
Yang terpenting sekarang adalah membuat murid-murid Guru Aneh bisa mengaktifkan kekuatan, dengan begitu mungkin kelas ini tidak akan dibuang lagi. Tapi bagaimana caranya? Mengenai Aray yang bisa mengaktifkan kekuatan, ini pasti ada hubungannya dengan Amdara. Namun, Guru Aneh belum bisa mengetahuinya.
"Kenapa harus mengikuti mereka? Aku sudah hapal betul tatapan merendahkan mereka. Mereka hanya memandang orang yang memiliki kekuatan! Cih, benar-benar tidak tahu malu."
Aray berkata dengan ketus, dia sangat marah saat mengingat tatapan dan cibiran dari orang-orang. Guru Aneh tentu mengetahui hal ini, dirinya tidak bisa bertindak apa pun untuk murid-muridnya walaupun itu hanya menegur murid kelas lain.
"Nak, aku tidak memiliki wewenang apa pun di sini. Apa yang mereka putuskan tidak bisa dielak."
Amdara segera duduk bersila mendengar perkataan Guru Aneh yang terdengar seperti orang biasa.
"Kau seorang guru."
Amdara berucap tenang, Guru Aneh menoleh ke arahnya dengan tatapan sulit diartikan. Walaupun Guru Aneh seorang guru, tetapi sebenarnya tidak ada yang menganggapnya guru selain murid Kelas Satu C.
Inay menyetujui perkataan Amdara. Kali ini Aray mengangguk setuju juga, yang dikatakan Amdara sangatlah benar. Selama ini, hanya Guru Aneh yang mau mengajari murid Kelas Satu C dengan sabar tanpa meminta bayaran. Selama ini Guru Aneh yang selalu mendukung dan menyemangati Aray dan teman-temannya tanpa ada pandangan merendahkan.
Guru Aneh seorang guru sesungguhnya bagi Aray dan yang lain. Guru yang akan diingat sampai akhir hayat murid-muridnya dan paling berkesan. Bertahan sampai selama ini, Aray tentu tidak akan mengecewakan Guru Aneh apa pun yang terjadi.
Guru Aneh diam tidak menjawab. Amdara kembali berkata, "kau adalah guruku."
"Aku memang gurumu saat ini tetapi entah dengan besok." Guru Aneh tersenyum pahit di balik topeng. Walaupun Amdara tidak lama menjadi muridnya, tetapi rasa sedih tentu ada. Jika murid-muridnya mulai bisa mengaktifkan kekuatan, maka Guru Aneh pasti akan disingkirkan dan digantikan guru lain.
"Aku mengakuimu guru tidak dengan yang lain." Amdara lalu berjalan mendekati Guru Aneh. Saat berada di depan Guru Aneh, Amdara langsung memberi hormat. "Aku memilihmu sebagai guru karena kau orang yang tepat. Kau, bukan yang lain. Aku tidak akan menjadi murid guru lain selain kau, guru. Mohon bimbingannya."
Guru Aneh bergeming, tangannya terkepal kuat. Selama ini, tidak ada yang secara terang-terangan menganggapnya guru. Kelas Satu C sendiri tidak seberani ini mengatakannya. Namun, Amdara tanpa ragu sudah menganggapnya guru.
"Tsk. Bukan hanya kau yang menganggapnya guru! Tapi semua murid sekelas juga! Ck, kau bocah cakap bicara, jangan bicara seakan-akan guru tidak memiliki harapan menjadi guru!" Aray membentak Amdara. Matanya tajam menusuk ke arah bocah itu.
__ADS_1
Inay mengerucutkan bibir. Ini kali pertama Amdara berucap terang-terangan pada seorang guru. Saat mereka berada di organisasi, Amdara jarang berbicara dengan guru selain ada hal yang penting.
"Tidak." Amdara tidak bermaksud demikian.
"Apanya yang tidak?! Jelas sekali kau berbicara manis agar guru memujimu!" Aray langsung berdiri, dan menunjuk-nunjuk Amdara.
Amdara menarik napas palan sebelum menghembuskannya perlahan. Aray memang terlihat tidak suka padanya.
"Kau seperti perempuan, banyak bicara."
Aray tersentak mendengar perkataan Amdara. Dia mengepalkan tangan kuat. Inay dan Guru Aneh juga tersentak, Amdara ternyata bisa berbicara terlalu jujur.
Aray langsung melesat ke arah Amdara, untung saja Amdara dengan sigap menghindar. Aray mengejar Amdara yang terus menghindar.
"Kemari kau bocah! Benarani sekali mengataiku perempuan ...!"
Amdara berlari ke arah Guru Aneh seakan meminta bantuan, bahkan Aray tidak sengaja sampai menabrak meja.
Inay tertawa ketika Aray yang tidak bisa mengejar Amdara yang berlari cepat. Ini juga kali pertamanya melihat Amdara yang dikejar-kejar seperti tikus.
Pagi ini Amdara, Inay dan Guru Aneh bersiap pergi ke kelas. Sementara Aray masih belum mengikuti kelas karena kondisi kekuatannya yang belum stabil.
Amdara dan Inay baru mengetahui bahwa kediaman Guru Aneh sebenarnya jauh dari sekolah jika Guru Aneh tidak membuat portal khusus. Portal ini hanya menghubungkan Kelas Satu C dan kediaman Guru Aneh dan portal ini hanya muncul ketika Guru Aneh menginginkannya.
Begitu muncul portal yang dibuat Guru Aneh, Amdara yang pertama kali masuk dan kemudian di susul Inay. Guru Aneh lalu menghilangkan portal setelah dirinya masuk. Kelas yang gelap membuat Amdara langsung mengeluarkan api birunya.
"Luffy, bagaimana keadaanmu?!"
__ADS_1
"Hei, bukankah kau terluka parah?!"
"Adik Kecil, apa kau sudah sembuh?!"
Amdara langsung mendapatkan pelukan dari teman-temannya. Terlihat ada Ketua Kelas Dirgan, Atma, Rinai, Nada dan yang lain. Ternyata mereka menunggu Amdara bersama Guru Aneh.
Inay sampai terkejut ketika ada banyak orang yang memeluk Amdara. Jika diingat kembali, Amdara selama ini jarang sekali mendapat pelukan bahkan dari teman-temannya di organisasi karena selain Amdara yang sering mengambil misi Amdara juga jarang berbicara. Amdara seakan mulai berubah, entah itu cara berbicaranya ataupun tindakannya.
Guru Aneh juga demikian, dirinya seakan tidak terlihat murid-muridnya saat ini. Perhatian kini berpusat pada Amdara.
"Aku baik-baik saja."
Amdara pasrah saat Nada yang mengelus-elus pipi memastikan apakah ada luka atau tidak. Rinai sendiri masih menangis, dia memeluk erat Amdara dari belakang. Ketua Kelas Dirgan nampak tersenyum senang saat Amdara sudah sembuh, tangannya terurur menepuk-nepuk pelan kepala Amdara.
"Kau memang hebat," kata Ketua Kelas Dirgan.
Amdara tersenyum tipis. "Mn, aku luar biasa."
Inay terbatuk-batuk mendengar perkataan Amdara. Hah, Amdara memang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi.
Nada tertawa ketika Amdara berucap tenang. Bahkan Rinai langsung menghentikan tangisnya dan melihat wajah polos Amdara.
"K-kau?"
Rinai tidak menyangka Amdara bisa berucap demikian. Teman-teman yang lain juga tertawa, entah mengapa perkataan Amdara barusan terdengar lucu.
Amdara mengerutkan kening, ucapannya tidak ada yang salah tetapi mengapa mereka tertawa?
__ADS_1
Guru Aneh tersenyum, ini pemandangan indah. Senyuman murid-muridnya benar-benar langka. Sejak lama, kelas ini sangat suram. Jarang sekali mereka tersenyum, yang ada hanyalah aura keputusasaan.
"Kalian tahu, manusia itu tidak bisa hidup sendiri." Guru Aneh berucap. Semua pandangan langsung terarah padanya. "Teruslah cari teman yang pantas. Yang bisa membuat kalian tidak merasa sendiri dan yang mau mengulurkan tangan ketika kita dijatuhkan, yang menerima kita dengan segala kekurangan kita. Teman itu sangat sulit dicari, berbeda dengan musuh yang bisa didapat dengan mudah. Untuk itu, pembelajaran hari ini berkaitan dengan pertemanan."