Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
28 Misi Pertama


__ADS_3

Pengambilan misi oleh murid biasanya akan dipilih sendiri, sesuai kemampuan. Dan biasanya setelah menyelesaikan misi, maka akan diberikan uang berupa koin emas sejumlah tingkat kesulitan misi yang diambil. Misi tingkat rendah pun kadang jadi dilewatkan. Padahal misi tingkat rendah akan semakin membesar jika dibiarkan.


Misi ditulis disebuah gulungan. Gulungan-gulungan tersebut diberikan oleh warga yang memiliki masalah dan misi biasanya didapat dari kepala desa atau pun dari para guru yang berkeliling kota atau pun desa.


Tempat pengambilan misi telah ramai oleh beberapa murid yang baru saja menyelesaikan misi dan ada yang baru akan berangkat menjalankan misi.


Seorang murid yang menjaga tempat pengambilan misi baru saja membentak sekelompok bocah lemah yang bersikeras ingin mengambil gulungan misi.


"Ayolah, kami hanya mengambil satu misi. Kenapa kau tidak memberikan gulungannya?" Seorang bocah laki-laki yang dengan tampang tampannya melibaskan pelan rambut depannya penuh gaya.


Nampak murid yang sekitar sepuluh menit berlalu baru saja berdebat itu menghela napas panjang.


"Nak, dengar. Kalian tidak memenuhi syarat menerima misi. Dan lagi kalian sama sekali tidak bisa menggunakan kekuatan." Murid Penjaga yang biasa dipanggil Ben itu berkata sinis melihat ke arah Dirgan dan teman-temannya. Siapa yang tidak tahu bocah-bocah itu adalah dari kelas Satu C, kelas buruk dipandangan mereka.


Benar. Sekelompok bocah yang sedari tadi memaksa mengambil misi adalah Dirgan, Atma, Rinai, Nada, Inay dan Amdara yang hanya bisa mengembuskan napas. Ini memang tidak mudah mendapat kepercayaan dari senior.


"Hei, kau jangan lupakan aku dan Luffy ada di antara mereka!"


Inay yang awalnya tidak ingin mengikuti teman-temannya sekarang malah bersungut-sungut kesal. Seakan dia tengah diremehkan karena berada di antara bocah-bocah lemah.


Perdebatan mereka bahkan sampai membuat beberapa murid yang melihatnya nampak berbicara sinis mengatakan mereka memang lemah walaupun ada salah seorang dari mereka yang bisa menggunakan kekuatan.


Inay baru saja akan menggunakan rambutnya untuk menampar wajah senior yang menjaga gulungan misi itu tetapi Amdara menepuk bahunya pelan.


Saat Senior Ben dan Atma serta Dirga tengah berdebat, seseorang yang baru saja meletakkan gulungan itu nampak berdecak kesal sambil berkata pada murid penjaga yang lain bahwa dirinya tidak bisa menjalankan misi tersebut.


Murid penjaga itu hanya mengembuskan napas saat mendengarnya dan membuka gulungan itu.


"Hah, sudah lama misi ini belum ada yang mengambil. Sekali ada yang mengambil langsung menyerah."


Saat murid penjaga tersebut telah menggulung kembali, dan berniat menyimpannya di tempat gulungan misi lain, seseorang memanggilnya dan membuat dia langsung pergi.


Amdara dan Inay saling menatap, seakan ide mereka sama saat ini. Inay mengamati sekeliling, saat tidak ada yang melihat Inay segera mengambil gulungan tersebut dan menyimpannya di Cincin Ruang.


"Ck. Kau membuat kesabaranku habis! Senior, kau keterlaluan. Ada banyak misi di sini, tapi kau enggan memberikan satu saja pada kami. Hah ...!"


Atma mengacak-acak rambut sendiri frustasi. Dia awalnya tentu saja senang karena Amdara mau mengambil misi bersama mereka. Tetapi mendengar mereka tidak bisa mengambil gulungan misi membuatnya frustasi.


Dirgan menepuk bahu Atma mencoba menenangkan. Sudah Dirgan duga tidak mudah mendapatkan misi.


"Sudahlah. Saat kita bisa mengeluarkan kekuatan, kita akan mendapat misi." Dirgan berkata sambil tersenyum.


Rinai dan Nada mengangguk setuju.


"Tapi sampai ka--"


"Ayo pergi."


Ajakan Amdara memotong perkataan Atma. Seketika itu Atma mengerucutkan bibir pergi dari tempat pengambilan misi sambil menghentakkan kaki. Amdara yang melihatnya menggelengkan kepala. Sementara Inay mengedutkan sebelah mata.


"Dia kekanak-kanakan."


Mereka pergi dengan perasaan sedih. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan Amdara dan Inay.


"Kau memalukan. Ya ampun, ayo berhenti di hutan buatan." Inay menarik pakaian Atma dari belakang.


"Apa? Memalukan? Bukankah kau yang memalukan kami. Kau pamer bisa menggunakan kekuatanmu!" Atma mengunci pergelangan tangan Inay dengan dirinya memutar tubuh. Tetapi Inay dengan cepat menghindar dengan melompat ke belakang.


Wajah Atma tidak seperti biasanya. Dia terlihat marah terlihat dari wajahnya yang merah padam.


Amdara tidak menyangka Atma akan semarah ini. Biasanya bocah itu akan menghadapi sesuatu dengan senyuman khas dan kepercayaan diri.


Inay juga demikian. Dia cukup terkejut mendengar Atma yang berbicara menggunakan intonasi tinggi.


"Pamer? Kau bicara apa? Aku memang bisa menggunakan kekuatanku."


"Kau itu--!"


"Berhenti berdebat. Kita akan menjalankan misi pertama."


Amdara menoleh ke arah Inay sambil mengagguk. Petanda untuk Inay mengeluarkan gulungan misi.


Inay mengembuskan napas lalu menengadahkan tangan dan ketika itu juga sebuah gulungan muncul membuat Atma, Dirgan, Rinai dan Nada terbelalak.


"Gulungan misi?"


Sejenak Dirgan menahan napas, melihat gulungan tersebut. Begitu pula dengan Nada dan Rinai.


"Bagaimana ...." Atma menatap tak percaya Inay dan Amdara. Seketika itu juga Atma langsung mengembangkan senyumnya lalu menarik paksa gulungan di tangan Inay.


"Kalian cerdik! Bagus sekali. Sekarang kita bisa merasakan bagaimana menjalankan misi."


Atma membuka gulungan tersebut senang. Inay terlihat berdecak, dan memutar bola mata malas. Sifat Atma berbeda 180° saat mendengar perkataan Amdara.


Di hutan buatan dengan daun-daun putih itu, Atma membaca gulungan misi dengan senyum mengembang. Bahkan mereka tidak menanyakan bagaimana Amdara dan Inay bisa mengambil gulungan misi.


"Warga desa Bumi Selatan mendapat penyakit menular yang sampai sekarang bahkan tabib tidak bisa menyembuhkan."


Atma membaca isi gulungan, dirinya mengerutkan kening lalu kembali membaca. "Kami harap sekolah Akademi Magic Awan Langit dapat menurunkan bantuan."


Amdara berpikir sejenak, jika para tabib saja tidak bisa menyembuhkan warga desa, lalu bagaimana dengan murid sekolah ini? Pantas saja misi ini selalu gagal dijalankan. Tapi bukankah harusnya para guru atau tetua bertindak mendapat misi ini?


"Ini sulit. Jika kita melakukan misi ini, bukankah kita juga akan mendapat penyakit itu?"

__ADS_1


Perkataan Dirgan diangguki oleh yang lain. Walaupun perasaan mereka tidak sepenuhnya yakin akan melakukan tindakan nekad.


"Biar kulihat."


Atma memberikan gulungan tersebut, dirinya jadi sedikit kecewa melihat isi gulungan yang ternyata tidak mudah.


"Huhuhu, apa kita benar-benar akan melakukan misi ini?" Rinai bertanya pelan, dia menunduk.


"Khakhaa. Atma, bagaimana ini?" Nada tersenyum seakan meledek Atma yang kini mengembuskan napas.


Inay, "sudahlah. Lupakan misi ini. Walaupun aku dan Luffy ikut melaksanakan misi, tetapi bukankah para tabib saja tidak bisa menyembuhkan penyakit menular tersebut? Jadi apa gunanya kita menjalankan misi ini?"


"Benar. Apa kita lupakan saja, Fy?" Dirgan bertanya pada Amdara yang malah menatap datar.


"Tidak. Kita akan menjalankannya."


Tidak mungkin bukan mereka telah mengambil gulungan misi tetapi dibiarkan setelah melihat misi tersebut? Amdara tentu tidak akan menyerah.


"Hei, kau jangan kelewatan! Ini misi berbahaya. Kita tidak tahu penyakit menular apa di desa itu." Inay hampir saja jantungan saat mendengar perkataan Amdara.


Begitu pula dengan Dirgan, Nada, Rinai, dan Atma pun merasa dirinya tidak akan mampu menjalankan misi dengan baik setelah dipikir-pikir.


"Kita akan tahu setelah datang ke desa tersebut."


Amdara bersikukuh, dirinya menggulung misi lalu menyimpannya di Cincin Ruang.


"Hei, setelah dipikir-pikir kurasa ini memang berbahaya." Atma menggaruk kepala. Dia merasa bersalah karena awalnya memaksa ingin menjalankan misi sampai Amdara menyetujui.


"Tidak untukku."


Desa Bumi Selatan berada jauh dari kota Awan Langit, jika terbang dengan kecepatan tinggi maka membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh hari.


"Aku yang akan menjalankan misi ini."


Amdara berniat pergi ke asrama untuk bersiap-siap tanpa bertanya pada teman-temannya lebih lanjut.


*


*


*


Kali ini mungkin Amdara tidak akan kerepotan jika memang teman-temannya tidak ikut. Amdara berniat mencari udara segar sekaligus menghibur diri atas apa saja yang baru menimpanya kemarin. Perasaan cemas itu kembali hadir ketika mengingat Tetua Besar Moksa ditambah dirinya selama ini di kelas hanya belajar teknik-teknik dasar penggunaan kekuatan. Tujuan dia ke negeri ini memang bukan untuk bersekolah tetapi menjalankan misi serta mencari keberadaan orang tuanya.


Namun, hari tak akan pernah mundur. Akan ada saatnya musuh lebih kuat dan Amdara harus bisa melawan. Mungkin dengan melakukan misi, dia akan belajar dengan sendirinya mengenai kekurangan jurus atau tekhnik menyerang.


"Membosankan."


Amdara mengembuskan napas, jelas sekali wajahnya buruk karena bosan bersekolah tanpa ada sesuatu yang menarik. Jika berada di Organisasi Elang Putih, jelas hari-harinya berwarna dengan menjalankan misi.


Pintu didobrak keras sampai terbuka, seseorang baru saja terjatuh tengkurap dan diikuti oleh beberapa bocah lagi.


"Ad-duh! Punggungku!"


Amdara terkejut bukan main saat teman-temannya terjatuh tepat di depannya. Bahkan Amdara sampai berkedip beberapa kali melihat Atma dan Dirgan yang berada paling bawah terus merutuk sementara Inay, Nada, dan Rinai yang berada di atas juga mengomel.


"Aiya, kalian pergilah! Tulang punggungku rasanya patah!" Dirgan menyuruh Nada yang berada di atasnya agar segera pergi.


Inay yang barada di tengah-tengah dua laki-laki itu mengomel. "Hidung! Hidungku sakit sekali, aduh. Jika kalian tidak mendobrak pintu, hidungku tidak akan seperti ini!"


Inay bangkit sambil mengusap-usap hidungnya yang terasa sakit akibat benturan pada lantai.


"Berisik! Kau yang manakuti kami duluan. Hah, ya ampun. Seharusnya aku tidak terpengaruh ucapanmu." Atma yang masih tengkurap memijat kepalanya.


"Huhuhu, perutku sakit." Perlahan Rinai bangkit sambil menangis. Dia bahkan menginjak kaki kaki Atma membuat bocah laki-laki itu sontak berteriak.


Amdara mengembuskan napas melihat tingkah mereka. Entah apa tujuan mereka kemari, tetapi Amdara harap mereka tidak akan menghalangi dirinya menjalankan misi.


"Ada perlu apa?"


Aura yang keluar dari Amdara terasa berbeda bagi Inay yang kini mengembuskan napas.


Atma menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa kecil. "Hahaha. Mana mungkin kami meninggalkan kau sendiri dalam bahaya? Kakak tampan ini akan menjadi tameng untukmu saat ada bahaya."


Entah apa yang dimaksud Atma, tetapi Amdara seperti tahu maksud tujuan mereka. Amdara mendengar teman-temannya mulai berbicara.


"Kita teman, dan akan bersama menjalankan misi." Dirgan menepuk bahu Amdara sambil tersenyum. Dia terlihat bijaksana, bahkan Amdara baru menyadari hal tersebut.


Nada mengangguk dan kemudian menggunakan nada anak kecil berbicara. "Khakhaa, kau pemberani. Aku suka itu."


"Huhuhu. Kau ingin meninggalkan kami di sini? Huhuhu. Kau benar-benar percaya diri ...." Rinai menghapus air mata menggunakan punggung tangan.


Sekilas Amdara merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Perasaan aneh dan asing yang jarang dia rasakan. Amdara tersenyum simpul, Atma yang melihatnya menahan napas sejenak. Seorang Amdara yang hemat bicara bisa tersenyum adalah sebuah keajaiban baginya!


"Kalian yakin?" Amdara mencoba memastikan.


Inay tersenyum dan mengangguk percaya. "Tentu saja. Bukankah kita sering melakukan mis--!"


Amdara menatap tajam seketika ke arah Inay yang hampir saja membocorkan identitas mereka.


Nada, Rinai, dan Dirgan mengerutkan kening. Penasaran dengan perkataan lanjutan Inay.


"Ah, j-jadi bagaimana rencananya? Jika kita keluar dari gerbang utama, bukankah itu tidak mungkin?" Inay berkata gugup.

__ADS_1


Yang dikatakan Inay memang benar. Mereka hanya akan mendapatkan hukuman atau bahkan makian kembali walaupun Amdara telah melakukan perjanjian dengan Bena.


Tentu Amdara tidak akan menggunakan portal saat ini sebab dirinya tidak ingin ketahuan memiliki kekuatan besar di umurnya yang masih begitu muda. Beda halnya saat dia mengeluarkan jurus saat melawan Senior Bena. Pasalnya membuat portal tingkat kesulitannya bukan main bagi orang-orang yang bahkan telah mencapai tingkat tertentu. Sementara untuk Amdara sendiri bisa membuat portal saat umutnya 5 tahun.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Dirgan sambil berpikir.


"Jalan lain?"


Amdara sekilas melirik Nada mengingat bocah berambut kepang itu pernah ditolongnya di pasar saat malam.


Nada melihat lirikan Amdara, tetapi dia sama sekali tidak merasa curiga.


"Khakha, aku tahu jalan lain keluar sekolah." Nada tersenyum. "Tapi aku tidak menjamin kita tidak mendapat hukuman jika sampai ketahuan."


*


*


*


"Atma! Kau keterlaluan sekali. Ya ampun, ohok!" Inay melibaskan tangannya ke depan berharap bau tak sedap itu hilang.


"Memalukan." Amdara menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan indre pencium. Dia bahkan memalingkan wajah.


Mereka baru saja melewati sebuah terowongan bawah tanah menuju keluar sekolah yang jaraknya ternyata lumayan jauh. Untung saja Amdara menggunakan api birunya untuk menerangi jalan terowongan yang hanya bisa dimasuki anak. Terowongan tersebut berawal dari hutan buatan yang di atasnya ditutup oleh kayu kemudian ditutup kembali menggunakan tanah dan semak belukar.


Saat di tengah perjalanan, Atma tidak sengaja mengeluarkan gas dari bok*ngnya yang mengakibatkan teman-teman hampir pingsan. Bahkan Inay hampir saja muntah.


Tidak mudah saat memasuki terowongan yang ternyata Nada yang membuatnya selama ini. Entah bagaimana caranya tetapi bocah berambut kepang itu berhasil membuat terowongan yang mengeluarkan mereka lumayan jauh dari sekolah. Ketika mereka keluar dari terowongan, sebuah hutan lebat menyambut. Semburat jingga dari arah barat menampakkan diri.


"Ah, lelah sekali."


Atma, merubuhkan diri ke atas tanah. Ternyata berjalan selama siang sampai serngenge datang lumayan membuat tubuhnya lelah.


"Huhuhu, bagaimana kau bisa membuat terowongan sejauh ini?" Rinai bersandar pada pohon. Dia mengusap keringat yang mengalir di dahi.


Terlihat sekali mereka lemah akan fisik. Rinai tertawa melihat mereka apalagi Atma yang seorang laki-laki. "Khkhaa. Aku hanya yakin pada diri sendiri jika aku bisa melakukan sesuatu."


Berbeda dengan Dirgan walaupun terlihat kelelahan dari matanya tetapi dia masih bisa menjaga raut wajahnya.


"Aku bosan berada di sekolah. Jadi kadang-kadang keluar menggunakan terowongan ini. Khakhaa." Nada meminum air pemberian Inay.


Amdara cukup kagum dengan keyakinan diri Nada. Sebuah keyakinan diri memang sangat penting bagi manusia untuk mencapai suatu tujuan.


"S-sejak kapan? Kenapa kau tidak mengajak kami keluar? Hah, ya ampun. Aku sebenarnya juga hampir mati kebosanan di sekolah."


Kata Atma setelah menenggak air dari wadah bambu. Selama ini dia memang sangat bosan di sekolah. Tidak ada yang menarik perhatian.


"Mn, aku baru menyelesaikannya tidak lama ini. Khakhaa." Nada memeluk boneka erat. "Khaakhaa. Kupikir kalian sibuk."


Dirgan yang mendengarnya mengembuskan napas. "Ya, sibuk meladeni cacian mereka."


Rinai memeluk lutut sambil menangis mengingat kejadian lama. "Huhuhu. Jangan mengingatkan aku. Jangan ingatkan kejadian buruk itu lagi."


Amdara manatap temannya secara bergantian. Perasaannya turut sedih. "Sekarang tidak lagi." Amdara mengelus pelan kepala Nada. Walaupun usianya lebih muda tetapi dia merasa menjadi orang dewasa untuk saat ini. Membawa mereka ke misi ini memang akan merepotkan dan membahayakan. Tetapi akan sampai kapan mereka berdiam di tempat aman? Apa sampai tempat untuk berlindung itu diserang dan hanya ada penyesalan di dalam?


Amdara tentu telah memikirkan banyak hal semenjak kekuatan mereka yang belum juga aktif. Dan untuk itulah dia bertekad membantu teman-temannya walaupun rintangan itu dihadapannya.


Ini sebuah misi penuh bahaya. Nyawa bisa saja melayang saat mata terpejam. Dunia yang mungkin anak-anak ini baru melihat sedikit kekejaman sebenarnya. Sebuah pengalaman dan pengajaran dari alam adalah sebaik-baik guru yang mereka butuhkan sekarang.


Inay yang melihat Amdara bergeming. Entah apa yang dipikirkan bocah itu sampai mau membawa bocah-bocah lemah di misi ini. Inay bisa saja menemani Amdara melakukan misi ini, tetapi melihat raut wajah Atma, Dirgan, Rinak dan Nada membuat Inay hanya berharap misi kali ini jauh dari Roh Hitam.


Kruuuk~


Suara keras dari perut Atma mengacaukan suasana. Dia tertawa dan menepuk-nepuk perut. "Yang dikatakan Luffy benar. Sudahlah. Perutku ini juga muak mengingat kejadian masalalu."


Nada, Dirgan, dan Inay tertawa seketika. Pasalnya bukan hanya perut Atma yang berbunyi, tetapi perut Rinai juga tidak kalah kerasnya berbunyi.


Amdara tersenyum samar.


"Khakhaa. Perutku tidak berbunyi, tetapi aku mendengar cacing-cacing di dalamnya meminta diberikan makanan." Nada tertawa kecikikan.


Setelah mereka berkemas sebelum memasuki terowongan, mereka tak sempat makan. Alhasil sekarang mereka merasa lapar. Namun, bagi Dirgan, Atma, Nada dan Rinai ini hal biasa. Bahkan dahulu mereka sampai sakit berbulan-bulan akibat jarang makan.


Dirgan mengepalkan tangan. Matanya terlihat sedih. Amdara yang melihat mereka langsung mengeluarkan beberapa buah apel perak, sementara Inay juga mengeluarkan beberapa makanan yang sempat dia ambil di dapur sekolah tanpa ada yang tahu. Jelas Amdara, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada tersentak.


Inay yang seakan tahu tatapan mereka mengembuskan napas. "Diamlah. Aku tidak mencuri. Aku hanya mengambil makanan ini pada angin. Apa aku salah?" Tatapan Inay yang polos hampir saja membuat Amdara tersedak napas sendiri.


Tanpa banyak tanya, mereka langsung makan bersama dan saling tertawa oleh perkataan mereka sendiri. Ini sesuatu yang menyenangkan dan menenangkan untuk sesaat. Tak terasa, malam datang begitu cepat. Amdara mengeluarkan dua api biru untuk menerangi jalan. Mereka jadi merasa tidak terlalu tekut sebab gelap,.adanya Amdara dan Inay cukup membuat mereka merasa aman. Entah memang itu pemikiran seseorang yang baru keluar kandang atau memang mereka percaya pada kedua teman mereka.


Petualangan pertama yang akan mereka lakukan. Entah bahaya apa yang tengah menghadang.


Di sisi lain, seseorang baru saja mendobrak kamar asrama Amdara setelah beberapa lama dia mengetuk pintu.


"Di mana dia?"


Orang itu mengenakan seragam khas Akademi Magic Awan Langit, rambutnya diikat dua. Terlihat manis tetapi wajahnya seketika memburuk setelah beberapa saat tidak melihat orang yang ingin ditemuinya.


"Kau pergi kemana Rambut Putih?"


Orang yang berpenampilan anak perempuan itu adalah Aray yang berniat mencari Amdara tetapi tidak menemukan. Alhasil dia menggunakan pakaian dan berpenampilan perempuan agar tidak ketahuan dirinya yang mencari Amdara.


Entah apa yang ingin Aray katakan, tetapi raut wajahnya jadi kesal karena tidak menemukan Amdara di asrama.

__ADS_1


Tiga bocah lagi memasuki kamar Amdara sambil berteriak. "Hei, penyusup! Cepat keluarlah atau kami akan membunuhmu!"


__ADS_2