Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
52 - Irama Kematian


__ADS_3

BAAM!


Senior Fans menggunakan kekuatannya untuk mem*tong lengan mayat hidup yang mencengkram leher Amdara. Tidak sampai di sana, bahkan Senior Fans tidak segan langsung melesatkan serangan beruntun pada mayat hidup itu.


Amdara memegang lehernya yang terasa sakit, napasnya tidak beraturan. Hampir saja dirinya terjatuh jika saja Senior Fans tidak langsung menggendongnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Amdara mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia dibawa pergi oleh Senior Fans mencari Inay, takut jika bocah cerewet itu akan mengalami nasib buruk. Ditambah Inay takut pada mengenai 'hantu.'


Leher Amdara menghitam, bekas cengkraman di leher tidak hilang membuat Senior Fans langsung menyalurkan kekuatan untuk menyembuhkan luka luar.


"Terima kasih, Senior."


Amdara mengatur napasnya. Perasaannya lebih baik setelah ditolong Senior Fans. Di belakang masih ada beberapa mayat hidup yang mengejar, tetapi Senior Fans malah mencepatkan terbang dari pada melawan. Mungkin kekuatannya telah berkurang banyak.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Amdara malah merasa dia merepotkan orang lain, padahal orang lain juga tengah kerepotan sendiri.


Sinar matahari mulai menenggelamkan diri. Angin sore itu memperlihatkan senjanya sendiri. Di desa Bumi Selatan, warga desa yang katanya terkena penyakit menular ternyata bohong. Entah bagaimana ceritanya sampai isu yang beredar mengatakan masih ada yang hidup. Ah, itu benar. Mayat yang hidup adalah warga desa yang tak mendapat bantuan dari mana pun mati.


"Sepertinya misimu sengaja dijebak."


Perkataan Senior Fans membuat Amdara tersentak dan ekspresinya sedikit berubah dan Senior Fans tahu itu lalu berkata, "tidak seharusnya kau ikut campur urusan orang lain. Kau di sini hanya perlu fokus pada tujuanmu sendiri."


Senior Fans berkata tegas, tatapan matanya yang dingin saat menatap Amdara membuat bocah berambut putih itu mendengus.


"Niatku mengikuti misi dari akademi untuk mencari Roh Hitam."


Amdara tidak bohong, dia memang berniat mencari Roh Hitam. Namun, kesialan malah menimpanya sampai dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan karena Benang Merah.


"Belajarlah memilih sesuatu yang tepat." Senior Fans menyentil dahi Amdara pelan. Bahkan Amdara dibuat tersentak karenanya.


"Kita harus cepat mencari Inay." Senior Fans mencepatkan terbangnya.


Suara pertarungan antara Inay dan mayat hidup terdengar. Inay mengutuk para mayat hidup itu yang tidak ada habisnya. Bahkan rambut Inay telah kotor karena tanah yang saat tidak mengenai mayat hidup. Kekuatannya berkurang banyak, tetapi musuh masih dengan kekuatan penuh.


Inay harus mengorbankan rumah warga untuk melindungi dirinya dari serangan. Tangannya sampai pegal karena membuat benda-benda melayang dan langsung melempar cepat ke arah mayat hidup. Walaupun tidak mati, tetapi setidaknya Inay bisa menggunakan waktu itu untuk melarikan diri.


"Sia*an! Mayat hidup ini kenapa terasa lebih agresif?!"


Inay berdecak, dia beberapakali harus terbang lebih tinggi agar para mahat hidup tak bisa melompat ke arahnya. Namun, saat ini mayat-mayat itu terasa lebih kuat dan cepat, Inay sampai kewalahan.


Bocah itu membelalakkan mata saat salah satu mayat yang mengeluarkan kotoran dari mulut, nyaris saja rambut Inay terkena kotoran itu.


"Siapa pun yang meludah di rambutku, aku akan melenyapkan kalian semua ...!"


Tatapan Inay berubah tajam. Dia amat kesal, dan menggunakan rambutnya untuk menarik benda-benda di sekitar untuk melesatkan pada para mayat hidup.


BAAM!


Kali ini mayat hidup itu bisa menghindar dan langsung melompat tinggi ke arah Inay. Inay membelalakkan mata dan langsung menangkis tubuh mayat itu. Tetapi bukan hanya satu, ada beberapa yang hampir mengenai Inay.


"Jurus Pemusnah Roh Elang Putih ...!"


Lesatan ungu itu langsung melenyapkan mayat hidup sebagian. Inay mengatur penapasan, dia terlalu terburu-buru hingga tidak memaksimalkan jurusnya. Tidak disangka jurus yang harusnya melenyapkan Roh Hitam bisa digunakan melenyapkan mayat hidup.


Inay menggunakan kesempatan ini untuk pergi. Kekuatannya tidak mungkin mencukupi untuk melawan beberapa mayat hidup itu lagi.


Tak terasa, malam pun tiba. Namun, tiga orang yang tengah menjalankan misi belum juga pergi dari desa Bumi Selatan.


"Senior ...!"


Inay berteriak memanggil seniornya yang tak jauh darinya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Senior Fans dengan wajah datarnya.


Inay mengangguk. Dia melihat Amdara yang digendongan Senior Fans. "Dara, apa kau terluka?"


Amdara menggelengkan kepala dengan menjawab dirinya baik.


Mereka segera mencari tempat persembunyian. Berada di luar sangat berbahaya. Namun, Amdara mengatakan kejadian di mana mayat hidup yang keluar dari tanah. Hal itu jelas mengejutkan Senior Fans dan Inay.


Senior Fans dan Inay menapak pada atap rumah. Senior Fans langsung menurunkan Amdara dan dirinya duduk bersila memulihkan kekuatan.


Begitu pula dengan Inay yang nampak lelah. Beberapa keringat menetes di dahinya.


Tak ada yang menyangka bahwa tidak adanya warga yang hidup, dan juga mayat-mayat hidup ini. Ketiga itu berada di pemikiran masing-masing.


Senior Fans membuka matanya, melihat Inay yang masih menutup mata dan Amdara yang melamun. Senior Fans menegur Amdara dan membuat bocah itu tersadar. Amdara menanyakan awal mula munculnya para mayat hidup itu, Senior Fans menarik napas dalam saat akan menceritakannya.


Senior Fans menceritakan ketika dirinya memasuki sebuah rumah yang terdengar suara, di dalam rumah ada sekitar lima orang yang tengah memunggunginya seperti sedang memakan sesuatu. Ketika Senior Fans mendekat, secara tiba-tiba lima orang itu menoleh dan menatap Senior Fans tajam dengan mata merah mereka. Mulut yang penuh dengan dag*ng yang terlihat segar, tubuh yang penuh bintik ungu, seperti ciri-ciri yang pernah dikatakan Kepala Desa.


Tanpa peringatan, orang-orang itu menerjang Senior Fans yang mencoba mengajak bicara tetapi tidak ada yang menjawab. Hanya suara-suara aneh yang keluar dari mulut mereka.


Senior Fans baru sadar mereka bukanlah manusia, karena saat Senior Fans melukai sedikit mereka, tidak ada darah yang mengalir. Tahu mereka bukanlah warga desa, Senior Fans tanpa ragu melepaskan serangan.

__ADS_1


Senior Fans jelas begitu terkejut, dia melihat ada mayat hidup lagi yang keluar dari rumah. Nyaris, lengannya tercakar jika dirinya yang tak menghindar gesit. Ada yang aneh di sini, para mayat hidup itu mendapatkan dag*ng dari mana?


Mendengar cerita dari Senior Fans, Amdara dibuat tersentak tetapi ekspresinya sama sekali tidak berubah.


"Lalu kemana kau saat itu?"


Amdara berkedip saat diberi pertanyaan. Dirinya berdehem sebelum menjawab.


"Aku mendengar suara tangisan."


Senior Fans menatap Amdara curiga. Bisa saja Amdara juga mendapat hal yang sama. Amdara kemudian berbicara, "aku bertemu seorang bocah."


"Bocah?"


Inay yang sudah membuka mata dan mendengar ceritanya langsung bertanya.


Amdara mengangguk. "Kupikir dia manusia. Tapi tidak."


Penjelasan singkat itu mampu membuat Senior Fans dan Inay tersentak. Keduanya menanyakan bagaimana Amdara bisa menghindar.


"Dia tidak menyerang." Amdara ingat betul yang dia temui itu adalah manusia biasa. Namun, saat mendengar perkataan Ang, dia jadi salah paham.


"Bagaimana bisa? Dia adalah mayat hidup. Dan lagi, memang dia bisa bicara? Apa yang kau lakukan padanya?" Pertanyaan beruntun dari Inay membuat Amdara mengembuskan napas dan mulai menceritakan.


"Dia bisa bicara. Aku mengajaknya pergi, dan tiba-tiba melihat kalian yang dikejar mayat hidup," jelas Amdara tenang.


Inay tidak percaya. Dia bertanya, "bukankah mayat hidup tidak bisa bicara? Apa dia manusia?"


Senior Fans dibuat tersentak mendengar cerita Amdara. Yang dia ketahui, mayat hidup tidak bisa diajak bicara. Namun, Amdara juga tidak mungkin berbohong.


Amdara menggeleng. "Dia bukan manusia. Ang yang mengatakan."


Walaupun Ang hanya mengatakan 'maaf' tetapi itu sudah menjelaskan semuanya bagi Amdara.


Amdara juga bingung, tetapi itu yang terjadi. Dirinya mengatakan nama bocah itu adalah Ang.


"Itu ...." Inay memijat kepalanya yang terasa pening.


"Apa pun makhluk itu, tidak penting sekarang. Kita harus segera pergi dari desa ini." Perkataan Senior Fans membuat Amdara tersentak.


"Kau benar, Senior. Kita harus segera pergi dari sini. Lupakan misi bohong itu. Kita hampir saja lenyap karena mayat hidup itu!"


Inay setuju, dia ingin segera pergi dari desa Bumi Selatan ini. Tidak peduli pada misi lagi. Nyawa nya lebih berharga dibanding apa pun.


Amdara masih diam, dia memikirkan hal lain. Ada perasaan ingin menyelesaikan misi ini, ada banyak pertanyaan yang ingin dia cari sendiri akan tetapi di sisi lain dirinya tak ingin membahayakan nyawa Senior Fans dan Inay. Dirinya juga tak bisa melakukan apa-apa.


Senior Fans bertanya pada Amdara yang diam tidak menjawab. Inay mendengus, lalu berkata, "jangan naif, Dara. Hah, gulungan misi bohong itu hanya akan melenyapkan kita saja, Dara. Mungkin penjaga misi juga tidak mengetahui hal ini."


Amdara menunduk, mengepalkan tangan. Gulungan misi bohong? Jadi tak ada yang diselesaikannya satu pun?


Senior Fans menepuk bahu Amdara. "Berpikir bijaklah."


Amdara menoleh, melihat mata hitam pekat yang tajam itu tak membuat Amdara gentar sama sekali.


"Misinya pasti ada yang sengaja melakukan." Amdara berbicara, "tapi bagaimana dengan cerita Kepala Desa?"


Senior Fans berkedip dan lalu berkata, "kupikir Kepala Desa melihat mayat hidup itu sebagai manusia."


Ada benarnya juga yang dikatakan Senior Fans. Amdara mengembuskan napas. Tatapan matanya menengadah.


"Jika gulungan misi itu dibuat dengan menyembunyikan fakta ini, maka seseorang yang menulisnya tahu kebenerannya, bukan?"


Inay tersentak, tak memikirkan hal ini sebelumnya. Senior Fans berpikir sejenak sebelum mengangguk.


Entah ada tujuan apa si pengirim pesan meminta bantuan ke Akademi Magic Awan Langit.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


Pertanyaan Senior Fans membuat Amdara mengembuskan napas. Dia melihat sekeliling yang gelap, hanya diterangi rembulan. Entah kemana perginya para mayat hidup itu yang tidak sampai menemukan mereka. Kemungkinan mayat-mayat hidup ini memiliki penciuman yang tidak baik, padahal biasanya mayat hidup penciumannya lebih tajam.


"Kita akan kembali."


Amdara telah memikirkannya matang-matang. Dirinya tidak boleh terus egois membahayakan nyawa orang lain.


Inay tersenyum. Dia senang Amdara mengambil keputusan yang tepat. Begitu pula dengan Senior Fans.


Tanpa berlama-lama, mereka melesat keluar desa akan tetapi mereka tiba-tiba saja menabak sesuatu yang tidak terlihat.


"A-aduh!"


Inay merintih, dia mengusap-usap kening sambil berdecak.


Senior Fans dan Amdara dibuat tersentak, ternyata ada sebuah perisai pelindung tak terlihat di atas, padahal sebelumnya tidak ada. Senior Fans meminta Inay dan Amdara untuk menjauh, dirinya akan menghancurkan perisai pelindung itu.


BAAM!


Serangan Senior Fans sama sekali tak mempan, malah terpental. Beberapakali dia mencoba tetap tidak bisa. Perisai pelindung itu terlalu kuat.

__ADS_1


Sebelumnya mereka tidak melewati gerbang tetapi kali ini tidak ada cara lain. Senior Fans meminta Inay membuka gerbang menggunakan kekuatan rambutnya, Inay mengangguk dan langsung melakukannya.


"Gerbangnya tidak bisa dibuka!"


Inay dibuat kalang kabut saat gerbang besar itu tidak bisa dibuka. Sekuat tenaga dia mencoba membuka tetap tidak bisa. Senior Fans turun tangan, membantu tetapi gerbang itu sangatlah keras dan kuat.


Senior Fans menggunakan kekuatan untuk melesatkan serangan pada gerbang langsung, tetapi yang ada hanya bunyi nyaring nan keras. Ketiganya khawatir jika pusaran angin hitam itu akan muncul kembali. Syukurlah, pusaran angin hitam tidak datang dan para mayat juga.


"Bagaimana ini ...?"


Saat dalam kebingungan itu, ketiganya lupa apa yang dikatakan Kepala Desa. Amdara gelisah, dia mengedarkan pandangan takut ada mayat hidup yang langsung menerjang.


Terlihat seseorang memakai jubah hitam dan penutup kepala sampai wajah tengah duduk memainkan seruling. Di bawah sinar rembulan, sekilas dia tersenyum ke arah tiga orang yang amat terkejut.


Suara seruling terdengar, mulanya merdu tetapi lama-kelamaan membuat telinga berdenging sampai berdarah.


Beberapa mayat hidup yang mendengarnya langsung bertambah agresif. Mereka seperti memiliki tingkat kekuatan lebih tinggi saat siang hari. Para mayat hidup itu memukul-mukul dada dan berteriak. Namun, teriakan mereka tenggelam dengan suara seluring seseorang.


Amdara mengetahui irama ini. Irama yang dahulu saat dirinya masih kecil sering mainkan. Irama yang sebenarnya mengutarakan perasaan nelangsa lewat seruling. Lewat serulinglah Amdara menceritakan segala keluh kesahnya saat nestapa sendiri. Dia sering memainkannya saat masih berada di Organisasi Elang Putih.


Satu lagu yang dipelajari secara otodidak hanya dengan membaca buku di perpustakaan, tetapi bocah berambut putih itu mampu mengembangkan dan membuat lagu lain dengan caranya sendiri.


"Irama kematian."


Amdara merasakan telinganya yang sangat sakit. Darah mengalir disela-sela tangan yang menutupi lubang telinga.


Irama kematian pernah dipelajari Amdara, lagu ini tidak pernah digunakan siapa pun karena terlalu banyak menyerap kekuatan. Irama kematian bukan sebuah lagu sedih biasa, tetapi memiliki maksud dan nada yang membuat siapa pun yang mendengar merasa kesedihan. Hanya saja irama kematian yang Amdara dengar sekarang tidak beraturan sehingga membuat pendengar merasa kesakitan. Entah itu disengaja atau tidak.


Inay berteriak kesakitan, dia sampai berguling-guling di tanah.


Senior Fans menahan sakit dengan menyalurkan kekuatan pada telinga tetapi suara serulingnya sangat keras. Dirinya bahkan sampai ambruk.


Amdara juga sama. Dia merasakan kepalanya yang mulai pusing. Bahkan Amdara menggigit bibir bawahnya sampai berdarah menahan teriakkan.


"Senior, kau bisa menahannya sebentar?"


Senior Fans tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi. Dia mengangguk dan dengan sisa kekuatan membuat serangan jarak jauh ke arah seseorang yang duduk di atap.


Serangan itu berhasil ditangis dengan mudah oleh orang berjubah hitam itu. Irama kematian berhenti sejenak. Namun, dengan kesempatan ini Amdara langsung mengeluarkan seruling bambu dari Cincin Ruang, dan meniupnya perlahan.


Irama menenangkan walaupun terputus-putus karena napas Amdara, tetapi berhasil membuat lawan terdiam. Menatap Amdara dari kejauhan dan lalu meniupkan alat musiknya dengan nada yang sama seperti sebelumnya.


Senior Fans dan Inay dibuat tersentak saat suara musik yang menyiksa telinga tidak lagi menyakiti, yang ada hanya suara musik seruling acak-acakan dari dua orang.


Untuk sesaat Inay dan Senior Fans mengembuskan napas lega. Keduanya langsung meditasi untuk menyembuhkan luka dalam. Sementara urusan musik diserahkan pada Amdara yang mulai berdiri dan berjalan.


Benturan antara irama kematian dan ketenangan memercikkan kembang api. Padahal Amdara sama sekali tidak mengeluarkan kekuatan.


Amdara terus memainkan nada ketenangan. Matanya tak teralih pada sosok yang memakai jubah itu.


Senior Fans dan Inay tiba-tiba memuntahkan darah. Mereka merasa telinganya yang berdengung kembali.


Amdara mendekati atap rumah yang tengah diduduki orang yang memainkan seluring. Dia tak merasa takut sama sekali.


Orang itu melesat memasuki gedung tinggi, Amdara segera mengejar tanpa menghentikan nada yang dimainkan. Dia berlari dengan cepat, tanpa kekuatan pun dirinya mampu berlari cepat. Karena saat berada di Organisasi Elang Putih dirinya sering melatih kekuatan fisik.


Tangga menuju ke atas sangat panjang, sementara lawan seperti melayang tanpa kesulitan terus naik ke atas.


Gedung besar itu memiliki patung-patung ular di setiap tangganya yang bercahaya hijau, walaupun tidak ada pencahayaan lain tetapi itu cukup membantu Amdara. Merasa patung-patung itu terus mengawasinya Amdara lebih mencepatkan kaki.


"Ke mana dia?"


Napas Amdara tidak beraturan. Dia mengedarkan pandangan saat berada di ruangan besar. Sekelebat bayangan hitam di depannya dan langsung belok kiri menuju tangga membuat Amdara langsung mengejar. Dia yakin barusan adalah orang yang tengah dikejarnya.


Suara seluring sosok yang dikejar Amdara masih terdengar.


Ada sesuatu yang ingin Amdara katakan, dia harus berhasil setidaknya melihat wajah orang itu. Entah itu manusia ataupun mayat hidup.


Tangga terakhir berhasil Amdara langkahi ternyata ruang atas dari gedung ini yang tanpa dinding. Dinginnya angin malam dapat dirasakan. Pemandangan dari atas sini begitu indah di pandangan Amdara yang kini tengah terpukau.


Terlihat seseorang berdiri membelakangi Amdara. Amdara mendekati orang itu yang memiliki tinggi sebahu darinya. Tanpa rasa takut sama sekali. Yang ada Amdara merasakan kesedihan dari hawa yang tiba-tiba dirasakan.


Amdara menghentikan lagu dan sosok itu melakukan hal yang sama.


"Siapa kau?"


Tidak ada jawaban. Bocah Berjubah Hitam itu masih membelakangi Amdara. Angin malam melambai-lambai jubah hitamnya.


"Apa maumu?"


Amdara menghentikan langkah saat bertanya. Dia bertanya tenang. Suasana di sekitar sepi, sinar rembulan menyinari rambut putihnya.


"Harusnya kau bertanya pada diri sendiri."


Amdara tersentak, dia seperti pernah mendengar suara orang di depannya. Suara anak kecil yang sebelumnya pernah dia temui di lorong gelap siang tadi.


"Ang ...?"

__ADS_1


__ADS_2