
"Ang dan Tetua Moksa."
Entah ini akan berakibat buruk atau tidak, Amdara setidaknya sudah berusaha mencari tahu.
Pria di depannya mendelikan mata. Seolah nama yang disebut barusan orang yang pernah dia kenal. Dia kontan berdiri dan mendekati Amdara.
"Ang? Siapa dia?"
Amdara berkedip. Tangannya terurur, mengeluarkan sebuah kertas berisi tanda pengenal yang pernah diberikan Ang saat dirinya berada di desa Bumi Selatan.
Diambilnya kertas itu, dan mulai dibaca. Awalnya raut wajah pria tersebut biasa saja, tetapi mulai berubah setelah membaca semua isi kertas. Dia menatap Amdara dengan raut wajah aneh.
Amdara hanya diam. Entah mengapa tatapan lawan bicara mulai berubah. Tidak setajam tadi.
Amdara berdehem dan berkata, "aku mendapatkannya dari Ang di desa Bumi Selatan. Sekitar setahun lalu."
Tepukan pelan di kepala Amdara membuatnya terkejut. Terdiam merasakan aura hangat menyalur ke dalam tubuh.
"Aku orang yang kau cari."
*
*
*
Malam semakin larut. Baik Shi, Cakra, Kawa dan yang lain belum juga menemukan Amdara. Mereka sudah masuk ke dalam Akademi. Menanyakan kepada orang-orang yang lewat, tetapi hasilnya nihil. Raut wajah khawatir semakin terlihat di wajah mereka.
Kawa ingin menanyakan langsung ke Mitsu, tetapi Mitsu belum sadarkan diri juga. Hal ini semakin membuatnya cemas bukan main.
Kawa mendarat di hadapan Shi, Cakra, Jogu, dan teman-teman. Mengatakan bahwa Mitsu belum sadarkan diri dengan perasaan bersalah karena sama sekali tidak membawa kabar baik.
Shi yang mendengarnya sudah lemas duluan. Dia dan Cakra belum mengatakan kepada Tetua Rasmi.
"Cakra, bagaimana kita mengatakan kepada Tetua Rasmi?" Shi menatap Cakra lemas.
Cakra terdiam. Dia gelisah, tetapi tertutup oleh wajah tenangnya yang tidak goyah.
"Tetap cari Luffy. Jangan kembali ke tempat peristirahatan."
Shi menghela napas panjang. Mengusap wajah gusar. "Tapi Tetua Rasmi akan bertambah khawatir jika kita tidak kembali. Begini saja, kau kembali dulu dan katakan kita akan pergi melihat-lihat Akademi lebih lama."
Cakra mengangguk mengerti. Dia berujar tenang, "Luffy pasti baik-baik saja."
__ADS_1
Perkataan itu membuat Shi mengangguk lemas. Cakra langsung melesat pergi setelah tiba-tiba memberi hormat kepada Kawa, Jogu, dan teman-teman mereka.
Shi melirik sekilas. Tidak bisa menyalahkan mereka. Karena yakin Amdara turut ambil andil dalam berbicara kepada Mitsu hingga terjadi pertarungan.
"Sebaiknya kalian kembali ke tempat peristirahatan masing-masing. Guru kalian pasti sedang khawatir mencari kalian juga."
Perkataan Shi membuat Kawa, Jogu dan yang lain terdiam. Kawa buka suara, "mn. Kalian kembalilah. Biar aku yang mencari Luffy lagi."
"Kau saja yang kembali, Kawa. Tsk. Bagaimana bisa aku kembali beristirahat, sementara temanku sendiri belum ditemukan," Jogu menolak tegas.
Gaku mengangguk setuju. Dia mengatakan saat siang tadi sudah izin kepada Guru Akademinya.
Ucapan Jogu sontak membuat Shi tercengang. Tidak menyangka ada tanggapan seperti itu.
Ilan berdecak kesal mendengar penuturan Shi dan Kawa. Dia lantas berkata, "walaupun Luffy baru beberapa jam menjadi temanku, tapi aku tidak bisa mengabaikan kehilangannya. Dia anak baik. Aku tidak akan kembali sebelum Luffy ditemukan. Guruku tidak akan mencari. Dia pasti tahu aku sedang jalan-jalan di Akademi."
"Mn. Begitu pula denganku," imbuh Pika yang merangkul pundak Ilan sambil tersenyum.
Senyumnya menular ke Kawa yang cukup terharu mendengar tanggapan teman-teman barunya ini.
Phillomel sendiri hanya diam. Dia menunduk sambil meremas bajunya. Tingkahnya yang sedari tadi seperti itu membuat Ilan menaikkan sebelah alis.
"Phillomel, kau kembalilah. Gurumu pasti sedang mencarimu."
Phillomel tersentak. Dia menggigit bibir bawah. Ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu.
Phillomel menggeleng. Tidak ingin kembali ke tempat istirahat. Karena entah mengapa perasaannya sama seperti mereka.
"I-ini sudah larut tapi Luffy belum juga ditemukan." Phillomel menelan ludah pelan. Menatap satu persatu teman-teman sampai terakhir menatap Shi. "Aku memiliki ide berakhir untuk melacak keberaan Luffy."
Shi, Kawa, Jogu, Gaku, Ilan dan Pika tersentak bersamaan. Bertanya bagaimana cara yang akan digunakan Phillomel.
"Tapi sebelumnya aku butuh benda milik Luffy."
Shi yang seolah baru paham dengan tatapan itu segera mengeluarkan topeng kucing. Topeng yang pernah diberikan Amdara di pelabuhan. Dia memberikannya kepada Phillomel.
Phillomel menerimanya sambil mengangguk. Dia lalu duduk bersila. Meminta teman-teman berdiri mengelilingi. Tanpa bertanya lagi, mereka mengikuti.
Phillomel menutup mata. Kedua tangan memegang topeng kucing. Fokus mengalirkan kekuatan ke topeng. Pola daun bercahaya coklat muncul di bawah tubuh. Mulai membesar, hingga cahaya itu membentuk kurungan.
Shi sampai menahan napas menyaksikan kejadian ini. "Dunia memang begitu luas. Ada banyak orang-orang berbakat. Phillomel ini ... dari Akademi mana?"
Phillomel masih menutup mata. Saat dia membuka mata, dirinya berada di sebuah hutan. Tubuhnya masih duduk bersila di tengah-tengah teman-teman. Tapi jiwanya sekarang berada di tempat berbeda.
__ADS_1
Sebuah taman bunga tampak bermekaran dengan cahaya warna-warni. Phillomel mengedarkan pandangan. Di depan taman, sebuah rumah megah berdiri. Di teras sana, Phillomel melihat gadis berambut putih tengah duduk bersama seorang pria.
"Di mana Luffy?" Phillomel menyerngitkan dahi. Tidak menemukan orang yang dicari. Pandangannya terus tertuju pada gadis bercadar tipis. Sangat mirip orang yang dicari, hanya saja rambutnya berbeda warna.
Kakinya ingin melangkah mendekat. Tapi sebuah perisai pelindung menghentikannya. Phillomel berdecak. Jiwanya berteriak memanggil Amdara, walau dia tahu dua orang itu tidak akan mendengar.
"Apa itu Luffy? Luffy! Luffy! Kau baik-baik saja?!"
Phillomel menepuk-nepuk keras perisai pelindung. Dia yakin gadis itu adalah orang yang dicari terlihat baik-baik saja tanpa luka. Namun, siapa pria di sebelahnya?
Phillomel lalu terbang, menyapu pandang. Dia bisa melihat luasnya hutan rimbun.
"Tempat apa ini dan di mana?" Phillomel bergumam.
"Ini kediamanku. Hmph. Remahan jiwamu lancang sekali mengintai di sini."
Phillomel terkejut, menoleh ke belakang dan langsung termundur. Pria yang sebelumnya berada di samping Amdara sekarang berada di depan Phillomel sambil menatap tajam.
"K-kau--"
Cengkraman tangan ke leher membuat Phillomel tidak bisa bersuara. Dia berusaha memberontak, tapi kekuatannya malah tertekan.
"Bocah dungu. Kembali saja sana!"
Cengkraman semakin kuat. Hingga Phillomel menghilang dan tiba-tiba dia memuntahkan darah di tubuh asli. Kurungan menghilang, bersamaan pola di bawah.
"Phillomel, kau tidak apa-apa?!"
Ilan langsung menepuk-nepuk pelan punggung Phillomel. Mereka tersentak melihat darah yang mengalir itu sekaligus khawatir.
"Phillomel, apa yang terjadi?"
Kawa bertanya. Mewakili perasaan yang lain.
Phillomel mengusap darah. Menenangkan diri. Dia menyentuh leher yang terasa sakit.
"Luffy ... dia berada di rumah megah yang dikelilingi hutan. Dia bersama pria tua bermata orange. Aku tidak bisa mendekat karena pria itu menghancurkan jiwa mimpiku."
Perkataan Phillomel kembali membuat mereka tersentak. Shi langsung mendekat dan bertanya, "itu artinya Luffy baik-baik saja?!"
Phillomel mengangguk. Dia kembali berkata, "Luffy juga masih berada di kota ini. Hanya saja aku tidak bisa mengetahui tepat lokasinya."
Kawa terdiam mendengarkan. "Rumah megah di kelilingi hutan? Pria bermata orange? Tidak mungkin. Pasti ada pria lain yang memiliki kesamaan dengan Tetua."
__ADS_1
Kawa menggeleng. Menyangkal pemikiran sendiri.
Sekarang mereka bisa menghela napas lega. Amdara baik-baik saja pasti karena pria bermata orange yang telah menyelamatkan.