
Di ruang perawatan, Inay dirawat oleh Orion dan beberapa senior. Sementara Amdara sendiri tidak membantu dan malah duduk menunggu. Dia bukannya tidak mau membantu, hanya saja tidak terlalu paham mengenai ilmu pengobatan.
Setelah Orion dan rekannya pergi dengan berkata bahwa Inay hanya perlu istirahat, Amdara bisa menarik napas lega. Untuk pertandingan besok, mungkin saja Inay tidak bisa ikut serta apabila kondisinya masih belum pilih juga.
Inay sudah tertidur lelap sejak satu jam lalu. Sementara Amdara menjaga Inay sambil memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah melenyapkan Roh Hitam yang sedang berkeliaran di Akademi.
"Bagaimana bisa tidak ketahuan?"
Ada kemungkinan besar jika Roh Hitam ini tidak ketahuan oleh para Tetua, yakni memiliki kemampuan yang sangat besar atau bisa saja dia adalah Raja Roh yang akan merepotkan jika dilenyapkan.
Ketika sedang berpikir cara melenyapkan, Amdara teringat dengan Senior Fans yang belum juga ke Akademi untuk mengatakan dia sebagai paman Amdara. Entah apa yang sedang terjadi pada Senior Fans.
Tidak hanya memikirkan cara melenyapkan Roh Hitam, Amdara juga memikirkan pil yang pertama kali dia buat sangat efektif dan hasilnya sungguh diluar dugaan.
Amdara mengeluarkan kitab yang telah membantunya membuat penawar. Dia membuka halaman yang menjelaskan mengenai pil yang dia buat. Entah karena tanaman herbalnya yang sudah berusia tua, atau memang Amdara yang menggunakan api biru bukannya ungu ketika membuatnya. Amdara terus membacanya, memahami, selagi menunggu teman-temannya datang menjenguk keadaan Inay.
Delapan jam berlalu begitu cepat bagi Amdara yang sedang asik membaca. Dia segera menyimpan kitab tersebut ketika suara ketukan pintu ruangan tersebut terdengar, setelahnya lima bocah yang terlihat begitu kelelahan masuk, menanyakan keadaan Inay.
Dirgan berdiri di samping tempat tidur, melihat wajah Inay yang sudah membaik membuatnya mengembuskan napas lega.
"Syukurlah Nana tidak terluka parah. Jika besok keadaannya belum pulih, dia tidak diizinkan mengikuti pertandingan."
Perkataan Dirgan disetujui teman-temannya. Atma menggaruk pipi, dia jadi merasa tidak enak ketika meminta Inay agar bisa memenangkan pertandingan. Aray, Dirgan, Rinai, Nada juga merasa demikian.
"Ini adalah kali pertama kita mendapat kemenangan setelah sekian lama. Rasanya aku masih tidak percaya." Atma menyentuh dadanya, tepat di hati.
__ADS_1
"Semua adalah kerja keras kita. Tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Untuk besok, kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik," imbuh Dirgan yang tersenyum pada teman-temannya.
Aray mengangguk dan mengatakan mereka harus berterima kasih pada Amdara dan Inay yang sudah memasuki kehidupan mereka sehingga ada perubahan yang terjadi.
Amdara yang mendapat perlakuan itu menggeleng dan mengatakan mereka adalah teman dan tidak perlu sungkan satu sama lain.
"Huhuhu. Yah, walaupun kemenangan yang diraih Nana konyol, tapi berkat dia kita bisa masuk babak utama."
Perkataan Rinai yang cukup menohok itu membuat teman-temannya mengedutkan sebelah mata.
"Khakhaa. Untuk besok, adalah pertandingan antar kelompok."
Mendengar ucapan Nada, membuat Amdara menoleh dan bertanya apakah setelah pertandingan antar kelompok akan langsung menentukan si pemenang.
Pertandingan antar kelompok yang dijelaskan Tetua Wan sebelum pembubaran pertandingan malam ini, merupakan pertandingan yang lebih menarik dan juga pastinya seru. Mereka harus bekerja sama dengan tim sebaik mungkin untuk mengalahkan lawan yang juga pasti memiliki kekuatan besar. Dalam kerja sama tim, tidak ada yang boleh saling menyalahkan jika tidak ingin kerja sama meraka gagal.
Guru Aneh datang pasti ingin mengecek kondisi murid-muridnya. Dia duduk di kursi, sementara murid-muridnya duduk di lantai sebagai tanda mereka sangat menghormati seorang guru.
Guru Aneh menghela napas panjang sebelum dia mengatakan wejangan-wejangan yang mungkin tidak akan berguna. Terbukti ketika dia memberikan wejangan agar Inay tidak boleh sampai terluka parah, tapi Inay malah nekad melakukan hal diluar dugaan. Apalagi teman-temannya bersorak agar Inay keluar dengan kemenangan. Tentu saja Guru Aneh sampai memijat kepala karena pusing dengan ulah murid didiknya yang pintar.
"Hah ... aku bersyukur kalian baik-baik saja." Guru Aneh langsung berbicara ke inti. Sepertinya dia harus mendidik muridnya dengan cara yang berbeda agar mereka berpikiran dewasa. Guru Aneh berkata sambil menatap satu persatu murid-muridnya.
"Untuk pertandingan besok adalah antar kelompok. Di kelompok kita hanya ada tiga orang yang bisa menggunakan kekuatan. Sementara yang lainnya masih belum bisa mengaktifkan kekuatan."
Atma mengangkat tangan, menginstruksi Guru Aneh. Dia berkata, "Guru, Nada sudah bisa mengaktifkan kekuatan."
__ADS_1
Pandangan Guru Aneh beralih ke Nada yang mengangguk sebagai jawaban kebenaran. Raut wajah kesenangan di balik topeng Guru Aneh, menandakan dia senang dengan kabar baik ini. Entah bagaimana Nada bisa mengaktifkan kekuatan, tapi sekarang intinya di kelompok mereka sudah ada empat orang yang bisa memberikan perlawanan.
Guru Aneh meminta Nada untuk menunjukkan kekuatannya. Namun, Nada malah cekikikan membuat teman-temannya yang juga belum tahu rahasia kekuatannya tersentak.
Nada melirik Atma, dia kemudian mengeluarkan suara yang sangat mirip dengan Atma. Semua teman-temannya terbelalak kaget dan membuka mulut lebar. Tidak sampai di sana, Nada tiba-tiba menggunakan kekuatannya untuk mengubah suara milik siluman mengerikan yang pernah dia dengar, lalu menempatkan suara pada mulut Atma.
Kekuatan spesial milik Nada membuat teman-temannya kagum. Mereka kemudian berdecak, karena ternyata orang yang mengerjai Puli sebelumnya adalah Nada. Dan juga suara-suara yang membela kelompok mereka saat di depan Balai Istirahat.
Guru Aneh yang mengangguk bangga. Sekian lama mendidik, akhirnya murid-muridnya mulai bisa mengaktifkan kekuatan. Guru Aneh sampai memuji Nada.
"Baiklah, ada empat orang yang bisa menggunakan kekuatan, tiga lagi belum bisa. Sementara diperaturan kali ini sekelompok harus tujuh orang tidak boleh kurang. Untuk itu kalian akan ikut pertandingan semua. Tidak peduli kalah atau menang, setidaknya ini akan menjadi pengalaman berharga bagi kalian."
Guru Aneh tersenyum. Kemudian melanjutkan perkataannya dengan semangat, "setiap wali kelas telah diberi tahu lawan pertama di pertandingan. Yah, keberuntungan memang belum memihak kita."
Dia juga mengatakan yang masuk dalam babak utama adalah dari kelas Satu C, mereka sendiri. Kelas Tiga Tingkat A, Tingkat Unggulan, Tingkat Atas, dan Tingkat Tinggi. Kelas Dua A, kelas Dua B, dan kelas Dua I. Sementara yang lainnya telah gagal meraih kemenangan tiga kali.
Pertandingan memang awal aturannya adalah tiga kali lolos, maka akan memasuki babak utama. Namun, setelah satu kelompok yang merupakan ada tujuh orang tidak berhasil membawa kemenangan tiga kali, maka dianggap gagal.
Guru Aneh mengeluarkan lencana yang merupakan tanda milik kelas Dua I. Semuanya tahu lencana itu terkecuali Amdara dan Inay. Mereka tidak habis pikir, semua lawan sangat kuat dari para senior.
"Seperti yang kita tahu, kelas Dua I merupakan kelas yang mayoritasnya memiliki kekuatan yang nyaris sama."
Guru Aneh kemudian menjelaskan kekuatan lawan kali ini berupa mengendalikan semua jenis tanaman, ataupun itu menciptakan tanaman sendiri yang jelas akan menyulitkan lawan.
Dirgan, Aray, Atma, Rinai, dan Nada nampak serius mendengarkan. Mereka tidak menyangka akan langsung berhadapan dengan lawan yang merepotkan. Bagaimana akan menang jika seperti ini? Bahkan Guru Aneh tidak berharap terlalu banyak karena tahu ini hal yang sangat sulit.
__ADS_1
"Guru, sebaiknya kita buat strategi."
Amdara memberikan usul tiba-tiba. Walaupun Amdara tahu kekuatan kelompok tidak sebanding dengan kelompok lain, tapi dia harus berusaha sekuat tenaga agar setidaknya membuat lawan terluka.