
Tetua Rasmi menggertakkan gigi. Napasnya mulai tersendat akibat racun yang mulai bereaksi. Padahal dia sudah percaya dengan persiapan matang bersama Tetua Genta. Serangan balik ini sungguh tidak terduga.
"Sial! Apa semuanya gagal total?!" Tetua Rasmi mengusap darah yang mengalir dari mulut menggunakan punggung tangan. Dia memejamkan mata saat serangan hendak ke arahnya.
"Mustahil aku tewas seperti ini kan?"
Di sisi lain, keadaan juga sama persis. Tetua Genta hanya bisa menekan dada yang terasa sesak. Sama sekali tidak menyangka rencananya gagal dan saat ini nyawanya berada di genggaman musuh.
Hatinya membatin penuh harap. "Untuk kali ini aku percaya akan ada keajaiban."
BAAM!
Serangan musuh bertubi-tubi menyerang ganas Tetua Rasmi dan Tetua Genta. Teriakkan keduanya terdengar memilukan. Sambaran petir akibat serangan lawan serta termuncratnya darah membuat musuh yakin keduanya tewas.
Mereka seketika tertawa puas.
"Hahaha. Lihat, dia hangus seketika!"
"Hmph. Benar-benar lemah! Tsk. Tapi aku merasa belum puas. Kita mendapatkan banyak kerugian. Sementara musuh tewas begitu saja!"
"Benar! Seharusnya kita tewaskan dia pelan-pelan. Jika seperti ini ... ayo pergi ke Akademi Magic Awan Langit!"
Mereka mengangguk setuju dan hendak pergi tanpa menoleh ke arah mayat yang hangus.
Udara berubah dingin. Perasaan tidak enak terasa. Asap mulai menghilang, menampakkan seorang bocah berambut putih tengah berdiam diri di belakang Tetua Sekte Tengkorak Racun.
Tangannya terkepal kuat, dia menginjak salah satu keping bangunan dan saat itu juga es mulai tersebar luas. Tetua itu merasakan ada yang tidak beres dan langsung menghindar melayang sambil menoleh ke belakang. Terkejut bukan main melihat Amdara yang tidak diketahui hawa kehadirannya.
"Siapa kau ...?!"
Raut kemarahan terlihat. Dia mengepalkan tangan, menatap waspada lawan.
Es yang telah menyebar langsung membekukan apapun yang tersentuh. Begitu cepat, bahkan orang-orang yang menginjak langsung membeku.
"Apa ini?!"
Keterkejutan terpampang jelas di wajah semua orang. Mereka buru-buru terbang untuk menghindar, tetapi sebuah rantai es muncul dari tanah dengan kecepatan kilat menangkap mereka semua yang langsung membeku.
Tidak ada yang bisa mengelak, melawan pun tidak ada gunanya karena kekuatan mereka terasa terserap habis bersentuhan dengan es itu. Kejadiannya sangat cepat sehingga banyak dari mereka menahan napas menyaksikan betapa mengerikannya kekuatan es ini.
Hanya satu orang yang masih tidak terperangkap walau sudah dikejar rantai es yang membabi-buta.
__ADS_1
"Sialan! Sebenarnya siapa kau dan ada urusan apa datang kemari?!"
Kekuatan Tetua itu sangat dahsyat, bahkan sampai menghancurkan manusia yang terperangkap di dalam es buatan Amdara.
Tangan Amdara terangkat, detik itu dinding segel sebelumnya retak kini muncul sebuah dinding es tinggi nyaris menyentuh langit.
Sekarang salju turun dari langit, menambah dinginnya udara.
"Kau mengetahui informasi makhluk bercahaya di Hutan Arwah, bukan?"
Ucapan Amdara yang dingin membuat lawan nyaris lengah. Dia segera menangkis rantai es dengan cepat.
"Apa itu urusanmu?!"
Hentakkan keras darinya hampir mengenai Amdara. Tapi sebuah dinding es muncul dengan cepat, melindungi. Keterkejutan kembali terpampang.
Amdara melayang, dan menyeringai.
"Mereka rakyatku, dan orang-orangmu menghabisi. Hmph, bukankah itu menjadi urusanku?"
Kali ini rantai dari bawah berhasil menarik Tetua dan menghempaskan ke tanah dengan cepat. Tetua itu berusaha melawan, tetapi kekuatan menghilang. Tubuhnya membeku, hanya wajahnya yang bisa bergerak.
Amdara mendarat, tepat di hadapan lawan bicara yang memelototi.
Sambaran pedang mengenai dahi Tetua itu yang berteriak kesakitan.
"Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku akan menghabisi sektemu sampai ke akar-akarnya!"
Wajah tenang anak itu sudah berubah. Dia memperlihatkan kemarahan luar biasa. Asap hitam keluar dari punggungnya, sekilas nampak ada bayangan perempuan besar yang melambai-lambaikan tangan ke atas.
Tetua Tengkorak Racun menelan ludah susah payah. Merasakan tekanan besar.
"S-siapa sebenarnya dia? Aura gelap ini lebih tinggi dariku."
Lesatan cahaya hitam berbentuk naga nyaris mengenainya saat Amdara mengangkat tangan. Namun, suara seseorang menghentikan.
"Luffy, hentikan!"
Cahaya naga benar-benar berhenti tepat di wajah Tetua Tengkorak Racun.
Amdara menoleh ke belakang, tepat Tetua Rasmi dan Tetua Genta berjalan menghampirinya dengan saling bahu. Wajah mereka menghitam, karena udara beracun.
__ADS_1
Benar, sekali. Di detik-detik saat keduanya nyaris kehilangan nyawa, seseorang menyentuh pundak dan saat itu juga menghilang. Darah yang mencuat telah terganti oleh orang aliran hitam sendiri. Itu adalah bantuan Amdara yang memasukkan kedua Tetuanya ke dalam portal dan memunculkan kembali tidak jauh dari tempat kejadian.
Mereka juga terkejut saat tiba-tiba Amdara muncul dan menyelamatkan. Namun, tetap saja udara berracun sudah mulai bereaksi ke dalam tubuh. Amdara sudah menetralisir menggunakan pil dan kekuatannya. Racun di tubuh kedua tetua jadi terselamatkan. Namun, luka dalam masih belum sembuh.
Saat keduanya merasa lebih baik, langsung pergi mencari bocah berambut putih yang mendadak menghilang dan tanah menjadi beku. Tentu keduanya tidak berubah menjadi es karena Amdara yang mengendalikan. Tetua Rasmi dan Tetua Genta sampai menahan napas menyaksikan kedahsyatan elemen es ini.
Melihat Amdara yang hendak melesatkan serangan. Tetua Rasmi langsung berteriak menghentikan. Dia dan temannya mendekati Amdara dengan cepat.
Cahaya hitam naga menghilang saat itu juga. Begitu pula dengan bayangan wanita di punggung Amdara.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Amdara. Hanya tatapan dingin yang terlihat.
"Jangan bunuh. Kita hanya perlu menahan mereka. Apa kau bisa?"
Ucapan Tetua Rasmi hanya direspon dengusan. Amdara mengangkat tangan, mengeluarkan sebuah portal besar.
Kali ini pun Tetua Akademi Magic Awan Langit hanya bisa menatap kagum sekaligus terkesima.
Perlahan, rantai es digerakkan oleh jari Amdara membawa tawanan. Yang tidak bisa berkutik masuk ke portal.
Tawanan berteriak dan meminta dilepaskan, tetapi Amdara mengunci mulut mereka menggunakan tali es.
Sekitar 65 orang masuk bersama Tetua mereka yang tidak berdaya.
Di tempat itu, Amdara tak kunjung buka suara. Sementara dua Tetua menatapnya penuh pertanyaan.
"Belum saatnya kami menanyakan semua hal kepadamu, Nak."
Tetua Genta masuk, diikuti oleh Tetua Rasmi. Amdara hanya menghela napas panjang.
"Apa aku salah?"
*
*
*
Lapangan Akademi Magic Awan Langit tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih. Selanjutnya mulai memunculkan seseorang berpakaian hitam yang terikat oleh rantai es. Tidak hanya satu melainkan banyak orang. Jelas saja pemandangan itu membuat kaget murid-murid Akademi Magic Awan Langit.
Awalnya para murid hendak menyerang, tetapi dihentikan oleh Guru Kawi yang melihatnya dan sadar ada sesuatu. Kabar ini tersebar cepat. Tetua Widya yang berada di Akademi, dan beberapa guru langsung ke lapangan latihan untuk melihat.
__ADS_1
Sampai Tetua Genta dan Tetua Rasmi muncul dari balik cahaya yang merupakan portal. Mereka dibuat tersentak melihatnya. Namun, mata mereka terbuka lebar ketika orang terakhir muncul dengan tatapan dingin dan wajah cantik anggun serta rambut putih yang sudah lama tidak mereka lihat. Aura gelap beserta wibawa tercampur menjadi satu di tubuh gadis itu.