Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
262 - Kita Sama


__ADS_3

"Omong kosong."


Mata biru itu kian menatap tak suka ke depan. Dada Amdara bergemuruh hebat mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan lawan bicara.


Dia tidak tahu pasti siapa wanita di hadapannya ini. Bisa saja wanita ini adalah musuh. Sudah mencari tahu mengenai dirinya.


Lalu kalimat terakhir yang mengatakan 'darah' Amdara sama dengan 'bangsa' wanita itu. Membuat Amdara semakin tersulut emosi.


"Siapa kau berani mencari tahu banyak hal tentangku."


Ai semakin tertawa mendengar penuturan lawan bicara. Dirinya menaikkan sebelah alis tanpa membuka mata.


"Ck, ck, ck. Aku tidak mencari tahu apa pun tentangmu. Tapi Dewi lah yang mengatakannya. Kau pasti tidak percaya. Tapi itu terserah. Aku hanya mengatakan sejujurnya." Ai memundurkan langkah dan kembali bertutur. "Kupikir kau sudah mengetahui siapa dirimu. Melihat reaksimu ini ... jelas kau tidak tahu tentang keluargamu, dunia manusia, dunia kami, dan bahkan jati dirimu sendiri."


"Aku jadi kasihan melihatmu, Dara. Kau pasti belum pernah melihat kedua orang tuamu, 'kan? Kau pasti datang ke sini untuk mencari tahu semuanya. Tapi sayang sekali, kau sulit mencari tahu segalanya."


Ai mendengkus dan berbalik arah. Dia duduk di salah satu batu sambil terlihat menikmati desir angin sejuk.


Amdara menggigit bibir. Marah, ingin mengeluarkan kata kasar. Tapi dia mencoba menenangkan diri. Berpikir dingin. Mulai mencerna semua perkataan Ai.


"Apa dia makhluk seperti Naga Air?" Jika seperti Naga Air, ada kemungkin wanita itu memang berbicara jujur dan mengetahui tentang kedua orangtua Amdara.


"Katakan, siapa kau sebenarnya dan jelaskan semua yang kau ketahui tentang orangtuaku."


Amdara buka suara dingin. Tubuhnya masih tidak bisa digerakkan, dan lagi luka di dahi dan di tangan masih sangat terasa. Dia harus mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini.


"Hm? Kau jadi ingin mengetahui lebih dariku, yah." Ai memainkan kedua kaki di air. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang saat berbicara. "Tapi, apa keuntungan yang akan kudapat setelah mengatakannya?"


Amdara menggemerutukkan gigi kesal. Dia balik bertanya, "apa yang kau mau?"


Senyum Ai mengembang saat itu juga. Dia baru akan bersuara kembali, akan tetapi senyumnya pudar. Tangannya terkepal. Dia langsung berdiri. Mendongak, wajahnya memerah karena marah tanpa sebab.


"Sialan. Untuk apa dia datang kemari?!" Air danau tiba-tiba bergelombang hebat. Ai berkata, "kau tunggu di sini, Dara. Ada bedebah yang harus kuurus di luar."

__ADS_1


Ai menghilang saat itu. Amdara yang mendengarnya tersentak dan kebingungan.


Di luar, tepat masih di air terjun. Tiga Api Biru, dan Drake yang sedang mengeluarkan kekuatan api menyerang secara bertubi-tubi ke arah air terjun. Air terjun yang dinginnya menusuk tulang manusia mulai menghangat.


"Ai bodoh, keluar kau ...!"


Suara Drake di siang hari itu menggelegar. Tubuhnya diselimuti bara api. Tatapan matanya sangat tajam ke depan. Tangannya terkepal, dia melakukan tinjuan ke arah air terjun.


Ledakan terjadi. Air hangat itu muncrat ke berbagai arah. Lalu sesosok wanita berpakaian biru polos muncul dengan wajah memerah karena marah.


"Bedebah! Berani sekali mengacau di tempatku!"


Air menyelimuti tubuh Ai. Dua lawan itu memiliki kekuatan berlawanan. Akan cukup sulit melakukan penyerangan satu sama lain. Ini akan tergantung pada tingkat kekuatan masing-masing.


"Aku akan menghancurkan tempatmu jika kau tidak segera munculkan Dara!"


Suara Drake sinis. Dia terlihat marah besar saat ini. Kemarahan Drake ini membuat Ai tiba-tiba saja menyeringai.


"Persetan! Dia tahu aku siapa. Jangan banyak omong dan kembalikan gadis itu!"


"Tsk. Kau berkata seperti itu seolah Dara barang milikmu saja!"


"Dia memang milikku! Jika sampai kau berani menyakitinya, aku benar-benar akan menghabisimu, Ai. Kau akan mendapat kutukan dari Tuan."


Bibir Ai terkatup. Dia selangkah maju dan berkata, "milikmu? Dasar Drake tidak tahu malu. Aku tidak menyakitinya, hanya sedikit menyicipi kekuatan campuran itu. Tuan tidak akan mengutukku."


"Kekuatannya lemah. Tapi mungkin itu karena ada Benang Merah. Kasihan sekali dia. Tapi itu lebih baik daripada kekuatannya tidak bisa dikendalikan."


Drake terdiam, tahu kekuatan Amdara memang sedang melemah. Drake menggeleng. Hampir melupakan ingin membawa Amdara keluar dari kekuatan Ai.


Drake memunculkan bola api besar di tangan kanannya yang terangkat tinggi. Dua berkata, "banyak omong! Lepaskan Dara sekarang, Ai atau kulempar bola api ini!"


Ai memiringkan sedikit kepala dan tersenyum lebar. "Kita satu 'bangsa'. Kenapa kau bersikap seperti ini?"

__ADS_1


Drake melesatkan bola api tanpa menanggapi perkataan Ai. Lalu melesatkan kekuatan api secara bertubi-tubi ke arah lawan.


Gelombang air bereaksi, membuat dinding untuk melindungi Ai. Kedua kekuatan elemen itu saling berbenturan hingga mengakibatkan angin kejut dan bunyi ledakan keras.


Ai tidak ingin mengalah. Dia melesatkan serangan air ke arah Drake. Dirinya menghilang dan muncul di atas dengan gelombang air besar siap menghantam ke tubuh Drake di bawah yang disibukkan dengan ombak air. Bahkan tiba-tiba ada rumput laut hitam yang mencoba melilit tubuh Drake dengan gesit.


"Kau salah datang ke wilayah ku, Drake. Biar kuberi pelajaran berharga untukmu."


Ai menyeringai. Kedua tangannya membentuk pola-pola aneh bergantian. Lalu gelombang air di belakangnya mulai berubah warna menjadi gelap dan memiliki tekanan hebat ke lawan.


"Lubang Kegelapan Roh ...!"


Gelombang itu melesat ke bawah begitu cepat mengenai Drake. Drake yang sudah merasakan tekanan hebat kesulitan mengelak. Alhasil dirinya menghantam ke arah pepohonan begitu keras. Rumput laut hitam segera melilit kakinya dan menarik ke dalam air.


Tubuh Drake yang penuh dengan kobaran api mulai memadam. Dia berusaha menggunakan kekuatan api untuk membakar rumput laut hitam, tetapi memang sulit dilakukan. Apalagi jelas ini adalah sarang lawan.


Satu Api Biru membantu Drake dari atas dengan menyalurkan kekuatan api biru. Dua Api Biru lagi melesat menyerang Ai begitu cepat. Bahkan sekarang terasa kedua Api Biru semakin kuat ketika melawan Ai.


Ai berdecak menghadapi kegesitan dua Api Biru milik Amdara ini.


"Kalian berdua kenapa menyerangku juga?! Kita tidak memiliki masalah!"


Ai melibaskan tangan untuk menangkis serangan Api Biru. Seringai nya sudah pudar ketika dua Api Biru ini menyerang bertubi-tubi tanpa peduli serangan balik lawan.


"Masalahmu menangkap Nona dan tidak memberikan Permata Air. Padahal Nona sangat membutuhkannya untuk menghilangkan Benang Merah sialan itu."


Suara Api Biru terngiang di pikiran Ai. Dua Api Biru sama sekali tidak menyerah begitu saja ketika mendapat serangan hebat.


Ai berdecih dan berucap kesal, "Permata Air hanya ada satu dan itu sudah seperti rumahku. Jika Dara membawa Permata Air, di mana aku akan tinggal?!"


Gelombang air kian besar dan menguat melawan dua Api Biru yang mulai kewalahan.


"Keberadaan Permata Air menyembunyikan aura Roh Hitam ku. Jika diambil, akan ada banyak manusia merepotkan yang harus kuhadapi."

__ADS_1


__ADS_2