
Atma terpental karena dilempar oleh senior berotot. Sementara senior itu juga melesatkan serangan besar ke arah peserta lain yang ditunjuk oleh Atma. Dia langsung melesat dan menyerang.
Atma berteriak. Jantungnya tidak terdengar. Dia yakin saat ini akan mati dalam hitungan detik lagi. Namun, sebuah rambut melilit tubuhnya hingga dia tidak jatuh dan menghantam rumah.
Atma bernapas pelan, dia melihat ke arah Inay yang tiba-tiba tersenyum dan detik berikutnya Atma ditarik begitu cepat.
"Dasar bodoh." Gumam Inay setelah meletakkan Atma di belakangnya.
Kini ada satu senior lagi yang membelalak seolah tidak menyangka kini hanya tinggal dirinya seorang. Dia berteriak frustasi, "apa-apaan kalian?! Kita harus menghadang kelompok C!!"
Meradang sudah dia menatap satu persatu lawan yang kini tersenyum. Dirinya mengeluarkan kekuatan begitu besar, asap putih mengelilinginya sambil mengeluarkan aura yang membuat orang lain tertekan.
Dirgan, dan Atma menyentuh dada yang terasa sesak. Mereka lalu terduduk dengan perasaan gelisah.
"Kalian ...! Aku yang akan menghadapi kalian. Dasar lema---!"
Sesuatu masuk ke dalam mulutnya yang tidak sengaja tertelan. Dia bergeming, tapi detik berikutnya perutnya terasa dikuliti. Rasa mules terasa hingga senior tersebut memuntahkan isi perut.
Dirgan, Aray, dan Atma tercengang. Mereka tidak lagi merasa tertekan. Entah apa yang terjadi pada senior yang hendak menyerang.
"Hmph, bagaimana rasanya senior? Haih, mulutnya bau sekali sama seperti semua perkataanmu."
Perkataan Inay membuat teman-temannya menoleh. Terlihat Inay mendekati senior itu sambil mengomel tidak jelas. Sementara si senior ingin membalas ucapan Inay tapi kepalanya pusing dan perutnya yang terasa sakit.
"Apa yang kau berikan padaku?!"
Senior itu membentak, menatap tajam Inay. namun detik berikutnya dia kembali memuntahkan isi perut.
Baik Dirgan, Atma, dan Aray dibuat tersedak mendengar penuturan senior barusan. Ketiganya menoleh ke arah Inay yang mendadak tertawa sambil menyilangkan kedua tangan depan dada.
"Inay ... apa dia memasukkan pil ...?"
Tebakan Dirgan membuat kedua temannya seketika membuka mata dan mulut lebar. Aray berkata, "pil bau?!"
Dirgan, Aray, dan Atma menatap senior yang yang sedang muntah. Mereka tidak menyangka jika Inay melemparkan pil mengerikan itu. Ketiganya tidak bisa membayangkan rasa pil bau tersebut.
"Ketua Kelas ... aku akan menyusul Luffy."
Ujar Aray yang langsung diangguki Dirgan. Urusan di sini biar Dirgan yang mengatasi. Aray langsung melesat mencari keberadaan Amdara.
Di sisi lain, Amdara sedang bersembunyi di dalam salah satu rumah. Dia baru saja melihat salah seorang senior yang langsung diserang ketika diam-diam hendak mengambil bendera.
Pertarungan di atas benar-benar sengit. Tidak ada yang berniat membuat lawan mengambil bendera. Bahkan mereka tidak segan melesatkan serangan besar.
Salah satu serangan nyasar mengarah ke Amdara yang langsung melesat pergi menghindar. Dirinya menarik napas dalam. Jika orang lain melihat dirinya yang akan mengambil bendera, Amdara akan diserang habis-habisan.
"Aku harus cepat."
Amdara mengedarkan pandangan. Belum ada yang melihat keberadaan dirinya karena mereka disibukkan melawan dan memerhatikan bendera yang belum juga ada yang mengambil.
Sebuah titik-titik air muncul membentuk cermin setinggi orang dewasa di depan Amdara yang langsung masuk, sedetik selanjutnya portal buatan Amdara barusan menghilang.
Yang paling dekat dengan bendera adalah Cakra yang sedang melawan Qi. Qi menggerakkan kedua jarinya, tubuh Cakra melayang begitu saja tanpa bisa dia kendalikan.
"Hmph, kau ini lemah sekali."
Qi menyeringai. Sejak bertarung dengan Cakra, dia hanya menggerakkan jari saja untuk melawan Cakra tapi Cakra lagi dan lagi bangkit dan mencoba menyerang.
Cakra menatap tajam. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Qi tiba-tiba menghilang dan muncul di depan Cakra dengan tangan mencengkram leher lawan.
"Hei, kau mengetahui sesuatu tentangku 'kan?" Bisikkan itu tepat di telinga Cakra yang kesulitan bernapas.
"K-kau bukan Qi."
__ADS_1
Suara tawa Qi menggelegar. Dia mengeratkan cengkramannya. Tidak ada yang membantu Cakra saat ini. Karena teman-temannya pun sedang kesulitan menahan serangan lawan.
"Ck, ck, ck. Apa maksudmu? Aku adalah Qi, murid Akademi Magic Awan Langit."
Cakra yang tidak bisa memberi perlawanan wajahnya sudah pucat. Namun, ekspresinya yang tidak banyak berubah membuat Qi berdecak.
"Ekspresimu menyebalkan sekali. Berikan aku ekspresi ketakutan. Hei, bukankah aku teman baik?" Mata Qi berubah warna menjadi merah sepenuhnya. Dia menyeringai, membisikkan sesuatu pada Cakra yang merasa tidak ada lagi udara masuk ke paru-paru. Tubuh Cakra benar-benar lemas saat itu.
Sebuah cahaya mengalihkan perhatian Qi. Dia menaikkan sebelah alis ketika melihat cermin setinggi orang dewasa tiba-tiba muncul di depan bendera merah. Bahkan beberapa peserta menghentikan serangan mereka untuk melihat cahaya itu. Seseorang muncul dari balik cermin tersebut mengenakan jubah hitam yang terambai-ambai oleh angin, begitu pula dengan rambut putih serta ikat rambutnya. Tatapan matanya tegas sekaligus tenang. Dia dengan santainya mengambil bendera yang tertancap.
Semua orang yang melihatnya membeku. Belum sepenuhnya sadar ketika Amdara memegang bendera sambil tersenyum tipis.
"Aku menang."
Detik selanjutnya semua peserta menghentikan pertarungan. Mata dan mulut mereka terbuka melihat bocah berambut putih kini mengangkat tangan yang memegang bendera.
"Dia sudah mencabut bendera ...!"
"Bagaimana itu bisa terjadi?! Kekuatan apa yang membuatnya muncul tiba-tiba?!"
"Dia dari kelas satu c ...! Pasti bocah itu memiliki kekuatan teleportasi ...!"
Seruan-seruan itu masih didengar Cakra. Qi menatap nyalang ke arah Amdara yang juga menatapnya. Qi melepas cengkraman, hingga membuat Cakra terjatuh. Matanya tertutup, dia tidak sadarkan diri dan tidak ada yang menyadarinya kecuali Amdara.
Amdara melemparkan bendera ke atas. Para peserta yang sadar langsung melesat dan mengambil bendera itu. Terjadi perebutan bendera dari tangan satu ke yang lain.
Puli yang baru saja merebut bendera dari seorang kelas Tiga Atas tertawa, "bocah itu melepas bendera dan sekarang benderanya berada di tanganku. Itu berarti kelasku yang menang ...!"
Mata Puli berbinar-binar. Dia tidak menyadari ketika satu peserta langsung melemparkan serangan hingga membuat Puli yang tidak menghindar terkena serangan dan terpental. Bendera tersebut melayang, peserta yang melesatkan serangan menangkap bendera itu.
Namun, tiba-tiba sebuah angin besar muncul memutarinya hingga dia terlempar keluar. Sementara benderanya kini berada di tangan Giba.
Para peserta itu kembali saling menyerang dan memperebutkan bendera. Tidak peduli si rambut putih yang pertama kali mencabut kini entah berada di mana.
Blaaar!
Angin beliung muncul secara tiba-tiba mengelilingi Qi yang tidak sadar terperangkap dalam angin yang ternyata dikelilingi oleh banyak pedang.
Qi tersedak, dia mengedarkan sekitar. Matanya menajam dan dengan menggerakkan jarinya, pusaran angin itu menghilang.
"Siapa yang berani menyerangku diam-diam?"
Secara mengejutkan, Amdara muncul di depan Qi dan melakukan tendangan dahsyat hingga Qi yang tidak bisa mengelak sampai terdorong mundur.
Tidak ingin memberi kesempatan Qi mengambil langkah, Amdara melesatkan sepuluh pedang ke arah Qi yang langsung menghindarinya dengan mudah.
Tatapan mereka bertemu. Suara berisik karena pertarungan peserta lain seperti tidak dirasakan oleh Qi maupun Amdara yang hendak menyerang lagi tapi secara tiba-tiba tubuhnya tidak bisa digerakkan. Sekuat tenaga Amdara mengeluarkan kekuatan, tapi tubuhnya tetap tidak bisa bergerak.
Qi terlihat menarik napas kesal, dia menghilang dan detik berikutnya menyerang seperti yang dilakukan lawan bahkan Amdara sampai terpental ke arah rumah hingga hancur. Tubuh Amdara yang tidak bisa digerakkan merasakan sakit luar biasa, apalagi di bagian perut.
Qi melesat, dia mendarat di depan Amdara yang masih tidak bisa bergerak dengan posisi terduduk menatap tajam. Ekspresi wajah Amdara yang dilihat Qi hampir sama, tidak ada ekspresi kesakitan atau ketakutan sedikitpun. Hal tersebut membuat Qi mendengus kesal.
"Hei, junior. Mengapa kau menyerangku? Apa aku sebelumnya pernah menyakitimu?"
Amdara menelan darah yang hendak keluar. Dia perlahan menyembuhkan luka dalam menggunakan kekuatan. Tanpa nada dirinya buka suara, "kau--"
"Hei, Qi apa yang kau lakukan di sana?! Cepat rebut benderanya ...!"
Salah satu teman Qi berteriak dia baru saja terpental akibat serangan lawan. Qi langsung menoleh dan berdecak.
"Kau menggangguku. Tsk. Aku akan mengambilnya sebentar lagi!"
Tatapan Qi beralih kembali ke Amdara yang tidak lagi melanjutkan perkataannya. Qi menjentikkan jari, detik selanjutnya Amdara bisa merasakan tubuhnya yang mampu bergerak lagi. Amdara mengepalkan tangan. Kekuatan lawan sungguh mengerikan.
__ADS_1
"Junior, kali ini aku memaafkanmu. Entah ada dendam apa kau padaku." Qi melangkah mendekati Amdara yang bergeming. Qi dengan sinis berujar, "jangan menggangguku atau kau akan mati."
Qi mendadak menghilang dan muncul di samping temannya yang langsung melesat merebut bendera.
Amdara mengepalkan tangan. Dirinya perlahan berdiri, untuk saat ini Amdara bisa dikatakan masih aman karena Qi tidak merasa curiga.
"Dia kuat."
Jika seperti ini, Amdara harus membuat siasat untuk menangkap Roh Hitam. Sepertinya strategi yang dia buat juga akan sulit dilakukan.
Amdara teringat Cakra yang jatuh entah di mana. Amdara segera mencari seniornya itu yang ternyata tidak sadarkan diri berada di bawah bangunan yang nyaris roboh. Menggunakan kekuatan, Amdara melayangkan Cakra dan mendaratkannya lebih jauh dari para peserta yang masih sibuk bertarung.
Wajah Cakra terlihat pucat. Ketika Amdara mencoba memeriksa dengan menyalurkan kekuatan, dirinya terkejut ketika aliran kekuatan Cakra sangat tipis. Bahkan napas Cakra juga sangat tipis. Amdara segera menggunakan kekuatan untuk menyembuhkan luka dalam yang dialami seniornya ini. Amdara juga memberikan kekuatan pada inti spiritual Cakra.
"Senior, bangunlah."
Kecemasan jelas terpampang di wajah Amdara. Dia terus menyalurkan kekuatan, walaupun membuat dia menjadi lemah. Karena tidak adanya kekuatan alam, Amdara mulai merasakan dirinya lemas. Tapi, melihat wajah Cakra membuat Amdara tidak ingin menyerah.
Lima menit berakhir tapi Cakra belum juga sadar. Kekuatan Amdara sudah berkurang banyak. Entah bagaimana dirinya akan melenyapkan Roh Hitam dengan kekuatan sedikit.
Bulu mata lentik Cakra bergetar, perlahan dia membuka mata. Hal pertama yang dirinya lihat adalah Amdara yang juga tengah menatapnya.
"Senior, apa kau baik-baik saja?"
Cakra terbatuk-batuk, dirinya mencoba bangun dibantu juniornya ini. Cakra merasakan luka dalamnya yang sudah sembuh. Kekuatan di inti spiritual juga terisi. Cakra menatap Amdara dan menarik napas panjang.
"Terima kasih sudah menyembuhkan luka dalamku. Tapi kau tidak perlu mengisi kekuatan pada inti spiritualku."
Maksud Cakra, seharusnya Amdara bisa menghemat kekuatan di saat seperti ini. Bukannya malah memberi kekuatan padanya.
Amdara menggeleng dan berujar tanpa nada, "kau sangat lemah jika aku tidak memberi sedikit kekuatan."
Perkataan Amdara membuat Cakra menghela napas. Dia tahu kondisi tubuhnya, mendengar Amdara berkata demikian malah membuat Cakra semakin tidak enak.
"Kau juga jadi kekurangan kekuatan."
"Senior tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."
"Hmph, kau masih kecil, kekuatanmu juga."
"Kau menyebalkan."
Amdara berdiri, dia kesal karena Cakra yang seolah menyalahkan dirinya karena telah membuang-buang kekuatan pada Cakra. Padahal niat Amdara baik, tapi mendengar penuturan seniornya ini membuat Amdara berpikir Cakra tidak menyukainya.
"Kau sudah baik-baik saja. Aku akan melihat keadaan teman-temanku."
Amdara memberi hormat, dia kemudian berjalan hendak terbang tapi suara Cakra menghentikan langkah Amdara.
"Luffy, kau mengetahui sesuatu tentang Qi?"
Seketika langkah Amdara terhenti. Dia lalu membalikkan badan.
Suara-suara pertarungan dahsyat terdengar. Berkali-kali debaman serta petir menyambar di atas. Para peserta pasti masih sedang memperebutkan bendera.
Amdara tidak tahu apa yang dimaksud Cakra, tapi mendengar hal barusan membuat Amdara merasa curiga.
"Senior tidak mungkin mengetahui Roh Hitam pada Senior Qi 'kan?" Batinnya. Amdara masih belum menjawab pertanyaan Cakra. Wajah Amdara yang seolah menyembunyikan sesuatu menambah kecurigaan Cakra.
Suara tawa mengerikan serta hawa yang begitu menekan membuat Cakra dan Amdara terkejut. Keduanya saling memandang sebelum terbang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pandangan mereka tertuju pada Qi yang tengah memunggungi mereka. Aura yang dia keluarkan membuat Cakra dan Amdara merinding.
Suara tawa Qi menggelegar. Di hadapannya, terlihat semua peserta melayang menghadapnya. Tapi mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Wajah yang terpampang ketakutan itu sangat dinikmati Qi.
__ADS_1
"Akhirnya, akhirnya aku akan menjadi lebih kuat dengan memakan kalian. Ha ha ha ...!"