
"Mn. Terima kasih."
Amdara mengangguk paham setelah murid di hadapannya mengatakan dirinya harus segera pergi ke tempat tetua. Amdara menutup pintu, bergegas membersihkan diri.
Tidak tahu apa lagi yang akan terjadi. Namun, nampaknya Tetua Genta dan Tetua Widya masih ingin menanyakan banyak hal. Padahal seharusnya mereka bertanya pada Atma, bukan Amdara.
Setelah selesai membersihkan kamar yang cukup berantakan, dan membersihkan diri. Amdara mengikat rambutnya menggunakan ikat rambut peninggalan sang ibu. Dia berjalan tenang keluar dari asrama.
Ketika tengah melewati jembatan pembatas asrama, terlihat Padma, Daksa, dan Kenes yang menghadang jalan Amdara.
"Hei, bocah." Padma berjalan ke arah Amdara yang kini menghentikan langkah. Padma berkata, "kau memiliki nyali besar juga membuat masalah dengan senior."
Amdara masih diam, membiarkan tiga orang di hadapannya terus berbicara.
"Yah, bagaimana pun kau ini memang tidak tahu diri sampai berani berurusan dengan senior." Daksa menimpali sambil tersenyum mengejek.
Kenes menghentakkan tongkat dan berkata dengan wajah angkuh, "dia memang si pembawa masalah. Cih."
Amdara mengembuskan napas pelan, dia berjalan dan melewati ketiga orang itu tenang. Tanpa melihat ke belakang yang mana Padma, Daksa, dan Kenes dibuat tercengang.
"Hoi, kau mengabaikan kami?!"
Padma terlihat bersungut-sungut sambil menghentakkan kaki. Kesal sekali karena Amdara sama sekali tidak peduli.
Daksa mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki yang mana membuat jembatan bergoyang hebat. Berani sekali bocah itu mengabaikan Daksa. Kenes juga nampak berkedip dan dia langsung melempar tongkatnya ke arah Amdara.
"Apa kau tidak diajarkan etika oleh orang tuamu ...?!"
Tepat ketika tongkat Kenes nyaris mengenai kepala Amdara. Amdara menghentikan langkah dan langsung merunduk cepat, membuat tongkat Kenes tak mengenainya.
Amdara mengepalkan tangan kuat. Dia bangkit dan membalikkan badan. Tatapan matanya tajam, lebih dingin dari sebelumnya.
Dia berkata, "tutup mulut kalian."
"Etika? Kurasa kalianlah yang tidak memilikinya." Amdara berjalan mendekat. Angin melambai-lambaikan ikat rambutnya.
Padma, Daksa, dan Kenes merasakan tekanan yang berat entah dari mana. Tatapan Amdara seolah akan menelan mereka hidup-hidup. Aura mengerikan terasa, membuat bulu kuduk ketiganya berdiri.
Padma yang tidak terima mendengar perkataan Amdara berusaha kembali berjalan maju dan membentak.
"A-apa katamu?! Kaulah yang tidak diajarkan et---!"
Mata Padma terbelalak seketika mulutnya mendapat lesatan wortel perak yang dilempar Amdara dengan cepat.
__ADS_1
"Jangan membawa orang tuaku." Amdara masih berwajah tanpa ekspresi. Dia melangkah semakin maju, dan detik berikutnya melemparkan cairan hitam yang langsung membuat ketiga lawan bicara menghindar cepat.
Ketika cairan hitam itu menyentuh jembatan, dengan cepat membuat jembatan tersebut meleleh.
"Atau nyawa kalian lenyap." Amdara tidak menghiraukan keterkejutan di wajah ketiga bocah itu. Dirinya memutar badan, dan mempercepat langkah meninggalkan jembatan yang sebentar lagi mungkin akan runtuh.
Teriakan terdengar dari Padma yang ternyata jebatan itu nyaris membuat dirinya terpeleset. Beruntung, Daksa segera membantunya.
"Cukup bagus."
Amdara tersenyum tipis dan mengeluarkan cairan yang sama pada guci kecil. Cairan hitam yang bisa melelehkan jembatan barusan itu jelas dia buat sendiri. Tentu dengan tekhnik terlarang yang dijelaskan dalam kitab.
Tidak menyangka hasilnya lumayan bagus. Ini akan sangat berguna untuknya. Namun, untuk melelehkan benda yang lebih keras Amdara belum yakin. Untuk itu dirinya perlu melakukan uji coba lagi.
Masih seperti tatapan keinginan tahuan dari murid-murid yang melihat Amdara lewat tetapi mereka urungkan karena aura yang terpancar dari Amdara berbeda seakan bisa mengintimidasi.
Sampai di depan pintu ruang para Tetua, Amdara menarik napas dalam dan mengatur ekspresinya. Saat membuka pintu, dia merasakan aura dingin sekaligus perasaan pertama kali datang ke ruang Tetua. Masih sama tempat dan nuansanya.
Dinding yang menjulang tinggi yang terbuat dari giok warna putih dan emas membuat ruangan masih membuat Amdara berdecak kagum. Sepuluh singgasana yang mengelilingi ruangan tersebut, dan juga ukiran bangau putih di tengah-tengah ruangan tak berubah.
Empat singgasana yang tak ukurannya tidak sebesar singgasana istana Dark World telah terisi oleh empat Tetua yang Amdara kenal.
Amdara memberi hormat dengan menyatukan kedua tangan dan sedikit membungkuk.
Bukan hanya di Organisasi Elang Putih saja yang memberi hormat pada orang yang lebih kuat, tetapi setelah menjalani kehidupan di Akademi Awan Langit ini nampaknya ada kemiripan.
Tetua Haki mengangkat tangan, petanda Amdara boleh mendongak dan menghadap mereka.
Amdara masih berdiri tenang, ketenangan itu membuat Tetua Rasmi tersenyum remeh.
"Tetua memanggilku kemari?"
Amdara bertanya sopan dan memastikan. Dia menarik napas pelan melihat tatapan empat Tetua itu yang tak lepas melihatnya. Jelas Amdara mulai merasa terganggu.
"Benar. Ada hal yang perlu dipastikan kembali."
Perkataan Tetua Haki membuat Amdara mengangguk. Bersiap dengan segala kemungkinan.
"Nak, aku langsung ke intinya saja. Dari mana kau mendapat tanaman herbal berusia ratusan tahun itu?" Tetua Rasmi menatap Amdara. Dia ingin tahu bagaimana respon bocah kecil itu dihadapan keempat Tetua.
"Kau pasti gugup dihadapan kami, 'kan?" Tetua Rasmi tersenyum miring. Dia menunggu jawaban Amdara yang terlihat terdiam.
"Saya ...."
__ADS_1
Belum sempat Amdara meneruskan ucapannya, Tetua Rasmi memotong dan berceloteh membuat Amdara berkedip.
"Tanaman herbal dengan usia ratusan tahun itu sangat langka. Bahkan ketiga tanaman herbal tersebut sulit dicari walaupun dengan usia yang belum mencapai puluhan tahun." Tetua Rasmi tak menghentikan perkataannya sebelum merasa puas. Mengingat sekarang adalah waktu menunjukkan bakat dalam hal tawar menawar. Tetua Rasmi berkata dengan nada sedikit terdengar mengejek, "harganya juga terbilang melangit jika membelinya. Kalian tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu."
Awalnya Amdara akan menjawab mendapatkannya dari Hutan Arwah. Namun, mendengar penuturan Tetua Rasmi membuat ide cemerlang di otak kecil Amdara. Ekspresinya tak berubah, dia masih terlihat tenang diserbu pertanyaan.
Amdara mengembuskan napas. Dia berkata tenang, "lalu mengapa kami malah diberi tugas mencari tanaman herbal yang jelas sulit dicari?"
Perkataan Amdara jelas mengartikan bahwa dirinya tidak boleh disalahkan. Dan yang seharusnya disalahkan adalah orang yang telah membuat penjelasan pada kertas pertandingan.
Sontak keempat Tetua dibuat merasa tertohok mendapat pertanyaan barusan. Mereka langsung mengarahkan pandangan ke Tetua Genta yang terlihat mengalihkan pandangan. Pertanyaan tak terduga itu malah menyerang mereka sendiri.
Terlihat Tetua Widya tengah menahan tawa. Dia tahu Tetua Rasmi bahkan sulit berdebat dengan bocah berambut putih itu.
Tetua Haki dan Genta memerhatikan bocah berambut putih itu, bocah penyusup yang kini membawa sedikit demi sedikit perubahan.
Tertohok. Jelas saja, Amdara bukannya menjawab pertanyaan dengan benar malah dirinya yang membalikkan pertanyaan. Walaupun terdengar tidak sopan, tetapi keberanian Amdara memang patut diberi pujian.
Tetua Rasmi mengepalkan tangan. Dia menggertakkan gigi. Dia berkata dengan tegas, "kau bukan menjawab pertanyaan."
Amdara mengangguk sopan. Wajah polosnya tak mengubah pandangan keempat Tetua saat kata demi kata meluncur dari bibir kecilnya.
"Saya hanya penasaran." Dalam hati Amdara tersenyum. Entah mengapa membuat orang kesal sekarang terasa sedikit menyenangkan dan menghibur.
Amdara melanjutkan tanpa ingin tahu alasan Tetua Genta yang menuliskan tugas mencari tanaman herbal.
"Kami mengambilnya di Hutan Arwah."
Kembali keempat Tetua dibuat tercengang mendengarnya. Mereka nampak tidak percaya.
Tetua Rasmi menggeleng dan memajukan tubuh. "Bagaimana mungkin?"
"Nak, kau tidak boleh membual." Kali ini Tetua Haki turut angkat bicara.
Tetua Genta lebih memilih diam. Nampaknya mulai sedikit melihat perubahan pada diri kelas Satu C walaupun tidak semua.
Tetua Widya menggeleng-gelengkan kepala. Dia mencari kebohongan di wajah Amdara, tetapi nyatanya dia tidak menepukan sama sekali.
Amdara tahu para Tetua ini tidak akan percaya dengan ucapannya. Karena memang jika dipikirkan hal tersebut tidaklah mungkin. Mulai dari jarak tempuh, dan bahaya dari Hutan Arwah sendiri yang rumornya menyeramkan. Apalagi mereka adalah murid-murid dari kelas Satu C.
"Ketidakmungkinan perlahan akan kami ubah menjadi hal yang sangat memungkinkan."
Amdara tersenyum sopan, dan masih menegakkan kepala di hadapan Tetua. Bukannya bocah itu tidak sopan, tetapi untuk memperlihatkan kedewasaan serta wibawanya.
__ADS_1