
Atmanya untuk sekarang terguncang oleh ucapan. Hatinya merasa lega, tapi juga merasakan kesedihan mendalam. Untuk saat ini, daksanya lunglai karena pikirannya masih belum sepenuhnya sadar.
Banyak anca yang telah terlewati. Sulit, tapi dia mampu pergi dengan sekuat hati dan tenaga yang dimiliki hingga kaki berpijak di negeri lain sekarang.
Kampa pilu mulai menyelimuti. Harsa mendengar ternyata orangtuanya yang tidak pernah ia sangka. Tapi, suara lain terdengar dalam pikiran. Bahwa Sang Langit telah lama pergi. Lantas, sekarang apa yang harus dia perbuat? Dia ingin bertemu orangtuanya, hanya saja itu tidak mungkin terjadi. Karena kabarnya, Sang Langit telah lama pergi.
Namun, dia masih harus bersyukur masih bisa mengetahui nama sang ayah. Mendengar cerita dari banyak orang tentang sang ayah. Perlahan, dada yang terasa sesak dengan pelupuk mata yang ingin mengalirkan cairan hangat. Dia mencoba menahannya, agar tidak terlihat dia tengah lemah.
Tak apa jika dia hanya bisa mendengar nama sang ayah. Tak apa dia hanya bisa mendengar cerita ayah dari mulut orang lain. Tanpa melihat bagaimana wajah rupawannya. Tanpa merasakan kasih sayang darinya, tanpa merasakan dekapan hangat seperti yang dirasakan anak-anak lain.
Bukankah sejak kecil Amdara sudah terbiasa sendiri? Sejak kecil dia tidak bergantung pada orang lain. Selalu percaya bahwa dia mampu melewati semua rintangan di dunia. Itu pikirnya.
"Dewi."
Satu nama yang teringat saat ini. Nama yang disebutkan oleh Are.
Serayu teramat dingin dirasa oleh Tetua Genta dan Tetua Haki yang masih syok atas penuturan Kung. Keduanya tidak buka suara saat ini, merasakan aura tidak biasa dari Amdara di perjalanan sekarang.
"Aku tidak menyangka kau keturunan Legenda Langit."
Suara Tetua Genta terdengar. Dia tersenyum ke arah Amdara yang masih menunduk.
"Tapi kau memang hebat, Nak. Dari segi ketajaman pemikiran, materi, bahkan kekuatan. Kau berbeda dari anak lain."
Tetua Genta akui hal tersebut. Bertambah kagum pada bocah ini. Teringat pula bagaimana pil yang dibuat Amdara, menyelamatkan nyawanya.
Amdara mengucapkan terima kasih kepada Tetua yang telah membantunya mencari kedua orangtuanya. Tetua Genta mengangguk dan menepuk bahu Amdara pelan, bahwa dirinya masih memiliki banyak hutang budi.
"Itu benar. Kau sekarang sudah mengetahui siapa ayahmu. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Tetua Haki turut buka suara. Dia tidak ingin menyinggung ibu dari Amdara, karena dirinya sendiri pun tidak yakin seperti apa orang yang telah melahirkan anak ini.
Amdara terdiam sejenak. Dia telah mengetahui bahwa dirinya berasal dari Klan Ang, keturunan dari Legenda Langit. Kemudian ibunya adalah seorang pemimpin dari Dark World. Itu sudah cukup membuat hatinya merasa lega. Namun, masih ingin mengetahui lebih banyak mengenai kedua orangtuanya yang meninggalkan dia di negeri sebelah.
__ADS_1
Singgungan senyum di bibir terukir. Dia menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Mendongak, menatap Tetua Genta yang terbang di sebelahnya.
"Aku akan menyelesaikan Turnamen terlebih dahulu."
Amdara seperti melupakan misi awal dirinya datang ke Negeri Nirwana Bumi. Dia terbawa suasana, dan berakhir hanyut dalam kegiatan Akademi.
Tetua Genta dan Tetua Haki tersentak mendengarnya. Keduanya kemudian tersenyum simpul dan mengangguk paham.
"Bukankah turnamen harusnya dua tahun lagi? Mengapa berubah?"
Tetua Genta langsung bertanya penasaran.
Tetua Haki kemudian mulai menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi.
"Ada hal mendesak yang membuat panitia Turnamen Magic Muda memutuskan hal ini dengan matang. Memang sangat tidak kompeten, tapi perwakilan setiap Akademi telah menyetujui."
Pembahasan berlanjut. Tetua Haki menjelaskan bahwa turnamen ini akan berbeda dari tahun-tahun lalu.
Dengan diadakannya Turnamen Magic Muda dengan tempat yang berbeda-beda setiap diadakan, akan membuat tali persaudaraan dan hubungan yang baik antar Akademi. Walau banyak yang tidak beranggapan demikian, karena sebuah turnamen adalah tempat untuk unjuk kekuatan mengalahkan lawan.
Turnamen ini juga bertujuan untuk memperoleh juara satu yang akan mendapatkan sebuah gelar, dan tentunya hadiah istimewa. Begitu pula dengan juara sampai ke sepuluh.
Sebuah kehormatan dan kebanggaan sendiri bagi Akademi yang muridnya memenangkan turnamen ini.
"Walaupun hanya berlatih satu tahun lebih, tapi aku yakin pada kemampuanmu dan yang lain, Luffy."
Amdara tersentak mendengar ungkapan Tetua Haki yang tengah tersenyum ke arahnya, sambil terbang ke depan. Jelas terlihat ada harapan di mata Tetua tersebut.
Amdara mengangguk paham. Dia berkata, "aku akan berusaha."
"Bagus. Kau jangan terlalu terpaku pada kejuaraan. Namun, kau belajarlah dari melihat strategi, teknik, sampai kekuatan lawan."
Pesan Tetua Haki sambil mengangkat jempol kanan.
__ADS_1
Tetua Genta mengangguk setuju. Dia turut menambah, "kami hanya ingin kau belajar dan mendapatkan pengalaman mengikuti turnamen. Jangan anggap sebagai beban."
Tetua Genta juga mengatakan bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja. Dunia tidak akan berpihak pada siapa pun yang lemah terkecuali ada sebuah keberuntungan. Dunia itu kejam, manusia tidak bisa selalu bergantung pada orang lain.
Amdara terus mendengarkan dengan baik. Dia tahu, dunia memang banyak rintangan berbahaya siap merenggut nyawa dan anak itu telah mengalami sendiri bagaimana dunia hampir melenyapkan nyawanya. Dia telah belajar banyak hal diusia sangat muda.
*
*
*
Mereka sampai di Akademi sudah larut. Udara jauh lebih dingin ketimbang siang. Burung-burung telah kembali ke sangkar. Harusnya para murid Akademi Magic Awan Langit juga sudah mengistirahatkan daksa. Namun, yang dilihat Tetua Genta, Tetua Haki, dan juga Amdara tidaklah demikian.
Pemandangan di mana para murid tengah berkumpul di lapangan latihan dengan suara berisik entah membahas apa. Dari mereka semua, dua orang sangat mencolok dengan aura hebat. Kedua orang tersebut sampai membuat Tetua Genta mengerutkan dahi.
"Apa mereka harus seheboh ini menyambut dua orang itu?"
Tetua Genta menyenggol lengan Tetua Haki yang hanya menarik napas dalam.
"Mereka seperti artis. Saat muda dulu, aku bahkan tidak sampai mendapatkan hal seperti itu."
Tetua Genta berkedip mendengar penuturan Tetua Haki. Detik berikutnya, dirinya terkekeh.
"Kau memang tidak populer di kalangan wanita." Tetua Genta menggeleng-gelengkan kepala. Tatapannya beralih ke Amdara yang diam. Dirinya berkata, "Nak, kau istirahatlah. Perjalanan akan dimulai besok."
Amdara menoleh. Dia segera mengangguk dan memberikan hormat. Dirinya pergi setelah kedua Tetua juga pergi.
Malam ini, anak itu pasti tidak akan istirahat dengan tenang. Beberapa pertanyaan masih mengganggu pikiran. Dia bergegas pergi ke asrama tanpa mempedulikan murid-murid di lapangan latihan.
Amdara melewati pintu jendela, dan membuka paksa. Masuk ke asrama yang telah lama tidak dipakai. Tatapannya tertuju pada seseorang yang tengah berbaring di tempat tidur.
"Kau sudah kembali?"
__ADS_1