Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
111 - Membuat Strategi


__ADS_3

Guru Aneh mengangguk setuju dengan usulan Amdara. Memang ada baiknya membuat strategi untuk mengantisipasi kekuatan lawan.


Guru Aneh menjelaskan bahwa ketuju anggota kelompok lawan pertama mereka adalah Opi, si pencipta tanaman merambat yang sulit dihancurkan. Dia senior laki-laki yang tidak mudah tersulut emosi dan terprovokasi, dia juga yang merupakan ketua kelompok. Kedua adalah Yaji, senior laki-laki yang mengandalkan kekuatan dari tumbuhan di sekitar, bahkan dalam jarak 70 kilo meter, dia bisa menyerap kekuatan yang berada di tumbuhan. Kekuatannya berupa pengendalian jenis tanaman dedaunan yang bisa dijadikan senjata. Tiga merupakan Rara yang memiliki jurus beracun, terkena sedikit saja pada kulit, maka akan langsung melumpuhkan sel-sel dalam tubuh. Kekuatan yang cukup mengerikan memang.


Kic dan Koc adalah anak kembar laki-laki yang memiliki jurus sama berupa membuat perisai pelindung kuat berbahan kayu. Lasi yang diketahui pendiam tetapi bisa menghanyutkan sekali melihat mata, dia bisa mengendalikan tubuh seseorang. Terakhir merupakan Lusi, kakak dari Lasi. Dia perempuan cerewet berbeda dengan adiknya. Kekuatan yang diketahui Guru Aneh adalah bisa membuat udara padat, sehingga orang lain yang ingin dia targetkan akan kesulitan bernapas.


Itu baru segelintir kekuatan yang diketahui Guru Aneh. Tentu pasti ada jurus lain yang mereka miliki.


Setelah mendengar penjelasan Guru Aneh, Amdara terdiam. Lawan sungguh kuat dan pasti sulit digoyangkan. Dirgan, Atma, Aray, Rinai, dan Nada bahkan sampai bergeming mendengar luar biasanya kekuatan mereka.


Guru Aneh yang melihat reaksi anak muridnya menarik napas panjang. Dia berkata, "tidak apa. Kalian cukup bertarung semampu kalian. Ingatlah satu hal, keselamatan yang harus diutamakan."


Amdara mengangguk. Dia tanpa nada berujar, "kita bisa coba mencari celah ketika mereka meremehkan kita."


Kelas Dua I melawan kelas Satu C yang notabenenya murid-murid payah dan belum semua bisa mengaktifkan kekuatan jelas akan diremehkan. Mereka pasti akan memunculkan celah besar, jika kelompok Amdara bisa memasukinya mereka pasti bisa membuat lawan terluka.


"Benar juga. Saat itu baru kita akan melesatkan serangan besar." Dirgan mengambil kertas dan pena pada meja. Dia berkata serius, "guru, izinkan aku memberi sedikit strategi."


Guru Aneh mengangguk yakin Ketua Kelas Dirgan bisa membuat keputusan yang tepat. Soal strategi, walaupun Dirgan belum ahlinya, tetapi ada beberapa pengalaman yang dia jadikan pelajaran.


Dirgan membuat gambar titik-titik besar sebanyak tujuh buah. Dia menjelaskan bahwa ketujuh titik tersebut gambaran dari mereka. Dua titik depan merupakan Aray yang paling kuat membuat perisai pelindung menurutnya. Satu untuk Inay yang bisa menyerang dalam jarak dekat maupun jauh menggunakan rambut. Di samping kanan, ada Nada. Di tengah akan ada Rinai dan Atma, mereka tidak akan melakukan perlawanan, dan juga tidak akan terluka karena ada Aray. Dirgan sendiri bersama Amdara paling belakang untuk menjalankan alur pertandingan sesuai perintah keduanya.


Amdara tidak menolak, dia juga bisa melindungi teman-temannya dari arah belakang maupun samping.


Penjelasan Dirgan berhenti, dia menggaruk tengkuknya dan menatap Guru Aneh.


"Guru, bagaimana menurutmu?"


Guru Aneh mengangguk dan meminta Dirgan melanjutkan penjelasan. Namun, Dirgan sekarang malah menatap Amdara dan meminta dia untuk membuat serangan besar.


Amdara terdiam sejenak. Lalu berkata tanpa nada, "ada dua kembar membuat perisai kuat. Menyerang menggunakan kekuatan kita akan sulit."


Apalagi Inay yang menjadi pemain depan, pasti tidak akan sempat menyerang bagian belakang.

__ADS_1


"Ketika berhasil menembus perisai pun, ada Senior Lasi yang siap menyerang menggunakan mata."


Amdara mengambil pena pada Dirgan, lalu menggambar garis tebal yang merupakan lawan, dia juga menuliskan nama-nama lawan di setiap posisi.


Nama Lasi terlihat di samping Lusi. Sekali jurus Lasi gagal, Lusi akan membuat lawan tidak bisa bernapas dalam hitungan detik.


"Guru, racun jenis apa yang dimiliki Senior Rara?"


Amdara bertanya pada Guru Aneh yang langsung menjawab, "kalajengking merah."


Racun Kalajengking Merah merupakan racun yang sangat ampuh. Jenis penawarnya juga sulit dibuat. Amdara pernah membacanya di kitab, dia tersenyum simpul.


Di bagian tengah, ada Opi yang merupakan inti pengendali atas serangan yang akan mereka lesatkan pada lawan. Dia juga bisa melindungi teman-temannya dari belakang menggunakan tanaman merambat. Sementara Yuji yang mudah tersulut emosi, pasti di bagian samping Opi agar dia bisa ditahan ketika Yuji melakukan hal gegabah.


Bisa dikatakan, ada dua perisai, dua penyerang jarak dekat yang sudah jelas bisa melindungi diri sendiri ketika mendapat serangan, sementara yang lainnya bisa menyerang jarak dekat maupun jauh tetapi akan sulit melindungi diri.


"Ketua Kelas, selanjutnya kau mengerti kan?"


Amdara bertanya pada Dirgan yang tersenyum lebar dan mengangguk. Dia paham apa yang dimaksud Amdara.


"Ketika ada yang menyerang jarak dekat, kita ada Aray yang bisa membuat perisai pelindung. Namun, perisai milik Aray tidak bisa membuat jurus Senior Lasi tidak berfungsi. Di sinilah Inay menggunakan rambutnya untuk membuat dinding, dengan begitu kita tidak akan melihat mata Senior Lusi."


Penjelasan sederhana itu dimengerti Aray. Selain bisa membuat perisai pelindung, jangan lupakan dia juga bisa membuat serangan jarak dekat maupun jauh. Tidak perlu khawatir jika menyerang jarak dekat, yang melindungi teman-temannya ada Amdara dan Inay.


"Sementara untuk Senior Lusi ...."


Dirgan menggaruk pipi bingung. Lawan bisa memadakan udara. Mereka sama sekali tidak bisa melawan.


"Khakhaa. Aku bisa mengatasinya."


Tiba-tibs Nada berkata demikian. Dia membuat teman-temannya tersentak.


"Benar juga. Nada bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat Senior Lusi mendengarkan suara Senior Opi agar tidak menyerang."

__ADS_1


Atma menepuk tangan. Dia kemudian berujar lagi, "yah, entah ini berhasil atau tidak. Tapi setidaknya kita akan mencoba."


Aray tertawa dan menepuk bahu Atma. Jarang sekali Atma bisa mengeluarkan ide bagus. Aray memuji Atma yang langsung besar kepala.


"Untuk racun Senior Rara, aku akan mengatasinya."


Kata Amdara yakin. Teman-temannya tidak tahu Amdara akan mengatasi seperti apa. Namun, Amdara sendiri yang berkata demikian pasti sudah memiliki rencana.


Guru Aneh yang sedari tadi diam mendengarkan berdecak kagum atas pemikiran murid didiknya.


Penjelasan kembali dilanjut dengan mereka yang akan membuat rencana penyerangan seperti apa.


Dirgan berkata, "Atma dan Rinai, kalian yang akan memprovokasi pertama kali. Buat mereka terus meremehkan kita."


Atma mengangguk. Mengenai cakap bicara, dia bisa diandalkan. Rinai sendiri memang bisa berkata pedas, tapi dalam kondisi tertentu dia mengubah cara bicara menjadi menyedihkan.


"Setelah lawan memberikan kesempatan, Luffy kau buat pusaran angin yang bercampur dengan debu-debu agar mereka tidak bisa melihat dengan jelas."


Amdara mengangguk paham.


"Nada, kau buatlah adu domba di antara mereka."


Nada cekikikan mendengar penjelasan Ketua Kelasnya. Dia memeluk boneka erat dan berkata bahwa hal tersebut sangatlah mudah.


Tepat ketika mereka nantinya saling menyalahkan, Inay akan menyerang jarak dekat dengan kekuatan besar menyingkirkan dua senior kembar. Setelahnya Aray juga langsung melesatkan serangan besar. Dengan begitu mereka tidak memiliki kesempatan melawan.


"Yah, kita memang harus dengan cepat melakukannya."


Apabila telat sedikit saja, yang ada mereka akan mendapatkan serangan dahsyat dari lawan.


Setelah berhasil melesatkan serangan, Dirgan meminta Amdara menggunakan pusaran lain yang lebih dahsyat untuk membuat mereka semua terpental hingga keluar dari arena pertandingan. Jika tidak bisa menang menggunakan kekuatan, mereka hanya bisa mengandalkan otak dan membuat lawan keluar dari arena pertandingan.


Penjelasan akhir Dirgan membuat Guru Aneh tertawa kecil. "Benar, buat mereka keluar dari arena pertandingan."

__ADS_1


Setelah strategi sederhana tersebut, mereka langsung diperintahkan untuk istirahat. Sementara Inay akan tidur di ruang perawatan ditemani Amdara yang ada tempat tidur lagi. Guru Aneh pergi setelah dia meminta Amdara agar istirahat dengan baik.


Waktu istirahatnya memang tidak terlalu lama, tetapi itu cukup membuat mereka merasakan tidur.


__ADS_2