Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
245 - Serangan Tidak Terduga


__ADS_3

Pertarungan semakin sengit dalam beberapa detik saja. Kedua petarung sama sekali tidak mengendorkan kekuatan. Kekuatan keduanya bahkan membuat murid dari Akademi lain menahan napas. Menyaksikan bagaimana dahsyat dan mengerikannya kekuatan kedua gadis tersebut.


'Monster'. Julukan yang sudah lama diterapkan untuk murid-murid Akademi Nirwana Bumi. Kekuatan mereka nyaris sebanding dengan guru dari Akademi tingkat menengah.


Bagi murid-murid Akademi Nirwana Bumi melihat pertarungan seperti saat ini adalah hal uang biasa. Namun, sangat berbeda dengan murid dari Akademi lain yang sekarang bahkan kesulitan bergerak pergi akibat mendapat tekanan kekuatan dari dua gadis yang masih bertarung sengit.


Amdara sendiri juga belum beranjak pergi. Dia memperhatikan dengan tatapan terpukau.


"Hebat," gumamnya tanpa sadar.


Serangan nyasar hampir saja mengenainya jika dia tidak segera membuat perisai pelindung menggunakan elemen air. Memang dahsyat! Amdara sampai terdorong mundur menahan serangan nyasar.


Salah satu serangan petir meleset ke arah salah seorang murid akademi lain yang terduduk lemas. Dia bahkan kesulitan membuat perisai pelindung. Sementara petir bercahaya merah muda itu hampir mengenainya.


Murid perempuan itu membuka lebar mata. Tamat sudah riwayatnya!


"T-tolong ...!"


Teriakannya menyadarkan Amdara yang segera menoleh. Dirinya segera membuat rantai es dan dengan kecepatan tinggi menarik tubuh murid tersebut.


BAAM!


Serangan petir barusan benar langsung menghancurkan tanah.


Murid yang ditolong Amdara berumur lebih tua dua tahun. Murid yang masih setengah sadar itu baru saja ditolong merasakan tubuhnya lemas.


"Pergilah ke tempat yang lebih aman."


Ucapan Amdara membuat murid perempuan itu menoleh, dan baru saja sadar. Dia menelan ludah kesulitan dan berkata, "t-terima kasih. Tapi tubuhku sangat lemas karena tekanan kekuatan dua orang yang bertarung itu."


Amdara menautkan kedua alis. Dia sama sekali tidak merasakan tekanan apa pun. Tanpa bertanya, Amdara menggunakan rantai esnya untuk membawa gadis itu keluar gerbang Akademi. Tentunya dengan membuat perisai pelindung lagi.


"T-tidak! Tolong ...!"


Amdara menoleh ke sumber suara. Di sana, satu lagi murid yang berpakaian sama dengan gadis yang ditolongnya sedang berguling dan membuat perisai pelindung yang hampir pecah.


Amdara segera meletakkan gadis pertama yang ditolong jauh keluar gerbang. Satu tangannya bergerak membuat perisai pelindung dan membuat rantai es untuk menarik tubuh murid yang dalam bahaya itu.


BAAM


Blaaar!


Tepat ketika perisai pelindung gadis itu pecah, sebuah perisai pelindung lain berhasil melindungi. Rantai es segera menarik tubuhnya cepat ke samping Amdara.

__ADS_1


Siluet hijau nyaris saja mengenai Amdara jika saja dirinya tidak membuat serangan tangkisan yang langsung meledak ke atas. Dirinya jelas tersentak dengan serangan barusan. Seperti bukan serangan nyasar.


"T-terima kasih."


Ucapan itu terdengar dari gadis di samping Amdara. Wajahnya nampak pucat pasi, dia terlihat lemas. Amdara mengangguk, tanpa berkata dia membawa gadis itu keluar gerbang dengan cepat sebab semakin banyak serangan yang seolah nyasar hendak mengenai orang-orang sekitar. Terkecuali murid-murid Akademi Nirwana Bumi.


Seorang laki-laki yang mengenakan topeng menutupi setengah wajah, terbang dengan tenang nampak memperhatikan gerak-gerik gadis bercadar yang baru saja mengeluarkan kekuatan untuk menyeret seseorang yang hampir terkena serangan.


Orang itu nampak tersenyum sinis. Dia tidak mengenakan pakaian khas Akademi mana pun. Hanya jubah hijau tua yang dikenakan. Ada sebuah bros pedang di sebelah dada kiri.


"Menarik. Dia sasaran berikutnya."


Laki-laki itu menjentikkan jari, dan saat itu juga dua gadis yang masih bertarung di bawah merasakan suatu tekanan. Gelombang kekuatan mengarah ke seseorang yang baru saja keluar gerbang.


Dua gadis itu kembali bertarung. Tapi kali ini serangannya lebih berbahaya dan gesit. Suara dari pertarungan itu bahkan sampai membuat orang-orang di luar gerbang sejak tadi kaget sekaligus penasaran. Namun, mereka sama sekali tidak berani mendekat.


Di luar gerbang memang aman, hanya terdengar suara ledakan. Itu menandakan ada perisai pelindung kuat. Sehingga serangan nyasar tidak sampai ke luar gerbang.


"Ada yang aneh." Amdara menyerngitkan dahi. Merasa ada sesuatu yang janggal. Dia memperhatikan ke arah pertarungan kembali. Dalam hitungan sepuluh detik, akan ada serangan nyasar yang seolah memang sengaja diarahkan ke murid dari Akademi lain yang masih belum beranjak pergi.


"Bertarung sengit, tapi belum ada yang terluka." Amdara bergumam, "pertarungannya ... seperti sedang menonjolkan kekuatan monster murid Akademi Nirwana Bumi."


Pemikiran Amdara seolah diperkuat hanya jika memperhatikan seksama ke sekelilingnya. Awalnya di sana cukup ramai didatangi beberapa murid luar. Kemudian tiba-tiba datang dua orang bertarung sengit dengan kekuatan hebat. Jelas membuat kekaguman banyak orang. Dan serangan nyasar nya hanya tepat ke arah murid luar, bukan murid dari Akademi Nirwana Bumi sendiri.


Sesaat senyum tipisnya mengembang.


Dalam sekejap, pertarungan itu mengakibatkan murid lain yang hampir terkena serangan nyasar harus menangkis serangan dan bahkan ada yang menyerang balik karena kesal.


"Sialan! Kenapa kalian juga menyerangku!"


Murid itu terus mengelak dengan cepat dan menangkis serangan yang hampir merenggut nyawa. Giginya bergemerutuk menahan amarah.


Satu serangan lagi dia tangkis susah payah. Padahal dia adalah murid terbaik dari Akademinya sendiri. Kekuatan untuk menangkis pun tidak main-main saat dikeluarkan.


"Mereka sengaja mau membunuhku?!" Dia berguling, dan membuat perisai pelindung kuat. Saat perisainya hampir pecah, seseorang menolongnya dengan menggunakan kekuatan menangkis serangan.


Suara orang yang menolong terdengar dingin tapi juga keras. "Hmph. Ternyata rumor tentang murid Akademi Nirwana Bumi memang benar."


Udara di sekelilingnya laki-laki itu mendadak berubah. Terasa ada tekanan yang dia tuju pada kedua gadis yang masih bertarung.


Ucapannya jelas didengar oleh keduanya dan orang-orang di sekitar.


"Untuk apa memiliki kekuatan besar jika tidak mempedulikan keselamatan orang lain. Itu sama saja menjadi penjahat berkedok Aliran Putih."

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum miring. Tanpa rasa takut sedikit pun saat mengucapkannya.


Dua gadis yang bertarung tiba-tiba saja berhenti. Memandang laki-laki itu dalam ekspresi aneh.


"Apa maksudmu?" Gadis berkekuatan petir dengan ciri khas bando ungu terlihat tidak suka terhadap laki-laki itu.


Laki-laki bernama Kawa itu terbang, berhadapan dengan dua gadis tersebut dengan tenang. Dia bahkan tersenyum.


"Maksudku, kalian ditempa untuk menjadi kuat bukan untuk melindungi. Melainkan hanya pamer dan mementingkan diri pribadi." Kawa menjentikkan jari dan kembali berkata, "ah, benar-benar meninggikan diri sekali. Padahal di atas langit masih ada langit."


Kedua gadis itu terbakar emosi. Keduanya mengepalkan tangan tidak terima. Bahkan murid dari perguruannya di bawah juga nampak tersulut emosi. Tapi sebelum mereka mengucapkan sepatah kata, Kawa kembali berujar sinis.


"Ah, apa sampai sekarang murid-murid di sini masih minus pelajaran adab? Ck, ck, ck. Padahal belajar sesuatu harusnya diawali oleh adab atau etika."


Kawa menggelengkan kepala remeh. Orang-orang yang mendengarnya termasuk Amdara cukup kagum mendengar penuturan tanpa gentar itu. Namun, murid Akademi Nirwana Bumi sendiri semakin tidak terima mendengarnya.


"Kau---!"


"Berhenti omong kosong, sampah."


Suara seorang laki-laki lain yang mengenakan topeng menutup setengah wajahnya terdengar dingin. Dia terbang, berhenti di depan Kawa.


Kehadirannya membawa perasaan tidak mengenakan bagi orang lain dan merasakan tekanan dari kekuatan lelaki itu. Murid-murid Akademi Nirwana Bumi yang melihatnya kontan memundurkan kaki selangkah. Jika dia sudah turun tangan, artinya masalah itu akan diselesaikan dengan cepat.


"Sampah sepertimu, tidak tahu malu menginjakkan kaki di Akademi lagi. Apa di tempat lain juga membuangmu? Ah, menyedihkan sekali hidupmu."


Katanya dengan senyum sinis. Membuat lawan bicara menatap tajam memendam bara marah.


Kawa mengepalkan kedua tangan. Ekspresinya mulai berubah. Dia tahu orang di depannya dan sangat mengenal.


Bisik-bisik terdengar dari murid Akademi lain. Mereka menebak-nebak siapa Kawa sebenarnya.


Kawa mencoba meredam emosi dengan mengatur pernapasan. Dirinya kembali memperlihatkan senyuman, yang membuat lawan bicara terdiam.


"Aku berterima kasih pada Akademi yang telah mengeluarkanku. Itu jauh lebih baik daripada terus terkurung dan tidak mendapat didikan yang tepat."


"Ah, rupanya setelah dikeluarkan kau semakin menjadi sampah, yah."


"Kurasa gelar 'sampah' pantas untukmu dan teman-temanmu itu." Kawa menunjuk dengan dagu mengarah dua gadis yang bertarung sebelumnya. Dia berujar sinis, "tindakan sengaja menyerang orang tidak bersalah, dan menakut-nakuti peserta Turnamen dengan menunjukkan kekuatan besar. Kupikir itu sama seperti kalian takut bertarung di area pertandingan."


"Kau---!"


"Aku setuju! Dua gadis itu seolah sengaja membuat serangan nyasar ke arah kami!"

__ADS_1


__ADS_2