
Lima Belas Bintang Malam adalah sekelompok anak yang telah lama menjadi pelindung kota yang saat ini gencar membuat kekacauan. Mereka melawan para Raja Roh Hitam menggunakan kekuatan luar biasa.
Tidak ada yang tahu identitas Lima Belas Bintang Malam sampai sekarang. Para warga hanya menganggap mereka sebagai 'pahlawan' kecil dengan sebutan 'Bintang Malam' karena kemunculan mereka selalu malam-malam ketika para Raja Roh Hitam bermunculan menyerang.
Bukan hanya karena itu mereka menjuluki 'Bintang Malam', ada ciri khas tersendiri bagi Lima Belas Bintang Malam. Mereka akan mengeluarkan cahaya dengan warna berbeda dari bawah kaki, cahaya terang yang merupakan kekuatan mereka. Mereka juga mengenakan jubah berwarna kuning keemasan. Mengenakan topeng yang hanya menutupi sebelah wajah dengan corak akar.
Berkat Lima Belas Bintang Pelindung, para warga selama ini aman dan tidak banyak mendapatkan kerusakan. Saat mereka dengan gagah berani menyerang musuh di gelapnya malam, jubah kuning keemasan mereka nampak bersinar.
Bintang Malam, mereka mengeluarkan kekuatan bukan main untuk melawan Raja Roh Hitam.
BAAM!
Salah satu dari mereka baru saja melesatkan serangan bercahaya hijau. Dia mengelak dengan cepat ketika serangan musuh menghampiri. Dia dengan cepat mengangkat tangan dan cahaya hijau menyelimutinya sampai hilang, Raja Roh Hitam terhenyak mengedarkan pandangan tetapi matanya langsung melotot marah saat melihat bocah sebelumnya menghilang kini berada di atasnya.
Cahaya hijau dari kepalan bocah tersebut melesat begitu cepat ke arah Raja Roh Hitam yang langsung mengenai telak.
"Hmph. Bagaimana rasanya? Apa kau mau merasakannya lagi?"
Senyum terbit di wajahnya, menatap Raja Roh Hitam remeh. Sekilas warna matanya berubah menjadi hijau dan kembali seperti semula.
Tanpa menggubris geraman musuh, dia kembali melesat dengan jurus lain. Bahkan kali ini banyak bayangan akar hijau di belakangnya.
"Cahaya Bayang Bumi ...!"
Petir menyambar dengan cahaya hijau. Suaranya menggelegar seolah sedang marah. Petir tersebut menerjang Raja Roh Hitam yang langsung membuat serangan lain.
Lesatan cahaya ungu dari arah belakang mengenai telak Raja Roh Hitam yang lengah. Dia merasakan petir menyambar ke sekujur tubuh. Terasa terbakar sampai dia menjerit sejadi-jadinya.
Namun, bocah itu sedikit menautkan alis ketika merasakan sesuatu yang berbeda.
"Apa dia yang melemah, atau aku yang semakin kuat?"
Debaman keras tidak berkesudahan. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat dari kegiatan siang, kini selalu dibuat tak nyaman dan harus menyerang musuh begitu kuat.
Para warga telah jengah dengan hal ini. Tapi apa boleh buat, mereka pun terlalu lemah hanya untuk menghadapi satu Raja Roh Hitam walaupun bekerja sama. Jika saja tidak ada Lima Belas Bintang Malam, mereka yakin kota ini sudah lama diporak-porandakan.
Salah seorang warga yang terluka, kini hanya bisa menatap kagum para pahlawan di langit malam. Dia sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana brutalnya Lima Belas Bintang Malam setiap melawan musuh.
__ADS_1
Napasnya tercekat saat melihat senyuman dari salah satu anak ketika mendapatkan serangan musuh. Bukannya menghindar atau membuat perisai pelindung, dia malah menerjang serangan dan menyerang secara terbuka. Langit yang seharusnya berwarna gelap, sekarang nampak kilatan cahaya dengan berbagai warna meledak.
"A-aku tidak yakin mereka masih anak-anak. L-lihat saja, kekuatan mereka mengerikan."
Salah seorang warga juga mengangguk setuju. Dia menimpali sambil memegang lengannya yang terluka akibat terkena serangan Raja Roh Hitam.
"A-aku juga berpikir begitu. Kita bahkan kalah dari segi stamina dan kekuatan."
Tatapan kekaguman terus berlanjut. Pria dewasa yang sedang terduduk di sebelah mereka pun turut buka suara.
"Jika mereka masih anak-anak, pasti mereka anak-anak berbakat dan jenius. Aku pikir mereka dari suatu Akademi hebat."
Temannya mengangguk menyetujui. "Mn, itu masuk akal. Mereka benar-benar penyelamat."
Masih banyak anggapan-anggapan para warga mengenai Lima Belas Bintang Malam. Mereka yang tidak terluka parah masih ikut menyerang Raja Roh Hitam.
Para warga jelas sangat senang dengan adanya para pengelamat. Mereka ingin sekali membalas budi, akan tetapi kelima belas penyelamat selalu pergi tanpa berpamitan.
Kondisi kota sekarang memang tidak dalam kondisi baik. Hampir seluruh wilayah kota tersebut terkena serangan. Termasuk Penginapan Seribu Rasa yang kini sudah roboh setengahnya.
Dua Raja Roh sebelumnya sekarang sedang berhadapan dengan dua bocah yang merupakan Bintang Malam. Tidak terlihat Ian, atau Nuri dan yang lainnya di sana.
Cahaya biru mengambang di udara dan meledak begitu terkena sentuhan serangan Raja Roh Hitam. Cahaya biru lain memutari sang tuan yang memakai gelang dengan ukiran ombak. Dia juga memiliki ciri khas berupa pakaiannya yang memiliki sedikit warna biru seperti ombak.
Graoor!!
Raja Roh Hitam menghantam tanah akibat mendapatkan serangan telak. Belum sempat dia mengambil tindakan melayang, sebuah hantaman keras datang mengenai kepalanya.
Bara emosinya meluap, dia menggerakkan bangunan dan melemparnya ke arah lawan.
Bocah yang menjadi lawannya menghilang dengan cepat dan melakukan tendakan sabit di perut.
Kini suara geraman kemarahan Raja Roh Hitam semakin menjadi.
Bocah itu melayang di udara, memperhatikan dengan waspada. Dia bergumam, "Entah mengapa Raja Roh Hitam ini tidak kuat seperti biasanya."
Dia terdiam, suara pertarungan lain membuatnya menoleh. Temannya juga baru saja meluncurkan kekuatan besar.
__ADS_1
"Ri, apa pendapatmu tentang mereka untuk malam ini?"
Teriaknya meminta pendapat. Orang yang diteriaki menoleh, dan berkata, "Ada yang tidak beres. Kurasa mereka memiliki rencana lain."
Perkataan lawan bicara membuatnya bergeming, tangannya terkepal kuat. Tatapannya berubah lebih bengis.
Dia mendengus kasar.
"Ada rencana atau tidak. Sekarang adalah waktunya untuk menghabisi!"
*
*
*
Amdara memejamkan mata saat merasa tidak ada lagi harapan. Dia sama sekali tidak ada bayangan akan tewas di tangan Raja Roh Hitam.
"Apa ini benar?"
Sekali lagi dirinya menarik napas dalam. Tubuhnya benar-benar tidak terasa. Tekanan berat, serta darah yang tidak berhenti mengucur dari tubuhnya sangat memprihatinkan.
Saat lintasan cahaya hitam nyaris mengenainya, dan Amdara sudah pasrah akan keadaan. Seluring Putih tiba-tiba muncul dan mengeluarkan cahaya putih menyilaukan sampai para Raja Roh Hitam tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.
"Cahaya apa itu?!"
"Sialan! Graoor!"
"Ini pasti rencana anak manusia itu! Cepat lakukan sesuatu arghhh!"
Para Raja Roh Hitam itu saling memberikan pendapat.
Di alam bawah sadar yang mereka buat ini, mereka memang dapat bicara sesuka hati. Sementara di dunia nyata, mereka sama sekali tidak bisa berbicara.
Jadi bisa dikatakan yang sedang bersama dengan Amdara adalah setengah kekuatan atau jiwa Raja Roh Hitam.
Saat ini tubuh asli mereka sedang diserang oleh Lima Belas Bintang Malam hal tersebut membuat kekuatan mereka sedikit melemah, dan tetap merasakan sakit.
__ADS_1
Dari mereka tidak ada yang tahu bahwa cahaya putih barusan sudah menghilangkan Amdara dari tempatnya.