Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
82 - Malam Menenangkan


__ADS_3

"B-bok\*ngku mati rasa."


Atma berjalan keluar dari ruang guru sambil memegang pinggangnya yang sakit. Bunyi retakkan tulang bahkan sampai terdengar.


Amdara menggeleng dan berkata, "hanya sebentar."


Atma tercengang menatap temannya dari samping. Kali ini dia yang dibuat menggelengkan kepala. Bagaimana Amdara bisa mengatakan lamanya duduk sampai tengah malam dikatakan 'sebentar?'.


Setelah banyak pertanyaan yang dijawab Amdara masih dengan sikap tenang, Tetua Genta dan Tetua Widya memutuskan untuk memberi mereka waktu istirahat. Untuk kelanjutan menyelesaikan masalah diundur sampai besok yang juga belum dipastikan apakah pertandingan antar kelas akan dimulai atau tidak.


Penyelidikan dan penelitian mengenai ramuan Atma masih dilakukan oleh Tetua Haki dan beberapa murid Senior. Mereka masih belum menemukan jawaban yang tepat.


Sementara si pembuat ramuan memilih pergi mengisi perut sebelum pergi ke asrama.


Amdara mencari tempat yang tenang. Dia ingin merenung dan memikirkan banyak hal. Tepat yang dipilih adalah hutan buatan yang sedikit jauh dari asrama, tetapi masih berada di wilayah Akademi.


Gelap gemita diterangi lintang di atas sana. Udara dingin tak membuat Amdara merasa takut, yang ada dia semakin ringan langkah. Seakan kegelapan dan kesunyian adalah teman ternyaman. Beruntung, dirinya tidak bertemu para murid yang mungkin masih mencarinya.


Amdara memanjat pohon tanpa kesulitan, dia duduk, menyenderkan kepala pada pohon itu dan menutup mata. Merasakan desiran angin dingin masuk ke lubang hidungnya. Ketenangan itu membuat Amdara bisa menghirup napas lega setelah banyak hal yang terjadi.


Bocah itu mengambil ikat rambut yang dipakai, lalu menatapnya tanpa ekspresi.


"Ada yang aneh."


Saat Amdara memerhatikan lebih intens lagi, dirinya baru sadar apa yang telah dilakukan di lapangan latihan siang ini. Dia menyentuh mulut pelan, seringai yang dia berikan pada orang-orang jelas bukanlah dirinya.


Sejak memakai ikat rambut itu, dia sedikit mulai memiliki perubahan. Entah dalam tindakan atau ucapannya. Tak ingin berpikir lebih jauh, dia memakai kembali ikat rambut tersebut.


Amdara lalu mengeluarkan seluring, dan memainkan irama ketenangan pelan tanpa terganggu sambil menutup mata. Meniup seluring ini jadi teringat pada penjaga istana Dark World. Sebenarnya Amdara banyak pikiran, tetapi dia terlalu lelah untuk memikirkan semua itu.


Mengingat apa saja yang dilaluinya selama ini adalah sebuah takdir tak biasa. Mungkin saja tak lama lagi dirinya menemukan orang tuanya dan hidup dengan bahagia sama seperti anak-anak lain. Di dalam rumah yang hangat, canda tawa yang menyertai, dan tak ada memikirkan bahaya dunia luar. Ah, membayangkannya saja membuat Amdara tersenyum dan terus memainkan seluring.


Seseorang baru saja mendarat tepat di bawah pohon yang tengah Amdara duduki. Amdara sama sekali tidak bisa merasakan hawa kehadiran orang itu. Dirinya masih memainkan seluring sampai orang yang baru saja mendarat termenung dan ikut hanyut mendengar irama ketenangan yang dimainkan.


Mata biru yang semula terpejam, perlahan terbuka dan melihat ke depan dengan tenang. Sudah lama dirinya memainkan irama ketenangan, hatinya juga sudah lebih baik setelah bermain seluring. Saat berniat turun, dirinya terkejut bukan main ketika seseorang tengah menatapnya diam tanpa ekspresi.


"Kau,"

__ADS_1


Amdara untung saja berpegangan pada batang pohon dan belum melompat. Orang yang masih menatap Amdara langsung terbang, dan duduk di sebelah Amdara yang tersentak. Mengalihkan pandangan saat Amdara berkedip melihat seniornya ini.


"Ada apa?"


Harusnya Amdara yang bertanya, bukan senior Cakra di sebelahnya! Amdara mengembuskan napas, dia benar-benar payah tidak lagi bisa merasakan kehadiran seseorang.


"Tidak,"


Amdara menjawab tanpa nada. Keheningan itu terjadi. Cakra yang juga hemat bicara tak lagi bertanya apa-pun. Siang tadi mereka saling mengatakan 'memalukan' entah karena apa, tetapi sepertinya kedua bocah itu tidak lagi memikirkan. Keadaan jadi canggung, Amdara baru saja ingin izin pamit tetapi Cakra mengatakan sesuatu.


"Kau pandai memainkan seluring,"


"Terima kasih,"


"Belajar dari mana nada itu?"


Kali ini Cakra menolehkan pandangan pada Amdara yang terlihat mengembuskan napas dan akhirnya memilih duduk.


Amdara berkata, "buku."


Cakra terlihat mengangguk dan memandang sekitar yang gelap. Dirinya juga bisa memainkan alat musik ini, tetapi tidak pernah mendengar nada yang setenang yang Amdara mainkan.


"Siang ini kau sengaja melakukan uji coba."


Perkataan Cakra membuat Amdara segera menoleh dan mengangguk. Dirinya mengatakan hal yang sama pada Cakra.


Cakra mengangguk. "Tapi itu bagus."


Amdara bergumam sebagai jawaban. Dia ingin segera pergi ke asrama untuk beristirahat, tetapi tidak enak meminta izin pada Cakra yang sepertinya masih ingin bertanya. Dan benar saja, setelah keheningan beberapa saat Cakra kembali berkata.


"Sebulan kemarin, aku tidak melihatmu."


Amdara tersentak, dia menelan ludah saat Cakra tak mengalihkan pandangan. Amdara berdehem sebelum berkata, "kau memerhatikan?"


Cakra tersenyum tipis sebelum mengangguk. Dan menunggu penjelasan lawan bicara.


Terdengar suara helaan napas dari Amdara. Tatapan matanya yang meneduhkan sekaligus tajam itu terpejam sesaat. Entah ini pertanyaan jebakan atau bukan, tetapi Amdara tidak yakin Cakra mengetahui apa yang terjadi pada dirinya dan teman-teman. Guru Aneh juga belum menanyakan hal ini, mungkin sudah diberi penjelasan aneh oleh Atma atau yang lain. Tidak mungkin mereka mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Latihan."


Satu kata itu sama sekali tidak berbohong. Amdara memang pergi menjalankan misi pertama yang diambil dari Akademi Awan Langit yang ternyata penuh bahaya. Bukankah pengalaman tersebut bisa dikatakan sebagai latihan?


"Kau berlatih kekuatan atau memainkan seluring?"


Cakra bertanya tanpa curiga.


Pertanyaan tersebut dijawab oleh Amdara tanpa nada juga, "mn, keduanya."


"Kau mau memainkan seluring bersama?"


Amdara menoleh ke samping, tepat Cakra tengah menatapnya. Mata hitam pekat Cakra bertemu dengan mata biru Amdara. Keduanya diam sesaat sebelum Amdara mengangguk setuju.


Keduanya mulai memainkan seluring dengan nada yang berbeda. Namun, masih bisa didengar enak di telinga. Nada-nada tersebut sama sekali tak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Membuat irama baru. Kali ini suara seluring merdu itu dapat di dengar sampai luar hutan buatan. Para murid yang mendengarnya tersentak, dan bertanya-tanya siapa yang memainkan seluring tengah malam dengan merdu. Mereka juga dibuat hanyut mendengarnya.


Seekor Siluman Serigala Berbulu Putih tiba-tiba saja berlari kencang menuju sumber suara seluring begitu menenangkan. Ketika sampai di hadapan dua orang yang tengah memainkan seluring, Siluman Serigala Berbulu Putih mengaum dan terlihat bersemangat apalagi melihat bocah berambut putih.


Amdara menghentikan memainkan seluring dan menatap ke bawah di mana Serigala Berbulu Putih tengah menatapnya. Bukankah binatang ini seharusnya tidak berkeliaran di hutan sembarangan? Amdara tidak menyangka Siluman itu kini datang, dirinya segera melompat dan mendekat pada binatang itu.


"Kau dari mana?"


Amdara tersenyum tipis, dia mengelus-elus kepala siluman itu yang telah jinak terhadapnya.


Cakra yang juga menghentikan memainkan seluring melompat dan berkata, "bagaimana kau menjinakkannya?"


Siluman Berbulu Putih menempelkan kepalanya pada tubuh Amdara seakan ingin terus dielus. Amdara menjawab tenang, "aku tidak tahu. Tapi dia senang mendengar suara seluring."


"Kau memberi nama?"


Mendengar pertanyaan Cakra membuat Amdara terdiam. Ini pertemuan kedua Siluman Serigala Berbulu Putih dengan Amdara, dia jelas belum memikirkan memberikan nama.


"Namanya ...." Amdara terdiam sekitar dua menit. Melihat tubuh siluman di depannya yang besar, berbulu putih, dan menggemaskan ini membuat Amdara ingin memukul. Dia berkata, "Lang."


Serigala Berbulu Putih itu melompat-lompat seperti kesenangan. Dia kembali mendekatkan kepala pada Amdara dan tiba-tiba berjongkok, seakan Amdara dipersilakan menaiki punggung serigala itu.


Amdara tersenyum. Dirinya juga sudah cukup lama di hutan. Tubuh manusia biasanya itu juga perlu diistirahatkan.

__ADS_1


Amdara memberi hormat pada Cakra dan berkata izin pergi karena harus beristirahat. Dirinya mendapat anggukan dari Cakra dan langsung naik ke punggung Lang.


Lang berjalan pelan menusuri hutan malam itu. Membawa Amdara pergi ke asrama.


__ADS_2