
Shi melepas dekapan, menyentuh wajah Amdara yang masih pucat. Dirinya menarik napas dalam, lalu tersenyum melihat Amdara yang baik-baik saja.
Shi khawatir pada Amdara yang tidak keluar penginapan padahal telah terjadi kekacauan besar. Umumnya, manusia akan terganggu tidurnya ketika mendengar suara keras, atau ada guncangan.
"Apa tidurmu terganggu?"
Amdara berkedip karena pertanyaan aneh Shi, lalu mengangguk tanpa ragu. Dia sama sekali tidak merasakan gangguan saat tidur, kecuali mimpi.
Bukan perasaan lega yang dirasakan Shi, melainkan bertambah khawatir. Dia bertanya sekali lagi, "kau yakin, Luffy?"
Amdara sekali lagi mengangguk. Dia menurunkan tangan Shi dari pipi. Menatap Shi bingung.
"Apa ada sesuatu, Senior?"
Shi tersenyum, dan menggelengkan kepala. Dia menepuk kasur, meminta Amdara agar segera tidur kembali, dan dirinya akan menemani Amdara sampai fajar menyapa.
*
*
*
Shi benar-benar menemani Amdara sampai fajar kembali. Bahkan Shi sama sekali tidak tidur, dia terus duduk bersila menjaga juniornya ini. Tidak ada yang aneh, akan tetapi setiap berada di dekat Amdara, selalu ada aura dingin dan panas secara bersamaan. Dia juga merasakan kekuatan alam menyelimuti tubuh Amdara secara perlahan.
Saat pagi tiba, mereka telah membersihkan diri dan sarapan pagi. Sarapan kali ini, Amdara makan sebanyak tiga kali lipat dari orang dewasa. Tetua Rasmi, Cakra, dan Shi sampai menahan napas melihat begitu nafsunya Amdara saat makan. Ini merupakan kejadian yang sangat langka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
Amdara terhenyak melihat kondisi penginapan, apalagi melihat keluar. Dirinya bertanya apa yang terjadi, dan jawaban dari Shi membuatnya terkejut.
"Kenapa aku tidak merasakan apa pun semalam?"
Entah memang terlalu lelah atau karena hal lain, tapi Amdara merasa tidak enak. Di saat semua orang sedang kesulitan melawan Roh Hitam, dia bisa-bisanya tertidur nyenyak seperti orang mati.
Perjalanan dilanjutkan dengan lancar. Kali ini yang harus mereka lewati adalah sebuah hutan yang cukup luas.
Tubuh Amdara sudah membaik dari sebelumnya. Energi kekuatan alam telah mengisi tubuhnya, apalagi dia telah makan banyak. Ini memang tidak seperti biasanya, bocah itu pun sadar ada yang aneh dengan dirinya.
Dalam perjalanan di hutan, Amdara terus mengontrol kekuatan dengan baik. Bahkan kecepatannya mulai meningkat. Kecepatannya nyaris melebihi kecepatan Cakra.
Cakra sampai berdecak kagum dalam hati melihat betapa berbakatnya temannya ini.
"Kecepatanmu sangat bagus."
__ADS_1
Amdara menoleh saat Cakra memuji. Dia mengangguk dan berkata, "Senior lebih bagus."
"Tidak. Kau jauh lebih bagus."
"Kau sangat bagus, senior."
"Kau melebihiku."
"Kau jauh di atasku."
Shi yang mendengar dari samping sampai berkedip. Menatap aneh ke arah dua orang ini. Dirinya berdecak, lalu berkata, "kalian berdua berhenti saling memuji. Tsk. Bagaimana jika kita berlomba siapa yang paling cepat?"
Perkataan Shi membuat Amdara dan Cakra menoleh. Keduanya menggeleng, menolak tegas.
"Senior bisa melakukannya dengan Senior Cakra."
Kata Amdara yang membuat Cakra tersentak dan mendengus. Cakra berujar dingin, "senior bisa melakukannya bersama Tetua Rasmi."
Ucapan Cakra sontak manuai keterkejutan. Bahkan Tetua Rasmi menoleh ke belakang sambil menggelengkan kepala. Tidak menyangka dirinya disangkut-pautkan oleh si hemat bicara.
Shi sampai terbatuk-batuk, dirinya mengerucutkan bibir sebal. Melihat tatapan Tetua Rasmi membuatnya tersenyum kikuk. Akan tetapi Cakra malah tanpa tahu malu tersenyum dan menawarkan kembali kepada Tetua Rasmi.
"H-haih, kenapa kalian berdua tidak ingin berlomba, hah? Takut kalah dariku?"
Shi tiba-tiba saja tertawa. Dalam hati merutuk karena tatapan dingin dari dua gunung es. Mencoba tenang, berbicara kembali. "Yah, itu wajar saja. Karena aku lah yang paling tua dari kalian. Tentu saja kecepatan terbangku jauh di atas kalian."
Shi dengan percaya diri melibaskan rambut penuh gaya. Tawanya semakin kencang tanpa peduli tatapan tiga orang di sekitar.
"Aku tidak ingin membuatmu malu, senior."
Suara Amdara yang terdengar tanpa nada membuat Shi langsung terbatuk-batuk. Menatap kesal Amdara yang berbicara menyinggung.
Sementara Tetua Rasmi yang sedari tadi mendengarkan sampai tertawa kecil. Cakra juga terlihat tersenyum mengejek.
"Cih. Seberapa cepat terbangmu, Luffy? Haih, sepertinya setelah makan begitu banyak kau jadi lebih cerewet, ya."
Sindir Shi, tapi tampaknya Amdara sama sekali tidak merasa kesal. Amdara malah menggaruk pipi dan berujar tenang, "ingin bukti?"
"Tentu saja!" Shi menggelembungkan pipi.
Cakra menambah, "aku akan menjadi wasit."
__ADS_1
Tetua Rasmi menghadap ke belakang. Merasa tertarik dengan perlombaan anak muridnya ini. Apalagi melihat keadaan Amdara sudah membaik membuatnya tersenyum lega. Dirinya berdehem dan berkata, "kau juga ikut, Cakra. Aku akan menjadi wasitnya."
"Jika kalian tidak kuat, katakanlah menyerah. Aku akan membuat peraturannya."
Tetua Rasmi mengatakan peraturannya berupa, mereka tidak boleh bermain curang. Menggunakan kekuatan untuk menyerang, atau menghalangi lawan dengan cara apa-pun. Mereka cukup terbang melesat cepat tanpa batas.
Cakra menaikkan sebelah alis. Dia menarik napas dalam dan mengangguk setuju jika Tetua Rasmi telah berkehendak.
Amdara, Cakra, dan Shi telah bersiap ketika Tetua Rasmi menaikkan
tangan kanan. Detik saat dia menurunkan tangan, Amdara, Cakra, dan Shi melesat dengan kecepatan tinggi.
"Ini juga bagus. Kita akan cepat sampai ke tempat tujuan."
Tetua Rasmi tersenyum, mulai melesat untuk memperhatikan ketiga muridnya yang membanggakan.
Keadaan hutan yang cukup rimbun memang jadi penghalang kecepatan, akan tetapi jika seseorang memiliki kelincahan dan ketajaman penglihatan hal tersebut tidaklah masalah.
Pepohonan di hutan ini menjulang tinggi. Terlihat Cakra melesat dengan kecepatan tinggi. Dia menggunakan teknik kecepatan yang pernah diajarkan oleh Amdara dulu.
Kakinya menapak pada batang pohon, lalu melanjutkan melesat melewati pepohonan dengan cepat. Bahkan ada daun yang hendak menyentuhnya tapi kecepatan terbang Cakra terlalu cepat, sampai daun itu tidak bisa menyentuh.
Hembusan angin sangat cepat membuat Cakra tersentak. Dia berkedip melihat siluet putih baru saja melintas. Yang ternyata itu adalah Amdara. Saat melintas, Cakra merasakan aura dingin dan panas secara bersamaan.
"Hmph. Kau memang lebih hebat."
Cakra mendengus, mulai menitikberatkan kekuatan pada kaki untuk menambah kecepatan.
Jarak antara Cakra, Amdara, dan Shi berbeda. Nyatanya ketiga murid Akademi Magic Awan Langit ini memiliki kecepatan tinggi, Tetua Rasmi yang berada paling belakang sampai berdecak kagum.
Shi kini yang memimpin paling depan. Kekuatannya sangat besar, dia sangat fokus dalam terbang. Bahkan ketika melewati pohon, beberapa daun terbakar karena kekuatannya yang keluar bersamaan dengan kecepatan tubuh.
Dia sama sekali tidak menapak ke batang pohon sekali pun. Gadis itu melesat tanpa menoleh ke belakang, tidak meremehkan kedua junior berbakat.
"Aku tidak boleh kalah. Wajahku akan sangat malu jika Luffy sampai memimpin kecepatan terbang. Tidak! Itu tidak boleh terjadi."
Shi menggeleng-gelengkan kepala tidak terima.
"Aku sudah dewasa. Memiliki banyak pengalaman dibanding Luffy 'kan? Latihanku selama di Akademi akan membuahkan hasil sangat baik. Aku yakin itu!"
Di dalam hutan itu, tidak ada orang lain yang terbang atau berjalan. Ini memudahkan perlombaan mereka. Bahkan sampai matahari tepat di atas, sinarnya tidak terlalu masuk ke dalam hutan karena terhalang dedaunan rimbun.
__ADS_1
"Tidak akan aku biarkan!"