Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
133 - Nenek Nian


__ADS_3

"Haih, aku benar-benar tampan. Tsk, sayang sekali harus menutupi ketampananku menggunakan masker."


Atma berjalan sambil cemberut. Gerutuannya itu sudah didengar oleh Dirgan dan Aray yang sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan kesal. Aray menarik leher Atma, lalu mengapitnya di ketiak. Tangan kiri Aray memukul kepala Atma sampai merasa ngilu.


"Apa kau tidak bisa diam, hah?! Sepanjang jalan terus tebar pesona. Hah, benar-benar membuat teman-temanmu malu, tahu ...!"


Atma merintih kesakitan. "Aduh!! Aray, lepaskan. Kau pikir ini tidak sakit?!"


Bukannya mendengar permintaan Atma, Aray malah semakin mengapit lengannya pada leher Atma yang sudah merasa seperti akan copot.


"Kau pikir telingaku tidak sakit mendengar gerutuanmu sepanjang jalan, hah?!"


Tenaga Atma tidak cukup kuat untuk menyingkirkan lengan Aray dari lehernya. Atma berteriak tambah kesakitan, "Aray, lepaskan! Aduh! Leherku rasanya mau lepas. Aray, kumohon lepaskan ... apa kau ingin membunuhku dengan aroma ketiakmu ini ...?!"


Aray tersedak, dia segera melepaskan lengannya dari leher Atma. Mendengar ketiaknya seolah bau, Aray menendang b*k*ng Atma sampai terjungkal ke depan.


Atma yang baru hendak bernapas lega tidak sempat menghindar. Alhasil tubuhnya sampai mencium tanah.


Dirgan yang melihat kedua temannya sejak tadi hanya bisa mengembuskan napas sambil menggelengkan kepala. Mau melerai keduanya pun percuma, pasti Aray tidak akan mendengarkan. Entah mengapa sekarang Aray dan Atma selalu saja ada bahan pertengkaran.


"Aduh ... b*k*ngku. Aray, kau keterlaluan sekali ...!"


Atma mengusap-usap bagian yang ditendang Aray sambil perlahan berdiri dengan kesusahan.


Sementara Aray mendengus kesal dan malah berkata ketus, "keterlaluan? Oh, kau tidak sadar kau lah yang keterlaluan karena perkataanmu mengenai ketiakku?"


Atma menggelembungkan pipi kesal menatap Aray yang seolah tidak bersalah dengan wajah angkuh.


"Ketiakmu itu memang bau! Apa kau tidak man--hmph!!"


Seketika Aray membekap mulut Atma sambil memelototkan mata. Aray berkata, "aku sudah mandi pagi tadi! Kau, sekali lagi mengataiku bau, kupastikan hari ini kau tidak bisa menghirup napas lagi!"


Aray langsung melepaskan bekapannya, lalu pergi begitu saja. Ucapan Aray membuat Atma menggelengkan kepala. Napas Atma tidak beraturan, dia mengusap-usap dada. Temannya yang satu ini benar-benar mudah tersinggung dan marah.


"Apa kau tidak menganggap pria tampan ini temanmu, Aray? Haih, benar-benar!"


Perkataan Atma barusan membuat Dirgan tertawa. Dia berujar, "kita semua teman. Dan kau tahu bagaimana karakter Aray."


Atma menoleh, masih dengan menggelembungkan pipi dia berkata setengah kesal, "mn. Untung saja aku si tampan ini orang yang sabar. Ketua Kelas, kau harus bersyukur bisa berteman dengan Atma si pria tampan dan mempesona in-- hei!"


Dirgan mencepatkan langkah begitu saja tidak ingin mendengar ucapan-ucapan percaya diri temannya itu. Atma yang melihatnya bertambah kesal dan menyilangkan kedua tangan depan dada sambil menggeleng.


"Haish, kenapa teman-temanku tidak mau bersyukur dengan orang tampan mempesona sepertiku ini?"


*

__ADS_1


*


*


Di sisi lain, Amdara dan Inay pergi ke salah satu pedagang penjual jepit rambut yang pernah mereka temukan Roh Hitam yang bersembunyi di jepit rambut.


Seorang nenek tua memakai kacamata merah besar terlihat sedang melayani pelanggan dengan ramah. Rambut hitam yang digulung, memakai pakaian bermotif bunga warna hijau, itu adalah Nenek Nian!


Nenek yang pernah menolong Amdara ketika berada di Penginapan yang diserang oleh pria berambut merah. Nenek Nian yang juga sudah membantu merawat serta memberi pelatihan kepekaan.


Amdara dan Inay berjalan menghampiri Nenek Nian. Keduanya menunggu pelanggan lain selesai membeli. Setelah beberapa saat kemudian, barulah Nenek Nian menyadari ada dua bocah yang sedang menunggu, ketika dia melihat kedua bocah itu, Nenek Nian tersentak. Walau menggunakan masker, tapi Nenek Nian masih bisa tahu bahwa satu bocah berambut putih ini adalah bocah yang pernah ditolongnya.


Amdara dan Inay langsung memberi hormat begitu Nenek Nian tersenyum. Nenek Nian menanyakan kabar kedua bocah itu, yang langsung dijawab baik-baik saja oleh Amdara dan temannya.


Nenek Nian memperhatikan Amdara, dirinya menaikkan sebelah alis. Ketika mengingat ada sebuah Benang Merah di inti spiritual Amdara membuat Nenek Nian menghela napas, merasa prihatin kepada bocah berambut putih ini.


"Nak, ayo masuk ke toko. Kita berbicara di dalam."


Nenek Nian mengajak Amdara dan Inay masuk ke dalam toko, keduanya mengikuti Nenek Nian ke dalam.


Di sebuah ruangan yang dindingnya bergambar bunga dengan nuansa hijau, tiga kursi yang tidak terlalu panjang yang salah satunya di duduki Amdara dan Inay, sementara di depan mereka ada Nenek Nian.


Seorang pelayan mendapat perintah dari Nenek Nian untuk mengambilkan tiga gelas teh untuk mereka.


"Nak, apa yang sedang kau lakukan di pasar? Apa kau datang ke pasar untuk menjengukku?" Kata Nenek Nian sambil tersenyum.


Mendapat anggukan dari Amdara membuat Nenek Nian merasa terharu. Dirinya lalu berkata, "syukurlah kau tidak melupakan nenek tua ini."


"Tentu tidak, Nek. Kau yang telah membantu temanku, bagaimana bisa melupakan jasa besarmu."


Inay tersenyum, ucapannya kembali membuat Nenek Nian merasa dua bocah ini seperti cucu sendiri. Nenek Nian lalu mengatakan bahwa dia sama sekali tidak membantu apa-pun, jika mengenai pengobatan Amdara maka Nenek Nian langsung mengatakan bahwa itu adalah balas budi karena Amdara yang sudah berhasil melenyapkan Roh Hitam tentu dibantu Inay.


Ketiga orang itu berbincang-bincang masalah sepele, sampai seorang pelayan menghampiri membawakan tiga cangkir teh. Nenek Nian mempersilahkan kedua nya meminum teh tersebut.


Nenek Nian mengambil secangkir teh, dia meniup air teh tersebut. Uap mengepul di udara. Dia lalu menatap Amdara cukup dalam sebelum tersenyum tipis.


"Luffy, kau pasti mengalami kesulitan selama ini."


Amdara menaikkan sebelah alis mendengar perkataan nenek di depannya. Memang Amdara selama ini banyak mengalami kesulitan di Negeri Nirwana Bumi.


Amdara hanya mengangguk sambil bergumam, "mn."


"Bukan hanya Luffy, Nek. Tapi aku juga mengalami banyak kesulitan selama ini. Bahkan aku sampai merasa lelah dan ingin istirahat," celetuk Inay sambil menarik napas dalam.


Nenek Nian malah tertawa karena ucapan Inay. Dia lalu berujar setelah menyeruput teh.

__ADS_1


"Tapi kau masih bisa menggunakan kekuatan dengan baik. Tidak seperti temanmu yang memiliki Benang Merah di inti spiritualnya."


Amdara yang hendak mengambil cangkir teh tiba-tiba terdiam, dia berkedip sebelum berkata, "Benang Merahnya sudah terlepas, Nek."


Mata Nenek Nian seketika terbelalak. Dia tidak menyangka inti spiritual yang terkena Benang Merah sekarang sudah terlepas. Masih tidak percaya, Nenek Nian bertanya.


"Siapa yang berhasil melepasnya, Luffy?"


"Seorang Tetua."


"Siapa?"


"Tetua Haki dan Tetua Rasmi."


"Siapa?"


"Tetua dari Akademi Magic Awan Langit."


Seketika Nenek Nian terbatuk-batuk mendengar nama Akademi itu. Dirinya menatap Amdara dan Inay secara bergantian. Nenek Nian tidak tahu saat kedua bocah ini ternyata dari Akademi Magic Awan Langit.


Nenek Nian mengingat-ingat nama Tetua dari Akademi tersebut. Ketika mengingatnya, Nenek Nian menggelengkan kepala. Raut wajahnya antara senang dan sedih.


"Haih, Rasmi-Rasmi. Kau ternyata memiliki bakat juga."


Amdara dan Inay mengerutkan dahi ketika mendengar perkataan Nenek Nian yang seolah mengenal Tetua Rasmi. Yah, seorang Tetua pasti dikenal banyak orang.


Nenek Nian tidak bertanya lagi setelah dia beberapa kali menghela napas. Kedua bocah di depannya juga tidak menanyakan apa-apa. Nenek Nian jelas bersyukur karena Amdara yang sudah terlepas dari Benang Merah.


Amdara dan Inay izin pamit setelah dua jam lamanya mereka berbincang. Padahal Nenek Nian masih ingin berbincang, tapi mendengar penjelasan Inay mengenai mereka yang akan segera kembali ke Akademi setelah makan membuat Nenek Nian mengangguk mengerti.


Di titik pertemuan Amdara dan teman-teman yang lain, ternyata Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada sudah menunggu. Terlihat masing-masing dari mereka membawa barang belanjaan. Hanya Amdara dan Inay yang tidak membeli apa-pun, karena merasa sedang tidak membutuhkan barang.


Dirgan kemudian mengajak teman-temannya ke salah satu kedai makanan. Teringat dengan kejadian di Penginapan, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada agak sedikit takut. Tapi mereka tetap pergi ke kedai.


Mereka memasuki kedai yang tidak terlalu ramai, Dirgan memilih tempat duduk paling pojok. Dirinya lalu meminta seorang pelayan agar memberikan menu. Di daftar menu, ada banyak jenis makanan. Dengan cepat Inay memesan daging panggang serta juz apel, teman-temannya juga memesan hal yang sama kecuali Amdara yang memesan daging kelinci.


"Haih, cacing perutku sudah memberontak sejak tadi." Atma mengusap-usap perutnya yang berbunyi.


"Cacing perutmu itu akan mati dalam hitungan detik."


Aray berkata enteng tanpa memedulikan Atma yang hampir saja jantungan mendengarnya.


Inay tertawa, lalu menambah, "kurasa cacing perut Atma akan marah setelah mendengarmu, Aray."


Aray menaikkan sebelah alis. Dia mengatakan sesuatu yang membuat teman-temannya terlonjak kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Bahkan beberapa orang yang sedang makan di kedai itu sampai kesulitan menelan makanan.

__ADS_1


"Hmph, aku akan menarik cacing perutnya menggunakan tanganku sendiri dari dalam perut Atma. Lalu aku akan memberikan bubuk cabai sampai mulut cacing itu tidak berani mengeluarkan suara lagi."


__ADS_2