Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
26 Perbincangan Para Tetua


__ADS_3

Di Alam Suci Atas, Tetua Besar Moksa tinggal di sebuah rumah sederhana. Bahkan jika seorang murid bawah melihatnya tidak akan menyangka, seorang Tetua Besar tidak tinggal di istana. Tetua Besar Moksa memang orang sederhana, dia tidak suka sesuatu yang berlebihan.


Dirinya akan turun ke sekolah Akademi Magic Awan Langit jika ada hal mendesak, dan tentu sebelumnya dia telah memberi tahukan hal ini pada Tetua Haki. Kali ini dia hal mendesak itu berkaitan dengan mimpi aneh, di mana semua negeri dikacaukan oleh sesosok makhluk mengerikan dan di sana semua manusia tidak ada yang hidup. Bahkan makhluk itu dalam mimpinya sekarang tengah mengumpulkan kekuatan besar. Entah memang itu sebuah pertanda atau hanya mimpi belaka. Namun, setelah bermimpi itu Tetua Besar Moksa merasa gelisah dan akhirnya memutuskan untuk berbincang dengan tetua lain.


Di Alam Suci Atas, memang hanya dirinya sebagai tetua di sana. Ada satu lagi tetua tetapi sepuluh tahun lalu pergi membawa misi yang amat berat dan hanya dia yang bisa melakukannya. Alasan mengapa hanya Tetua Besar Moksa yang tinggal di Alam Suci Atas karena memang dia yang bisa masuk ke sana, sementara Tetua Haki, Tetua Widya, Tetua Rasmi dan Tetua Genta belum mencapai kekuatan besar hingga bisa memasuki Alam Suci Atas.


Alam Suci Atas adalah alam yang dibuat leluhur dan diperuntukkan untuk manusia yang benar-benar menguasai kekuatan besar. Di sana hanya Tetua Besar Moksa yang terpilih menjadi tetua, oleh seorang leluhur.


Penyambutan Tetua Besar Moksa ke sekolah Akademi Magic Awan Langit selalu dilakukan dengan baik dan tenang tetapi kali ini berbeda, dan membuat Tetua Moksa cukup tersentak.


Tetua Besar Moksa sekarang duduk di ruang khusus untuknya. Di depannya ada Tetua Haki, Tetua Widya, Tetua Rasmi dan Tetua Genta. Di ruangan tersebut terlihat sederhana, hanya memiliki sebuah rak buku, lima buah kursi yang terbuat dari bambu dan sebuah tempat biasa Tetua Besar Moksa duduk santai. Suasana cukup canggung ketika Tetua Besar Moksa bertanya mengenai keadaan sekolah setelah Tetua Haki menceritakan sedikit keadaannya.


"Jadi, pelindung ini tidak cukup kuat sampai seseorang bocah bisa memasuki sekolah?"


Pertanyaan Tetua Besar Moksa membuat Tetua Haki mengangguk membenarkan. Dirinya berkata, "kurasa bocah itu juga cukup kuat."


Tetua Besar Moksa mengusap-usap jenggot panjang putihnya sambil mengangguk pelan. Kejadian ini pertama kalinya, dirinya berpikir bahwa bocah yang dimaksud pasti bukan bocah biasa. Aura yang keluar dari tubuh Tetua Besar Moksa terkesan agung dan suci, ini adalah salah satu aura manusia yang cukup lama tidak bercampur dengan hal-hal manusiawi. Namun, bukan berarti bukan berarti hal-hal manusiawi benar-benar dihilangkan atau ditinggalkan, hanya memang terkadang cukup dihindari.


"Kau sudah mencari tahu identitasnya?"


Tetua Haki mengatakan dirinya sudah mencari tahu dan menceritakan semua yang dikatakan Guru Kawi.


Tetua Rasmi tentu tidak percaya begitu saja walaupun sudah dijelaskan beberapa kali oleh Tetua Haki. Dia tipe orang yang selalu waspada. "Bukan tidak mungkin bocah itu adalah mata-mata dari musuh."


Tetua Widya yang mendengarnya hanya bisa mengembuskan napas. "Sudah kuselidiki. Tidak ada yang aneh dari bocah istimewa itu."


Tetua Widya tentu tidak tinggal diam saja saat sekolahnya dimasuki orang tidak dikenal. Dirinya menyelidiki kebenaran bocah yang disebutnya istimewa dan menemukan bahwa memang benar dan sama persis ceritanya seperti yang dikatakan Tetua Haki.


Tetua Rasmi, "musuh bisa memanipulasi."


Tetua Widya, "bukankah itu adalah bakatmu?"


Tetua Rasmi, "apa maksud Tetua Widya? Bocah itu dari negeri sebelah. Kau jangan lupa mereka adalah orang-orang picik."


Tetua Widya, "kurasa kau termasuk orangnya."


"Berhenti berdebat." Tetua Haki berkata dengan tegas. Kedua Tetua perempuan itu entah mengapa memiliki sikap seperti anak-anak padahal keduanya seorang Tetua yang harus menjadi contoh baik.


Tetua Genta sedari tadi hanya diam. Dia tidak ingin mengatakan apa pun mengenai bocah penyusup itu. "Tidak sopan. Ada orang yang lebih tua di sini. Jangan mendebatkan apa pun."

__ADS_1


Tetua Rasmi dan Tetua Widya saling melirik tajam. Walaupun demikian tetapi keduanya sama sekali tidak menyimpan dendam.


Tetua Besar Moksa yang baru saja akan meminum tehnya tertohok mendengar perkataan Tetua Genta. Dia sampai mengelus-elus dada dengan tangan kiri sambil menggeleng. "Kalian tidak berubah." Lengkungan senyum terukir di bibirnya. "Dan Genta, aku belum setua itu di antara kalian."


"Lalu, apa kau merasa paling muda di antara kami?" Tetua Genta berkata tanpa ragu. Perkataannya bahkan membuat Tetua Widya, dan Tetua Rasmi berkedip beberapa kali. Mereka tahu bahwa Tetua Genta hemat bicara tetapi sekali bicara langsung bisa menusuk perasaan seseorang. Sama halnya dengan Tetua Haki yang tidak menyangka Tetua Genta akan berkata menusuk itu pada Tetua Besar Moksa, walaupun keempat tetua tersebut telah lama bersahabat.


Tetua Besar Moksa jadi tidak berselera saat murid yang satu ini berkata demikian. Dirinya meletakkan secangkir teh dan berkata, "sifat ini sama sekali tidak berubah, ya?"


"Genta, aku hanya tua beberapa tahun dari kalian. Jangan berbicara seolah aku ini sudah jadi kakek-kakek." Tetua Besar Moksa mengusap-usap jenggotnya sambil bertatapan dengan Tetua Genta. Dirinya tentu sadar tengah mendapat tatapan horor dari Tetua Rasmi dan Tetua Widya dengan cepat. Tetua Besar Moksa mengembuskan napas panjang. "Kurasa hanya Haki yang normal di sini."


Tetua Haki tersentak saat namanya disebut. Dirinya segera mengalihkan topik pembicaraan.


"Tetua, kami sekarang masih mengawasi penyusup kecil dan baru-baru ini dia terlibat beberapa masalah."


Tetua Haki mulai menceritakan bagaimana awal Bocah Penyusup tersebut tengah bertarung melawan temannya sendiri. Mendapat masalah dengan rombongan Padma, sampai nyaris lenyap karena Bunga Teratai Penghisap Nyawa. Tetua Haki, Tetua Widya, Tetua Rasmi bahkan Tetua Genta tidak menyangka ada Roh Hitam di dalam Bunga Teratai Penghisap Nyawa yang memang bunga tersebut terkenal dapat merenggut nyawa dalam hitungan detik tergantung kemampuan si pengguna.


Mendengar hal tersebut, membuat Tetua Besar Moksa menaikkan sebelah alisnya.


"Ini pertama kali kita juga kedatangan penyusup tidak terduga. Roh Hitam ini seharusnya akan terdeteksi oleh pelindung sekolah tetapi entah bagaimana dan sejak kapan muncul kami belum mengetahui pasti. Ada kemungkinan Roh Hitam ini bersembunyi di dalam tubuh Padma."


Tetua Haki menjelaskan besar kemungkinannya. Dia telah menyelidiki hal ini juga, dan ketika bertanya pada Padma, bocah itu memang merasakan sesuatu yang aneh selama beberapa hari setelah pergi ke sebuah desa melakukan misi. Untung saja hanya satu Roh Hitam yang masuk, jika ada lebih kemungkinan kekacauan akan terjadi.


"Bukan hanya itu, dia bahkan bertarung melawan Bena disaksikan seluruh murid."


Tetua Haki ingat betul ketika melihat kekuatan dahsyat dan tentu saja Tetua Haki menceritakan bagaimana tubuh istimewa Bocah Penyusup sampai hampir melupakan satu penyusup lagi yang juga cukup menarik perhatian.


"Satu penyusup kecil lagi seorang yang memiliki kekuatan dapat menangkap menggunakan rambutnya seperti angin, api, dan yang lain."


Entah mengapa Tetua Haki menyebut mereka Penyusup Kecil dari pada memanggil nama. Tetua Besar Moksa tentu tidak mempersalahkannya dan tidak penasaran dengan nama mereka.


Tetua Besar Moksa juga tidak menanyakan bagaimana tingkah Bocah Penyusup ketika berada di dalam kelas. Dan sepertinya Tetua Haki juga lupa mengatakan dirinya membuat keputusan bahwa Dua Penyusup Kecil berada di kelas Satu C.


"Mn. Memang ada benarnya mengawasi bocah itu."


Sejak perbincangan ini, Tetua Besar Moksa sama sekali tidak mengetahui bahwa bocah yang dimaksud adalah Bocah Bertopeng yang telah berani menubruknya di depan umum. Dia mengira ada bocah hebat lainnya dan mendengar bahwa penyusup kecil ini sering terlibat masalah, tetapi memiliki kepribadian baik dan hemat bicara membuat Tetua Besar Moksa tidak sampai berpikir Bocah Bertopeng adalah si Penyusup Kecil tersebut yang ceroboh.


Masalah ini Tetua Besar Moksa percaya pada empat tetua yang lebih muda darinya ini. Dia tidak akan ikut campur lebih.


Mengenai masalah Bocah Bertopeng, Tetua Haki telah memerintahkan seseorang untuk mencari tahu. Dirinya benar-benar akan memberi hukuman berat pada Bocah Bertopeng jika sampai tertangkap. Walaupun tahu Bocah Bertopeng sekarang dalam kendali Tetua Besar Moksa.

__ADS_1


Tetua Besar Moksa tidak ingin mengungkit kejadian tersebut, dirinya akan melakukan sesuatu pada Bocah Bertopeng.


Para tetua itu terlihat akrab, dan terlihat memiliki hubungan erat satu sama lain. Tetua Besar Moksa yang dikira tidak akan memiliki sifat konyol, tetapi memiliki sifat agung malah bertolak belakang dengan sekarang yang tengah bercanda bersama empat tetua. Mereka berbeda sekali ketika berada di luar.


Tidak banyak yang tahu bahwa Tetua Haki dahulu seorang pendiam dan sangat berbakti pada gurunya, yaitu Tetua Moksa. Tetua Widya dan Tetua Rasmi adalah dua murid perempuan yang selalu mendebatkan hal sepele, sampai mereka menjadi tetua bersama kadang masih saja mendebatkan sesuatu. Sementara Tetua Genta dulunya adalah seorang murid yang suka memberontak di balik diamnya, dirinya sering mendapatkan hukuman dan masalah tidak pernah tidak terjadi. Bahkan sampai membuat semua guru yang mengajarnya kewalahan termasuk Tetua Moksa.


Empat tetua itu dulunya seseorang yang tidak bisa diajak bergabung atau disatukan. Tetua Besar Moksa membutuhkan banyak perjuangan agar mereka bisa menjadi sahabat bahkan sampai sekarang.


"Baiklah, berhenti bergurau. Aku akan mengatakan tujuan sebenarnya datang kemari."


Perkataan Tetua Besar Moksa membuat keempat ketua lainnya seketika berubah serius. Jika Tetua Besar Moksa telah mengatakan demikian maka hal ini bukan masalah kecil.


Tetua Besar Moksa kemudian menceritakan bagaimana dirinya mendapatkan mimpi aneh di mana seluruh dunia dihancurkan begitu mengerikan oleh monster atau lebih tepatnya makhluk mengerikan. Tidak ada satu pun manusia yang bisa mengalahkannya bahkan saat seluruh negeri menyatukan kekuatan. Di mimpi tersebut, sesosok manusia dengan gagah berdiri di atas kepala makhluk itu, dengan tatapan tajam. Seakan mereka adalah teman.


"Makhluk apa itu?" Pertanyaan itu spontan keluar dari bibir Tetua Haki. Dia cukup tersentak saat mendengar cerita ini.


"Aku tidak yakin. Tapi kurasa itu adalah iblis." Tetua Besar Moksa menggeleng tidak yakin. Dia pernah melihat gambaran iblis di sebuah buku yang menceritakan mengenai makhluk kuat yaitu iblis. Jadi, ketika memimpikan makhluk itu dirinya bisa tahu bahwa makhluk tersebut tidak lain adalah iblis.


"Iblis ...." Tetua Haki menatap serius Tetua Besar Moksa. Seorang Tetua pasti pernah membaca buku mengenai makhluk mengerikan itu. "Selama ini hanya ada Roh Hitam yang membuat masalah. Tapi Tetua mengatakan iblis, ini jauh berbeda tingkatan."


Mendengar cerita dari Tetua Besar Moksa membuat keempat tetua amat terkejut. Pasalnya mimpi Tetua Moksa bukan mimpi biasa. Mimpi sebelumnya, Tetua Moksa bertemu seorang manusia berkekuatan besar, dan kejadian itu benar-benar terjadi.


"Bukankah iblis sulit dicari? Mereka pandai menyembunyikan diri." Tetua Rasmi berbicara. Dia nampak serius bertanya.


Tetua Besar Moksa mengangguk. "Itu benar. Mereka jauh lebih kuat dari Roh Hitam. Kurasa bahkan jika kita bergabung untuk melenyapkannya akan sia-sia. Membutuhkan banyak orang yang tinggal di Alam Suci Atas untuk melemahkan sedikit kekuatan iblis."


"Apa ini ulah Negeri Rubah Merah?"


Pertanyaan Tetua Genta membuat yang lain terdiam dan memikirkannya. Negeri Rubah Merah terkenal sebagai 90% orang-orang dari Aliran Hitam dan seringkali membuat masalah di negeri sendiri maupun di negeri lain. Jadi, Tetua Genta tentu menebak bahwa yang akan membuat kekacauan besar kemungkinannya adalah Negeri Rubah Merah.


"Aku tidak tahu. Negeri Rubah Merah memang selalu berbuat masalah, tetapi akhir-akhir ini kurasa mereka kurang pergerakan." Tetua Besar Moksa tentu tahu pergerakan Negeri Rubah Merah karena dirinya memiliki orang terpercaya untuk mengawasi mereka. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga.


Tetua Widya, "tetua, apa yang harus kita lakukan?"


"Mn, kuharap ini memang hanya mimpi buruk. Tapi untuk keselamatan semua manusia, kita memang mempersiapkan untuk sesuatu yang buruk." Tetua Besar Moksa berujar serius.


"Apa kita perlu memberi tahukan hal ini pada tetua sekolah lain?" Tetua Haki bertanya.


"Bukan hanya tetua sekolah. Tapi seluruh orang harus lebih kuat, negeri sebelah juga harus bertindak demikian."

__ADS_1


Kelima Tetua itu sepakat untuk membicarakan hal ini pada para tetua di seluruh negeri. Namun, memang ada baiknya mereka harus mempersiapkan diri terlebih daluhu, kemungkinan besar memang ada yang tidak akan percaya. Pasalnya mimpi adalah bunga tidur. Untuk itu maka kabar ini sementara akan ditutupi dengan cara membuat semua orang lebih kuat tanpa mengatakan hal ini.


__ADS_2