Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
273 - Perang Dunia IV


__ADS_3

Di Negeri Elang Bulan, kejadian serupa tengah menimpa. Walaupun di sana ada Organisasi Elang Putih yang harusnya selalu melenyapkan roh-roh hitam, akan tetapi sekarang para roh hitam ini muncul entah dari mana dengan kekuatan besar. Keadaan di sana tidak kalah jauh mengerikan.


Suara teriakkan meminta tolong terus terdengar. Banyak manusia yang sudah terluka parah akibat melawan musuh kuat. Satu raja roh hitam harus dihabisi oleh beberapa orang. Sementara jangkauan serangan mereka jauh dan membahayakan. Sekali tidak sengaja mendapat serangan nyasar, nyawa langsung melayang.


Tanah sudah menjadi medan perang tidak terbayang. Retakan besar di mana-mana. Suasana terus mencekam membuat orang-orang merinding ketakutan. Ditambah geraman roh-roh hitam yang terus menggelegar seolah mengoyak langit gelap.


Siluet merah darah berhasil mengenai gadis muda berambut ungu kehitaman yang lengah sebab kekuatannya sudah terkuras banyak. Inay menghantam bangunan rumah besar di kota sana. Dia terbatuk darah. Serangan barusan benar-benar kuat.


"Sialan. Hanya roh hitam saja, kenapa aku tidak bisa melenyapkannya sendiri?!"


Dia menggerutu marah. Tangannya terkepal kuat. Sebelum roh hitam yang dilawan sendiri, dia bangkit dengan susah payah. Rambutnya terombang-ambing oleh angin kejut, dan kemudian rambut tersebut mulai bergerak memanjang, dan membesar. Menangkap awan gelap di atas.


Kejadian ini membuat musuh terdiam menatap Inay semakin tajam. Roh hitam ini sudah mendapatkan luka sebelumnya. Melihat Inay yang akan menyerang balik, membuat roh hitam ini menggeram. Dan melesat menyerang.


Inay menyeringai. "Bagus. Mendekat lah."


Awan gelap yang sudah ditangkap rambut Inay di atas semakin membesar. Inay juga menangkap sebuah sambaran petir menggunakan rambut ajaibnya. Ketika musuh sudah dalam jangkauan yang tepat, Inay melesatkan awan gelap disertai sambaran petir itu. Sesaat cahaya matahari masuk, menerangi tempat itu.


Roh hitam mendapatkan serangan tersebut, tersetrum dan tidak bisa berkutik. Saat itulah, Inay melakukan gerakan dari Organisasi Elang Putih.


"Jurus Elang Abadi Pemusnahan Roh ...!"


Cahaya emas membentuk pola elang di bawah roh hitam muncul. Kemudian mulai menyelimuti roh hitam yang merasakan panas dari jurus Inay. Roh hitam itu berontak, mencoba pergi dari pola tersebut. Akan tetapi semakin sulit saat tiba-tiba Inay menghantamkan serangan petir bertubi-tubi.


Aarrrghhhh!!


Roh hitam hangus. Api berkobar setelahnya.


Inay tersenyum. Tubuhnya limbung dan jatuh tidak berdaya. Darah keluar dari muluttanpa bisa dia usap. Napasnya tidak beraturan.

__ADS_1


"S-sial. Yang tadi itu nyaris saja."


Inay memandang sinar matahari yang menyinari tubuhnya. Terasa hangat. Tidak seperti sebelumnya, udara yang sangat dingin dan mencekam. Cahaya mentari itu terlihat karena awan gelap sebelumnya dia ambil dan dibuat serangan.


"R-rasanya, aku seperti diambang kematian."


Inay memejamkan mata. Berusaha menetralkan deguban jantung yang sedari tadi terus berpacu cepat. Dia yang sebelumnya sedang jalan-jalan di kota, dibuat memuntahkan darah dan merasakan sakit sekujur tubuh akibat aura gelap begitu besar yang entah datang dari mana. Lalu, roh hitam yang Inay serang, tiba-tiba saja muncul.


Pertarungan sengit tidak terelakkan. Orang-orang berteriak histeris dengan kejadian ini. Kaget dan ketakutan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Harusnya di kota tidak ada roh hitam karena telah dihabisi dan dipastikan oleh para senior." Inay membuka mata. Berpikir sendiri. "Tapi ini ... Mereka seperti dibangkitkan oleh aura kegelapan sebelumnya. Jika benar, artinya banyak roh hitam yang sedang bertarung dengan orang-orang?!"


Inay segera bangkit. Dia meringis kesakitan. Tubuhnya sudah mengeluarkan banyak kekuatan. Untuk menyembuhkan diri saja, rasanya sulit.


"Sial. Tidak bisa seperti ini. Orang-orang dalam bahaya. Bagaimana bisa aku hanya duduk menyaksikan kekacauan ini?!"


Inay menggeleng. Berusaha keras untuk berdiri dengan berpegang pada kepingan bangunan yang sudah runtuh. Dia memandang sekitar. Terlihat kacau. Banyak bangunan-bangunan besar hancur. Asap masih terlihat mengepul di berbagai sisi karena sambaran petir sebelumnya. Tanah juga banyak yang retak hebat.


Inay membuka mata lebar. Matanya melihat serangan nyasar begitu besar melintas di langit. Lalu jatuh ke tanah yang jaraknya seratus meter darinya, kembali tanah dibuat bergetar hebat dan retak.


Inay segera menggulingkan tubuh ke samping kiri dengan cepat. Retakan besar itu nyaris membuatnya jatuh ke dalam sana. Inay menelan ludah susah payah. Dia melihat ke samping kiri, di mana retakan besar terjadi. Dia buru-buru berdiri dengan sisa tenaga.


"S-serangan nyasar begitu besar! Pertarungan siapa itu?!"


Inay mengusap-usap dadanya cemas. Dia melihat percikan kembang api dan ledakan dengan suara khas terdengar. Inay yang mengetahui kembang api arti permintaan tolong dari Organisasi Elang Bulan, membuka mata lebar.


"Ada yang dalam bahaya!" Dengan sisa kekuatan, dia terbang. Mencari asal dari kembang api barusan


*

__ADS_1


*


*


Di dekat gunung, Tetua Bram melakukan serangan bukan main. Dia bahkan dengan serius melakukan serangan bertubi-tubi pada roh hitam yang sudah sempurna. Terlihat seperti manusia perempuan cantik.


Banyak pohon yang hangus terkena serangan keduanya. Bahkan setengah gunung dibuat hancur oleh roh hitam itu.


Kekacauan di sana tiada henti. Tetua Bram menggertakkan gigi kesal. Sebab lawan selalu bisa menghindar dan melakukan serangan dari arah tidak terduga.


"Hmph. Sepertinya kau sangat kesal, Pak Tua."


Roh hitam ini bernama Fuyi, dia muncul dekat gunung dan menyerang tanpa ampun ke arah orang-orang yang berada di sana sebelumnya. Tampak, darah membasahi tanah. Rupanya sudah seperti perempuan cantik, dengan rambut hitam panjang bergelombang. Dia tersenyum meremehkan.


"Haih, sebaiknya kau diam dan kulenyapkan saja. Agar kau tidak perlu melihat dunia yang sedang kacau ini."


"Omong kosong. Kaulah yang harusnya lenyap dari dunia manusia."


"Apa? Ha ha ha! Hei, kau tidak tahu, ya. Kami dibangkitkan karena sudah waktunya kalian manusia-manusia lemah lenyap dari dunia. Sudah sangat lama kami tidak bisa memporak-porandakan dunia ini. Dan anak Nyonya sudah memanggil kami. Perang ini adalah takdir! Dan takdir para manusia berakhir hidup di dunia. Ha ha ha."


Tetua Bram diam. Dia marah, tapi tidak bisa menyerang gegabah. Karena tahu, lawannya jauh lebih kuat. Entah berapa lama dia harus bertahan.


Fuyi menautkan kedua alis melihat reaksi Tetua Bram yang tidak seperti dugaan.


"Pak Tua, kenapa wajahmu tidak kaget? Seperti tahu perang ini akan terjadi saja." Fuyi menatap curiga. Jari-jarinya bergerak, saat itu juga aura gelap muncul dari bawah kaki. Membentuk rantai yang langsung mengarah ke Tetua Bram.


Tetua Bram mengelak, dan melakukan pertarungan dengan rantai itu. Dia mengeluarkan cahaya putih yang langsung menghancurkan rantai. Namun, hal tidak terduga terjadi. Rantai lain dari belakang muncul dan langsung melilit tubuhnya.


"Katakan. Apa kau memang tahu sesuatu, Pak Tua?"

__ADS_1


Fuyi muncul di hadapan Tetua Bram. Mata merah darah tanpa pupil itu menatap Tetua Bram bengis. Jari-jari klentik dengan kuku hitam panjangnya menyentuh dagu Tetua Bram.


__ADS_2