Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
86 - Keadaan yang Mengkhawatirkan


__ADS_3

"Tidak bisa. Terlalu lemah."


Amdara menggertakkan gigi. Wajah tenangnya mulai dibuat berubah ekspresi. Antara merasakan sakit di tubuh dan pikirannya yang kacau. Jika saja bersama teman-temannya, mereka pasti akan menolong. Jika saja dia tidak ke balai istirahat sendiri, kejadian ini tidak akan terjadi. Dan jika saja dirinya bisa mengeluarkan kekuatan sedikit untuk melawan. Tubuhnya tak akan merasa sesakit sekarang. Menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa.


Mata Amdara meredup, mata birunya mulai terasa tertutup ketika tekanan yang dia rasakan semakin menjadi.


"Aku ... tak boleh mengharapkan siapa pun."


Tubuhnya mulai oleh ketika kakinya terus berlari pontang-panting. Asap merah ini mulai membuatnya pusing.


*


*


*


Setelah salah satu senior yang menggertak Amdara menggunakan jurusnya, tanpa di sadari banyak murid ruang balai istirahat telah terisi dengan kabut merah. Namun, efek dari kabut merah ini tidak dirasakan siapa pun kecuali Amdara. Kabut merah di balai istirahat nampak tipis, nyaris tidak terlihat dengan mata telanj***. Entah bagaimana tetapi Amdara tidak lagi terlihat di balai istirahat, seakan menghilang ditelan kabut merah.


Sementara itu, dua senior sebelumnya menutup mata. Seakan tengah menggunakan jurus tertentu. Tanpa mempedulikan sekitar.


Cakra yang awalnya mengira Amdara bisa menyelesaikan dengan mudah, malah salah kira. Yang Cakra lihat Amdara tidak melakukan perlawanan sama sekali. Terlambat sudah. Amdara terjebak dalam jurus ilusi.


Cakra mengepalkan tangan, dan tanpa diduga melesat menyerang dua senior yang tengah memejamkan mata. Menggunakan kekuatannya, Cakra berhasil membuat debaman keras terjadi. Satu senior membelalakkan mata saat tidak bisa menghindari serangan mendadak. Akibatnya dia terpental membentur dinding dan merasakan dadanya sakit. Satu senior lagi masih menutup mata. Tak mempedulikan dunia luar.


"Cakra ...! Apa yang kau lakukan?!"


Kemarahan jelas nampak pada senior yang baru menabrak dinding dan langsung melayang. Menatap nyalang ke arah orang yang telah menyerang.


Cakra menatap dingin. Dia adalah murid teladan di Akademi Awan Langit. Setiap tingkahnya selalu dijadikan contoh bagi murid lain. Melihat ada kegaduhan di depan mata, apalagi dengan ada niat saling melukai sesama murid. Jelas Cakra tak bisa tinggal diam. Dia harus menghentikan bagaimana pun caranya.


"Hentikan jurusmu."


Lawan bicara semakin dibuat tercengang dan berkata, "itu tidak akan. Kau jangan ikut campur urusanku!"


"Tiga puluh cambukan."


Diusia mudanya, Cakra selalu membuat para senior kadang berdecak kesal. Karena setengah peraturan di Akademi hasil pemikirannya yang disetujui Tetua. Mendengar hukuman yang dijatuhkan, senior itu menggeram tak terima.


"Sial. Ada masalah apa sebenarnya kau denganku?"


"Membuat keributan. Mencelakai murid lain."


"Hei, kau benar-benar minta dihajar, ya?! Walaupun kau akan melaporkan masalah ini, tapi aku yang akan membuatmu tidak bisa bicara dahulu!"


Semua meja hancur dalam sekejap. Dinding balai istirahat dibuat bergetar hebat akibat senior tersebut yang mengeluarkan kekuatan dalam jumlah besar. Tidak peduli rumor yang mengatakan Cakra sangatlah kuat dan mungkin bisa mengalahkannya. Sekarang harga dirinya juga jadi dipertaruhkan.

__ADS_1


Beberapa murid yang melihat akan ada pertarungan besar langsung pergi. Namun, ada juga yang penasaran dan memilih menonton sambil menyoraki Cakra agar semangat.


Masih dengan ketenangan tak terbantahkan, Cakra mengatur kekuatan dan tanpa peringatan kembali melesatkan serangan begitu pula lawan yang mengeluarkan jurus terhebat langsung. Perbedaan di antara keduanya jelas nampak. Cakra yang berusaha tidak membuat balai istirahat rusak, dan lawan yang tanpa peduli dengan sekitaran.


Debaman keras lagi-lagi terdengar. Keduanya saling bertukar serangan. Nyaris mengenai satu senior yang sedang duduk memejamkan mata. Jelas, Cakra juga menargetkan senior itu yang kini sedang sibuk dengan jurus ilusinya.


"Cakra ...! Ini bukan urusanmu ...!"


Senior itu menggeram dan nampak amarahnya yang membuncah. Dari keduanya belum ada yang terluka, tetapi jelas yang paling banyak menggunakan kekuatan lawan Cakra yang kini tengah mengatur napas.


"Hentikan jurus itu." Cakra melayang dengan tatapan tenang. Tangannya terkepal dan bersiap melesatkan serangan beruntun jika lawan tak juga menyerah.


Namun, lawan sepertinya memang memendam dendam kesumat pada Amdara. Dia berkata, "kau menyebalkan dan pantas dibuat diam dengan seranganku. Cakra, kau lah yang harusnya berhenti melawan jika tidak ingin terluka."


"Lima puluh cambukan."


BAAM!


Serangan beruntun Cakra lesatkan setelah berujar. Dia yakin lawan tak akan menuruti kata-katanya.


Pertarungan semakin sengit di antara keduanya. Jelas, senior yang masih mengendalikan jurus ilusi mulai terganggu dan tidak konsentrasi. Apalagi di dalam jurus ilusimya, Amdara memberontak sejadi-jadinya.


*


*


*


Dua bentuk manusia hitam entah sejak kapan menghilang. Seakan Amdara mendapat kekuatan dari dalam hatinya ketika teringat perjuangan Tetua Bram yang menjaganya sejak belia. Perjuangannya di Organisasi Elang Putih yang bahkan nyaris merenggut nyawa. Dan teringat Dark World mengenai ibunya ... rasanya Amdara tak ingin menyerah. Selagi napas masih bisa dirasakan, dia akan merangkak dari neraka untuk mencari dan berjuang untuk apa yang diinginkan.


Amdara meninju bintang hitam sekuat tenaga. Saat menemukan titik lemah di bagian perut, Amdara menggunakan kakinya untuk menendang berkali-kali sampai bintang hitam tak ada waktu melawan. Kesempatan tersebut Amdara gunakan sebaik-baiknya dan langsung melesat setelah membenturkan kepala binatang hitam ke lantai dengan keras. Bunyi tulang terdengar, nyatanya Amdara harus merasakan sakit dua kali lipat setelah mengeluarkan sisa tenaga.


Dia kembali berlari mencari inti pengendali ilusi. Dia yakin dengan pemikirannya.


Semakin Amdara berlari, semakin tekanan berat dirasakan. Tak peduli, Amdara sampai merangkak. Darah mengalir dari mulutnya.


Mata Amdara menyipit ketika melihat benda merah darah tak jauh lagi. Benda itu berbentuk bola, dan menyinarkan cahaya hitam dan jelas saja Amdara bisa menebak itu yang dicarinya.


"Inti pengendalinya."


Amdara terbatuk darah. Napasnya tidak beraturan. Binatang hitam yang sebelumnya berhenti mengejar sekarang kembali mengejar melihat Amdara yang hampir menyentuh benda tersebut.


Pandangan Amdara memburam. Dia tidak kuat lagi. Namun, hatinya terus berbisik agar segera menghancurkan benda itu. Panggilan hati.


Dua jengkal lagi, Amdara terbatuk darah kesekian kalinya. Dia menggeleng dan dengan sisa tenaga berhasil menyentuh benda tersebut.

__ADS_1


Tepat sasaran ketika Amdara memukul benda merah darah yang tiba-tiba berubah warna tengah dikelilingi angin kecil merah. Debaman keras terjadi bersamaan dengan Amdara yang terpental ke dinding sampai retak. Tulang punggunya seperti patah, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Dia terbatuk darah, sebelum akhirnya menelan darah sendiri. Kabut merah mulai memudar, memperlihatkan balai istirahat yang nampak kacau.


Setelahnya Amdara kehilangan kesadaran dan meraskan sakit luar biasa.


Senior yang mengendalikan jurus ilusi membuka mata. Darah keluar dari hidung, telinga dan mulutnya. Dia menatap tak percaya pada Amdada yang kini tergeletak tak sadarkan diri.


Pertarungan antara Cakra dan lawan terhenti saat itu juga. Cakra yang berhasil membuat lawan tiga kali membentur dinding dan terluka berhasil menyerang dengan kekuatannya.


Sesuatu melesat cepat di hadapan Cakra dan langsung membentur dinding. Cakra tersentak, melihat tubuh seorang bocah yang terluka dan mengeluarkan darah dari mulut dan tidak sadarkan diri. Cakra melesat, membawa tubuh Amdara yang harus segera diobati. Mata Cakra menatap tajam dua orang yang telah melukai bocah berambut putih ini.


"Seratus cambukan sangat ringan untuk kalian."


Setelah berucap, Cakra pergi membawa Amdara ke tempat perobatan. Terlihat dari wajahnya yang tidak lagi tenang karena sama sekali tidak merasakan kekuatan mengalir pada tubuh Amdara.


Dua senior itu membiarkan Cakra membawa Amdara. Mereka juga nampaknya terluka dibagian dalam. Setelah kepergian Cakra, kedua senior itu terbatuk darah dan merasakan tubuhnya yang sakit.


*


*


*


Kabar mengenai balai istirahat yang dibuat retak parah oleh petarungan Cakra dan seorang senior menyebar cepat bak lesatan kembang api.


Di ruang perawatan, Amdara langsung ditangani oleh Orion dan teman-teman ahli pengobatan. Mereka tersentak saat Cakra membawa bocah perempuan yang pernah mereka tangani. Kecemasan nampak di wajah mereka, luka dalam Amdara cukup parah tetapi kekuatan untuk menyembuhkan selalu ditolak tubuh Amdara.


"Bagaimana sekarang? Dia memiliki tubuh aneh. Jika dibiarkan, aku tidak yakin nyawanya tertolong."


Salah satu dari mereka berkata dengan raut wajah cemas. Walaupun telah menyembuhkan luka dalam dan memberikan pil. Nyatanya hal tersebut tidak terlalu berguna bagi Amdara.


Orion segera keluar ruangan, dan melihat Cakra yang masih menunggu di luar.


Orion berkata, "panggil Tetua Haki."


Tanpa bertanya Cakra mengangguk mengerti dengan kondisi Amdara yang cukup parah sampai Orion saja tidak bisa menangani. Jurus ilusi memang sangat berbahaya dan untung saja Amdara tidak tewas terjebak dalam jurus ilusi. Memang murid Akademi Awan Langit tidak bisa dipandang remeh.


Cakra mencari Tetua Haki di gedung Tetua, tetapi dia tidak menemukan. Bahkan Tetua yang lain juga tidak ditemukan Cakra. Butuh waktu tiga puluh menit untuk mencari mereka, tapi memang sepertinya keempat Tetua sedang keluar dari Akademi.


"Bertahanlah."


Cakra mengepalkan tangan. Dia mencoba menyakinkan diri bahwa Amdara akan baik-baik saja. Dirinya terbang cepat ke arah balai hukuman, tetapi sesuatu tiba-tiba muncul di hadapannya. Beruntung Cakra bisa mengendalikan laju terbang sampai tidak menabrak.


"Nak, kau kenapa?"


Itu adalah Tetua Rasmi yang baru saja teleportasi. Melihat wajah tenang Cakra menghilang, jelas membuat Tetua Rasmi menautkan alis dan bertanya.

__ADS_1


Cakra memberi hormat dan berkata, "murid memberi hormat pada Tetua."


Masih dalam keadaan membungkuk, Cakra mengatakan, "maaf, Tetua. Tapi aku membutuhkan bantuanmu segera."


__ADS_2