Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
132 - Merayakan Kemenangan


__ADS_3

Dua jendela dengan kamar bersebelahan nampak lima bocah yang tersentak melihat kedua teman mereka melayang di udara dengan wajah polos tanpa mengatakan apa pun pada murid-murid yang sedang menggerutu karena jendela kamar pengobatan mereka tiba-tiba terbuka.


"Luffy, Nana ...!"


Seseorang menyerukan nama sambil melambaikan tangan. Amdara dan Inay yang mendengarnya menoleh, melihat Atma yang kini meminta kedua bocah itu masuk ke ruang pengobatan.


Amdara melesat, dan masuk ke ruangan berisi tiga teman laki-laki sedang melihat dengan tatapan aneh. Sementara itu, Inay menggunakan rambutnya untuk melilit Nada dan Rinai yang berada di ruang sebelah agar mereka juga masuk ke ruang pengobatan teman laki-laki mereka.


"Bagaimana keadaan kalian?"


Amdara bertanya kepada teman-temannya yang terlihat senang karena mereka bisa berkumpul kembali. Dirgan mempersilakan teman-temannya duduk di kursi. Tindakannya membuat yang lain menggelengkan kepala.


"Haih, kau seperti sedang menjamu tamu di rumah sendiri," celetuk Atma yang sudah duduk di salah satu kursi.


Dirgan tertawa, dirinya juga duduk di sebelah Atma lalu membalas, "ini salah satu adab yang pernah aku baca dalam buku. Lagi pula apa salahnya?"


Atma dan teman-teman yang lain menggelengkan kepala.Mereka lalu duduk berhadapan.


"Yah, tidak ada yang salah, Ketua Kelas. Kau memang patut menjadi ketua, bisa memberi contoh pada yang lain."


Kata Atma setengah kesal. Dirgan mengangguk-angguk bangga mendengar perkataan Atma. Walaupun Dirgan tidak bergitu yakin apakah itu pujian atau malah ledekan.


Inay kemudian bertanya kepada teman-temannya mengenai keadaan mereka sekarang. Aray menjawab mewakili yang lain.


"Kami baik-baik saja setelah disembuhkan oleh Guru Aneh."


Amdara dan Inay mengembuskan napas lega. Inay lalu bertanya di mana keberadaan Guru Aneh, dia mendapat jawaban yang mengatakan bahwa Guru Aneh sekarang sedang pergi ke kediamannya karena memiliki urusan.


Nada menanyakan keadaan Amdara dan juga Inay, yang mana dijawab bahwa mereka baik-baik saja dan sudah sembuh.


"Huhuhu. Aku masih ingat betul wajah menyeramkan Raja Roh Hitam."


Rinai tiba-tiba menangis sesegukan. Dia membuat yang lain juga jadi mengingat wajah menyeramkan Raja Roh Hitam. Bagi Rinai, Nada, Dirgan, dan Atma yang baru pertama kali melihat Roh Hitam membuat mereka ketakutan dan sulit melupakan kejadian di pertandingan babak final kemarin. Apalagi nyawa mereka sangat terancam saat itu, beruntung Tetua menyelamatkan mereka.


Inay memberitahu teman-teman bahwa Raja Roh Hitam yang mereka lihat kemarin hanya satu di antara banyaknya Roh Hitam di dunia. Melihat satu saja membuat mereka ketakutan, lalu bagaimana mereka bisa menghadapi Roh-roh Hitam lain di luar sana?


Mungkin saja ada yang lebih kuat dan menanutkan dari Raja Roh Hitam yang kemarin. Karena dunia ini luas, bukan hanya diisi oleh yang lemah tapi ada juga yang kuat. Di atas langit masih ada langit, itu adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal.


"Tapi aku penasaran, bagaimana Tetua bisa datang terlambat?"


Perkataan Aray membuat Dirgan, Atma, Rinai, Inay, Nada, dan Amdara terdiam sama-sama berpikir.


"Mn, pasti ada masalah."


Aray mengangguk-anggukkan kepala dengan pendapat Amdara. Kelompok kelas satu c itu kembali berbincang-bincang. Yang paling heboh bercerita tentu Atma yang sangat bangga pada diri sendiri dan teman-temannya yang berhasil menyelesaikan pertandingan antar kelas bahkan sampai bisa berhasil menjadi juara satu karena Amdara yang mencabut bendera.

__ADS_1


Kemenangan pertama bagi Dirgan, Atma, Aray, Rinai, Nada sangat mengharukan. Mereka tidak pernah membayangkan kememangan bisa mereka raih.


Guru Aneh pastinya sangat bangga dengan mereka. Bahkan mungkin sampai menitikkan air mata.


"Aku sampai tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata,"


Atma terduduk dengan napas tidak beraturan setelah bercerita panjang lebar. Amdara dan Inay yang melihatnya menggelengkan kepala tidak menyangka teman-temannya akan sangat senang mendapatkan kemenangan ini.


"Ini juga berkat kehadiran Luffy dan Inay."


Ujar Dirgan yang tersenyum kearah dua bocah itu sambil mengucapkan terima kasih karena mereka telah melindungi serta membantu membawa perubahan pada kelas Satu C.


"Kau tidak boleh bersikap seperti ini lagi, Ketua Kelas. Bukankah kita teman? Teman akan selalu membantu tanpa rasa pamrih."


Amdara lagi-lagi setuju dengan pendapat Inay. Dia lalu menambah, "jangan anggap kami seperti orang lain dengan bersikap demikian, Ketua Kelas."


Dirgan tersenyum, dia kemudian mengangguk. Rasanya senang bisa berteman dengan Amdara dan Inay. Kerja sama mereka selama ini memang baik, sampai bisa bertahan di pertandingan antar kelas.


"Yah, kita memang teman."


Atma, Aray, Dirgan, Rinai, dan Nada tersenyum sebelum akhirnya mereka tertawa bersama. Kehadiran Amdara dan Inay memang membawa perubahan untuk kelas Satu C.


Atma tiba-tiba saja berdiri dan berseru yang membuat teman-temannya tertawa kembali dan menyetujui.


Mereka memutuskan akan merayakannya dengan pergi ke pasar dan membeli makanan. Tentunya tanpa perlu meminta izin, karena mereka bisa melewati terowongan yang dibuat Nada. Aray awalnya keheranan karena teman-temannya sama sekali tidak mengkhawatirkan soal uang. Dia bertanya mengenai uang yang akan mereka gunakan untuk membeli makanan.


Atma tanpa diduga mengapit kepala Aray di ketiaknya. Kejadian itu sangat cepat sampai Aray tidak bisa menghindar.


"Kau tenang saja, Aray. Sekarang aku telah kaya dan akan semakin kaya dengan usaha nanti yang akan kulakukan."


Atma tertawa sambil mengelus-elus kepala Aray yang langsung memberontak tidak terima dengan perilaku Atma.


Dirgan, Rinai, Nada, Inay, dan Amdara hampir lupa jika Aray tidak mengetahui bahwa mereka pernah melakukan misi dan mendapatkan uang, walau bukan dari Akademi langsung. Tentu mereka tidak akan melaporkan mengenai Desa Bumi Selatan yang telah diselesaikan.


*


*


*


Siang hari ini, Dirgan, Atma, Aray, Rinai, Nada, Inay, dan Amdara sudah memakai pakaian biasa dan bukan khas dari Akademi Magic Awan Langit. Mereka juga mengenakan masker untuk menutupi setengah wajah. Karena mendapat informasi bahwa hari ini semua peserta diberi waktu untuk istirahat, mengenai pengumuman sang pemenang, akan diumumkan pada saat malam hari.


Setelah melewati terowongan, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Pasar siang hari tidak kalah ramai ketika malam hari. Bangunan megah dengan lampion dan hiasan-hiasan lain menggantung. Orang-orang berlalu lalang dengan wajah ceria di wajah. Barang-barang dagangan dijajakan, si penjual berteriak-teriak untuk menarik perhatian pelanggan. Suasana ramai itu membuat Amdara dan yang lainnya rasanya bisa menghirup napas dengan tenang tanpa merasa takut ada bahaya datang.


Mereka sepakat akan bertemu di titik awal ketika meraka sudah membeli barang-barang yang diinginkan. Sementara untuk acara makan, mereka akan melakukannya setelah memberi barang-barang.

__ADS_1


Rinai dan Nada langsung berlari ke arah penjual yang menjual berbagai hiasan rambut. Mereka melihat banyak jenis jepit rambut serta pernak-pernik lain.


"Kha kha. Rinai, cobalah ikat rambut bermotif bunga ini. Sangat cocok untukmu."


Nada tertawa sambil mengambil ikat rambut, memberikannya pada Rinai yang mengambilnya dan menimang-nimang.


Si penjual tidak keberatan dengan penampilan dua bocah ini. Karena baginya siapa pun yang ingin membeli barangnya, dia harus bersikap ramah.


"Nona muda, itu sangat cocok untukmu." Pria berumur kisaran 48 tahunan itu tersenyum. Dia lalu menyodorkan jepit rambut bermotif kupu-kupu kepada bocah yang memegang boneka menyeramkan. Dirinya berkata ramah, "Nona muda juga akan sangat cantik jika memakai jepit rambut ini."


Nada menaikkan sebelah alis. Dia melihat jepit rambut berwarna merah bercampur hitam itu dan tertawa cekikikan. Tawanya membuat penjual tersebut tersentak.


"Kha kha. Paman, rambutku sudah aku kepang, tidak perlu memakai jepit rambut."


Si penjual tertawa masam. Dia lalu menawarkan pernak-pernik lain pada kedua bocah perempuan ini.


Rinai dan Nada sibuk memilih barang-barang yang dia inginkan. Sementara Atma, Dirgan dan Aray memilih ke salah satu toko yang menjual senjata. Salah satu senjata menarik perhatian Dirgan. Dia hendak menyentuhnya, tapi salah seorang pelayan menegur tidak senang.


"Nak, barang-barang di sini bukanlah barang sembarangan. Kau tidak boleh menyentuh kecuali kau membelinya."


Suara dari pelayan yang terdengar ketus itu membuat Aray ingin memasukkan mulut wanita itu menggunakan sepatunya. Namun, Atma langsung menyekal lengannya.


"Mn. Nona, aku ingin bertanya. Apakah senjata ini diproduksi oleh Asosiasi Merak Emas?"


Seketika wanita itu membuka mata lebar. Dia lalu menatap tajam Dirgan. "Nak, siapa kau sebenarnya? Dari mana kau mengetahui asosiasi yang memproduksi senjata ini?"


Kini Dirgan yang dibuat terkejut. Dia menatap senjata berbentuk bulu merak emas itu. Dirinya lalu menjawab sedikit gugup, "ah, aku hanya menebakny saja. Aku menyimpulkannya dari bentuk senjata ini."


Jawaban Dirgan membuat si pelayan mengembuskan napas lega. Dia lalu kembali berbicara dengan nada kesal, "nak, sebaiknya kau panggil orang tuamu jika benar-benar ingin mendapatkan senjata ini."


Seketika Dirgan mengepalkan tangan. Dia lalu menatap balik pelayan dengan tajam, tanpa diduga mengeluarkan kalimat yang membuat si pelayan, dan kedua temannya tersedak.


"Pelayanan di sini sangat buruk. Cih, sebaiknya aku mencari tempat lain yang mau menerima pelanggan sederhana." Dirgan berjalan pergi sambil menggerutu. "Kurasa di toko ini hanya menerima seorang bangsawan. Orang yang memiliki status tinggi sepertiku memang tidak pantas berada di toko seperti ini."


Beberapa pelanggan yang mendengar ucapan Dirgan tersentak. Mereka lalu mengarahkan pandangan ke seorang pelayan yang baru saja menegur bocah yang sekarang sudah keluar toko. Beberapa pelanggan berbisik-bisik sebelum keluar toko.


Sementara si pelayan membuka mata lebar. Dia sepertinya telah salah menyinggung bocah berpakaian sederhana.


"Kau tidak memiliki etika melayani pelanggan. Hei, Nona. Jangan pandang seseorang hanya dari penampilannya saja. Kau sudah salah menyinggung teman kami."


Aray menendang lutut wanita tersebut keras sampai wanita itu menjerit kesakitan. Aray pergi begitu saja tanpa memedulikan teriakan pelayan tersebut. "Bocah sialan! Memangnya siapa dia berani mengatakan memiliki status tinggi?!"


"Huh, tidak tahu malu. Suatu saat kau akan tahu siapa temanku. Bahkan orang sepertimu akan langsung berlutut ketika mengetahui identitasnya."


Atma melenggang pergi setelah mengatakan hal tersebut. Di sepanjang keluar toko, Atma melibas pelan rambut. Dirinya mengembuskan napas dan berulangkali memuji ketampanannya yang melebihi Dirgan dan Aray yang sudah pergi mencari toko lain.

__ADS_1


__ADS_2