Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
198 - Irama Ketenangan II


__ADS_3

Suara seluring terdengar, membelah langit yang tengah tertutup awan gelap. Debaman, disertai siluet cahaya menggelegar sesaat hirap dari pendengaran semua orang yang terkejut bukan main.


Suara tersebut sungguh menenangkan hati yang tengah dilanda kegundahan. Menenangkan pikiran yang tengah berkecamuk mengenai banyak hal.


Cahaya putih bersinar terang di satu titik, yaitu di atas Penginapan Seribu Rasa yang sudah roboh separuh. Warga yang melihatnya sampai melindungi mata dengan lengan sampai sinar itu perlahan memudar.


Mata mereka disuguhi pemandangan tak biasa.


Lima Belas Bintang Malam menahan napas melihat sepuluh Raja Roh Hitam yang tiba-tiba melayang dengan cepat, padahal sebelumnya mereka tidak bisa bergerak secara kompak dan mendapat luka serius. Mereka berkumpul di satu titik di mana seorang bocah berambut putih tengah meniupkan seluring dengan irama menenangkan.


Sepuluh Raja Roh Hitam terduduk, di hadapan Amdara yang masih dengan tenangnya meniup seluring.


Tidak ada yang tidak syok atas kejadian sekarang. Mereka bertanya-tanya siapa anak berambut putih itu yang melakukan hal tak terduga ini. Mereka tidak berpikir bahwa seorang bocah bisa melakukan hal luar biasa untuk sekarang. Pandangan mereka terhadap Amdara jelas akan berbeda.


"B-bagaimana dia bisa menaklukkan Raja Roh Hitam hanya dengan seluring?!"


Salah seorang warga menggeleng pelan. Napasnya tercekat dengan mata membulat sempurna.


Orang lain yang nampak mengetahui sesuatu turut buka suara, masih dengan tatapan tak percaya.


"Itu bukan seluring biasa. Melainkan Benda Pusaka yang sejak tiga belas ribu tahun dicari-cari karena kehebatannya."


Ucapannya membuat orang-orang di sekitar mendengar terkejut bukan main. Memandang lekat Seluring Putih yang setia mengeluarkan irama ketenangan.


"Benarkah?! Ah, Seluring Putih ini benar-benar luar biasa sampai bisa membuat lawan terpengaruh."


Timpal orang lain, sambil berdecak kagum. Matanya beralih ke sepuluh makhluk yang tidak melakukan pergerakan sedikit pun.


"Kurasa bukan hanya karena seluringnya, tapi irama yang dimainkan. Sangat tenang," tambah seseorang lagi sesaat memejamkan mata merasa hatinya yang sebelumnya gelisah sudah lebih baik.


Seolah irama ini membuat siapa pun yang mendengarkan tenang. Rasa sakit di tubuh mereka sejenak tidak terasa, karena pikiran dan hati mereka tengah ditenangkan oleh alunan irama ketenangan.


Termasuk Lintang yang saat ini darah mengalir dari mulutnya, luka dalam akibat serangan musuh membuatnya tak merasakan sakit. Dia memandang rekan cilik bisnisnya yang menjadi pusat perhatian.


"N-nona Luffy?"


Lintang mengusap dari yang mengalir menggunakan punggung tangan. Dia pun tersentak melihat kejadian ini. Perlahan dirinya berjalan, mendekat ke arah Amdara.


"Kau memang bukan anak biasa, Nona. Kau luar biasa. Bahkan Roh Hitam sampai takluk di hadapanmu."


Senyuman tipis terukir di wajah ayunya. Perasaan senang serta syukur dia ungkapkan dalam hati karena mengenal orang luar biasa seperti Amdara.


Saat ini tentu orang yang baru saja mengenal anak itu merasa senang.

__ADS_1


"Dia memang bukan anak biasa. Auranya sungguh berwibawa," kata satu Bintang Malam yang melayang dekat dengan pemandangan langka di depannya. Matanya terus menatap Amdara yang memejamkan mata tenang.


Cahaya hijau di bawah kaki salah satu Bintang Malam lain nampak terdiam dengan pikiran tersendiri. Dia sampai membatin, "Apa? Kupikir dia anak bangsawan yang tidak akan pernah bersentuhan dengan bantuan untuk orang-orang seperti kami. Apalagi dia sampai membahayakan nyawa sendiri. Benar-benar tak kusangka."


Tatapannya tidak beralih. Namun hati dan pikirannya mulai berubah.


Mungkin semua Bintang Malam saat ini dalam rasa kekalutan tersendiri.


"Nona Luffy, kau memang berbeda. Padahal umurmu lebih muda dariku, tapi kekuatanmu melampauiku yang diberi julukan 'Bintang Malam'. Siapa sebenarnya kau?"


Cahaya biru keluar dari kaki dan mengelilingi tubuhnya. Bintang Malam satu ini mengenakan gelang ukiran ombak. Matanya berubah warna biru, auranya juga berubah lebih tenang ketimbang saat bertarung.


Mata biru langit lain terbuka, yaitu milik Sang Pengendali Jiwa Makhluk. Bahkan matanya terlihat menenangkan nan meneduhkan hati siapa pun.


Angin berhembus, memainkan poni rambutnya serta ikat rambut hitam dengan corak naga emas bersama jubahnya. Auranya terasa berwibawa, mendominasi dan ketenangan menyeruak ke sekitar.


Di hadapannya, sepuluh musuh sudah tertunduk dengan ikatan rantai merah tak terlihat melilit leher mereka. Mereka sudah dijinakkan oleh Amdara.


Dia menghentikan memainkan seluring. Menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan.


"Jangan kembali ke dunia manusia untuk mengacau."


Kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya terdengar tegas. Dia kembali berkata datar, "pergi."


Cahaya hitam memutari mereka, angin berhembus membawa aroma tak sedap. Perlahan tubuh sepuluh Raja Roh Hitam menghilang dari pandangan.


Amdara menghela napas lega. Dalam hati senang karena bisa menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini. Dia menatap seluring putih di genggaman tangan kanan, cahaya putih nampak dari Benda Pusaka ini kemudian menghilangkan benda tersebut.


"Nona Muda, terima kasih telah menyelamatkan wargaku ...!"


Suara menggelegar dari seorang pria tua sebagai Wali Kota itu membuat tersentak Amdara. Dia berkedip melihat pria tua yang sedang menghampiri.


Melihat banyak warga yang sedang menatapnya, membuat Amdara sedikit tidak nyaman.


"Akan merepotkan jika terus berada di sini." Amdara hanya tersenyum tipis saat Wali Kota berada di depannya dan memberikan hormat serta ucapan terima kasih.


Tidak hanya dari Wali Kota, tetapi para warga juga melakukan hal demikian. Suara sorakan dari warga yang sangat senang atas bantuan Amdara sungguh luar biasa ramai.


"Nona, kau benar-benar penyelamat! Aku mewakili warga kota sangat berterimakasih kepadamu!"


Katanya dengan mata berbinar-binar. Dia kembali bertutur, "bagaimana kami membalas budi kepadamu, Nona Muda? Kau merupakan orang yang mengakhiri penderitaan kami."


Amdara masih diam tidak menanggapi. Sementara si lawan bicara terus bertutur.

__ADS_1


Wali Kota bahkan sampai mengeluarkan segunung kecil emas miliknya untuk diberikan kepada Amdara. Tindakannya ini membuat warga tertegun. Wali Kota berpikir segunung kecil emas ini bahkan tidak ada setengah dari kebaikan anak di depannya.


"Kami akan memberikan hadiah lebih besar kepadamu, Nona."


Amdara yang melihat tumpukan emas itu menggeleng. Menurutnya ini terlalu berlebihan. Lagi pula dia melakukan hal ini bukan untuk warga kota, melainkan misinya dari Tetua Bram.


"Lebih baik uangnya untuk perbaikan kota."


Ucapan Amdara membuat Wali Kota dan semua orang tertegun. Mereka tidak menyangka mendapat penolakan langsung.


"Tapi Nona--"


"Aku tidak miskin."


Wali Kota sampai kehilangan kata-kata mendengar perkataan jujur nan tajam anak di depannya. Dia tersenyum kikuk dan berpikir anak di depannya adalah bangsawan kelas atas sampai menolak uang ini.


"Maafkan Saya yang bertindak kurang sopan. Nona Muda, jika Anda berkenan boleh saya menjamu Anda di kediaman Saya?"


"Tidak perlu. Lagi pula ini adalah salah satu tugasku."


"..."


Amdara kembali menolak tegas. Lagi membuat orang-orang dibuat tersentak.


Dirinya kemudian mengeluarkan portal, berniat pergi karena urusannya telah selesai. Dia tidak peduli dengan perkataan Wali Kota dan warga yang tengah meminta Amdara agar diberikan jamuan khusus.


Dirinya baru hendak masuk, tetapi sekali lagi mengedarkan pandangan melihat orang-orang yang ternyata banyak yang terluka parah karena menyerang Raja Roh Hitam.


Amdara menghembuskan napas. Dia cukup menyesal karena tidak bisa menyelamatkan mereka. Tangan melibas ke arah depan, saat itu juga pusaran angin biru muncul. Pusaran tersebut mengelilingi para warga, yang terkejut. Apalagi ada aroma segar serta dedaunan dan bunga-bunga putih yang turut berputar mengikuti arah pusaran angin. Amdara juga menambah pil penyembuh berkualitas menengah di pusaran anginnya, sehingga hanya dengan tersentuh oleh angin tersebut luka yang tidak terlalu serius langsung sembuh.


Warga kota menahan napas dengan apa yang terjadi pada tubuh mereka. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Amdara tersenyum tipis dia buka suara.


"Tegakkan keadilan. Hilangkan diskriminasi. Itu hadiah terbaik dari kalian."


Setelah mengatakan hal tersebut, Amdara langsung memasuki portal dan portal pun mulai memudar.


Dalam sekejapan mata, Amdara sekarang telah berada di dalam gua. Dia mengedarkan pandangan, takut jika ada satu Tetua yang sudah berada di sana. Hatinya bersyukur karena tidak ada siapa pun.


Dia keluar gua, memandang langit penuh bintang. Menenangkan pikiran dan hatinya. Dia memejamkan mata sesaat, merasakan angin berhembus membawa dinginnya malam.


"Siapa sebenarnya aku? Ini bukan pertama kali merasakan sedih saat melawan Roh Hitam. Perasaan ini ... mengapa terus berlanjut?"

__ADS_1


__ADS_2