
Sepulang dari Akademi, Amdara langsung membersihkan diri, setelahnya dia duduk di kursi depan sambil menarik napas panjang. Ucapan Inay masih terngiang-ngiang di kepalanya sampai sekarang. Entah bagaimana kisah pertemanan mereka selanjutnya. Amdara tidak menanyakan langsung kepada teman yang lain, karena merasa Inay lah yang harus menyelesaikannya.
Amdara mengangkat kedua tangan. Memperhatikannya sebelum menaikkan sebelah alis dan bergumam, "apa aku mampu?"
Terbesit keinginan untuk kembali ke Organisasi Elang Putih dan menjalankan misi berburu roh.
Amdara menggelengkan kepala, mengepalkan kedua tangan dan langsung menatap ke depan. Dia harus ingat tujuan ke Negeri Nirwana Bumi ini. Menjalankan misi dan mencari kedua orang tuanya. Dia tidak boleh lupa akan hal itu hanya karena urusan di Akademi.
Bocah itu tanpa istirahat lebih lama pergi ke kediaman Tetua Haki, untuk melaporkan bahwa dirinya telah membawa dua belas permata siluman.
Yang menyambut di pintu ternyata adalah Mo, dengan senyuman ramah akan tetapi langsung berubah detik itu juga.
"Nona Muda Luffy? Kau sudah kembali?" Keterkejutan nampak di wajahnya. "Kau baik-baik saja selama di hutan, bukan?"
Amdara dengan sopan mengangguk dan mengatakan dirinya baik-baik saja terbukti dirinya sudah kembali.
Mo menarik napas lega mendengarnya. Dia meminta Amdara untuk menunggu sebentar selagi dirinya memanggil Tetua Haki di dalam.
Amdara menunggu, dalam hati bertekad untuk berlatih lebih keras. Setelah menunggu beberapa saat, Tetua Haki keluar.
"Murid memberi hormat kepada Tetua." Tetua Haki mengangguk, Amdara kemudian melanjutkan ucapannya, "Tetua, aku membawa beberapa permata siluman."
Amdara menyodorkan dua belas permata siluman yang dua di antaranya merupakan permata dengan tingkat tinggi. Bahkan Tetua Haki sampai menahan napas saat menerimanya.
"Permata ini ... apa sungguh kau yang menghabisi silumannya?"
Amdara mengangguk sebagai jawaban. Keterkejutan Tetua Haki semakin bertambah melihat respon barusan. Dirinya berdehem sebelum berkata, "baiklah. Kurasa latihan berikutnya akan dilakukan secara individu. Kau istirahatlah. Besok pagi datang kembali."
Amdara mengangguk, memberi hormat sebelum melesat kembali. Dirinya sama sekali tidak bertanya apa yang akan dilakukan Tetua Haki terhadap permata tersebut. Toh, Amdara tidak ingin menambah beban pikiran.
__ADS_1
Amdara memasuki kamar, naik di atas tempat tidur dan mulai duduk bersila sambil memejamkan mata. Bukan untuk menyerap kekuatan alam, melainkan untuk tidur.
Semalaman dia beristirahat dengan tenang. Memang cukup lelah karena beberapa hari ini terus mengeluarkan kekuatan. Tubuhnya memang istimewa, tapi Amdara tetaplah manusia yang memiliki rasa lelah dan ingin istirahat.
Dia tidak tahu pelatihan macam apa yang akan diberikan. Namun, Amdara berharap agar waktu cepat berlalu agar bisa melakukan misi dari Tetua Bram dengan tenang.
*
*
*
Masih begitu pagi, Amdara, Shi, dan Cakra sudah berada di depan kediaman Tetua Haki. Ketiganya telah mengetahui bahwa akan mendapatkan pelatihan berbeda sesuai bakat masing-masing.
Shi ditempatkan di kedalaman hutan, dia akan mendapatkan pelatihan khusus yang diberikan Tetua Haki. Awalnya Shi keberatan, tapi melihat tatapan mata Tetua Haki membuatnya mengurungkan niat untuk menolak. Sementara Cakra ditempatkan di bawah tanah, yang tempatnya masih belum dikatakan secara jelas oleh Tetua Haki.
Shi yang pertama kali dibawa pergi dibawa oleh Tetua Haki di kedalaman hutan. Sebelum pergi, Shi menatap raut wajah Amdara yang tanpa ekspresi dan tidak mengatakan apa-pun kepadanya sebagai salam perpisahan.
Shi mendekati Amdara, menepuk bahu dan berkata, "apa kau memiliki masalah setelah bertemu mereka? Luffy, aku tidak tahu apa yang kau alami di sana. Aku hanya ingin mengatakan, semangat untuk pelatihan tertutup ini. Jangan pernah patah semangat, oke?"
Amdara mengangguk dan menjawab tanpa nada, "terima kasih, Senior. Jaga dirimu baik-baik dan berlatihlah dengan semangat."
Shi mengangguk dan beralih ke arah Cakra yang mengangguk sebagai petanda Shi harus menjaga diri baik-baik. Setelahnya Shi pergi bersama Tetua Haki.
Di depan kediaman Tetua Haki, Amdara dan Cakra tidak ada yang buka suara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Cakra mengeluarkan kata.
Tanpa nada Cakra berucap, "terima kasih."
Amdara menoleh sambil menaikkan sebelah alis bingung dengan ucapan Cakra. Cakra yang tahu arti tatapan tersebut kembali berkata, "aku berhasil membuat portal."
__ADS_1
"Selamat," kata Amdara tanpa ekspresi. Tidak menyangka Cakra berhasil membuat portal.
"Di Turnamen Magic Muda nanti, Akademi Nirwana Bumi mungkin turut berpartisipasi."
Ucapan Cakra membuat Amdara langsung membuatnya tertarik. Dirinya bertanya apakah kemungkinan orang bernama Ketu itu akan datang atau tidak. Jawaban Cakra membuat Amdara menarik napas dalam. Jika memang Amdara berjodoh dengan orang bernama Ketu tersebut, maka akan dipertemukan.
Amdara hanya bisa berharap, Benang Merah di inti spiritualnya harus benar-benar lepas. Jika tidak, maka dalam waktu tiga tahun lagi Benang Merah tersebut akan kembali.
Tetua Haki kembali, dia kemudian mengajak Cakra pergi. Cakra tanpa nada berkata, "jaga dirimu baik-baik untuk pelatihan kali ini."
Amdara menarik napas dalam. Perasaannya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Namun, bagaimana pun dirinya tidak boleh sampai lengah. Dia mengangguk dan mengatakan Cakra juga harus menjaga diri baik-baik.
Hanya tinggal Amdara seorang di sana. Dia menarik napas dalam, menunggu Tetua Haki membawanya ke gua pelatihan. Tidak lama, orang yang ditunggu akhirnya datang menjemput.
Amdara mengikuti Tetua Haki dari belakang, terbang menyusuri lebatnya hutan. Masih terdengar suara-suara siluman menggelegar, tapi beruntung mereka tidak menyerang, kemungkinan karena aura yang terpancar dari Tetua Haki.
Sekitar dua puluh menit, mereka baru sampai di tempat tujuan. Tetua Haki mendarat, diikuti Amdara dari belakang.
Sebuah gua gelap berlumut terpampang jelas di hadapannya. Tidak cukup besar, ketika memasukinya Amdara merasakan hawa dingin tidak biasa. Bahkan di dalam gua tersebut masih gelap, Tetua Haki mengangkat tangan seketika cahaya di dinding muncul menerangi gua.
Ada bebatuan sekitar, Amdara mengedarkan pandangan melihat sekeliling.
"Kau akan berlatih di sini. Aku akan mengajarimu beberapa teknik dan jurus dalam tiga tahun ini," jelas Tetua Haki yang masih berjalan sambil meletakkan tangan di belakang. Dia kemudian kembali menjelaskan, "selama tiga tahun ini, beberapa Tetua juga akan mengajarimu. Kau berlatihlah dengan baik."
Amdara mendengarkan, dirinya mengangguk dan menjawab dengan mengiyakan. Amdara kemudian bertanya, "bukankah untuk melatih pemusatan kekuatan aku harus berlatih di luar?"
Tetua Haki menghentikan langkah, menatap bocah berambut putih ini sambil tersenyum tipis. Dirinya berucap, "pertanyaan bagus. Untuk hal ini kau boleh keluar gua, tapi setelahnya harus berada di dalam gua."
Amdara mengangguk mengerti. Tetua Haki kembali mengatakan bahwa Amdara tidak diizinkan pergi ke mana pun tanpa seizinnya. Detik itu juga Amdara terdiam, lalu bagaimana dengan misi dari Tetua Bram? Dia juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1