Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
81 - Hutang yang Harus Dibayar


__ADS_3

Amdara segera diberi pertanyaan beruntun dari teman-temannya saat tengah berdiri santai di depan ruang guru menunggu Atma yang tengah diberi pertanyaan juga oleh Tetua Genta, dan Tetua Widya. Entah bagaimana kondisi bocah itu yang mungkin masih ketakutan.


Ketiga senior murid penjaga gerbang juga tengah berada di ruang pengobatan. Tubuh mereka tengah di cek sendiri oleh Tetua Haki yang terkejut mendengar penjelasan Tetua Genta.


Sementara banyak dari peserta yang penasaran dan berniat bertanya pada kelompok kelas Satu C. Tetapi diurungkan karena mereka tengah berada di dalam gedung guru, dan mereka sendiri tidak boleh masuk. Namun, ada saja yang nekad dan mencari jalan lain agar bisa bertanya langsung pada Amdara.


"Hei, kau belum menjawab pertanyaan kami!"


Aray kesal sendiri karena Amdara yang tak kunjung buka suara. Padahal jelas-jelas mereka telah menunggu selama lima menit.


"Luffy, apa benar kau baik-baik saja?"


Ketua Kelas Dirgan bertanya cemas. Amdara yang dia lihat saat di tengah lapangan sangat berbeda dari biasanya. Dirgan hampir tidak mengenenal sifat Amdara yang ini.


Rinai dan Nada juga merasakan hal yang sama seperti Dirgan. Peringai Amdara itu hemat bicara dan jarang tersenyum. Tetapi hari ini Amdara benar-benar berbeda di pandangan mereka. Perubahan sikap ini jelas harus dipertanyakan. Takut-takut jika Amdara tengah menghadapi masalah tetapi tidak bercerita pada mereka dan akhirnya melampiaskan pada orang lain.


Apalagi Inay yang sebagai adik seperguruan sekaligus temannya memang merasa watak Amdara mulai berubah sejak dari Hutan Arwah.


"Luffy, katakan saja jika kau memiliki masalah. Kami pasti akan membantumu, oke?"


Amdara mengembuskan napas, melihat teman-temannya yang terlalu khawatir. Dirinya menggeleng dan mengatakan baik-baik saja.


"Baik? Lalu ada apa denganmu saat di lapangan hari ini?" Aray berkata sinis.


Amdara tersenyum tipis, "bukankah hutang harus dibayar dengan lebih?"


Dirgan, Aray, Inay, Rinai, dan Nada tersentak kebingungan. Tidak mengerti maksud Amdara.


"Apa maksudmu?"


Amdara mengembuskan napas dan berjalan ke arah lorong. Membuat teman-temannya harus mengikuti dari belakang dan menunggu jawaban.


"Mereka yang mencari masalah." Amdara menghentikan langkah, membalikkan badan ke belakang dan langsung menyeringai. Dia berkata, "aku mencoba memberi kompensasi pada mereka."


Dirgan, Aray, Inay, Rinai, dan Nada menahan napas ketika itu juga. Seringai Amdara terlihat mengerikan. Bahkan wajah papan datarnya lebih baik daripada menyeringai.


Hening seketika. Amdara menaikkan sebelah alis, bingung melihat ekspresi teman-temannya.


Seseorang memanggil Amdara untuk masuk ke ruang guru, Amdara mengangguk dan berjalan menuju ruang guru di mana Atma juga berada di sana.


"H-hah ... apa sebenarnya dia memang semenyeramkan ini?"

__ADS_1


Tanya Dirgan pada teman-temannya dan diri sendiri. Mereka baru mengembuskan napas lega saat Amdara pergi dari hadapan mereka.


Ini pertama kali selama belajar di Akademi Awan Langit mendapat masalah. Mereka selama ini selalu berhati-hati dalam bertindak, karena belum bertindak saja tatapan meremehkan dan ujaran tak suka selalu menyerbu. Apalagi dengan masalah pertama ini? Apa mereka bisa melewatinya dengan baik?


Keingintahuan Inay semakin menjadi mengenai ikat rambut yang dipakai Amdara. Dirinya bertanya, "Luffy, dari mana kau mendapat ikat rambut itu?"


Bukan perkara Amdara memakai ikat rambut apa pun, tetapi ikat rambut itu unik dan Inay tak pernah melihat Amdara yang memakai sebelumnya.


Amdara menghentikan kaki, dia lupa memakai ikat rambut pemberian Are. Dirinya menyentuh ikat rambut, dan tersenyum sedih.


"Milik ibu."


Setelahnya Amdara masuk ke ruang guru dengan tangan terkepal kuat. Entah mengapa dia merasa sesuatu yang aneh pada dirinya.


*


*


*


Di ruang guru suasana tak lebih tegang, malah terlihat wajah Atma yang teramat pucat. Di ruang guru yang tak cukup besar itu, Tetua Genta dan Tetua Widya tengah duduk menghadap Atma yang sedari tadi bergetar karena terus diberi pertanyaan.


Tetua Widya tersenyum, dan meminta Amdara agar duduk di sebelah Atma.


Ruangan itu hanya diisi lima kursi dan satu meja bundar. Dinding bernuansa klasik, serta ada pajangan yang berupa lukisan seorang pria tampan dengan ikat rambut putih. Tatapan mata yang menenangkan dan tajam sekaligus membuat siapa pun yang melihat bisa merasakan terintimidasi.


Amdara menarik napas pelan, dia melirik Atma yang juga menatapnya. Seakan mereka harus cepat-cepat menyelesaikan masalah ini jika ingin bisa mengembuskan napas lega.


"Aku tak akan bertele-tele lagi. Jadi, mengapa kau ingin melakukan uji coba?" Pertanyaan pertama dari Tetua Widya langsung pada Amdara yang masih mencoba bersikap tenang.


"Untuk mengetahui efek ramuan tersebut."


Tetua Widya mengangguk dan kembali bertanya, "mengapa kau ingin mengetahui efek ramuan yang bahkan si pembuatnya saja tidak tahu reaksi yang akan terjadi?"


Tetua Widya sekilas melirik Atma yang langsung menunduk dalam. Atma dihadapan para Tetua dan Guru bukanlah orang yang percaya diri, yang ada dia merasa semut yang mengganggu.


Amdara seperti seorang aktor yang tengah diwawancarai. Dia menjawab sopan, "aku yakin pada temanku."


Jeda beberapa saat Amdara menoleh ke samping, tepat Atma yang langsung menoleh ke arahnya bingung.


"Atma memiliki bakat alkemis. Dan aku ingin membuat nilai." Amdara menyelesaikan dengan mengatakan bahwa, jika saja mereka tidak melakukan uji coba, mana mungkin bisa mengetahui efek dari ramuan Atma yang ternyata tidak terduga? Dan pastinya, mereka tidak akan mendapatkan nilai sepeser pun.

__ADS_1


Jawaban Amdara sederhana, merasa kurang puas Tetua Widya tak hentu melemparkan pertanyaan. Walaupun sebelumnya dia telah dijelaskan oleh Tetua Genta sendiri yang menyetujui untuk melakukan uji coba.


"Nak, walaupun kelompokmu mendapat nilai, tetapi karena hal ini membuat salah satu murid mendapat efek tak terduga. Bukankah ini termasuk tindak yang malah membuat kelompok berada dalam masalah?"


Amdara mengangguk tenang membenarkan. Dia masih bersikap tenang, tidak seperti Atma yang sudah merasa lemas.


"Aku tidak tahu efeknya akan berbeda. Jadi, bagaimana bisa Tetua menyalahkanku yang tidak tahu efek dari ramuan itu?"


Perkataan Amdara membuat Tetua Widya terdiam, dan melirik Tetua Genta yang terlihat menarik napas dalam. Ternyata Amdara cukup pandai berbicara dan membalikkan kata-kata.


"Seharusnya sejak awal kau berpikir apa yang akan terjadi pada ramuan yang tidak jelas dimakan oleh manusia."


"Aku hanya ingin memastikan, ramuan buatan temanku tidaklah aneh."


"Nak, seyakin itu kau pada teman barumu? Bukankah dia tak tahu apa-apa mengenai ramuan atau obat-obatan?"


"Dia temanku, aku harus percaya padanya. Bagaimana Tetua Widya bisa tahu jika Atma tidak mengerti obat-obatan? Apakah anda selalu memerhatikan Atma selama ini?"


Tetua Widya dibuat bungkam oleh perkataan tak terduga keluar dari bocah berambut putih ini. Dia sampai menarik napas dalam sebelum kembali berkata.


Tetua Genta memperhatikan cara Amdara berbicara, mencari kebohongan yang bocah itu lakukan.


Atma sendiri juga tidak menyangka dengan perkataan Amdara. Dia menatap Amdara penuh haru. Padahal pertemanan mereka belum lama, tetapi Amdara sudah seyakin itu pada dirinya.


"Bukan begitu maksudku, Nak." Tetua Widya memegang lutut dan kembali berkata dengan mata yang memicing. Sepertinya dia terbawa suasana. "Lalu bagaimana denganmu, apakah kau tahu dia paham mengenai obat-obatan?"


Amdara mengangguk dan berkata, "tak perlu tahu. Cukup yakin pada seorang teman. Itu lebih dari cukup."


Suasana semakin gerah, ini antara Tetua Widya dan Amdara yang saling menjawab dan bertanya. Tak ada yang mau mengalah, bahkan Amdara yang usianya masih sangat muda bisa membuat Tetua Widya berpikir sebelum menjawab. Pertanyaan dan jawaban yang menjebak oleh Amdara jelas membuat Tetua Genta yang sedari tadi mendengarkan dan menyimak dibuat terpana.


"Mengapa kau berpikir tiga murid itu yang dijadikan uji coba?" tanya Tetua Genta. Dia cukup penasaran.


Amdara tersenyum simpul sambil menatap Tetua Genta yang menatap dingin.


"Aku tidak mungkin meminta salah satu peserta." Dalam hati Amdara berkata pada diri sendiri, "Saat itu mataku melihat tiga senior itu. Untuk membayar hutang dan memberi kompensasi."


Pertanyaan masih berlanjut. Tetua Widya sepertinya masih ingin tahu lebih mengenai bocah dihadapannya menjawab dengan raut wajah tak berubah. Tenang dan seakan semua pertanyaannya bukan apa-apa.


Tidak sampai satu, dua, atau bahkan lima jam Amdara diberi pertanyaan. Sampai malam menjelang, mereka belum diperbolehkan keluar dan diharuskan menjawab pertanyaan dengan jujur.


Amdara tak masalah, tetapi Atma yang sudah lemas tak tahan lagi, duduk sejak siang sampai sore bukanlah hal mudah baginya. Bok*ngnya terasa sakit sejak tujuh jam berlalu. Dirinya jelas syok dengan diberi pertanyaan sebanyak ini. Berbeda dengan Amdara yang menanggapi tenang seakan telah berpengalaman dan cara bicaranya pun seperti orang dewasa membuat Tetua Genta dan Tetua Widya tak segan bertanya terus-terusan.

__ADS_1


__ADS_2