
Irama ketenangan berbunyi. Membuat gelombang air mulai tenang. Seluring Putih terus melayang-layang di udara. Tekanan di sana mulai berkurang.
Dua Api Biru kembali melayang-layang di samping Seluring Putih setelah sebelumnya menghantam pepohonan. Namun, anehnya pepohonan itu sama sekali tidak terbakar.
Air terjun itu memang tenang, akan tetapi sebuah gerakan kecil membuat Seluring Putih terkena dampak serangan. Seorang wanita muncul dari air terjun. Berambut biru panjang sampai ke kaki. Dia mengenakan pakaian polos tanpa motif. Tidak menggunakan sepatu. Kaki jenjangnya menapak di salah satu batu besar di depan air terjun.
Mata terus tertutup, sebuah gerakan kecil di jari kelingking tiba-tiba membuat rumput laut berduri yang tengah melilit tubuh Amdara berhenti bergerak. Perlahan melepas tubuh gadis yang hampir kehilangan napas itu.
Amdara segera menggunakan kekuatan untuk membuat tubuh melompat dari air karena tekanan sebelumnya menghilang. Dia mengusap wajah yang terkena air sangat dingin, napasnya tidak beraturan. Tubuhnya mulai normal kembali karena dia segera menyerap kekuatan alam untuk membuat tubuh menghangat.
Suara Seluring Putih yang belum berhenti membuat sadar. Dia menatap Benda Pusaka itu, tetapi tatapannya langsung bertemu seorang wanita yang tengah berdiri di atas batu.
Sontak hal itu membuat Amdara terlonjak kaget dan berdiri siaga.
"Apa dia penjaga air terjun?"
Seluring Putih mendekat, menghentikan irama ketenangan. Amdara segera mengambil dan bersiap bertarung kembali jika wanita itu menyerang.
Selang lima menit keduanya tidak ada yang buka bicara. Sampai akhirnya Amdara buka suara.
"Maaf, aku datang mencari Permata Air."
Tidak ada jawaban sama sekali. Arah angin mendadak berbalik. Membawa perasaan tak tenang di sana.
"Kita serang saja, Nona."
Suara Api Biru di pikiran Amdara muncul. Dia bergeming. Jika seperti ini terus, yang ada hanya membuang waktu. Amdara mengepalkan kedua tangan.
"Pergi atau mati di sini."
Amdara terhenyak mendengar suara wanita itu. Dirinya menggeleng dan buka suara, "aku akan pergi setelah mengambil Permata Air."
__ADS_1
"Serakah. Pilihan bodoh." Wanita itu menyinggungkan senyum sinis, tanpa membuka mata. "Lihat, seberapa kuat keinginanmu."
Tangannya melibas ke depan. Saat itu juga ombak tinggi muncul dan menerjang lawan dengan cepat.
Sontak gadis muda berambut putih segera menghindar secepat mungkin. Dibantu Api Biru menerjang ke depan. Cahaya biru kian membesar, menyilaukan pandangan.
Ombak yang diciptakan wanita bernama Ai kembali bertambah besar dan semakin banyak menyerang. Ai hanya melibaskan tangan, tetapi kekuatan air yang dinginnya luar biasa terus saja menghantam lawan yang mulai melesatkan serangan.
Lagi-lagi angin biru kembali muncul dan menyerang ombak. Begitu dahsyat pertarungan dalam sekejap berubah sengit. Kedua orang tidak ada yang mau mengalah, apalagi mengendorkan kekuatan. Kewaspadaan mereka tidak longgar, malah semakin meningkat dari menit ke menit.
Suara adu kekuatan sampai membuat percikan kembang api kian cepat dan menguat. Kekuatan mereka nyaris seimbang, sampai membuat Ai mendengkus kesal. Bulu mata lentiknya sedikit bergerak, tapi tak terbuka matanya. Kedua tangannya menyatu membentuk segitiga depan dada, lalu kedua kaki jenjangnya menari-nari di atas batu dengan lihainya.
"Semakin kau menambah kekuatan dalam setiap serangan, semakin kuat pula diriku."
Seringai terbentuk di wajah eloknya. Dinding air tercipta, ombak di luar dinding tak pernah berhenti menyerang. Walau mata Ai tertutup, tapi indera telinganya peka luar biasa. Dia bahkan bisa mendengar helaan napas lawan.
Tubuhnya perlahan diselumiti air terjun dari belakang, sampai benar-benar menghilang. Air itu mulai membentuk ratusan pedang panjang nan tajam, melesat cepat ke arah lawan yang mulai kewalahan.
Amdara menghilang menggunakan portal ketika sepuluh pedang air hendak menusuk dari atas kepala. Dia menggerakkan gigi kesal.
"Anginku sama sekali tidak berdaya melawan. Api Biru juga."
Amdara melibaskan tangan, saat itu juga pusaran angin muncul menghilangkan pedang air musuh.
Cara agar bisa cepat mengalahkan musuh dalam bertarung dalam jarak dekat. Amdara kemudian melesatkan angin beliung lebih besar. Lalu dirinya menghilang dan muncul kembali di mana batu besar yang sebelumnya ditapaki oleh Ai.
Ketika ada gelombang air hendak menerjang ke arahnya, perisai pelindung serta angin dahsyat muncul. Amdara terjebak di tengah-tengah. Tidak tahu keberadaan lawan. Tidak ada hawa keberadaan.
Amdara melayang, mengeluarkan Benda Pusaka yang pernah didapat di Akademi Magic Awan Langit. Dia lantas meniup, mengeluarkan irama ketenangan. Perlahan, gelombang air mulai tenang. Hawa menekan perlahan memudar.
"Aku memang bisa mengendalikan kekuatan air. Tapi air terjun ini milik wanita itu."
__ADS_1
Sangat percuma melawan jenis kekuatan yang sama. Amdara terus meniupkan seluring. Keadaan mulai tenang kembali. Dia melayang ke depan air terjun. Kakinya baru saja menginjak salah satu batu, akan tetapi sebuah mata besar biru tua tajam muncul di sana. Sebuah tangan besar terbuat dari air muncul dan menangkap tubuh kecil Amdara yang telat mengelak. Masuk ke dalam air terjun.
*
*
*
Sebuah danau di dalam gua tampak tenang. Dua pohon besar berada di seberang danau. Tanah yang ditumbuhi rerumputan menambah suasana tenang. Sepi, tapi itu adalah tempat yang cocok untuk orang yang ingin menyendiri.
Di salah satu batu besar, di dekat danau. Gadis berambut putih yang tidak lain adalah Amdara tergeletak tidak berdaya. Darah segar masih mengalir di dahi, cukup parah. Tangan kanan terlihat terluka, tidak kalah parah. Pakaian yang yang sudah compang camping entah karena apa membuatnya terlihat memprihatinkan.
Empat hari dia tidak sadarkan diri di sana seorang diri. Sampai, bulu matanya sedikit bergoyang dan lalu mata biru langitnya terlihat terbuka. Dia langsung sadar melihat danau di depan sana. Kontan dirinya berdiri dengan jantung berdegup keras.
Kepalanya terasa sakit. Begitu pula dengan dahi dan tangannya. Alisnya menyatu, bingung dengan kondisi tubuh sendiri.
Ingatan sebelumnya terlintas. Kepalaya bertambah sakit. Dia mencoba menyerap kekuatan alam, akan tetapi sama sekali tidak bisa merasakan.
"Di mana ini?"
Amdara mengedarkan pandangan bingung. Sangat asing dengan tempat ini. Kembali rasa sakit menggerogoti tangan, dahi, dan kepala. Dia mencoba menyembuhkan luka menggunakan kekuatan alam. Tapi yang membuatnya terkejut adalah, di sana Amdara sama sekali tidak merasakan adanya kekuatan alam. Kontan dia memeriksa kekuatan dalam tubuh sendiri. Matanya terbuka lebar saat sadar sesuatu.
"Benar. Di sini kau sama sekali tidak memiliki kekuatan."
Suara tapak kaki terdengar mendekati gadis itu yang langsung membalikkan tubuh ke belakang. Ai berjalan dengan sangat tenang. Matanya masih tertutup.
Amdara tanpa sadar memundurkan langkah. Kekuatannya tidak bisa dikeluarkan, jelas itu akan membahayakan dirinya.
Ai tersenyum aneh. Dia menghilang, dan muncul kembali tepat di belakang Amdara dengan tangan menepuk bahu gadis berambut putih itu.
"Tak ku sangka kau bisa bertahan hidup selama ini, Dewi."
__ADS_1