Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
213 - Kita Teman II


__ADS_3

Rinai terus berjalan. Dia sampai merinding mengingat tempat tersebut. Selama yang dia tahu belum ada yang mendapatkan masalah terlalu besar sampai ke ruangan tersebut.


Mereka mulai menuruni tangga kecil. Tidak bisa terbang karena tempatnya sempit. Agak pengap pula.


Suara campur iblis terdengar, tapi tidak ada suara jeritan atau paling tidak tangis.


Rinai menelan ludah susah payah. Perasaannya mendadak tidak enak mendengar suara cambukan ini. Buka hanya dirinya, melainkan teman yang lain juga demikian. Mereka mulai mempercepat langkah dan berharap Amdara tidak berada di sana.


*


*


*


Ruang Cambuk Iblis merupakan tempat hukuman paling berat di antara yang lain. Tempat ini tidaklah biasa. Mulai dari genangan air yang dapat menyetrum. Alat cambuknya jauh lebih besar dan cepat.


Di sebut cambuk iblis, karena siapa pun yang masuk ke sana adalah orang yang memiliki hukuman paling berat dan telah berbuat kesalahan paling fatal.


Walaupun bisa menggunakan kekuatan untuk menahan rasa sakit akibat cambukan, tetapi kekuatan dari cambuk ini jauh lebih besar sehingga untuk memulihkan diri sendiri akan memakan waktu.


Di sana, terpampang nyata dua perempuan yang saling memunggungi terkena cambuk. Darah sudah mengalir, mengubah warna air jernih.


Suara tulang patah juga terdengar. Namun, tidak ada tangis apalagi teriakkan. Hanya gemerutuk gigi.


Baik Rinai, Dirgan, Aray, Nada, dan Atma sampai membuka mata lebar dan mulut. Di sana Amdara dan Inay terlihat saling berusaha melindungi.


Masih terlalu syok sampai mereka tidak berkutik dan merasakan lemas. Sampai Aray mengepalkan tangan dan melesat meluncurkan kekuatan besar ke arah alat cambuk.


BAAM!


Suara debaman keras terdengar. Asap mengepul di udara. Keterkejutan jelas terlihat di mata semua orang.


"Uhuk! Apa-apaan ini?!"


Inay terbatuk-batuk akibat terkena serangan yang mengenai alat cambuk. Beruntung Amdara segera membuat perisai pelindung. Keduanya masih syok atas serangan barusan.


"Siapa yang berniat berniat membunuhku?! Hei, cepat kau keluar! Uhuk. Ya ampun, dadaku sakit sekali."


Inay terbatuk darah. Kepalanya sudah mulai pusing akibat menerima cambuk tiga puluh kali. Dia hampir tumbang.


"Kau berhentilah. Jangan paksakan diri."


Suara menenangkan itu membuat Inay mengerucutkan bibir kesal. Dia mengibas-ibas asap yang masih mengepul.


"Apa kau pikir aku begitu lemah, Dara?! Cih, menyebalkan."


Amdara hanya merasa kasihan terhadap Inay yang sudah membantu. Dia menghela napas panjang. Sebenarnya dia juga merasakan sakit, akan tetapi masih bisa bersikap tenang.

__ADS_1


"Istirahatkan tubuhmu."


Amdara hanya mendapatkan jawaban ocehan tidak jelas, karena Inay yang terbatuk-batuk. Dia juga mulai terbatuk mengeluarkan darah pelan.


Sakit di tubuhnya sampai membuat lengah, akibatnya ada orang yang datang menyerang. Amdara mengepalkan tangan kesal.


"Masih lemah."


Asap mulai menghilang, kini tampaklah Aray yang melayang tidak jauh dari hadapan Inay yang menatap tajam.


Aray tentu saja terkejut karena alat pencambuknya sama sekali tidak lecet. Malah serangannya mengenai dua orang tidak bersalah. Dia baru akan kembali melesatkan serangan, akan tetapi suara Inay terdengar marah.


"Bagus. Di saat kami lengah, kau mengambil kesempatan ini untuk melenyapkan kami. Uhuk! Benar-benar pengecut."


Aray yang mendengarnya jelas terhenyak. Dia menghilangkan kekuatan dan menatap Inay tidak kalah tajam.


"Apa maksudmu?! Aku sama sekali tidak akan membunuh kalian! Aku hanya ingin menghancurkan alat ini!"


Aray menunjuk alat pencambuk yang kini masih mencambuk Amdara dan Inay.


Namun, Inay menanggapinya dengan tawa kecil. Dan berucap, "apa kau bodoh? Alat ini jauh lebih kuat darimu. Kau tidak akan bisa menghancurkannya. Uhuk."


Rinai yang sedari tadi diam melayang, menghampiri Aray. Dia menepuk bahu temannya.


"Itu benar. Alatnya tidak akan pernah bisa hancur kecuali oleh kekuatan besar."


Dirinya mendengus kesal dan berkata, "jika begitu, ayo kita gabungkan kekuatan. Pasti akan berdampak pada alat cambuknya!"


Seruan Aray mengagetkan Dirgan, Atma, Nada, dan Rinai. Mereka saling pandang sebelum berkedip menatap Aray.


Inay membuka mulut, akan berbicara. Akan tetapi suara Amdara terlebih dahulu keluar.


"Untuk apa kau menghancurkan alat ini?"


Suara dingin, dan tanpa gentar. Suara lama yang sedikit berubah. Dirindukan teman-teman lain.


Aray terdiam. Kemudian menjawab, "tentu membantumu tidak mendapatkan cambuk!"


"Kau akan membuatkan masalah lebih besar kepadaku."


"Apa?! Aku hanya ingin menghancurkan alat ini. Apa itu salah, heh?!"


"Kau pikir aku datang kemari untuk apa?"


Aray akan membalas tapi dia bungkam. Mengingat kesalahan yang besar yang dilakukan Amdara. "Sebenarnya kenapa aku seperti ini?"


"Aku salah, jadi ada hukuman."

__ADS_1


Tutur Amdara kemudian, sangat datar. Dia tidak tahu mengapa teman-temannya datang kemari dan hampir membuat masalah.


Tidak ada lagi sahutan dari Aray. Inay melihat raut wajah Aray yang memburuk.


"Sudah mendengarnya langsung, bukan? Jadi kalian pergilah. Jangan mengganggu. Uhuk."


Inay mengusap darah yang terus menerus mengalir. Dia menggeleng, tidak boleh sampai tumbang.


Melihat kondisi Inay dan Amdara yang begitu tersiksa, membuat Aray, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada merasa kasihan.


Atma melayang, mendekat ke arah Rinai dan memandang Inay kasihan. Walau hubungan mereka tidak lagi dekat, tapi Atma masih menganggap Inay teman.


"Bagaimana bisa seorang teman pergi di saat teman lain membutuhkan pertolongan?"


Suara Atma terdengar lebih tenang dari biasanya. Dia tersenyum kecil saat Inay memandang.


"Kita adalah teman. Jadi, kami akan membantu meringankan bebanmu."


Kata Dirgan yang juga melayang mendekat. Dia tidak tega membiarkan Amdara dan Inay yang sudah sangat terluka.


Nada mengangguk dan cekikikan, melesat mendekat. Dia berkata, "kami akan mendapatkan cambuk juga. Dengan begitu, hukuman itu akan lebih ringan."


Baik Inay dan Amdara tertegun mendengar penuturan dari teman-temannya. Ada rasa hangat menyelimuti hati Inay.


Dirgan dan yang lain baru akan mendekat, agar mendapatkan cambuk juga. Akan tetapi suara Amdara menghentikan sejenak.


"Aku tidak ingin berhutang budi."


Amdara mengepalkan kedua tangan sambil memejamkan mata. Dia sama sekali tidak ingin mendapatkan belas kasih orang lain. Apalagi memiliki hutang budi, dia sangat sungkan jika hal ini terjadi.


"Hmph. Kami membantu juga karena ingin balas budi atas apa yang pernah kau lakukan. Dasar, cih."


Aray bersuara. Tanpa mempedulikan ucapan Amdara yang mengandung tekanan.


Tanpa di duga, dia menggunakan kecepatan besar agar bisa masuk dan berdiri di samping Amdara. Detik selanjutnya cambuk mengenai perut. Aray terkejut merasakan aliran listrik dari genangan air ini. Dia hampir berteriak, jika tidak tertahan.


Amdara sama sekali tidak membuka mata, tapi dia tahu Aray sudah berdiri di sampingnya.


Dia bergumam, "keras kepala."


Aray menelan ludah, ternyata cambuk di sini jauh lebih menyakitkan dari cambuk lain yang pernah dirasakan. Dia melirik Amdara, yang berwajah pucat tapi masih tenang. Seukir senyum samar terpampang di wajah Aray.


Tidak tinggal diam, Atma juga melesat. Nyaris cambuk mengenainya jika saja kekuatan Dirgan menghentikan. Atma langsung berdiri di samping Inay, saat itu cambuk juga langsung mengenainya. Dia juga terkejut merasakan aliran listrik itu.


Tidak ada omelan atau suara Inay kali ini. Gadis itu lebih memilih memejamkan mata tanpa berpikir kembali. Rasa sakit sekarang lebih mendominasi pikiran.


Rinai dan Nada juga melesat, dibantu oleh Dirgan. Dirgan juga melesat setelah keduanya berdiri bersampingan. Dia juga berdiri tegang, merasakan aliran listrik di kaki dan menyalur ke tubuh.

__ADS_1


Cambuk demi cambuk dengan cepat membuat kulit terkoyak. Darah mengalir deras. Lima menit berlalu, tapi rasanya Rinai hampir tidak kuat menahan. Dia berpegang pada lengan Nada dan memejamkan mata berusaha mengalirkan kekuatan.


__ADS_2