah dan akan berbahaya untuk dirinya. Amdara mengepalkan tangan. Identitas Amdara tidak boleh ketahuan oleh siapa pun termasuk Nenek Nian.


Nenek Nian tahu kekhawatiran yang terlihat di wajah bocah di depannya. Dia menepuk pundak Amdara pelan lalu berkata, "Luffy, aku pastikan tidak mengatakan hal ini pada orang lain. Nak, jujur saja untuk seorang pelenyap roh kau memiliki kepekaan yang buruk."


"Aku bukan pelenyap roh."


"Lalu?"


"Orang yang mampu merasakan adanya roh."


"Kau berbohong."


"Tidak. Aku bisa melenyapkan roh hitam karena pernah melenyapkan roh sebelumnya yang hampir merenggut nyawaku."


Nenek Nian terdiam sejenak. Dia mulai berpikir kembali bahwa jika memang Amdara adalah seseorang yang dikirim dari Negeri Elang Bulan untuk melenyapkan Roh Hitam, lalu mengapa mereka malah mengirim seorang bocah bukannya Tetua atau paling tidak Senior? Mungkin yang dikatakan bocah di depannya benar. Dia hanya kemari untuk mencari orang tuanya.


"Tapi dengan siapa kau kemari?"


Amdara semakin mengepalkan tangan. Dia berharap yang dikatakannya barusan dapat dipercaya Nenek Nian.


"Paman."


Nenek Nian mengangguk paham. Dia mengembuskan napas lega jika yang dikatakan Amdara benar. Nenek Nian bertanya lebih lanjut, Amdara sama sekali tidak keberatan ditanya. Dia menjawab sekenanya dengan sopan.


Pembawaan Nenek Nian yang ramah dan kadang-kadang tertawa saat ekspresi dingin Amdara berubah tersentak ketika Nenek Nian bertanya hal aneh.

__ADS_1


Tidak terasa mereka semakin akrab. Walaupun Amdara yang lebih banyak menggumam jawaban, sementara Nenek Nian membawa topik pembicaraan yang menarik.


"Sebaiknya kau berlatih indera kepekaanmu."


Nenek Nian menyeruput teh yang dia buat. Aroma khas yang dia buat terasa menggoda.


Amdara tahu itu. Tetapi dia belum sempat berlatih sendiri. Apalagi menjalankan misi yang terasa sulit sekarang baginya.


"Hei, kau tidak ada niat meminta bantuan nenek tua ini?" Nenek Nian menaik turunkan alisnya.


Amdara menggeleng pelan. Dia merasa akan merepotkan Nenek Nian jika sampai meminta bantuan.


Nenek Nian mengembuskan napas. "Haih, jika begitu aku yang meminta kau berlatih denganku."


Awalnya Nenek Nian berharap Amdara meminta bantuannya tetapi tidak disangka bocah itu malah akan berlatih sendiri.


Penguasaan indera kepekaan tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan kefokusan tinggi dan pengendalian kekuatan yang stabil. Untuk Amdara sendiri yang memiliki pembawaan yang tenang mungkin saja akan mudah menguasai indera kepekaan.


"Mn, itu akan merepotkan Anda, Nek."


"Tidak sama sekali. Anggap saja ini sebagai balas budimu karena aku telah merawatmu dua hari."


Nenek Nian tertawa, dia menertawakan dirinya sendiri. Padahal niat dia menolong Amdara untuk membalas budi karena bocah itu membeli jepit rambutnya dan melenyapkan Roh Hitam yang sangat membahayakan. Namun, tidak ada cara yang dapat dipikirkan Nenek Tua itu lagi agar membujuk Amdara belajar dengannya.


Amdara mengembuskan napas. Dia saat ini diberi tawaran yang amat bagus. Tetapi Amdara juga tengah memikirkan hal lain. Teman-temannya sekarang entah berada di mana, bagaimana Amdara akan berlatih? Tubuhnya saat ini beregenerasi lambat akibat serangan dahsyat Waki. Kekuatannya juga belum pulih sempurna. Untuk mencari teman-temannya setidaknya dia harus menyembuhkan luka dalam dahulu sebelum keluar. Kemungkinan besarnya, ada bahaya yang lebih dari dua hari lalu.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?"


Pertanyaan Amdara membuat Nenek Nian tersenyum senang. Dia lalu berkata, "tergantung dirimu."


Amdara hanya butuh siang ini agar malam nanti dia pergi mencari teman-temannya.

__ADS_1


"Paling cepat satu minggu. Itu pun jika kau sanggup."


Amdara segera menoleh, tepat ke arah Nenek Nian yang masih setia tersenyum. "Setengah hari. Aku bisa."


__ADS_2