Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
30 Kejadian di Penginapan


__ADS_3

Penginapan yang semula damai oleh tawa, kini malah memanas oleh perkelahian yang mungkin takkan terlelakan. Beberapa orang nampak berdecak kesal, karena ulah seseorang mereka jadi terganggu saat sedang makan dan bersenda gurau. Beberapa orang lagi yang mengetahui keadaan langsung bergegas pergi tanpa menghiraukan yang lain.


Penjaga penginapan yang tak memiliki banyak kekuatan hanya bisa berharap masalah ini terselesaikan.


Dua meja sekaligus langsung retak begitu tubuh Waki si pria berambut merah. Nampak wajahnya masih terkejut dengan serangan tak terduga barusan.


Amdara menatap Inay untuk segera membawa teman-temannya pergi. Ini akan menjadi lebih bahaya setelah Waki bangkit.


Inay memikirkan hal yang sama dengan bocah berambut putih itu. Segera saja dirinya melilit Atma, Dirgan, Rinai, dan Nada menggunakan kekuatan pada rambutnya. Dia membawa teman-temannya keluar penginapan begitu cepat. Beruntung lawan dan kawan-kawan tidak mengejar.


Inay terbang dengan kecepatan tinggi membuat Rinai, dan Nada hampir memuntahkan isi perut mereka. Dirgan memejamkan mata sambil berpegangan pada rambut yang melilit tubuhnya, perasaannya campur aduk. Antara rasa takut, dan khawatir pada Amdara yang sendirian melawan musuh kuat.


Dirgan semakin memegang erat rambut hitam keunguan itu, dia menggeremutukkan gigi. Dalam hati dia berkata, 'apanya yang Ketua Kelas?! Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri.'


Di saat itu Atma sendiri merasakan kepalanya yang pusing. Walaupun luka nya telah disembuhkan oleh Amdara, tetapi dia merasakan kepala yang hampir pecah karena Inay membawanya begitu cepat.


Di malam dengan udara dingin itu, Inay terus melesat mencari tempat yang kemungkinan aman dan jauh dari penginapan. Bukan tidak mungkin lawan membiarkannya pergi dan akan mencarinya beberapa saat lagi.


"Inay, kau pelankan sedikit kecepatan." Atma menutup mata. Ini kali pertama dia terbang dengan kecepatan tinggi.


"Kita akan mati jika hanya mengurangi sedikit kecepatan."


Mendengar Inay berkata demikian membuat Rinai, Nada, Dirgan dan Atma merasakan takut. Rasa takut ini pernah mereka hadapi saat kecil. Wajah mereka pucat, tubuh semakin lemas dan perlahan mereka mulai menangis. Inay tidak menyadari hal tersebut. Dia fokus mencari tempat persembunyian.


Inay tahu betul bahaya melawan musuh. Walaupun selama hidupnya dia jarang melawan manusia dan lebih sering melawan Roh Hitam jelas membuatnya cemas. Apalagi ini bukan tempat kelahirannya.


Bocah berambut hitam keunguan itu tidak melihat tempat aman. Pasar yang dilihatnya cukup luas dan banyak orang yang berlalu lalang. Beruntung matanya melihat sebuah pemakaman sepi.


Inay mendarat pelan, di sebuah pemakaman masal. Entah mengapa dirinya melihat pemakaman tersebut sebagai tempat yang aman dari musuh sebab memang jarang sekali ada orang yang pergi ke pemakaman malam hari.

__ADS_1


Dirgan dan teman-teman tersentak saat membuka mata saat di sekeliling adalah pemakaman masal. Awalnya ingin memprotes, tetapi mereka mengurungkan niat.


Inay memberikan air dari bambu pada teman-temannya agar lebih tenang.


Rinai menghapus air matanya lalu berucap.


"Huhuhu. Jika kau tak menjawab perkataan paman itu, dia tidak akan marah ...." Rinai mengusap air mata kembali. Dia menyalahkan Atma di saat seperti ini.


Nada memeluk boneka erat. Dia menunduk dan berujar pelan yang langsung tertuju pada Atma, "ini salahmu. Jika kau tidak sampai mencari keributan, khakhaa Luffy tidak akan dalam bahaya!"


Atma tidak menyangka teman-temannya malah menyalahkan semua padanya. Padahal dia hanya berniat membela mereka atas ucapan yang tidak benar oleh pria berambut merah.


"Kenapa kau menyalahkanku? Kakek tua itu yang menyebut kita pengemis!"


"Atma, kau terpancing emosi hanya karena omongan. Ini sama sekali bukan kau yang kukenal." Dirgan menarik napas kesal.


"Kakek tua itu yang emosi duluan! Jika kau menghentikanku, ini mungkin tidak akan terjadi, Dirgan!"


Inay yang sedari tadi mendengar benar-benar kesal dia berteriak di hadapan teman-temannya.


"Apa kalian akan terus menyalahkan satu sama lain?!" Inay menatap tajam Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada secara bergantian.


Mereka diam, tak bisa menjawab. Di keadaan seperti ini, mereka tidak bisa berpikir jernih. Apalagi mereka terlihat baru menyaksikan pertarungan sengit.


Inay mengusap wajah kasar.


"Kalian tunggu di sini, aku akan membantu Luffy."


Inay melesat begitu saja tanpa menunggu jawaban. Perasaannya kacau. Dia yang lebih dewasa dari Amdara merasa tidak berguna. Seharusnya Inay yang bertarung, dan Amdara yang membawa teman-teman ke tempat aman. Bukan sebaliknya!

__ADS_1


Entah kenapa, Inay merasa khawatir. Padahal melawan musuh kuat itu hal biasa saat di Organisasi Elang Putih. Tetapi mereka bukan di negeri sendiri. Ini negeri asing yang dua bocah itu pijak dan sama sekali tidak tahu aturan di negeri ini. Entah bahaya apa tengah dihadapi si bocah berambut putih.


Di penginapan sebelumnya, Amdara baru saja terpental akibat serangan lawan. Dia merasakan perih disekujur tubuh, untuk berdiri saja sekarang rasanya sakit.


Amdara tak bisa menghindar dari semua jarum besar dan tajam yang dilesatkan saking banyaknya.


Tak bisa menghindar, topeng Amdara sampai dibuat retak karena jarum tersebut. Waki tersenyum mengejek, lalu berkata sebelum kembali melesatkan serangan dahsyat. Tidak peduli jika lawan adalah seorang bocah


"Hei, bocah. Aku masih bermain-main denganmu. Apa hanya ini kemampuanmu? Hahah."


Amdara merasa pipinya yang tertusuk jarum, perih. Perlahan darah keluar dari pipinya. Untuk singgungan Waki sebelumnya, Amdara ingin melenyapkan orang itu. Tetapi melihat sekitar banyak orang yang akan membantu Waki.


Memang benar. Di atas langit masih ada langit. Amdara selama ini hanya bertarung dengan Roh Hitam, jarang sekali bertarung dengan manusia. Berbeda saat melawan Bena, Amdara dapat mengalahkan walaupun tidak mudah. Tetapi tenaga lawan kali ini sepuluh kali lipat. Benar-benar kuat!


BAAM!


Amdara kembali terpental sampai menubruk beberapa meja. Darah keluar dari mulutnya, topeng kucing putih retak. Memperlihatkan wajah yang awalnya putih bersih jadi tertutup darah yang mengalir dari dahi, mata, hidung dan tulang pipi yang tertusuk beberapa jarum.


Keadaan penginapan benar-benar berantakan. Meja-meja sampai hangus karena serangan Waki dan Amdara. Sementara sang pemilik penginapan entah berlindung di mana, semua penjaganya kini di luar tengah bertarung dengan teman-teman Waki. Beberapa orang juga keluar, tetapi tidak ada sedikit pun dari mereka yang berniat menolong bocah berambut putih.


"Akan kubunuh kau ...!"


Lima pedang melesat menebas udara kemudian mengarah ke dada Amdara yang kini tak mampu berkutik sedikitpun. Bocah berambut putih itu tak sanggup membuka mata, sesuatu yang amat menyakitkan menyentuh leher. Darah dari hidung, telinga dan matanya tak henti mengalir. Bahkan Amdara merasa darahnya keluar dari leher dan perutnya yang terasa ditusuk berkali-kali.


"Sampai ... di sini, ya?"


Padahal rasanya baru kemarin dia mengalahkan Raja Roh walaupun tidak mudah. Tetapi kali ini dia merasa semua kenangan lamanya terlintas. Kenangan hangat dan menggembirakan baru saja membuatnya menitikkan air mata. Dadanya kembali sesak.


Misi yang belum terselesaikan, bocah itu juga belum sekali pun dia melihat kedua orang tuanya. Perjalanannya masih jauh, tetapi nyawanya berada di ujung tanduk sekarang. Mimpi ingin bertemu orang tuanya seakan tak pernah dia gapai jika dia mati sekarang.

__ADS_1


__ADS_2