Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
232 - Menyeberangi Laut Hitam


__ADS_3

Sosok gagah, bak malaikat turun dari langit itu adalah Cakra. Tatapannya dingin, tapi juga menenangkan. Apalagi dirinya yang dikatakan hampir menginjak dewasa, mulai banyak dilirik oleh kaum hawa. Aura berwibawa sungguh terasa.


Bahkan Shi yang sebelumnya masih teringat kejadian bagaimana Amdara menewaskan musuh sedikit berkurang dan tenang hanya dengan melihat wajah Cakra.


"Cepat juga kau sampai di sini."


Shi tersenyum kikuk. Jika dia tidak dalam masalah, dia sudah menjadi pemenan lomba. Tapi saat ini dia tidak peduli akan lomba ini.


Cakra bergumam sebagai jawaban. Melihat sekeliling yang tampak kacau, dan ada sisa api biru yang masih menyala.


"Apa terjadi masalah?"


Dia menatap Shi yang menarik napas dalam dan mengangguk pelan. Mulai menjelaskan apa yang terjadi.


"Kita lanjutkan perjalanan. Aku akan menceritakan semua."


Mereka melesat terbang, dengan kecepatan sedang karena mengikuti kecepatan Habi, Jero dan Ici.


Shi menjelaskan dari awal tanpa bantahan dari Cakra. Beberapa kali sampai menghela napas berat saat bercerita.


Di sisi lain, Amdara masih terbang dengan kecepatan bukan main. Nyaris sulit diikuti oleh netra. Angin yang dilewati terasa terbelah, bahkan tanpa ia sadari, dedaunan yang terkena angin itu terbelah.


Pikirannya masih teringat musuh yang mengatakan tentang kekuatan ayahnya. Dia yakin, ada sesuatu yang besar. Dia yakin, orang yang telah menyerap kekuatan Langit masih hidup. Jika demikian, Amdara mulai memikirkan banyak hal.


"Rebut kembali."


Kekuatan yang telah diserap musuh pasti besar. Dibanding kekuatannya sekarang, dia tidak yakin akan menang jika melawan.


Amdara melepas kekuatan es ke sekitar cepat. Pepohonan dalam jarak sepuluh meter setiap yang ia lewati membeku.


Malam itu, dia melampiaskan kemarahan dengan melepas kekuatan besar.


*


*


*


Dengan kecepatan Amdara, dia sampai di sebuah pedesaan yang dekat dengan lautan lebih cepat. Sang mentari bahkan belum menampakkan diri. Desa Wangi itu terlihat banyak kapal dan sudah ada beberapa orang yang beraktivitas.


Desa Wangi adalah tempat untuk bisa melewati lautan menggunakan kapal. Tempat tersebut satu-satunya yang menyediakan kapal.


Lautan itu disebut Laut Hitam, karena air lautnya yang tidak biasa dan sebenarnya memiliki misteri tersendiri. Akan tetapi, tidak banyak orang yang tahu akan hal tersebut, dan memang sangat jarang ada hal aneh yang terjadi. Terkecuali ketika cuaca tidak mendukung, akan terjadi ombak besar di sana.


Amdara menapakkan kaki di salah satu atap rumah warga. Dia memandang laut dengan tenang. Matanya terpejam sesaat untuk menenangkan diri.


Api Biru di sebelahnya nampak melayang-layang dan mulai mengeluarkan suara di dalam pikiran tuannya.


"Nona, tidak perlu dengarkan ucapan manusia jahat."

__ADS_1


Amdara tidak merespon. Angin meniup-niupkan pakaiannya. Terasa dingin, tapi juga hangat karena keberadaan Api Biru.


"Nona pasti akan tahu tentang jati diri sendiri."


Saat itu juga Amdara menggerakkan netra, membuka dan menarik napas dalam. Jati diri? Dia memang belum mengetahui banyak hal tentang ayah, ibu, dan diri sendiri.


"Entahlah. Yang perlu kulakukan sekarang adalah bertambah kuat."


Untuk melawan orang-orang yang mungkin akan mengincar nyawanya, dan untuk melindungi sesuatu yang menurutnya berharga. Setelah berhasil masuk ke Akademi Nirwana Bumi, Amdara harus cepat mencari orang bernama Ketu.


Di Desa Wangi, adalah titik Tetua Rasmi mengatakan mereka akan berkumpul. Dan pergi bersama menggunakan kapal untuk menyeberangi lautan.


Di ufuk timur, siluet kehangatan mulai memancar. Memunculkan matahari dengan sinar tersendiri. Para insan mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang yang hendak menyeberang lautan untuk menjajakan dagangan di kota seberang.


Tapi nampaknya ada banyak juga orang-orang dari Akademi yang menuju beberapa kapal yang akan berlayar. Mereka pastinya yang akan mengikuti Turnamen Magic Muda di Akademi Nirwana Bumi.


Shi, Cakra, serta tiga bocah laki-laki baru saja tiba. Terlihat ketiga bocah yang nampak ngos-ngosan karena harus terbang cukup cepat. Beruntung ketiganya dibantu oleh Shi dan Cakra. Mereka mengedarkan pandangan untuk mencari Tetua Rasmi dan tentunya Amdara.


Shi mengatur pernapasan, dia berkata, "Cakra, aku akan mencari Tetua Rasmi."


"H-hah, apa kita akan langsung menyeberangi kapal? Tidak ada istirahat?" Habi buka suara dengan wajah pucat. Dia sudah lemas dan kekurangan energi.


Shi dan Cakra sontak saling pandang sebelum menatap Habi. Shi tentunya tahu Habi dan dua temannya kelelahan, tapi mereka tidak bisa istirahat di desa Wangi untuk sekarang.


"Kau bisa istirahat di kapal nanti. Kalian jangan mengeluh lelah. Apa tidak malu dengan seorang gadis sepertiku?"


Shi menaikkan sebelah alis sambil tersenyum. Ucapannya membuat Habi tersedak napas sendiri. Jero dan Ici bahkan menggelembungkan pipi kesal.


Shi tertawa, sambil menggelengkan kepala. Dia mengusap kepala Habi gemas.


"Tapi kalian ini laki-laki. Jadi jangan banyak mengeluh." Shi menatap Cakra dan berkata, "kau cari makanan untuk makan di kapal. Aku tidak yakin makanan buatan koki kapal akan lezat. Sementara itu aku akan mencari Tetua Rasmi dan Luffy."


Cakra mengangguk mengerti. Shi baru saja hendak melesat, tetapi suara seseorang menginstruksi.


"Tidak perlu. Kita langsung mencari kapal saja."


Nampak Tetua Rasmi mendarat. Kedatangannya langsung mendapatkan hormat dari kedua murid, dan ketiga bocah.


Tetua Rasmi sudah tiba di desa Wangi sejak semalam entah bagaimana dia bisa sangat cepat. Dia juga telah menyiapkan perbekalan untuk di kapal. Alisnya mengerut saat tidak mendapati gadis muda berambut putih.


"Di mana Luffy?"


Pertanyaannya jelas mengandung ketidaktahuan apa yang telah terjadi saat melewati gunung.


Shi tersenyum tipis, dengan sopan menjawab, "Tetua, kami tertinggal darinya."


Tetua Rasmi hanya mengangguk sekilas. Tatapannya kemudian tertuju pada ketiga bocah asing ini.


Shi seolah tahu, dia mulai menjelaskan sejak kejadian di mana orang-orang berjubah hitam menyerang anak-anak ini. Dia juga memperkenalkan Habi, Jero, dan Ici serta dari Akademi mana mereka berasal. Saat Shi hendak menceritakan bagaimana Amdara yang menghabisi musuh, dan mengatakan apa yang diucapkan musuh, Shi agak ragu. Dia menelan ludah sulit.

__ADS_1


Mulutnya terbuka, akan kembali melanjutkan penjelasan. Akan tetapi terhenti.


"Maaf, aku terlambat, Tetua."


Suara tenang itu terdengar. Sosok berwibawa dengan ketenangan dan dingin luar biasa. Wajah Amdara terlihat tidak semenakutkan semalam, seperti yang dilihat oleh Habi, Jero, dan Ici.


Amdara membungkuk memberi hormat yang langsung diangguki Tetua Rasmi.


Tetua Rasmi tanpa meminta Shi kembali melanjutkan penjelasan, dia mengajak mereka untuk pergi ke salah satu kapal yang akan ditumpangi.


Amdara tidak buka suara saat dipandangi oleh Habi, Jero, dan Ici. Bahkan Shi yang biasanya selalu cerewet pada Amdara pun saat itu kelu untuk berbicara.


Seorang pemilik kapal besar terlihat berteriak untuk menarik perhatian dan memberikan informasi.


"Naiklah ke Kapal Re ini yang hendak ke Kota Pelita ...! Hanya dengan sepuluh keping emas ...!"


Teriakkannya membuat orang-orang yang memang hendak ke kota itu bergegas naik. Kapal besar itu juga memiliki penjaga tersendiri untuk keamanan.


Untuk sesaat Amdara terperangah. Ini pertama kalinya dia akan menaiki kapal dan melewati laut panjang. Kapal dengan dua tingkat.


"Bukankah sepuluh keping emas sangat mahal? Memang kau bisa menjamin keselamatan kami saat di laut?"


Seseorang terdengar bertanya dengan nada kesal kepada pemilik kapal.


Pria itu kemudian menjelaskan, "Tuan, kami bisa menjamin kenyamanan dan kualitas kapal. Kami juga menyediakan beberapa penjaga jika terjadi keributan."


Namun, lawan bicara mendengkus dan berujar kasar, "lalu bagaimana dengan keamanan saat di laut?"


"Tuan, cuaca saat ini nampak akan membawa kita dengan baik. Jadi tenanglah."


Percekcokan itu terus terjadi. Tanpa sadar Amdara malah mendengarkan. Dia baru tersadar saat seseorang mengajaknya menaiki kapal setelah Tetua Rasmi melakukan pembayaran.


Amdara mengangguk dengan ajakan Cakra. Dia menurunkan pandangan, melihat kakinya menapak di kapal membuat jantungnya tiba-tiba bergetar tidak seperti biasa. Dia segera mendongak, mengedarkan pandangan. Merasakan seseorang sedang mengawasinya. Tapi, tidak ada orang yang tengah memperhatikannya. Hanya orang-orang lalu-lalang yang menaiki kapal. Beberapa orang nampak menggunakan pakaian dari Akademi. Ada banyak pedagang juga yang berada di kapal itu dengan barang dagangan cukup banyak.


"Perasaanku tidak enak."


Amdara bergegas menyusul Tetua Rasmi.


*


*


*


Tetua Rasmi memesan lima kamar sekaligus atau tempat istirahat khusus, dia pikir Shi akan mau sekamar dengan Amdara. Tapi diluar dugaan, Shi ingin di ruangan sendiri.


Tetua Rasmi memberikan bungkusan berisi makanan yang dia siapkan kepada Shi, Cakra, dan Amdara. Dia juga memberikan kepada Habi, Jero, dan Ici tanpa pamrih. Setelahnya mereka langsung ke ruang istirahat.


Amdara membuka ruang istirahat khusus ini. Nampak ada satu tempat tidur, dua kursi dan satu meja yang nampaknya untuk tempat makan. Dia meletakkan bungkusan di atas meja setelah menutup pintu.

__ADS_1


Meletakkan bokongnya di satu kursi sambil membuka bungkusan. Terlihat ada beberapa buah, daging kering, dan minuman di dalam bambu. Dia mengambil satu buah pir, memakannya dengan tenang.


Dirinya langsung bermeditasi setelah makan satu buah pir. Menenangkan pikiran, dan juga berlatih teknik pernapasan.


__ADS_2