Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
71 - Dunia Lain (2)


__ADS_3

"Sejak usianya menginjak dewasa, beliau pernah menghabisi pimpinan kelompok di dunia kami. Namun itu karena pimpinan sebelumnya melanggar aturan dunia ini yang mana berani mengganggu manusia berulang-ulang. Walaupun kami adalah makhluk, tetapi kami sama sekali tidak menggangu manusia kecuali kami diganggu terlebih dahulu."


"Kami mengangkat Nyonya Dewi secara suka cita. Sejak kepemimpinan beliau, kehidupan kami mulai berubah. Kesejahteraan mulai menyelimuti, kami hidup dengan sederhana tetapi bisa merasakan bahagia. Nyonya Dewi, aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di dunia kami. Namun, hanya orang yang telah ditakdirkan dan kuat bisa memasuki dunia kami."


"Beliau sangat baik seperti sebelumnya saya katakan. Beliau juga sangat kuat. Memiliki aura agung walaupun seorang perempuan yang anggun."


Are terdiam beberapa saat sebelum kembali menjelaskan.


"Namun, karena dia juga keturunan manusia ... dia mulai merasa kesepian dan membutuhkan manusia lain untuk berinteraksi dengan normal. Beliau pergi dari dunia kami dan kembali ke dunia manusia. Mencari sesuatu yang bisa membuat hatinya merasa bahagia. Kami memberontak tidak terima, dan akhirnya melawan. Pertempuran dahsyat tak terelakkan. Awalnya saya pikir Nyonya memang egois, tetapi setelah merenung di sisi pandang manusia, Nyonya selama ini memang menderita hidup di dunia ini. Dan beliau juga harus memikirkan diri sendiri bukan hanya makhluk lain. Dan pada akhirnya, kami membiarkan. Tak mencari sampai lama. Namun, kondisi itu sama sekali tidak membuat kami tenang. Kami memutuskan mencari, tetapi tidak bertemu juga."


Amdara masih diam tak bereaksi. Matanya jadi sembab karena menangis. Dia menghapus air mata yang terakhir mengalir menggunakan punggung tangan. Sekarang bukan waktunya menangis mendengar cerita Are. Hati kecilnya menahan semua sesak itu. Dan otak kecilnya tak mampu menangkap semua penjelasan Are. Dia masih syok dengan apa yang pernah dilakukan oleh ibunya dahulu.


Keadaan hening, Are juga diam setelah selesai bercerita.


"Sebenarnya siapa kau, ibu?"


Amdara menarik napas dalam. Tangannya terkepal. Hal tak terduga bisa bertemu dan mendapat penjelasan sedikit mengenai ibunya sungguh di luar dugaan. Ini baik, tetapi entah mengapa hatinya merasa sakit.


Entah identitas apa yang dimiliki ibunya. Dan entah bagaimana Amdara harus berpikir sekarang. Ayahnya belum diketahui, dan ibunya tidak tahu berada di mana.


"Apa ada peninggalan ibu di sini?" Amdara bertanya pelan.


Are mengangguk dan kemudian izin undur diri untuk mencari sesuatu. Sesaat berikutnya, Are membawa ikat rambut warna hitam dengan corak naga putih. Are memberikannya pada Amdara hati-hati.


"Ini satu-satunya barang yang tertinggal. Nona, dahulu nyonya sering memakai ikat rambut ini."


Amdara mengambilnya sedikit gemetar. Di tangannya, ikat rambut itu terlihat luar biasa di mata dan memiliki aura aneh tetapi Amdara nyaman. Dia mencium ikat rambut tersebut, dan kemudian memakainya untuk mengikat rambut.


Are terpana, seakan tengah melihat Nyonya Dewi sewaktu muda.


Amdara memejamkan mata. Merasakan sesuatu mengalir ke tubuhnya. Dingin dan hangat secara bersamaan. Amdara kemudian mengeluarkan tusuk rambut warna biru berukir bangau emas peninggalan ibu. Bocah itu memakai tusuk rambut tersebut dan detik selanjutnya cahaya hitam, emas, dan putih samar-samar saling bertubrukkan mengelilingi Amdara yang tidak sadar, begitu pula dengan Are.


Saat sedang bergelut dengan pemikiran sendiri, Are mengagetkan dan menbuyarkan semua lamunannya.


"Nona, karena anda adalah anak nyonya, maka yang akan meneruskan kepemimpinan di sini."


Suara Are terdengar senang tetapi tidak dengan Amdara yang langsung menatap tajam bak elang dan menolak mentah-mentah.

__ADS_1


Amdara berdiri dan segera berujar tegas, "tidak. Aku harus kembali sekarang."


"A-apa?" Are khawatir jika dia membiarkan anak nyonya, maka di dunia mereka tidak ada lagi pemimpin yang bisa dijadikan panutan.


"N-nona, apa anda tak ingin melihat-lihat istana megah ini dahulu?"


Are mencoba membuat Amdara tertarik tetapi nyatanya bocah kepala batu itu menggeleng tegas dan berkata, "tidak perlu."


Are tentu saja kecewa. Namun, dia juga tidak bisa memaksa atasan. Terlihat dia menunduk.


Amdara mengembuskan napas dan mendekat satu langkah dan berkata tanpa nada seperti biasa.


"Kalian tidak perlu pemimpin untuk membuat dunia ini sejahtera. Kalian hanya perlu saling bahu membahu dalam hal apa pun. Tak perlu pikirkan pemimpin, cobalah bahagia sendiri."


"Tapi ... bagaimana mungkin?"


"Kalian memikirkan pemimpin tanpa memikirkan diri sendiri. Sebenarnya yang membuat kalian bahagia bukanlah pemimpin, melainkan bagaimana kalian membuat diri sendiri bahagia."


Are mendongak, entah bagaimana ekspresinya sekarang. Setelah Amdara mengatakan hal tersebut, Are tak mengeluarkan sepatah kata.


Amdara mengembuskan napas panjang. Dia baru teringat tidak bersama Aray sejak tadi. Tidak tahu bagaimana keadaan Aray saat ini.


"Mn? Manusia yang bersamamu waktu di Hutan Arwah?"


Amdara mengangguk sebagai jawaban. Dia hampir melupakan Aray. Dan, bukankah sudah cukup lama dirinya berada di sini? Lalu bagaimana dengan keadaan di luar?! Sinar matahari sudah kemungkinan besar muncul, bukankah dengan begitu dia akan ketahuan tengah menyusup mencari tanaman herbal?!


"Dia ... kurasa sedang mengamuk."


*


*


*


Di tempat yang menyengat dan bau-bau aneh menyeruak. Tanaman-tanaman aneh dan mayoritas warna hitam disertai awan hitam, menambah kesan mengerikan. Cahaya yang temaram dari atas, tetapi tak membuat seorang bocah yang tengah mengamuk tenang. Yang ada dia terus gencar melawan dua makhluk bercahaya sebelumnya yang membuat dirinya berada di sini, dan kehilangan temannya.


Pertarungan sengit kian menjadi. Guntur tiba-tiba saja menggelegar dan debaman-debaman keras tak terelakkan. Sudah banyak pohon dan tanaman yang menjadi serangan nyasar dan langsung hangus.

__ADS_1


"Sialan! Di mana ini ...?!"


Aray menggencarkan serangan beruntun pada dua cahaya itu dan berhasil membuat keduanya terpental. Anehnya saat berada di Hutan Arwah, mereka sama sekali tidak terkena serangan, tembus begitu saja. Tetapi di sini, Aray bisa melukai keduanya sekuat tenaga.


Hal yang pertama kali Aray lihat saat membuka mata adalah dirinya tengah terbaring di atas bebatuan hitam. Udara dingin, dan sama sekali tidak ada matahari membuat Aray waktu itu berpikir masih berada di Hutan Arwah. Nyatanya setelah dia mengedarkan sekitar, suasana sangat aneh. Dan dia tidak tahu keberadaan Amdara sekarang.


"Makhluk sialan ...! Di mana aku sebenarnya ini?! Kau sembunyikan di mana juga temanku ...?!"


Aray melayang, tatapan dan tampangnya yang sangat marah itu telihat jelas. Seakan tidak kehabisan tenaga, Aray terus bertarung dengan dahsyat.


Asap hitam mengelilingi tubuhnya semakin pekat, hingga tubuhnya tidak terlihat. Detik berikutnya lesatan kekuatan dahsyat menyerang dua makhluk yang tak sempat menghindar karena sebelumnya telah dihajar habis-habisan. Tidak menyangka kekuatan bocah itu sangat besar.


Dua makhluk tersebut terpental menabrak pepohonan dan nampak kesakitan. Aray menginjak tanpa rasa takut dada mereka dan bertanya marah, "jawab aku atau kalian ingin lenyap di tanganku secara mengenaskan sekarang?"


Darah mengucur dari sela bibir Aray. Sebenarnya dia telah mengeluarkan banyak kekuatan, dan hampir mencapai batas. Tetapi karena kemarahannya dia bisa lebih banyak mengeluarkan kekuatan. Tidak peduli lagi jenis makhluk apa yang tengah dirinya lawan, dan tidak berpikir apakah makhluk ini benar lemah atau hanya pura-pura. Pikiran Aray kacau, dia terlalu mencemaskan keadaan Amdara dibanding diri sendiri.


Sementara orang yang dicemaskan Aray kini tengah berjalan santai keluar istana. Banyak makhluk yang sopak serta menunduk atau bahkan ada yang bersujud menyambut. Namun, dengan segera Amdara meminta Are agar mereka tidak perlu sungkan.


Amdara tertegun tidak menyangka dengan reaksi para makhluk ini. Sangat sopan dan baik menurutnya. Keadaan di luar jauh lebih ramai, layaknya dunia manusia yang beraktivitas, di sana juga demikian. Hanya saja tidak ada sinar matahari, hanya ada hawa dingin, semua warna identik hitam. Amdara jadi mulai terbiasa melihat makhluk-makhluk ini. Perasaan takut sebelumnya mulai pudar.


"Nona, sebenarnya anda tengah mencari apa di hutan itu?" Are bertanya penasaran.


Amdara tanpa menoleh menjawab tanpa nada, "tanaman herbal."


Are yang berjalan di belakang Amdara nampak tersentak. Dia tidak menyangka nona nya tengah susah payah mencari tanaman herbal di Hutan Arwah.


"Benarkah? Tanaman herbal jenis apa?"


"Teratai hitam, gingseng merah, dan akar putih."


"Mn. Kenapa tidak bicara sejak awal? Di sini banyak tumbuhan herbal yang hidup liar. Saya akan segera pergi mengambilnya, mohon nona tunggu sebentar."


Belum sempat Amdara menjawab, dia sudah ditinggal pergi begitu saja. Amdara mengerutkan kening, dan menghentikan langkah sambil menunggu Are kembali. Sebenarnya Are bisa membawa Amdara ke tempat temannya lebih cepat dengan terbang, tetapi makhluk entah apa itu ingin lebih lama berbicara dengan Tuannya. Dan beruntung, Amdara sama sekali tidak mempermasalahkan.


Tidak berselang lama, Are datang dengan membawa banyak tanaman herbal yang melayang di belakangnya.


"Saya rasa ini akan sangat berguna di dunia manusia. Jadi saya ambilkan semua untuk nona."

__ADS_1


Banyak jenis tanaman herbal yang diambil Are. Bahkan Amdara sampai tersentak dibuatnya. Amdara segera melihat-lihat, wajahnya menampilkan senyum simpul. Ini tentu akan sangat berguna baginya. Tidak perlu mencari lagi di Hutan Arwah.


__ADS_2