
Amdara menatap tajam empat senior dari kelas Tiga Tinggi sedang mengepung mereka sambil tersenyum remeh.
"Haih, kenapa ketua malah mengutus kita untuk mengurus bocah-bocah ingusan ini?"
Salah seorang dari kelas Tiga Tinggi berdecak kesal. Dia menyilangkan kedua tangan depan dada angkuh.
Sikap dan perkataannya memancing emosi Aray yang mengepalkan tangan. Dengan suara keras dia membentak, "apa maksudmu bocah ingusan?!"
Dirgan memegang lengan Aray agar dia bisa mengontrol emosi. Mereka memang kesal disebut 'ingusan', tapi jika sampai bertindak gegabah, yang ada mereka akan kalah dalam sekejap.
"Hmph, jadi kau tidak terima disebut ingusan? Tsk. Tidak tahu diri. Teman-teman, sebaiknya kalian langsung saja pergi mengambil bendera itu. Biar aku saja yang menghadapi bocah-bocah lemah ini."
Dengan sombongnya senior yang memiliki rambut kuning berkata.
"Jangan menyebutku ingusan! Apa kau berkhayal melihat ingus yang mengalir dari hidung kami?!"
Teriakan Inay yang begitu nyaring membuat mereka semua tersedak. Bahkan senior yang barusan menjuluki mereka 'ingusan' membuka mulut lebar disebut berkhayal. Dia berkata ketus, "itu perumpamaan bodoh! Haih, kau ini apa tidak pernah belajar dengan baik?!"
Inay yang kesal maju dan berdiri di hadapan senior angkuh itu dan berteriak kembali tidak kalah keras, "aku selalu mendapat nilai baik! Dan aku tidak bodoh. Kau yang bodoh, senior! Kau bodoh sekali, tahu tidak ...?!"
Sontak senior di depan Inay menutup telinganya yang berdengung akibat suara Inay. Bahkan yang lain juga menutup telinga mereka.
"Suaramu itu jelek! Jangan berteriak. Kau membuat telingaku sakit!" Lawan bicara Inay memelototkan mata ke arah Inay yang menelan ludah susah payah. "Aku tidak bodoh sepertimu! Kau yang bodoh! Bagaimana bisa mendapatkan nilai baik jika perumpamaan saja kau tidak tahu?!"
"Aku bilang, aku tidak bodoh ...! Kau yang bodoh, senior. Kau menyebalkan ...!"
Inay tidak ingin terus menerus disebut bodoh. Dirinya terus saja berdebat, lupa dengan teman-teman mereka yang sedang memerhatikan.
Keduanya baru dilerai ketika suara mereka benar-benar mengganggu telinga teman-teman yang lain.
Amdara menarik napas dalam. Dalam hati dia membatin, "Kak Nana, kau sedang berdrama?"
Merasa keadaan yang semakin sengit, Dirgan mengambil keputusan, "Kalian lakukanlah strategi yang kita buat."
Aray menoleh, terkejut dengan keputusan Dirgan. Aray menolak pendapat Dirgan. "Tapi Ketua Kelas, bukankah saat ini yang dibutuhkan adalah menyerang balik?! Kita akan terluka jika berpencar!"
"Kita akan kalah telak dalam hal kekuatan. Menggunakan strategi, kita juga akan melindungi. Kau berpikirlah dengan dingin."
__ADS_1
Dirgan tahu perasaan Aray. Namun, Dirgan sudah memikirkan hal ini matang-matang. Menggunakan strategi yang sebelumnya telah mereka buat. Yah, walaupun lawan kali ini hanya empat orang, tapi mereka tidak bisa menganggap remeh.
Aray semakin mengepalkan kuat tangan sambil menatap tajam keempat senior itu. Dirinya tidak boleh bertindak gegabah disaat seperti ini.
Keempat senior saling pandang dan detik berikutnya tertawa angkuh melihat kelompok kelas Satu C yang katanya akan menjalankan strategi payah.
"Ketua Kelas Dirgan benar. Kita lakukan sesuai strategi," ujar Amdara tanpa nada.
Teman-temannya mengangguk mengerti. Dirgan menggunakan isyarat mata pada Inay dan teman yang lain agar bersiap. Amdara menarik napas dalam, sebenarnya dia yang paling berat meninggalkan teman-temannya. Namun, dia harus dengan cepat mengambil bendera agar teman-temannya selamat.
Dirgan memanggil Amdara dan memintanya agar segera pergi. Amdara mengangguk mengerti.
"Kalian jaga diri baik-baik."
Amdara melesat setelah berkata demikian. Dia pergi ke arah pagoda dengan kecepatan kilat sambil menghindari serangan nyasar.
Empat senior itu membelalakkan mata. Satu dari mereka hendak mengejar, "hoi, kau tidak bisa mengambil bendera itu ...!"
Nada yang melihatnya segera mengaum, membuat gelombang angin besar hingga senior itu terpental. Ingat dengan strategi, Nada segera mengejar senior itu sambil terus mengaum. Suaranya membuat peserta lain tersedak, suara Nada begitu mengerikan di telinga mereka.
Tiga senior kelas Tiga Tinggi membuka mata melihat kekuatan unik Nada. Mereka jadi lupa bahwa sekarang Amdara sedang pergi ke arah pagoda.
Senior yang ditargetkan Rinai menoleh sambil menyerngitkan dahi. Tidak mengerti maksud Rinai. Bersamaan dengan itu, Rinai mendongakkan wajah. Memperlihatkan matanya yang sudah sembab, serta air matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Senior, bukankah ini menyedihkan? Aku belum bisa mengaktifkan kekuatan seperti yang lain. Huhuhu. Bagaimana caranya aku bisa mengaktifkan kekuatan?"
Rinai tidak tahu harus berbicara bagaimana lagi agar bisa mengalihkan perhatian senior ini. Alhasil Rinai menggunakan dirinya yang belum bisa mengaktifkan kekuatan sebagai bahan strategi.
Senior tersebut tersentak. Dia jadi sedih mendengar cerita Rinai, apalagi melihat Rinai yang begitu malang sambil terus menangis.
Senior yang lebih dewasa dari Rinai berkata, "kau memang menyedihkan. Haih, masa depanmu tidak akan cerah."
"Huhuhu. Aku tidak mau. Aku ingin memiliki masa depan yang baik. Huhuhu." Rinai menggeleng-gelengkan kepala. Dia nampak mendalami sekali Strategi Belas Kasih ini. Rinai lalu kembali mengeluarkan suara sedih, "senior, aku ingin bisa mengaktifkan kekuatan seperti yang lain. Seperti kau juga ... senior, tolong bantu aku. Huhuhu. Aku sangat lemah, bahkan melindungi diri sendiri saja tidak bisa. Huhuhu."
Senior di depan Rinai menarik napas dalam. Dia terlihat terkelabui oleh ekspresi Rinai yang menangis, dan nada suara Rinai yang memang terdengar menyedihkan.
"Kau jangan menangis seperti ini. Suatu saat nanti kau akan bisa mengaktifkan kekuatan. Kau hanya perlu berusaha lebih keras."
__ADS_1
Lawan bicara Rinai menggaruk kepala yang tidak gatal. Rinai mengusap air matanya menggunakan punggung tangan, tapi air matanya tidak kunjung berhenti. Rinai menahan senyuman, dia melakukan strategi dengan baik.
Rinai menggeleng, dia mendadak terduduk sambil meringkuk. Membenamkan wajah di antara kedua lutut. Senior tersebut tercenang, bertambah rasa kasihan pada Rinai.
"Huhuhu. Tapi sampai kapan aku merasakan penyiksaan ini? Sampai kapan aku bisa menanggung perasaan sedih ini? Senior, apa benar suatu saat nanti aku bisa mengaktifkan kekuatan? Huhuhu. Rasanya sangat tidak mungkin. Mungkin aku memang ditakdirkan lemah dan tidak berguna, sampai tidak bisa melindungi diri dan juga adikku ...."
Suara begitu memilukan itu terasa mengena di hati senior yang jadi menelan ludah kesulitan. Dia lalu tanpa diduga berjongkok dan berujar, "kau tidak boleh berkata seperti itu. Percayalah pada dirimu sendiri. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing."
Mau bagaimana pun, Rinai memang masih muda. Rasa-rasanya senior itu jadi mengingat adiknya. Melihat Rinai menangis tentu saja membuat dia jadi ikut sedih. Padahal dirinya tahu dari kelompok kelas Satu C Rinai tidak bisa mengaktifkan kekuatan seperti teman yang lain. Tapi dia masih mengikuti pertandingan. Sungguh membuat hati senior itu tersentuh.
Rinai menggeleng. Masih terisak dia mencoba mengulur waktu selama mungkin. Mengalihkan perhatian senior di depannya dari pertarungan teman-temannya yang lain.
"Bagaimana aku bisa percaya pada diri sendiri? Huhuhu ...Aku hanya manusia yang tidak memiliki kelebihan. Huhuhu. Aku adalah manusia yang penuh dengan kekurangan."
"Kau salah, adik. Semua manusia berbeda. Aku yakin kau memiliki kelebihan tanpa kau sadari. Jadi jangan menangis terus, oke?"
"Tidak. Huhuhu, aku huhuhu tidak memiliki kelebihan apa pun. Huhuhu ...."
"Tsk. Kau jangan menangis terus. Kau tahu, banyak di luar sana manusia yang lebih lemah darimu. Kau harus bersyukur atas apa yang kau miliki sekarang."
Senior itu mengatakan bahwa Rinai harus bersyukur karena memiliki teman-teman yang begitu baik. Masih bisa bersekolah di Akademi, masih bisa makan dan minum dengan baik.
Rinai terdiam sesaat mendengarnya. Tidak menyangka target akan berkata demikian, seolah sedang menghibur dan berusaha agar membuat dirinya berhenti menangis. Kata demi kata yang seolah sedang menasehati serta menyemangati membuat bocah itu mengingat kedua orang tuanya yang juga penuh perhatian dan mencoba membuat Rinai tidak menangis dulu. Sudah lama sekali ... saat di mana keluarganya masih utuh. Di mana kehangatan yang selalu dia rasakan setiap harinya kini benar-benar dirindukan. Tangis Rinai malah semakin menjadi mendengar senior itu mengeluarkan suara. Hal tersebut membuat terkejut senior di depannya yang langsung berusaha menenangkan dengan mengelus-elus kepalanya.
Ketika Nada menyerang satu senior, dan Rinai langsung beraksi, Atma juga melakukan hal yang sama. Dirinya memprovokasi salah satu senior yang terlihat mudah emosi, wajahnya garang, tubuhnya berotot dan berkalung taring binatang kecil. Nampaknya dia seperti berandalan.
Atma menelan ludah susah payah. Tubuhnya gemetar ketika berbicara, "S-senior, aku tahu walaupun kau be-berotot tapi sebenarnya kau le-lemah."
Senior yang memiliki tubuh berotot itu menatap Atma tajam. Dia maju dan mengangkat tubuh Atma. Wajah garangnya semakin menjadi ketika mendengar perkataan Atma.
"Apa maksudmu bocah?!"
Tubuh Atma lemas, jantungnya nyaris copot dari tempat. Dirgan, Aray, dan Inay yang melihatnya tidak melakukan apa pun karena tahu ini adalah siasat yang akan dilakukan Atma.
"S-senior, yang aku katakan tidak bohong. Ji-jika benar kau kuat, kenapa malah memilih melawan kami yang le-lemah? Se-sementara senior di sana, kau biarkan." Tangan Atma gemetar ketika menunjuk salah seorang senior sedang berusaha menghindar dari serangan nyasar. Tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Senior berotot melihat ke arah yang ditunjuk Atma. Matanya semakin menajam seolah siap menelan siapa pun. Dirinya beralih menatap Atma yang sudah pucat pasi bak mayat hidup. Tanpa diduga, senior berotot menghantamkan serangan.
__ADS_1
BAAM!