
"Hentikan!"
Siluet itu perlahan memunculkan sesosok orang tua dengan alis putih panjang.
Namun, Amdara yang tak bisa mengontrol kekuatan tidak bisa menghentikan kepalan tangannya.
Alhasil ditahan oleh sosok di depannya menggunakan telapak tangan. Sebuah cahaya di telapak tangan orang tersebut saat bersentuhan dengan kepalan tangan Amdara yang masih tidak bisa dihentikan.
Cahaya samar emas dan hitam saling bertubrukan di tangan Amdara yang terus mencoba mendorong ke depan atau menarik tangan. Tapi yang ada dirinya malah semakin kuat menyerang.
"Menyingkir."
Kata Amdara dingin. Namun, lawan bicara malah menatapnya aneh tanpa berbicara.
Perlahan orang tua itu memundurkan langkah seperti kesulitan menahan kekuatan Amdara. Dia menggunakan tangan satunya lagi untuk menangkis, dan hal tersebut berhasil karena Amdara tidak mengontrol kekuatan dengan benar dirinya nyaris menyeruduk tanah. Beruntung dengan cepat mengeluarkan portal dan menghilang. Dia muncul kembali di samping Tetua Genta.
Tetua Genta jelas terkejut dengan kehadiran Amdara. Dirinya sampai mengusap-usap dada saking kagetnya. Melirik Amdara yang matanya sudah berubah seperti semula. Tapi dia yakin anak ini sedang kelelahan karena telah mengeluarkan banyak kekuatan.
Amdara menoleh, keduanya salimg beradu pandang. Amdara menunduk merasa bersalah.
"Maaf, Tetua."
"Untuk apa? Yang kau lakukan malah membuatku terharu." Tetua Genta mengusap-usap pelan kepala Amdara.
Amdara merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Dia mendongak, sambil berkedip. Ternyata Tetua Genta tidak marah.
"Mengapa terharu?"
"Kau melawan Tuan Huzi karena tidak senang Tetuamu dikatakan 'bodoh'." Tetua Genta tersenyum hangat.
"Tidak. Aku hanya sedikit terpancing ucapannya."
Dengan polosnya Amdara mengatakan hal tersebut yang sontak Tetua Genta terbatuk-batuk pelan. Dia mendengus kesal dan menarik tangan kembali.
"Hah, jadi aku salah sangka ya?" Tetua Genta tersenyum kecut. "Kau ... Benar-benar tidak ingin dikatakan penyelamat, ya?"
Amdara mengangguk sambil mengusap dahi yang berkeringat. Nyatanya kekuatan yang tidak terkontrol barusan membuatnya berpikir banyak hal.
__ADS_1
"Sepertinya kita akan berada di dalam masalah. Luffy, kita tidak bisa pergi setelah ini. Kau lihat, banyak gedung rusak."
Tetua Genta menunjuk menggunakan dagu. Dia sampai dibuat menggelengkan kepala. Napasnya tercekat melihat sudah banyak Klan Ang yang memperhatikan mereka. Apalagi para sesepuh turut melihat mereka dengan tatapan aneh.
Amdara menyadari hal tersebut. Namun, dia masih tetap tenang. Jika pun melawan lagi, dirinya bisa melakukan dengan kekuatan besar karena bisa menggunakan pil untuk menyembuhkan diri.
Dia segera menelan pil khusus, dan merasakan reaksi pil ini sungguh luar biasa. Kekuatannya pulih seperti semula tanpa perlu bermeditasi apalagi menyerap pil dengan seperti yang dilakukan orang lain.
Senyumnya terbit saat Huzi menatapnya. Amdara mengangkat jari telunjuk dan meletakkannya di depan bibir. Huzi menatap tajam tapi tak lama dia membuang muka.
*
*
*
Orang yang menolong Huzi merupakan sesepuh di Klan Ang. Saat mendengar gemuruh petir dan aura yang telah lama menghilang dia segera pergi dan memeriksa sekitar. Tidak di sangka matanya menatap hal yang tidak pernah terduga.
Seorang bocah berambut putih yang membuatnya mengingat seseorang, sedang membuat pusaran angin besar dan langsung dipesatkan ke arah Huzi.
Sesepuh ini bernama Deta, dia baru melakukan tindakan saat bocah itu mengeluarkan kekuatan dahsyat. Dan pastinya tidak bisa ditangkis Huzi yang sudah terluka.
Deta menatap Tetua Genta yang tidak juga menghampirinya. Padahal pangkatnya jelas lebih tinggi.
Deta berjalan ke arah Tetua Genta dengan tenang, dan masih berwibawa. Tidak mempedulikan banyak orang-orang Klan Ang yang menatap kesal Amdara dan Tetua Genta. Apalagi melihat bangunan rusak, dan Huzi yang terluka. Benar-benar keterlaluan sekali!
Tetua Genta dan muridnya itu sontak memberikan hormat sopan.
"Tuan Deta, maaf atas kelancangan saya yang membuat keributan di Klan Ang."
Kata Tetua Genta sambil menunduk. Dia harap orang di hadapannya mau mendengarkan penjelasan nanti.
"Sangat tidak sopan tamu tidak diundang membuat kekacauan, apalagi menyerang anggota Klan Ang. Genta, kau diam saja saat muridmu melakukan kesalahan."
Ucapan Deta jelas sangat sinis, sambil melirik Amdara yang menatap tanpa gentar. Sekilas, Deta dibuat menahan napas sesaat merasakan aura tidak biasa ini.
Tetua Genta mengepalkan kedua tangan. Dia tahu kesalahannya. Bibirnya bergetar saat berucap.
__ADS_1
"Tuan, aku--"
"Bisakah kau mendidiknya dengan benar?"
Deta memotong, dia meletakkan kedua tangan di belakang. Auranya bertambah menekan. Tatapan sinis, serta ada kesombongan di dirinya.
Tubuh Tetua Genta bergetar, menahan kekesalan dan merasa bersalah. Bibirnya kelu saat ingin bersuara.
"Hmph. Jika bukan karena Tuan Huzi mengatakan Tetuaku sebagai orang 'bodoh, mengatakan aku 'anak tidak jelas'. Bagaimana mungkin saya akan menyerang?"
Suara Amdara yang tiba-tiba itu membuat tersentak Deta dan Tetua Genta yang menatap tak percaya.
Terlihat senyum tipis melengkung di bibir Amdara. Dia lantas berkata, "bukankah itu tindakan lebih tidak sopan? Ah, dan apa barusan yang Anda katakan Tuan Deta, 'tidak sopan dan tidak mendidik dengan benar'? Hmph. Menurutku Anda lah yang tidak sopan berkata demikian tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi."
Bagai sambaran petir di siang bolong, perkataan Amdara menusuk hati Deta. Bukan hanya dia, melainkan anggota Klan Ang yang mendengarnya juga terkejut dengan mulut mungil tapi pedas itu. Mereka mulai membicarakan siapa bocah yang berani itu.
Jelas tidak ada yang menyangka ucapan Amdara. Bahkan Tetua Genta sampai tersedak napas sendiri.
"Entah sejak kapan dia banyak bicara dan menunjukkan seringai itu."
"Luffy---"
"Ah, begitu ya. Bagaimana jika kita bicarakan di tempat yang nyaman, daripada di sini?" Deta menyela. Dia tersenyum tipis ke arah Amdara yang masih menatap datar, dan mengangguk kecil sebagai respon.
*
*
*
Ruangan yang tidak terlalu besar, dengan dinding putih bercorak angin dengan warna klasik. Sebuah aroma menyegarkan langsung tercium jika seseorang memasuki ruangan tersebut. Hanya ada meja dan tempat duduk yang terlihat bagus di sana, dan bunga anggrek yang anehnya hidup merambat di dinding. Jelas itu bukan bunga biasa. Juga telah tersedia lima cangkir tehmerah
Ada sebuah kaca besar, yang memperlihatkan keadaan di luar. Kaca ini dihias oleh akar menjalar.
Di sana, sudah ada lima orang yang duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ada rasa canggung serta tegang di lubuk hati mereka, terkecuali Amdara masih tenang dan duduk berwibawa berhadapan dengan Deta.
"Jika mereka menyerang, aku akan menggunakan portal untuk pergi dari sini."
__ADS_1
Amdara menarik napas dalam. Berusaha menyerap kekuatan alam untuk mengisi energi. Setelah melihat dengan kepala mata sendiri sikap Huzi, dia tidak lagi berharap berasal dari Klan Ang.
"Apa pun hasilnya, aku terima."