Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
103 - Saling Bantu


__ADS_3

Guru Aneh mengepalkan tangan dan berdiri. Dia berkata tanpa menoleh ke belakang. "Kau benar, Guru Ghana. Jadi, mari kita lihat apakah kelasmu juga akan lolos."


Guru Ghana tertawa mendengar perkataan lawan bicara. Dirinya menepuk bahu Guru Aneh yang langsung menempis kasar.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan muridku. Khawatirkan saja murid-muridmu yang mungkin akan menangis seperti tahun-tahun sebelumnya."


Setelah berkata demikian Guru Ghana melenggang pergi. Membiarkan Guru Aneh yang terbakar emosi.


Kembali ke arena pertandingan yang kini Tetua Wan bertepuk tangan dan mengakhiri perkataannya.


"Luar biasa. Setelah banyak pertandingan yang menarik, akhirnya kita sampai pada waktu untuk beristirahat. Selamat untuk para pemenang dan semangat terus untuk para peserta. Pertandingan akan dilanjutkan setelah istirahat." Tetua Wan mengakhiri ucapannya dengan memberikan hormat.


Para penonton segera membubarkan diri. Begitu pula dengan peserta yang langsung menuju balai istirahat.


Amdara sendiri melihat Nada yang berdiri dengan senyuman mengembang. Sepertinya arahan dari Amdara berhasil dilakukan Nada.


Dirgan, Atma, dan Rinai berdecak kagum. Mereka menanyakan kekuatan apa yang dimiliki Nada. Mereka jelas ingin melihat kemampuan temannya itu.


Nada tertawa cekikikan dan berkata sambil menatap teman-temannya. "Aku sungguh berterima kasih pada kalian. Khakhaa. Sekarang aku merasakan kekuatan mengalir dalam tubuh."


Nada menarik napas dalam. Tatapannya menajam saat tak sengaja melihat Puli tengah dibantu temannya. Seringai nampak di wajah Nada. Dia menggerakkan bibir, detik berikutnya suara khas harimau mengaum keluar ketika Puli baru saja akan berbicara pada temannya. Auman itu begitu mengerikan, bahkan temannya Puli yang tengah membantunya terlonjak kaget dan segera menghindar.


Tatapan semua orang beralih ke Puli yang tengah kebingungan sendiri. Nampak, dia tengah menutup mulut tak percaya. Dia menyakinkan temannya, tetapi yang keluar bukanlah suara miliknya, melainkan suara auman serigala yang begitu membuat semua orang merinding.


Amdara menautkan alis saat melihat Nada yang menyeringai melihat Puli. Awalnya Amdara tidak mengerti, tetapi setelah melihat bibir Nada bergerak bersamaan suara auman dari mulut Puli membuat Amdara mengerti.


"Hentikan."


Amdara berkata tanpa ekspresi. Nada yang mendengarnya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Kekuatan milik Nada adalah dapat mengambil suara milik orang lain dan membunyikannya ke mana pun yang dia bisa. Jaraknya kurang lebih baru mencapai 30 meter. Jenis kekuatan langka dan Nada sangat senang mendapatkannya.


"Nada, ayo tunjukan pada kami kekuatanmu."


Pinta Atma tidak sabar. Namun, yang ada Nada berkata, "akan kutunjukkan ketika waktunya tiba. Khaakhaa."


Dirgan, Atma, Inay, dan Rinai membuka mulut tak menyangka dengan jawaban Nada yang kini malah melenggang pergi. Tentu saja Atma, Inay, dan Rinai mengejar Nada dan memaksanya untuk mengatakan pada mereka.


"Ketua Kelas, aku memiliki urusan sebentar. Kau pergi bersama yang lainnya."


Amdara melihat Aray yang kini mendarat tepat di sampingnya dan terlihat tersenyum senang. Dirgan mengangguk dan mengajak Aray pergi ke Balai Istirahat.


Amdara mengedarkan sekitar setelah kedua temannya itu pergi. Dirinya segera melesat ke arah asrama dan berhenti ketika berada di jembatan sungai.


Angin menerpa wajah Amdara yang terlihat putih. Dia menghirup udara segar. Terasa tenang dan membuat pikirannya jernih.


Seseorang mendarat tepat di samping Amdara yang sama sekali tidak terkejut. Orang itu nampak memegang kayu jembatan dan melihat ke arah aliran sungai.


Amdara menoleh dan tersenyum simpul pada Cakra yang juga menoleh lalu mengangguk dan berkata datar, "bukan masalah."


Keduanya diam beberapa saat. Dalam pikiran masing-masing tanpa ada niat memulai pembicaraan lagi. Keduanya tidak bersekongkol untuk bertemu di jembatan. Hal kebetulan ini diluar pemikiran mereka.


Dan entah sejak kapan Amdara merasa Cakra sudah dia anggap seperti kakak sendiri. Umur Cakra yang terbilang muda, bakat serta ketampanannya membuat siapa pun tak ingin jauh. Amdara tidak terlalu kenal Cakra, tetapi dari yang dia dengar menang senior satu ini hemat bicara dan sangat disiplin serta disayangi oleh para Tetua dan guru. Tidak heran, banyak yang ingin berteman dengan Cakra, tetapi karena bocah berambut hitam pekat ini jarang bergaul dengan teman sebaya membuatnya tidak memiliki teman akrab.


Pertama kali melihat Cakra saat pertarungan dengan Bena di sebuah hutan, membuat Amdara melupakan bahwa Cakra pasti tahu dirinya yang menjadi penyusup di Akademi ini.


"Aku juga berterimakasih padamu."


Amdara menoleh dan menaikkan sebelah alis tidak paham dengan ucapan Cakra.

__ADS_1


"Kau telah menolongku saat pertama kali kita bertemu."


Cakra menatap Amdara yang mengangguk dan berkata tidak kalah datar, "mn, kita impas."


"Kau ... bisa membuat portal?"


Pertanyaan Cakra ini membuat Amdara berkedip sebelum dia berdehem. Mau mengelak pun, Cakra sudah melihat dengan jelas Amdara bisa membuat portal yang langsung masuk ke Akademi ini.


Amdara menjawab dengan gumaman. Dia tidak ingin membahas soal kekuatan. Setelah terlepas dari Benang Merah, Amdara belum mencoba membuat portal lagi. Terlintas ingatan ketika Inay yang ingin kembali ke Organisasi Elang Putih, membuat Amdara menarik napas panjang dan mengembuskannya. Mungkin setelah pertandingan antar kelas, dia akan mengirim Inay ke Organisasi.


"Bagaimana kau melakukannya?"


Cakra bertanya pada Amdara penasaran. Dia terlihat masih menatap Amdara yang kini balik menatap dan berkata, "mudah. Bayangkan tempat, salurkan kekuatan dan kau akan bisa membuatnya."


Cakra terlihat menaikkan sebelah alisnya. Dia pernah membaca mengenai portal, tetapi sama sekali tidak paham. Ada beberapa hal yang bocah ini sulit lakukan dan salah satunya mempelajari jurus yang berkaitan dengan portal.


Mendengar penjelasan singkat dari lawan bicara, Cakra tanpa ragu menutup mata dan mulai membayangkan suatu tempat. Dia menyalurkan kekuatan, sampai lima menit berakhir tidak terjadi apa-pun.


Amdara melihat wajah tampan Cakra. Bulu mata lentik, serta hidung yang tidak terlalu mancung itu tidak membuat Amdara merasa bergetar seperti bocah-bocah perempuan lainnya.


"Apa dia sedang mencoba membuat portal?" Amdara menghela napas. Dulu, saat dirinya diajarkan membuat portal juga sama sulitnya. "Senior, apa kau mau kubantu?"


Cakra membuka mata, mendengar perkataan Amdara barusan membuatnya langsung mengangguk tanpa ragu.


Cakra berkata, "aku akan merepotkanmu nanti."


"Mn, tidak masalah. Aku juga meminta bantuanmu."


"Apa yang bisa kubantu?"

__ADS_1


Amdara menanyakan tempat yang bernama Ujung Bumi dan Akademi Nirwana Bumi. Tentu saja ini berkaitan dengan orang bernama Ketu yang mana seperti dikatakan oleh Ang. Walaupun sekarang Amdara bisa merasakan kekuatan, tetapi bukan tidak mungkin Benang Merah kembali melilit inti spiritualnya. Jadi dia harus menemukan orang bernama Ketu ini untuk memastikan suatu hal.


Raut wajah Cakra sulit dipahami Amdara. Ketika menyebut nama akademi itu, Cakra langsung mengalihkan pandangan ke sungai dan terdiam.


__ADS_2