Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
88 - Ujian Tertulis


__ADS_3

Ruangannya ada sebelas, dan berbeda-beda tempat. Ruang kelas itu cukup luas menampung sebelas anak. Mereka duduk dan diberi jarak sesuai meja yang disediakan. Dan memang hanya ada sebelas meja. Peserta tidak diperbolehkan keluar dengan alasan apa pun. Setiap ruangan telah ada dua guru yang menjaga, Tiga Guru Besar akan mengawasi lewat bola ajaib.


Setiap guru yang menjaga ruangan tersebut kemudian tanpa membuang waktu memberikan kertas ujian pada peserta.


"Kalian memiliki waktu satu jam untuk mengerjakan."


Perkataan guru penjaga membuat para peserta dibuat menahan napas melihat deretan pertanyaan sulit. Ada dari mereka yang tersenyum, karena tahu jawabannya.


Salah satu peserta menyilangkan kedua tangan dan berkata, "itu sangat cukup. Hanya tinggal menjawab saja. Apa susahnya?"


Guru penjaga tersenyum mendengar perkataan barusan. Dia berdiri di depan meja guru dan menjelaskan.


"Kalian pikir ini mudah? Baguslah. Cepat jawab dengan nilai minimal lima puluh. Jika di bawah lima puluh di antara satu kelompok, hukuman akan langsung diberikan pada kelompok tersebut setelah pembagian nilai."


"Apa?!"


*


*


*


Pertandingan kali ini yang merupakan ujian tertulis ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Diharuskan mendapat nilai minimal lima puluh dan soal-soal yang tertera jelas berbeda dari teori dan hanya bisa dipahami menggunakan akal. Pertanyaan yang berbeda bertujuan agar mereka tidak saling menyontek. Padahal sebenarnya setiap kelompok memiliki pertanyaan yang sama. Hanya saja para guru sengaja tidak memberitahu.


Setiap kelas yang digunakan untuk ujian tertulis cukup tenang. Mereka harus konsentrasi mengerjakan kertas ujian. Sepuluh menit berlalu begitu saja, tetapi beberapa peserta masih berkutik dengan satu soal.


Dua guru penjaga mondar-mandir mengawasi, terutama pada peserta yang memang terkenal berandal.


Di ruang tempat Aray berada, dua guru sepertinya ada urusan sebentar. Keduanya pergi meninggalkan kelas. Seketika suasana yang awalnya damai jadi kacau.


Salah seorang beserta berteriak keras karena kesal dengan soal. Frustasi sampai mengacak-acak rambut. Bukan hanya dia, bahkan seorang senior juga melakukan hal yang sama. Berteriak untuk melampiaskan emosi. Jelas sekali mengganggu peserta lain yang langsung menegur.


"Hei, jangan berteriak. Kau mengganggu yang lain."


Peserta yang ditegur mengerucutkan bibir dan berkata, "aku hanya sedang melampiaskan emosi lewat teriakan. Memang kau menjadi sasaran lampiasanku?"


Peserta yang menegur menghentikan aktivitas menulisnya dan menoleh ke lawan bicara. Dia mengembuskan napas kesal.


"Aku yang akan membungkam mulutmu jika sampai bersuara lagi."


"Oh? Kau mengajakku berduel?"


"Kau pikir perempuan takut pada laki-laki? Maju, kita selesaikan sekarang."


Dua peserta itu mengeluarkan aura dan kekuatan besar, membuat peserta lain yang merasa terganggu juga mengeluarkan aura sendiri. Kejadian tak terelakkan terjadi begitu cepat. Mereka saling mengeluarkan aura membunuh dan tak mau kalah.


Aray yang berkutat pada kertas dan pena mengepalkan tangan. Keringat dingin bercucuran di punggung. Tubuhnya tertekan oleh aura berbeda dan besar di ruangan itu. Konsentrasi Aray tentu saja langsung pecah.


"Sialan." Aray juga ikut-ikutan mengeluarkan aura membunuh. Menggunakan kekuatannya dia menerbangkan kertas ujian semua peserta dan berdiri di atas meja menatap tajam semua peserta.


Jelas saja yang lain terkejut dengan tindakan Aray. Mereka membentak dan menatap tajam Aray yang malah berekspresi datar.


Dia mengeraskan suara saat berbicara, "berhenti bersikap kekanak-kanakan. Simpan aura kalian atau kertas ujian ini aku hanguskan."


Merasa diancam, salah seorang peserta senior berdiri dan menunjuk Aray. Peserta yang juga tidak terima menggebrak meja dan berteriak.


"Hei, memang kau siapa berani memerintah?"


"Bocah, berikan kertas ujian milikku!"

__ADS_1


"Mau kubunuh ya?! Cepat turunkan kertas ujianku ...!"


Aray mengepalkan tangan. Dia pikir sedikit mengancam akan membuat suasana jadi lebih tenang, nyatanya malah semakin kacau. Aray membelalakkan mata saat satu dari mereka tiba-tiba menyerang. Aray menghindar dan balik menyerang. Tidak peduli pada kertas ujian yang melayang tidak keruan karena ulahnya dan lawan. Satu ruangan itu dibuat kacau dalam sekejap. Kursi terlempar, detik berikutnya meledak menimbulkan suara keras. Saling melawan karena kesal.


Di ruang atas kelas tersebut, para peserta merasakan getaran. Mereka jelas penasaran, tetapi melihat dua guru penjaga langsung pergi untuk mengecek keadaan membuat mereka mengembuskan napas.


Delapan belas menit berlalu, rasanya menarik napas saja sulit karena dua guru yang berjaga terus mengawasi. Bahkan Atma yang sekarang menggigil ketakutan bisa menarik udara tenang.


"Sebenarnya dari mana getaran ini?" Peserta perempuan mengerarkan pandangan.


Suasana jadi tidak tenang seperti semula. Apalagi di ruang kelas itu delapan perempuan dan tiga laki-laki termasuk Atma.


"Apa ada yang bertarung?"


"Tidak mungkin. Setiap kelas ada pengawas."


"Apa mereka juga frustasi karena soal yang diberikan? Jadi mereka memilih bertarung dengan guru."


Perkataan terakhir membuat yang lain tersentak. Itu bisa saja karena mereka juga merasa frustasi. Mengerjakan lima soal saja sudah menjadi kepintaran seseorang dalam menjawab soal ini.


Dua senior laki-laki mengetuk-etuk meja dan mengembuskan napas. Nampak keduanya tidak banyak bicara, dan auranya juga terasa tenang. Yah, ini lebih baik ketimbang di ruang kelas Aray.


Merasa peserta lain yang tengah khawatir, tiba-tiba Atma berdiri dan dengan gugup dia berkata, "k-kalian tenanglah. Tidak perlu khawatir apa-pun karena pangeran tampan ini ada bersama kalian untuk menjadi pelindung."


Semua orang di ruang itu menatap Atma yang semakin dibuat gugup. Jantungnya berdegub lebih keras.


Kedelapan peserta perempuan menutup mata, mulut dan bahkan ada yang langsung pindah tempat. Tidak lagi ingin duduk dekat Atma. Mereka kenal Atma dari kelas Satu C yang selalu tebar pesona dan percaya pada ketampanannya.


Salah seorang peserta perempuan dari kelas dua tertawa. "Kau saja tidak bisa melindungi diri sendiri. Bagaimana bisa melindungi orang lain?"


Atma terdiam, dia menggaruk tengkuk yang tak gatal. "T-tapi aku bisa melindungi kalian menggunakan ramuanku."


Satu senior laki-laki memastikan, "oh, benar juga. Kau yang membuat ramuan aneh itu kan?"


Atma mengangguk dan tersenyum kikuk. Dia menelan ludah susah payah takut jika tiba-tiba diserang oleh teman murid yang menjadi kelinci percobaannya sama seperti Amdara.


"Hei, apa kau masih memiliki ramuan itu? Berikan padaku. Aku juga ingin bentuk yang lebih besar!"


Atma membuka mulut dan mata mendengar perkataan seorang peserta perempuan yang tidak tahu malu meminta ramuan Atma. Beberapa murid perempuan juga meminta ramuan milik Atma.


Atma menggaruk pipi. Tidak menyangka reaksi mereka akan berbeda dari bayangannya. Dia berkata, "a-aku belum meneliti ramuan itu lagi karena sibuk. J-jadi ...."


"Bocah, kau masih memiliki waktu untuk menelitinya. Selagi kau masih hidup, maka buatlah ramuan untuk kesenangan perempuan."


Atma berkedip beberapa kali dia menggeleng dan menjawab polos, "s-senior, aku akan meneliti ramuan itu. Namun, aku hanya akan membuat obat penyembuh bukan kecantikan."


"Aiya, kau ini bo**h sekali. Jika bisa membuat ramuan kecantikan, kau bisa menjualnya dan mendapat keuntungan besar."


"Itu benar. Tapi, kurasa dia tidak akan sanggup membuat ramuan seperti itu. Membuat ramuan bukanlah bakat orang sepertimu."


Tawa di antara mereka pecah. Sementara Atma mengepalkan tangan. Wajahnha memerah malu. Yang mereka katakan benar. Atma tak bisa menyangkal dirinya memang payah dalam segala hal.


Atma berteriak, "Lihat saja nanti. Jika aku bisa membuat ramuan ajaib, aku akan menjualnya dengan harga langit sampai kalian tidak bisa membelinya!"


Atma langsung duduk dan menenggelamkan wajah di antara kedua tangan di atas meja. Suara tawa yang lain semakin membuat Atma memejamkan mata. Dipermalukan seperti ini memang sudah biasa. Namun, tetap saja hatinya sakit. Bukan setiap saat Atma bisa tersenyum dan percaya diri saat dic***h, ada kalanya dia menangis dan menyalahkan takdir.


Bukan hanya Atma, tetapi seorang Ketua Kelas Dirgan juga pernah merasakan hal yang sama. Dirgan sekarang sedang membaca soal. Dia mengetuk-etuk pena di atas meja sambil memikirkan jawaban. Suasana kelas di sana cukup damai. Dua guru yang mengawasi juga ramah saat diberi pertanyaan oleh beberapa peserta. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan kelas lain.


"Jika kau dijadikan umpan oleh temanmu untuk menangkap siluman, dan membuat teman-temanmu selamat, apa kau setuju?"

__ADS_1


Pertanyaan yang baru saja Dirgan baca cukup aneh. Bukan soal materi yang pernah Dirgan pelajari selama lima tahun ini, dan juga praktik yang pernah diajarkan Guru Aneh.


"Apa? Memanga ada yang setuju dijadikan umpan?" Dirgan mengembuskan napas kesal. Dia melirik ke arah lain, di mana peserta lain juga nampak kebingungan.


"Tapi, jika membuat teman-teman aman, kenapa tidak?" Dirgan tersenyum simpul. Mulai menggoyangkan pena di atas kertas. "Selama ini tidak ada orang yang menyelamatkanku saat ditindas. Tidak ada. Pertama kali mendapat bantuan, rasanya sungguh terharu. Selama ini aku banyak belajar dari Luffy."


"Teman adalah orang terdekat, keluarga, dan orang yang patut kita lindungi. Jika membuat mereka aman, aku akan melakukan apa pun semampuku."


Terjawab sudah. Dirgan mengingat Amdara. Orang pertama yang menolongnya. Padahal Amdara waktu itu sama sekali tidak mengenalnya tetapi mau menolong. Dirgan membaca soal-soal berikutnya dan mulai menjawab sesuai yang dia pikirkan.


Tidak jauh dari kelas itu, Inay tengah menggelembungkan pipi dan membolak-balikkan kertas berharap ada tanda-tanda jawaban terselip. Waktu yang tersisa tidak lama lagi. Tetapi Inay baru menjawab beberapa. Dia menolehkan pandangan ke luar jendela. Pemandangan lapangan latihan yang terlihat beberapa murid tengah berlatih, suasana yang begitu tenang membuat Inay teringat Amdara.


"Jika kau tidak menghampiri masalah. Maka masalah yang akan menghampirimu. Haih, takdirmu kejam sekali." Inay menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. "Bagaimana reaksi Tetua Bram melihat kondisimu sekarang? Dia ... pasti sangat mengkhawatirkanmu."


Bayangan perjuangan di Negeri Nirwana Bumi selama sebulan lebih ini membuat Inay memejamkan mata. Tidak menyaka dia masih bisa hidup di negeri lain tanpa ada orang dewasa yang menemani.


"Cepatlah sembuh. Setelah itu kita akan pulang. Orang tuamu ... pasti mereka juga tengah mencarimu."


Inay mengakhiri lamunannya dan segera mengisi soal ujian. Dia berulangkali menjatuhkan pena karena tidak fokus.


Orang yang tengah Inay rindukan kini masih berbaring di tempat tidur. Tetua Rasmi menghempaskan tubuh di atas tempat duduk. Dia mengusap keringat di dahi. Menunggu Tetua Haki kembali dan mencoba melakukan segala cara agar bisa menyembuhkan Amdara.


"Bagaimana bisa? Ada apa dengan tubuh bocah itu? Apa yang tidak bisa membuatnya mengalirkan kekuatan? Apa? Apa?!"


Tetua Rasmi frustasi. Dia mengusap wajah gusar. Melirik tempat tidur Amdara. Tak ada perubahan sama sekali.


Sampai satu jam lamanya, bahkan para peserta yang mengikuti ujian tertulis bisa mengembuskan napas lega tetapi ada juga yang khawatir karena belum sempat menulis jawaban terakhir.


Tingkat kesulitan mengerjakan soal juga berbeda-beda. Tergantung keberuntungan seseorang. Orang yang mendapat keberuntungan itu sekarang adalah Rinai. Dia menjawab dengan cepat walaupun merasa kurang yakin dengan jawaban. Namun, setidaknya dia bisa mengembuskan napas karena selesai lebih awal. Tidak ada gangguan sama sekali di kelas itu. Konsentrasi penuh saat mengerjakan.


"Temanmu berbuat salah, apa kau akan menutupi kesalahannya dengan berbohong?"


Rinai menggeleng. "Huhuhu. Aku akan lihat kesalahan apa yang dia perbuat. Jika memang situasinya baik, aku tidak akan menutupi kesalahannya."


Rinai menulisnya di kertas jawab. Beberapa kata lagi dia rangkai hingga jadilah jawaban yang cukup memuaskan bagi dirinya.


Begitu pula dengan Nada yang cekikikan melihat jawaban sendiri. Dia harap nilainya tidak kurang dari lima puluh. Ada soal di mana dirinya menjawab ketika mengingat orang yang telah menolongnya saat dit****s. Malam itu, Nada tidak melupakan. Dan dia tahu siapa sebenarnya bocah yang menolongnya. Amdara.


Begitu suara bel berbunyi menghentikan aktivitas menulis para peserta, dibuat tercengang. Rasanya satu jam waktu yang cepat. Buru-buru para peserta yang belum menjawab meminta waktu pada guru pengawas, untuk diberi waktu menjawab beberapa soal lagi. Namun, guru pengawas tidak memberi sedetik pun.


"Generasi muda penuh bakat, dan semangat membara~


Membuncah tak pernah redup~


Anak muridku, selesai sudah bertempur dengan kertas dan pena~


Nilai akan dibagikan saat sore hari. Kalian dibolehkan istirahat."


Suara menggema di setiap ruang membuat para peserta dibuat merinding mendengarnya. Sama sekali tidak sesuai atau bahkan syair itu ngelantur. Jelas saja itu suara Guru Kawi yang entah berada di mana.


Tidak ada orangnya tetapi ada suara ini membuat Nada tersentak. Dia menaikkan sebelah alis. Berpikir bagaimana orang itu bisa melakukannya.


"Mn, aku juga ingin melakukannya." Nada memeluk boneka erat, dia memandang keluar jendela. Menunggu peserta lain keluar duluan.


Nada menyentuh kaca jendela dan menarik napas dalam. "Aku ... merindukan kalian."


Terasa air matanya keluar perlahan. Dia menempelkan dahi ke kaca, memendam perasaan luka yang telah lama diderita. Ada perasaan sakit saat mengingat masalalu nya. Nada mengepalkan tangan. Diusap air yang mengalir dari pipi.


"Aku akan membalas."

__ADS_1


__ADS_2