Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
206 - Pertemuan Teman Lama


__ADS_3

"Nak, apa maksudmu?"


Sesaat Tetua Widya menatap Amdara kebingungan dan penuh tanya.


Amdara kemudian menarik napas dalam. Dan menjelaskan, "sebenarnya aku---"


"Akkhhh!!"


Jeritan mengagetkan semua orang di ruangan itu. Mereka sontak menolehkan pandangan ke arah Tetua Rasmi yang berteriak kesakitan. Semua orang dibuat panik saat itu juga.


Tetua Widya segera mengecek keadaan Tetua Rasmi khawatir. Matanya membulat seketika.


"Tidak! Racunnya sudah terlalu menyebar. Tetua Rasmi tidak bisa menahannya lagi!"


Ucapannya kembali membuat semua orang bertambah panik, bingung harus berbuat apa.


Amdara mengepalkan tangan, dia juga bingung harus melakukan apa.


Suara teriakan Tetua Genta juga terdengar tiba-tiba. Nampak Atma sudah menyerah, wajahnya pucat pasi. Orion dan yang lainnya berusaha menyalurkan kekuatan mereka ke tubuh Tetua Genta.


Tetua Rasmi juga melakukan hal yang sama. Dia berusaha mencegah rasa sakit, dan menjaga aliran darahnya.


Amdara melesat ke arah Atma dengan cepat. Dia menepuk bahu temannya.


"Kitabku."


Atma menoleh, tersentak dengan kehadiran Amdara. Beberapa saat Atma masih terdiam, dia baru berbicara saat mengingat.


"Ah, kitabmu ada di asramaku."


"Cepat ambil."


Atma mengangguk paham, tanpa banyak bertanya. Dia melesat lewat jendela dengan cepat. Diikuti Amdara di belakang yang membuat udara dingin saat dia pergi.


Guru Kawi baru saja masuk ketika keduanya pergi. Dia terkejut mendengar suara memilukan. Dirinya segera mendekati Tetua Genta, dan menempelkan tangan di dahi.


Wajahnya pucat pasi, tubuhnya lemas seketika mengetahui kabar tidak mengenakan ini.


"Tidak. Tidak. Ini tidak mungkin."


Di sisi lain, Atma memecahkan kaca jendela asramanya dengan kekuatan besar, masuk ke dalam. Bahkan murid-murid yang melihatnya dibuat terkejut.


Begitu pula dengan Amdara yang tidak menyangka. Dia segera masuk tanpa banyak berpikir lagi.


Kamar Atma nampak cukup bersih dan tertata rapi. Dia melihat Atma yang tengah mencari kitab ditumpukan buku-buku lain.


Dia segera menghampiri Amdara saat sudah menemukan kitab. Memberikannya, masih dengan ada pertanyaan di pikiran.


"Apa kau tahu sesuatu, Luffy?"


Amdara menerima, dia berkata, "aku tidak yakin."

__ADS_1


Dia membuka halaman perhalaman dengan teliti. Tulisan dan gambarnya masih sama, tidak rusak. Atma pasti menjaganya dengan baik.


Membutuhkan lima menit untuk menemukan halaman yang dicari. Di sana terpampang jelas tulisan dengan judul 'Lembah Penyembuh'.


Dijelaskan beberapa kata, yang menunjukkan resep pil penyembuh segelanya. Terpampang gambar-gambar tanaman herbal yang tidak dimengerti Atma. Bahkan penjelasan cara membuatnya pun dia sampai mengerutkan kening.


Atma memang mempelajari kitab itu, tetapi tidak semuanya. Sebab banyak yang tidak bisa dilakukan, karena pembahasan dan tanaman herbal yang serba langka.


"Luffy---"


"Pinjamkan pusaka periukmu."


Amdara menutup buku, memasukkannya ke dalam Cincin Ruang.


"Pusaka itu tidak kusimpan di sini. Tapi di kediaman Guru Aneh."


Ucap Atma pelan dan merasa bersalah.


Amdara menarik napas dalam. Saat ini dia harus mencoba membuat penawar secepat mungkin. Dirinya mendekati Atma dan menghadap, sangat dekat sampai Atma dibuat berkedip dan hendak mundur tetapi tangannya tercekal.


"Tutup matamu dan bayangkan kediaman Guru Aneh sekarang juga."


Amdara menatap dingin, memberi aura menekan yang membuat Atma menahan napas sejenak merasakan tekanan besar. Dia segera mengangguk mengikuti perintah.


Amdara mendekatkan wajah, menempelkan dahinya dengan dahi Atma yang terasa panas. Dia juga menutup mata perlahan.


Gambaran kediaman Guru Aneh terlihat di atas keduanya. Detik berikutnya cahaya putih muncul dan menghilangkan dua anak itu.


*


*


*


Suara seorang gadis berumur 13 tahun tampak sedang cekikikan di halaman kediaman Guru Aneh. Dia sedang bermain dengan teman laki-lakinya yang sudah berumur 14 tahun yang sedari tadi terus marah-marah.


"Kau berlatihlah dengan serius Nada! Jangan membuatku kesal dan memiliki niat melenyapkanmu!"


Suara keras itu berasal dari Aray yang sudah berbeda penampilan sama seperti Atma. Rambutnya lebih panjang dari satu tahun lagi.


Dia segera melemparkan kekuatan berbentuk bola sesuai keinginan Nada. Benar, anak yang berumur 13 tahun itu adalah Nada yang cekikikan ketika melihat lemparan Aray jauh lebih cepat.


Sebuah cahaya muncul, dan saat itu juga Amdara dan Atma muncul tepat ketika bola kekuatan akan mengenai mereka.


Keterkejutan terlihat di wajah Aray dan Nada yang berteriak agar kedua orang itu menghindar.


Amdara yang merasakan ada bahaya langsung melibaskan tangan, saat itu juga ledakkan besar terjadi.


BAAM!


Asap mengepul di udara yang berubah dingin. Pecahan es mulai berjatuhan. Di sana, Atma terkejut saat merasakan dinginnya kekuatan Amdara yang sudah berubah drastis. Dia menatap Amdara yang sangat dekat dengannya, keduanya memang memiliki tinggi yang sama. Tanpa sadar dirinya menahan napas saat Amdara juga menatapnya.

__ADS_1


"Cepat pinjamkan periukmu."


"A-ah, aku akan mengambilnya. Kau tunggu di sini!"


Atma melesat cepat dengan telinga memerah.


Amdara menggelengkan kepala dia menatap Nada dan Aray tanpa ekspresi. Bahkan saat ini dua temannya juga menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Kau ... Siapa kau?!"


Suara kemarahan Aray terdengar. Dia berubah menatap tajam lawan bicara yang diam tanpa berkata.


Sementara Aray yang kesal karena tidak mendapat jawaban melesat ke arah Amdara.


"Luffy, ini periuknya ...!"


Suara Atma terdengar, Amdara menoleh dan segera melesat jauh lebih cepat dari Aray. Udara yang berhembus terasa lebih dingin.


Baik Aray dan Nada mendengar nama 'Luffy' membuat tersentak. Keduanya memandangi Amdara dari atas sampai bawah. Memang sangat mirip yang membedakannya hanya tinggi dan wajahnya yang sangat cantik.


Amdara sama sekali tidak mempedulikan Nada dan Aray. Dia langsung mengeluarkan api biru dan ungu setelah melayangkan periuk pusaka. Mengeluarkan beberapa tanaman herbal untuk membuat pil.


Atma yang melihatnya menahan napas. Tanaman herbal itu sangat langka dan berusia sangat tua. Aromanya juga sangat menyengat dan khas.


Dia melihat Amdara yang dengan serius memasukkan tanaman herbal dengan jenis berbeda ke dalam periuk.


Namun, tiba-tiba Nada memeluk Amdara dari belakang dengan sangat kencang membuat Amdara tersentak.


"Luffy, benarkah ini kau? Khakhaa. Kapan kau kembali? Mengapa tidak memberitahu kami?! Khakhaakhi."


Pelukan Nada sangat kencang.


"Rambut Putih! Apa benar ini kau?! Bagaimana keadaanmu?! Apa kau terluka setelah latihan selama ini?!"


Aray juga mendekati mereka dengan pertanyaan bertubi-tubi. Dia tidak memperhatikan wajah Amdara yang berubah menjadi lebih dingin.


"Lepaskan."


Satu kata dingin itu berhasil membuat Nada dan Aray terdiam. Terkejut.


"Apa maksudmu?"


Amdara tidak menjawab, melainkan mengeluarkan kekuatan angin besar dari dalam tubuh. Sehingga Nada terlepas dan terjatuh. Kejadian itu sangat cepat, bahkan Atma dan Aray tidak sempat merespon.


"Atma, aduk."


Amdara tidak peduli dengan teman-teman saat ini. Dia kesal karena ada yang mengganggunya di saat genting. Dirinya kembali memasukkan tanaman herbal berwarna biru tua dna merah.


Atma gelagapan, dia menerima sebuah kayu yang sudah diukir untuk mengaduk.


Mata Aray berubah merah dia berteriak marah. "Apa maksudmu menyerang Nada hah?! Apa kau sedang pamer kekuatan besarmu kepada kami?!"

__ADS_1


"Luffy, k-kau kenapa menyerangku?"


Mata Nada berkaca-kaca. Tubuhnya memang sakit, tapi hatinya lebih sakit karena menerima perlakuan tidak terduga dari teman lama. Padahal kedatangan Amdara ia kira akan sangat menyenangkan, tetapi mengapa malah berkebalikan?


__ADS_2