
Shi beberapa kali berceloteh senang karena perburuan kali ini mendapatkan banyak permata. Dia berkata, "Luffy, ini semua berkatmu. Haih, walau caranya agak ... ekhem. Tapi aku berhasil mengumpulkan lima belas permata, bagaimana dengan dirimu?"
"Mn, aku hanya mendapatkan dua belas." Amdara menarik napas dalam. Namun, dia sudah merasa cukup karena sekarang bahkan bisa menggunakan elemen api.
Shi mengangguk, dia jadi penasaran dengan adik kelas yang satu lagi. Entah bagaimana keadaannya sekarang, tapi dia harap baik-baik saja.
Seperti yang diharapkan Shi, Cakra dalam keadaan yang sangat baik. Dirinya bahkan sedang duduk santai di atas tubuh Siluman Burung Walet yang terbang. Cakra menarik napas dalam melihat kantong kainnya hanya terisi tujuh permata siluman. Pasalnya untuk mendapatkan permata siluman di daerah ini cukup sulit. Para silumannya akan terus saling melindungi satu sama lain, ketika menyerang pun, Cakra harus memilih-milih siluman yang sedang sendiri. Nyaris dibuat tewas karena melawan lima siluman sekaligus. Daerah yang terlihat aman dan nyaman ini jauh lebih mengerikan jika sampai membuat masalah.
Cakra berinisiatif kembali ke kediaman Tetua Haki. Dirinya menepuk-nepuk kepala Siluman Burung Walet sambil berujar, "kau bisa mengantarku ke satu rumah di hutan ini?"
Siluman Burung Walet mengeluarkan bunyi khas seolah menjawab pertanyaan bocah laki-laki yang duduk itu. Kemudian melesat pergi, tapi ketika sudah di perbatasan daerah utara dia berhenti.
Cakra yang tidak mengerti mengerutkan kening, dia bertanya, "ada apa?"
Siluman Burung Walet mengeluarkan bunyi menjawab. Namun, sayangnya Cakra sama sekali tidak mengerti. Karena siluman ini tidak kunjung turun, Cakra berinisiatif pergi ke kediaman Tetua Haki dengan terbang. Dia mengelus kepala siluman itu dan berujar pelan.
"Terima kasih. Kau pergilah."
Siluman Burung Walet menunduk dan melesat pergi. Setelahnya Cakra juga melesat untuk kembali ke kediaman Tetua Haki.
*
*
*
"Luffy, apa kau merindukan teman-temanmu di Akademi?"
__ADS_1
Pertanyaan Shi tiba-tiba membuat Amdara menoleh, terdiam sejenak sebelum mengangguk dan bergumam sebagai jawaban.
Shi nampak menghela napas panjang,.dia buka suara kembali, "aku juga merindukan teman-temanku. Aiya, padahal baru beberapa hari kita di sini. Aku tidak yakin sanggup menahan rindu ini."
Amdara berkedip mendengar perkataan Shi. Dia tidak tahu jika Shi sampai sebegitunya kepada teman-temannya. Amdara terdiam, memikirkan perasaan sendiri. Inay Si Cerewet, Ketua Kelas Dirgan, Atma yang selalu percaya diri, Aray yang suka marah-marah, Rinai si cengeng, dan Nada yang suka tertawa kecikikikan. Rasanya ... Amdara juga ingin mendengar suara-suara mereka yang berisik.
"Aku merasakan sepi jika tidak ada mereka. Hmph, kuharap aku bisa kembali ke Akademi dan menjenguk mereka walau sebentar."
Amdara menghentikan terbang saat itu juga, menatap Shi yang menurunkan pandangan.
"Kita akan ke Akademi," kata Amdara yakin. Shi juga menghentikan terbangnya, menatap tak percaya bocah berambut putih ini. Jika pergi ke Akademi, maka yang ada Tetua Haki tidak akan mengizinkan dan jika sampai tidak izin, pasti Tetua Haki akan menghukum mereka. Dan lagi, cara pergi ke Akademi yang jaraknya sangat jauh dari sini membutuhkan beberapa hari.
"Kau tidak perlu menghibur. Aku baik-baik saja," ujar Shi sambil tersenyum tipis kembali melanjutkan terbang.
Namun, sebuah cahaya setinggi orang dewasa muncul tepat di depannya. Sontak Shi termundur, kaget bukan main.
Amdara mengajak Shi memasuki cahaya tersebut akan tetapi Shi langsung memelototi. Dia berkata, "apa? Ke mana? Cahaya apa ini. Luffy, kau tidak boleh sembarang bertindak. Bagaimana jika cahaya ini adalah jebakan?"
Shi menarik lengan Amdara untuk terus mundur. Kewaspadaannya meningkat. Amdara menggelengkan kepala, dia menjelaskan, "ini akan membawa kita ke Akademi."
"Bagaimana mungkin cahaya ini dapat membawa kita ke---!"
Amdara keburu menarik lengan Shi dan langsung memasuki portal yang dibuat. Mata Shi kembali terbuka lebar saat tiba-tiba muncul di suatu tempat yang tidak asing.
"A-apa ini di atas gedung Akademi?"
Shi menelan ludah susah payah. Dia mengedarkan pandangan yang memang sekarang berada di Akademi Magic Awan Langit. Saking tidak percayanya, dia sampai mengusap-usap mata memastikan penglihatannya tidak salah.
__ADS_1
Amdara menepuk bahu Shi dan berkata tanpa nada, "kita akan bertemu di sini malam nanti. Pergilah, temui teman-temanmu."
Amdara kemudian melesat sebelum mendengar keterkejutan Shi yang menyerukan namanya.
Di jam ini, seharusnya teman-teman Amdara baru saja keluar dari kelas. Mereka pasti sedang makan di Balai Istirahat sekarang, jadi Amdara berinisiatif pergi ke Balai Istirahat untuk menemui mereka.
Bocah itu mendarat di salah satu gedung. Memerhatikan banyak murid yang berlalu-lalang dengan aktivitas masing-masing. Sesaat sebelum masuk ke Balai Istirahat, Amdara membuka mata lebar melihat satu bocah sangat tampan dengan rambut disanggul layaknya bangsawan sedang berjalan sendiri, berwibawa dengan membawa satu buku besar. Bocah laki-laki itu tersenyum ramah ketika mendapatkan sapaan murid-murid lain. Ada murid yang menghampirinya dan menanyakan suatu hal.
Bocah itu tidak lain adalah Ketua Kelas Dirgan yang sekarang sepertinya sudah mendapatkan banyak perubahan. Amdara berniat turun menghampiri Ketua Kelasnya itu, tetapi suara seseorang yang sangat tidak asing membuatnya mengurungkan niat.
"Dirgan ...! Tolong aku, ya ampun. Bagaimana semua ini menimpaku?! Aku hanya mencoba beberapa resep yang baru dibuat, dan sekarang malah kacau. Dirgan, tolong ...!"
Seorang bocah laki-laki yang menampilannya menarik perhatian beberapa murid itu berlari sambil menyerukan nama temannya tanpa tahu malu. Bahkan dia menarik tali yang diujungnya memiliki sebuah ranting pohon.
Dirgan yang mendengar suara barusan menghela napas panjang sambil menoleh ke belakang di mana temannya sedang meminta pertolongan. Dia mengeluarkan Tongkat Pusaka yang langsung memukul bokong bocah itu keras sampai terjatuh.
Dirgan mendengus, dan berujar, "memalukan. Apa kau tidak bisa berubah, Atma?"
Sang lawan bicara merintih kesakitan, mengusap-usap bokongnya yang mungkin dibuat memar. Dia menatap kesal Dirgan karena bukannya menolong, Dirgan malah membuatnya tersandung sampai jatuh mencium tanah.
"Kau menyebalkan! Teman macam apa kau Ketua Kelas. Aku sedang dilanda masalah, dan kau sama sekali tidak membantuku."
"Kurasa dirimu lah si masalah itu."
"Apa?! Hei, kau---"
"Kenapa masih di sini?! Bukankah Guru Aneh sudah mengatakan bahwa sekarang kalian sudah harus berada di kediamannya?! Apa perlu kutendang kalian baru mau bergerak?!"
__ADS_1
Bocah lain datang dengan raut wajah garang. Dia bahkan membawa kayu runcing dan mengusap-usapnya sambil menatap kedua temannya. Dia adalah Aray, yang paling galak di antara yang lainnya. Aura yang memancar sudah terlihat lebih kental dengan aura mengintimidasi. Aray mendekati Atma, dan kemudian duduk di atas punggung Atma. Tindakannya membuat murid-murid yang sebelumnya berada di samping Dirgan menahan napas, apalagi Atma yang terkejut langsung protes mengomel. Sementara Dirgan sendiri hanya menarik napas kesal dan menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya ini.