
Akademi paling besar di Negeri Nirwana Bumi adalah Akademi Nirwana Bumi yang terletak di kota Ujung Bumi dekat dengan istana Kekaisaran. Akademi yang para muridnya mencapai 3500 siswa yang pastinya memiliki bakat luar biasa. Tidak ada yang memandang remeh Akademi tersebut. Semua Akademi di Negeri Nirwana Bumi tunduk pada Akademi ini.
Siapa pun yang mendengar nama Akademi ini akan langsung terkagum-kagum dan merasa menjadi seekor kutu di antara naga berkekuatan besar. Selain cara didikannya yang bisa menghasilkan murid luar biasa hebat, Akademi ini juga langsung didirikan oleh Kekaisaran.
Bukan hanya dari kalangan bangsawan, tetapi orang biasa yang memiliki tekad dan bakat bisa belajar di sana.
Mendengar Amdara menyebut nama Akademi tersebut Cakra beberapa saat membeku dan kemudian dia bertanya dengan nada datar seperti biasa.
"Apa kau akan pergi ke sana?"
Pertanyaan barusan sungguh menohok Amdara yang memang berniat ke akademi tersebut.
"Aku tidak tahu. Seperti apa Akademi itu?"
Terdengar helaan napas Cakra ketika akan menjelaskan Akademi besar itu. Yah, ini memang pertanyaan mudah tetapi Cakra merasa Amdara akan dalam bahaya jika berada di Akademi Nirwana Bumi. Pasalnya Cakra pernah mendengar Akademi itu untuk para monster dengan kekuatan besar.
Murid seumuran Cakra umumnya di sana sudah bisa menandingi seorang guru besar. Dari segi kekuatan, Akademi Nirwana Bumi memang unggul akan tetapi lemah dalam hal tata krama. Mereka akan menganggap remeh kepada siapa pun selain keluarga Akademi Nirwana Bumi. Tentu saja kesombongan dan keangkuhan mereka menambah intimidasi siapa pun.
Cakra begitu serius ketika menjelaskan mengenai Akademi Nirwana Bumi yang dia ketahui. Dia tidak meninggalkan cerita sedikit pun.
Amdara yang mendengarnya menahan napas. 3500 murid lebih, bahkan Organisasi Elang Putih saja tidak mencapai seribu lebih.
Tidak heran jika ada orang yang bisa melepas Benang Merah.
Untuk pergi ke Akademi Nirwana Bumi sepertinya akan sulit dan juga membutuhkan waktu lama.
Sekarang ada satu yang masih belum terjawab. Dari mana Ang mendapatkan informasi mengenai orang yang bisa melepas Benang Merah?
"Apa kau pernah mendengar orang yang bisa melepas Benang Merah?"
__ADS_1
Amdara bertanya pelan dan terlihat Cakra yang menyerngitkan dahi. Mencoba mengingat apakah dia pernah mendengar atau tidak.
"Benang Merah, bukankah itu benang yang melilit inti spiritual?" Cakra mencoba memastikan.
Anggukan Amdara sudah cukup membuat Cakra menarik napas dalam.
"Aku pernah mendengar orang yang bisa melepas Benang Merah. Tapi, tidak tahu siapa."
Jawaban Cakra membuat Amdara sedikit kecewa. Namun, apabila dipikirkan lagi, bukankah murid-murid atau para Tetua di Akademi Nirwana Bumi seharusnya sudah mengguncang Negeri Nirwana Bumi? Bukan hanya dari nama Akademinya saja, tetapi ada rumor kenyataan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang luar biasa.
"Jika kau pergi ke Akademi itu, tunggulah sampai dewasa."
Amdara tersinggung berat dengan penuturan Cakra. Dirinya mendengus dan berkata, "aku tahu."
"Jadi, kapan kau akan membantuku?"
"Setelah pertandingan antar kelas selesai."
Kedua bocah itu berbicara santai, seperti telah menjadi teman akrab. Sementara beberapa murid yang melihat keduanya nampak berdecak kesal.
Di Balai Istirahat, kegaduhan terjadi karena Jao dan kelompok yang menggertak kelompok Kelas Satu C yang terlihat tidak terima dan balik melawan.
Kejadian itu tentu menarik perhatian banyak murid yang tengah istirahat. Dari mereka ada yang berdecak kesal karena waktu istirahatnya diganggu. Namun, ada juga yang memproduksi kedua kubu agar saling berduel. Di antara mereka sama sekali tidak ada yang berniat melerai.
Atma awalnya terbahak karena mendengar cerita Aray ketika membodohi Jao dan sekarang kelompok mereka tidak terima dengan perlakuan Aray.
Nada juga tertawa cekikikan ketika kelompok itu tanpa tahu malu menyalahkan Aray.
"Huhuhu. Kurasa Jao memang bodoh, makanya mudah diprovokasi."
__ADS_1
Rinai berkata tanpa merasa bersalah. Dia membuat teman-temannya menepuk dahi. Jika Rinai yang berbicara, maka sudah perkataan pedas yang akan terlontar.
Jao dan keenam temannya tidak terima. Mereka mendorong dan nyaris melukai Rinai menggunakan bangku andai Inay tidak segera menolong.
"Kurasa para murid di sini sudah melupakan aturan Akademi."
Inay menyindir dan memandang sinis ke arah kelompok Jao yang tidak terima dengan kekalahan memalukan.
Mendengar Jao yang mengatakan Aray membodohi serta mengancam, tentu membuat mereka semakin tidak terima. Sangat memalukan kalah hanya dengan ancaman lawan. Mereka tidak sepenuhnya menyalahkan Jao, tetapi malah menyalahkan semuanya pada Aray.
Salah seorang teman Jao menjawab tak kalah sinis, "kau tahu apa soal aturan Akademi? Bukankah kau hanya penyusup di sini?"
Tertohok sudah Inay yang mengepalkan tangan. Dia tidak bisa mengelak dari kenyataan ini. Semua orang Akademi masih menganggap Inay dan Amdara sebagai bahaya. Mereka masih mewaspadai keduanya. Namun, entah bagaimana pandangan Guru Aneh, dan kelas Satu C. Bisa saja mereka juga selama ini hanya berpura-pura berbuat baik agar bisa mengetahui informasi kedua bocah itu.
Pemikiran ini mulai muncul di pikiran Inay. Dia mengingat apa saja yang telah teman-temannya lalui, mencari celah agar nanti bisa tanyakan langsung.
Dirgan yang merasa situasi ini tidak baik maju ke depan. Berhadapan dengan ketua kelompok Jao.
"Kalian mencari masalah dengan kami. Pergilah. Sebelum aku melaporkan kalian yang berani menindas kami selama ini. Termasuk perilaku kalian."
Dirgan menatap bengis lawan bicara yang nampak tersenyum miring dan mendorong bahu Dirgan lalu berkata, "memangnya apa yang kami lakukan pada kalian? Apa kau memiliki bukti kami menindas?"
Selama ini tidak ada yang melaporkan tindakan murid-murid yang menindas kelas Satu C. Jika melapor pun, maka ada saja yang tidak percaya. Memiliki bukti pun, belum tentu mereka akan mendapatkan hukuman. Alibi-alibi yang nanti mereka lontarkan langsung dipercaya guru atau Tetua. Jadi selama ini mereka tidak bertindak.
Guru Aneh tahu soal ini, tetapi dia juga tidak bisa membantu banyak. Hanya memberikan wejangan agar murid didiknya bisa bersabar serta tidak terpancing emosi.
"Hmph. Kami tidak perlu bukti untuk melaporkan kalian. Cukup membuat pelajaran berharga untuk kalian dan semua selesai. Bukankah itu mau kalian?"
Aray menyeringai dan mengelinting lengan jubahnya seakan menantang lawan yang kini tersulut emosi dan menerima tantangan Aray. Tentu saja Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Inay yang mendengar keputusan sepihak Aray terlonjak kaget. Mau memperingati Aray pun percuma, dia bocah keras batu. Sekali bertindak yang menurutnya benar akan terus maju selagi tidak merugikan pihak sendiri.
__ADS_1
"Kau yang pertama kali menantang jadi kau juga yang harus mengakhirinya."
Merasa dipermalukan, Jao dan teman-temannya mengajak Aray berduel di depan Balai Istirahat. Tentu Aray malah senang dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa pada teman-temannya.