
Seorang peserta Turnamen yang sebelumnya ditolong Kawa menyerobot pembicaraan. Dia terlihat marah, dan terbang di samping Kawa. Tatapan matanya berubah saat ada yang menolongnya. Ternyata bukan hanya perasaannya saja mengenai serangan nyasar itu, tapi orang lain juga merasakan hal yang sama.
Beberapa murid dari Akademi lain yang sependapat mengangguk setuju. Bahkan seseorang di samping Amdara tiba-tiba saja terbang dan mengeluarkan pendapat.
"Apa kalian menakut-nakuti kami menggunakan kekuatan besar kalian? Kami peserta dari Akademi lain merasa diremehkan sekarang."
Dia berdiri di samping Kawa dan menunjukkan sikap kesal. Perasaan takut sebelumnya mulai pudar karena ada orang seperti Kawa yang berani angkat bicara. Ini memang bukan wilayah mereka, tapi mereka memiliki hak berbicara dan membela diri.
Bahkan tiba-tiba tiga murid berbeda Akademi terbang, berhenti di depan Kawa. Seolah mereka setuju dan mendukung Kawa. Walaupun tidak turut bicara, tapi tindakan ketiganya sudah bisa dipahami.
Sontak laki-laki di depan Kawa dan murid-murid Akademi Nirwana Bumi yang berada di sana tidak terima. Sekitar lima belas orang terbang dan berhenti di belakang laki-laki bertopeng setengah itu.
Suasana jadi terasa menegangkan. Hanya melalui tatapan mata, tapi kedua belah pihak seolah sudah dalam gempuran peperangan.
Mendadak sebuah bayangan hitam muncul di bawah kaki laki-laki bertopeng. Dan tanpa peringatan nyaris melukai Kawa dan yang lainnya andai sebuah kekuatan lain tidak segera bertindak dan menghalangi.
Ledakan besar terjadi begitu saja. Mereka semua yang tidak mengetahui apa yang terjadi langsung terdorong mundur dengan perisai pelindung. Termasuk Kawa yang tidak sadar adanya serangan diam-diam.
Sementara orang yang mengeluarkan bayangan hitam tampak terkejut. Sampai suara gadis muda yang tidak lain adalah Amdara membuat mereka semua menatapnya.
"Kupikir kami peserta Turnamen adalah tamu yang layak mendapat perlakuan sopan."
Amdara terbang, dialah yang telah menghancurkan bayangan hitam barusan.
Hanya menghancurkan bayangan itu saja sudah cukup menguras kekuatan. Beruntung Amdara bisa menyerap kekuatan alam perlahan untuk memulihkan kekuatan. Aliran kekuatan alam mulai mengelilingi tubuh, terasa sejuk bahkan orang di belakangnya merasakan kesejukan itu. Di antara mereka tidak ada yang mengetahui bahwa Amdara memiliki tubuh istimewa itu.
Hancurnya bayangan hitam milik Mitsu membuat Kawa terhenyak. Dia baru saja sadar jika Mitsu mengeluarkan serangan. Dirinya mengepalkan tangan marah.
Mitsu jauh lebih terkejut, dia menatap Amdara. Ada aura menenangkan tetapi juga mengerikan. Sebuah kekuatan besar dan aneh yang menyelimuti gadis muda itu.
Mitsu mengepalkan kedua tangan. Tatapannya lebih tajam. Perasaannya mengatakan harus berhati-hati pada gadis tersebut.
Mereka yang tidak tahu nyaris terkena serangan masih dilanda kebingungan. Terkecuali murid-murid Akademi Nirwana Bumi yang mengetahui, mereka kesal karena serangan Mitsu baru saja dihancurkan.
__ADS_1
Gadis berkekuatan petir melempar petir ke arah Kawa dan yang lain. Namun, langsung ditangkis oleh Kawa hanya dengan melibaskan tangan.
Gadis itu menggeram marah dan maju sambil menunjuk-nunjuk Amdara.
"Heh, apa kau sadar dengan ucapanmu! Kalian memang tamu, bertindaklah layaknya tamu!"
Bukan hanya dia, tapi gadis yang menjadi lawan sebelumnya juga berbicara sinis.
"Menyebalkan. Orang-orang lemah seperti kalian tidak layak mengikuti Turnamen."
Tidak terima dikatakan lemah, peserta turnamen di belakang Kawa mengatakan mereka tidak lemah dan berakhir saling adu mulut.
Sementara Amdara sendiri masih terlihat tenang. Walau setelah ini dia yakin akan mendapat masalah besar, tapi hatinya tergerak untuk membela yang benar. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengeluarkan aura membunuh.
"Kami tidak sebodoh itu sampai tidak mengetahui serangan nyasar itu," Amdara memotong pertengkaran mereka.
"Ternyata kalian tidak mengakuinya, yah." Kawa juga buka suara. Dia cukup tidak menyangka ada orang-orang yang sependapat. Dirinya tersenyum miring, dan menjentikkan jari lalu berucap, "bagaimana jika kita buat kesepakatan?"
"Katakan saja kalian mengakui kekalahan dengan tidak mau bertanding!" Seru murid dari pihak Kawa.
Amdara berkedip mendengar penuturan laki-laki itu. Dirinya menggelengkan kepala pelan. Jika bertarung, sudah jelas kekuatan pihak Kawa kalah. Dan lagi, kekuatan mereka harusnya dipersiapkan untuk Turnamen.
Perkataan barusan sontak membuat pihak Mitsu bertambah geram tidak terima. Mitsu sendiri mengangkat tangan kanan, penanda teman-temannya harus tutup mulut. Nampak senyuman simpul di bibir Mitsu, dengan sebelah alis terangkat.
Dia berkata, "jika kita bertarung sekarang, bukankah itu membuat kalian lebih cepat menangis? Ah, lebih asik jika kita buktikan kekuatan di area pertandingan nanti."
Mitsu kembali berkata sambil menatap Amdara. "Tapi, jika kalian memaksa, kami akan layani. Yang kalah mendapat hukuman dan yang menang bisa meminta apa pun kepada pihak yang kalah."
Sesaat Amdara merasa ada sesuatu di balik perkataan Mitsu. Dirinya mengepalkan tangan.
"Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Aku bisa mengetahui informasi mengenai Ketu." Amdara berpikir ulang. "Tapi resikonya besar."
Jika dia menunjukkan kekuatan besar, lawan akan lebih mudah mengetahui kelemahannya di area pertandingan selanjutnya. Tapi ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
__ADS_1
Terdengar suara Kawa yang meminta pendapat orang dari pihaknya. Setelahnya Kawa menyetujui dengan satu syarat, tidak boleh ada yang sampai membuat lawan cedera, menggunakan racun, atau cara curang.
*
*
*
Pertandingan pihak Kawa memiliki tujuh orang, termasuk Kawa sendiri dari Akademi Akar Dunia. Dua laki-laki dari Akademi Baja Langit bernama Jogu dan Gaku. Dua perempuan bernama Pika dan Ilan dari Akademi Bayang Hitam, dan perempuan lagi bernama Phillomel dari Akademi Anggrek Ungu. Dan tentunya Amdara dari Akademi Magic Awan Langit.
Mereka dibawa ke sebuah tempat khusus berlatih bertarung milik Akademi Nirwana Bumi. Tempatnya luas dan juga memiliki tempat duduk penonton yang cukup banyak. Bahkan tempatnya terlihat mewah. Di langit-langit terlihat jelas beberapa batu permata bersinar. Sebuah lambang Akademi Nirwana Bumi terpampang di tengah-tengah area pertandingan.
Amdara yang memperhatikan sampai berdecak kagum. Benar-benar membuat matanya tercuci bersih.
Kawa menatap satu persatu orang dari pihaknya. Terlihat mereka memiliki dendam dan tujuan tersendiri menyetujui pertarungan ini. Mereka tahu resiko yang akan didapat jika kalah, atau pun menang pasti kekuatan untuk bertarung di area turnamen akan sudah melemah.
"Kita bertarung melawan mereka untuk menunjukkan kekuatan murid dari Akademi masing-masing. Tapi, jangan lupakan tujuan kita kemari. Benar, mengikuti Turnamen Magic Muda. Jangan sampai memaksakan diri, itu akan berakibat fatal."
Ucapan Kawa tiba-tiba itu membuat mereka kontan menoleh dan memahami.
Jogu tersenyum dan menepuk bahu Kawa. Dirinya berkata, "kami tahu. Ekhem. Jadi, untuk memperlancar komunikasi di tim ini, bukankah kita harus saling mengenal?"
Jogu menatap rekan satu tim dengan ramah. Lalu dirinya memperkenalkan diri.
"Aku Jogu dari Akademi Baja Langit. Salam kenal."
Gaku, temannya juga ikut memperkenalkan diri. "Gaku, dari Akademi Baja Langit."
Pika dan Ilan saling mengangguk, Kemudian memperkenalkan diri. Setelahnya Phillomel juga demikian. Amdara juga melakukan hal yang sama.
"Luffy, dari Akademi Magic Awan Langit."
Kawa beberapa berkedip mendengar nama Akademi itu, tapi langsung tersadar ketika Jogu memperhatikan.
__ADS_1