
Darah muncrat dari dalam mulut. Kekuatan besar dia lempar hanya untuk menangkis serangan. Tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan jika dia tidak dengan cepat menguatkan diri.
Kejadian Amdara menangkis serangan sangat mengejutkan semua orang. Terbelalak kaget sampai terbuka mulut mereka. Pandangan semua orang mengarah ke gadis muda berambut putih tersebut. Wajahnya langsung pucat pasi, seperti mendapat luka dalam. Darah mengalir dari mulutnya.
Bahkan orang-orang yang mengenalnya tidak sempat meneriakkan nama Amdara.
Tetua Rasmi membuka mata lebar. Tidak menyangka murid ini berani menangkis serangan besar.
Raut wajahnya terpampang kekhawatiran saat bersuara.
"Luffy, apa yang kau lakukan?!"
Dia tahu sekarang Amdara mendapatkan luka dalam akibat menangkis serangan besar. Bahkan Cakra yang biasanya tenang nampak wajah keterkejutan.
Begitu pula dengan Shi dari kapal sampai membuka mata lebar. Dia berteriak kencang, "Luffy, ada apa denganmu?! Menjauh dari sana. Siluman itu berbahaya!"
"Nak, cepat kemari!"
"Siapa gadis kecil itu? Hei, apa kau tidak tahu hampir tewas barusan!"
"Sebenarnya apa yang dia lakukan sampai melindungi siluman berbahaya itu?!"
Beberapa orang juga langsung meminta gadis muda tersebut agar segera menjauh. Jika tidak, kemungkinan besar Amdara akan langsung dilahap musuh dengan jarak sedekat itu.
Namun, Amdara malah tetap tidak berkutik. Dia berusaha menenangkan detakan jantung kian berpacu. Merasakan aura besar di belakang. Masih sadar 100% dengan tindakan ini. Tubuhnya bertindak mendengar suara hati.
Siluman Naga Air yang masih marah akibat serangan bagian mata menatap anak manusia berambut putih di depan. Dia langsung menggeram marah sampai angin kejut bak pedang menusuk ke depan.
Graaarrrr!!
Semua orang juga membuat perisai pelindung dadakan. Tetua Rasmi dan Shi meneriakkan nama Amdara saat berpikir dia akan tewas oleh angin kejut yang bisa menusuk tubuh manusia.
Dalam jarak dekat itu, Amdara tidak sempat membuat perisai pelindung. Seseorang melesat dan langsung melindunginya menggunakan perisai pelindung. Angin kejut hampir meretakkan perisai tersebut saking kuatnya. Tapi si penyelamat menggunakan kekuatan besarnya untuk membuat pelindung dengan warna biru tersebut.
Amdara menoleh, di sampingnya seseorang yang dikenal menatapnya. Memandang mata biru. Saling pandang dalam diam. Sesaat Amdara teringat Bocah Pengemis.
"Kau, Ian?"
__ADS_1
"Apa Nona Luffy baik-baik saja?"
Penyelamat itu adalah Ian, Bocah Pengemis. Ekspresi kekhawatiran terpampang jelas. Tubuhnya sekarang lebih tinggi, wajahnya lebih bersih dari dulu.
Amdara tidak menyangka Ian bisa berada di sini. Dia mengangguk dan berucap, "terima kasih."
Semua orang menarik napas lega, Amdara bisa mendapat perlindungan. Nyaris saja dia hancur hanya karena geraman Siluman Naga Air.
Mereka semakin ingin menyerang siluman itu. Tidak bisa dibiarkan, mereka akan tewas jika tidak kembali bertindak.
Tetua Rasmi berseru, "sebaiknya kita serang kembali sampai siluman itu tumbang! Atau kita yang akan mati."
Seruannya langsung disambung dan disetujui mereka. Ada yang sudah bersiap dengan kekuatan besar untuk menyerang. Keadaan jadi berubah kembali. Mereka meminta agar Ian dan Amdara segera menyingkir dari hadapan Siluman Naga Air.
"Nona Luffy, kita harus menjauh."
Ajak Ian yang tahu keadaan ini. Namun, Amdara dengan keras kepalanya menggeleng menolak. Sontak membuat Ian terhenyak, bingung dengan sikap Nona Muda ini.
"Tidak. Aku--"
"Luffy, cepat kemari!"
"Maafkan aku, Nona."
Melesat membawa Amdara ke kapal. Amdara tidak sempat berontak, karena memang tubuhnya masih lemas dan mulai merasakan sakit.
Dengan cepat, Tetua Rasmi dan orang-orang langsung melesatkan serangan besar ke arah Siluman Naga Air. Bahkan kali ini, kekuatan mereka jauh lebih besar.
Siluman Naga Air menyemburkan air dari dalam mulut, tapi dari arah lain seseorang mengecoh. Hingga serangan dari arah tidak terduga berhasil mengenai kedua matanya telak.
"Tidak!"
Amdara berteriak, matanya terbuka lebar dengan perasaan sedih teramat dalam. Tidak tega melihat Siluman Naga Air yang kesakitan. Mata dinginnya mulai terlihat berkaca-kaca. Dia melepas rangkulan Ian lemas. Darah kembali menetes dari dalam mulut. Amdara menyentuh dadanya, sesak.
Suara geraman kesakitan terdengar sangat mengerikan di telinga. Darah muncrat, mengalir deras. Tubuhnya kontan bergerak liar, sebelum mencebur ke dalam Laut Hitam. Hembusan angin berubah menajam. Laut Hitam mendadak mengalami ombak besar. Petir di langit tiba-tiba menyambar. Awan gelap di atas seolah membawa kabar kepada manusia-manusia itu tidak akan selamat.
Ombak di Laut Hitam semakin besar, sampai kapal mulai sulit dikendalikan oleh Shi dan beberapa orang.
__ADS_1
Aura gelap nan menekan mereka rasakan. Merinding, disertai ketakutan menjalar sampai membuat bulu kuduk berdiri.
Mereka jadi semakin waspada. Mengedarkan pandangan dan melihat Laut Hitam. Takut tiba-tiba siluman itu keluar dan menyerang mereka. Apalagi hawa keberadaannya tidak bisa dideteksi.
"K-kekuatan besarnya belum dia keluarkan."
Menelan ludah saja rasanya sangat sulit. Sekarang kegentaran mulai menyelimuti. Keraguan untuk menyerang menjalar. Pikiran negatif tidak akan menang dan tewas dalam beberapa menit membayangi.
Tetua Rasmi dan penyerang lain tanpa sadar menahan napas sambil terbang mundur. Ini bukan keadaan baik.
Salah seorang pria menggeleng tidak percaya. Dia ambil suara, "jika kita mundur, dia akan melenyapkan kita. Sebaiknya kita maju, serang sampai titik penghabisan. Biarkan yang ada di kapal untuk pergi."
Ucapannya membuat pro dan kontra. Ada yang tidak setuju karena tidak ingin tewas. Tapi mereka juga kelabakan harus melakukan apa. Mereka yang tahu dengan keadaan ini mengangguk setuju dan bersiap dengan segera kemungkinan.
Jika pun kapal pergi sekarang, belum tentu mereka selamat. Sebab Laut Hitam adalah rumah Siluman Naga Air.
Amdara juga ikut memandang ke arah laut dengan perasaan gundah. Dia berpegangan pada sisi kapal.
Sampai tiba-tiba dari samping kapal, Siluman Naga Air keluar. Mengguncang keras kapal. Tepat di depan Amdara yang kontan mendongak. Tetesan air mengenai perisai pelindung. Kedua mata yang terluka itu menatap Amdara.
Beberapa orang biasa di kapal berteriak ketakutan dan termundur mencari tempat persembunyian.
Siluman Naga Air menggeram kembali, kali ini berhasil membuat perisai pelindung kapal pecah berkeping-keping dan kapal nyaris terbalik.
Di saat itu juga Tetua Rasmi, Cakra, dan orang-orang langsung menyerang penuh kekuatan dari berbagai sisi. Sisik Naga Air sangat keras, menandakan dia sudah hidup selama ratusan tahun.
Naga Air yang masih marah melibaskan ekornya. Balik menyerang mereka yang menyerang. Menggunakan ekor besarnya tidak memperlambat. Bahkan kecepatannya tidak terduga. Lima orang sekaligus terkena ekor Naga Air, langsung terjatuh ke laut dengan luka berat.
Amdara menyaksikannya. Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Melihat seorang remaja hendak menyerang ke arah mata Naga Air, dengan sisa kekuatan Amdara terbang. Membentangkan kedua tangan dan kembali menangkis serangan itu.
"Berhenti menyerang!"
Kejadian itu kembali mengejutkan semua orang. Amdara sekarang tepat berada di depan mata Naga Air.
"Ada apa denganmu, Nak?! Siluman itu sangat berbahaya dan nyaris membunuh kita semua!"
Tetua Rasmi berteriak dan memanggil Amdara agar menyingkir. Beberapa orang yang tidak menyangka juga meminta Amdara untuk segera menjauh.
__ADS_1
"Aku," bibirnya kelu. Dia menatap ke belakang, di mana Siluman Naga Air juga menatapnya tajam. Tubuhnya bahkan lebih kecil dari sedikit dari mata siluman ini.
Perasaan aneh itu kembali. Perasaan agar Siluman Naga Air tidak terluka dan mendapatkan rasa sakit. Kesedihan yang menyambar hati Amdara tiba-tiba ini membuatnya iba melihat subjek besar ini. Seolah Amdara mengenal, dan tidak asing dengan Siluman besar itu. Tapi dia tidak pernah bertemu.