Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
51 - Mayat Hidup


__ADS_3

Bocah itu terdiam. Dia tidak menjawab. Terjadi keheningan di antara dua bocah itu. Tidak ada lagi suara tangisan yang terdengar.


"Aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Sudah kubilang kau akan takut padaku!"


Bocah itu berteriak. Amdara masih tenang, dirinya berkata tidak takut pada apa pun termasuk pada bocah itu. Menyakinkan seorang bocah memang sulit, tetapi sekali mendapat keyakinan akan sulit melupakan.


Setelah menyakinkan, akhirnya bocah itu menyetujui. Amdara berniat membawa bocah itu ke hadapan Senior Fans untuk mencari tahu mengenai desa ini.


Amdara menanyakan nama bocah itu yang ternyata bernama Ang. Ketika Ang mendongakkan wajah yang pucat, bibir berwarna ungu dan mata hitam pekat tak membuat Amdara berpikir bahwa Ang adalah salah satu warga yang memiliki penyakit menular. Dari ciri-ciri yang pernah dikatakan Kepala Desa jelas berbeda, jadi Amdara tidak terlalu khawatir.


Ang tersenyum, Amdara membalasnya dengan senyuman tipis.


"Kenapa kau ada di sini?"


Ang bertanya, sambil berjalan di samping Amdara yang menjawabnya dengan gumaman kecil.


"Apa kau tidak takut padaku?"


Ang yang sebelumnya terlihat penakut kini lebih banyak bertanya tetapi Amdara tidak mempersalahkan hal tersebut. Amdara menoleh, dan lalu berkata, "untuk apa takut? Kau tidak memiliki wajah menakutkan."


Ang berkedip, dia terlihat seperti bocah pada umumnya.


"Apa jika wajahku menakutkan kau akan takut?"


Amdara mengedikkan bahu. Keduanya terus berbicara, lebih tepatnya Ang yang mulai cerewet bertanya pada Amdara yang menjawab sekenanya.


Amdara membawa Ang ke tempat sebelumnya dia mengintip Senior Fans. Namun, di atas Inay sudah tidak ada. Amdara cemas, dia berlari mencari Inay dan Senior Fans. Beberapakali memutari rumah sebelumnya dan rumah yang dimasuki Senior Fans, tetapi mereka tidak ada.


"Kau mencari temanmu?"


Amdara mengangguk saat diberi pertanyaan tersebut. Suasana di desa Bumi Selatan sangat hening. Angin yang berhembus terasa dingin padahal mentari masih menggantung di langit.


"Dara ...! Cepat lari ...! Tidak ada manusia di desa ini ...!"


Dari kejauhan, Amdara mendengar Inay yang berteriak.


Senior Fans dan Inay melesat dengan cepat, di belakang mereka terlihat ada banyak orang-orang yang memiliki bintik ungu, kaki yang terluka serta mata merah menyala tengah melesat mengejar.

__ADS_1


Pemandangan mengerikan. Suara-suara yang sebelumnya ada pada pusaran angin hitam itu kini Amdara lihat secara langsung dari mulut warga desa. Tidak, lebih tepatnya maya* hidup.


Tubuh Amdara bergeming menyaksikan hal itu. Dirinya mengepalkan tangan. Dan berkata dingin, "apa kau manusia?"


Ang tersentak mendengar pertanyaan barusan, dirinya menunduk sampai beberapa saat.


"Maafkan aku."


Amdara masih diam. Dia tidak segera lari dan meminta pertolongan pada Senior Fans atau pun Inay agar segera membawanya pergi. Permintaan maaf Ang sudah menjelaskan siapa sebenarnya dia.


Seakan waktu berhenti berputar sejenak. Dan Amdara masih dalam pemikiran sendiri.


Amdara menoleh ke samping, di mana Ang menunduk. Tanpa di duga, Amdara menepuk pelan kepala Ang. Dia berkata, "kau memiliki alasan."


Setelahnya dengan cepat Amdara berlari mencari tempat bersembunyi. Teriakan dari Inau terus saja menginstruksikan agar segera bersembunyi. Tidak hanya ada sepuluh atau dua puluh maya* hidup tetapi dari yang terlihat, seratus lebih maya* hidup masih mengejar Senior Fans dan Inay yang terus menghindar dan beberapakali menggunakan jurus untuk melenyapkan maya* hidup. Sialnya, walaupun tubuh mereka telah terp*t*ng-p*t*ng, tetapi masih bisa bergerak dan mengejar.


Amdara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang warga desa telah tiada, maka bukankah para maya* hidup itu dulunya adalah warga desa Bumi Selatan yang lenyap karena sebuah penyakit misterius?


Jadi yang dimaksud ciri-ciri oleh Kepala Desa bukanlah manusia melainkan maya* hidup.


Debaman keras terjadi karena Senior Fans yang melesatkan serangan melawat maya* hidup sampai hangus. Inay menggunakan rambutnya menjadi sangat keras dan kemudian menghantamkannya ke kerumunan maya* hidup yang ternyata malah semakin mengganas.


Saat beberapa maya* hidup melewati rumah yang tengah dijadikan tempat bersembunyi Amdara, salah satu dari mereka menatap ke rumah itu. Detik berikutnya keringat menetes di dahi Amdara.


Di sisi lain, Inay hampir kehabisan tenaga karena terus menyerang lawan yang lemah tetapi sangat berbahaya. Jika sampai tergigit, atau bahkan terkena semburan liur maka nyawa Inay dalam bahaya.


"Kenapa rasanya mereka malah bertambah?!"


Inay menelan ludah susah payah. Dia jadi tertinggal Senior Fans cukup jauh. Dan harus melindungi diri sendiri. Walaupun para maya* hidup itu tidak bisa terbang, tetapi mereka bisa memanjat rumah dan langsung melompat ke arah Inay.


Nyaris saja Inay terkena cakaran salah satu maya* jika dirinya tidak langsung menghindar. Beruntung Amdara tidak bersamanya, itu hanya akan menambah kesulitan Inay.


Inay menggunakan rambutnya untuk menangkap angin yang cukup besar, lalu menghempaskannya pada kerumunan mayat hidup yang langsung terpental jauh. Inay menggunakan kesempatan itu untuk melesat bersembunyi.


"Kepala Desa pembohong! Dia bilang warga desa ini terkena penyakit menular. Tetapi kenapa yang ada malah mayat hidup?!"


Inay mengomel tidak jelas. Dia sangat kesal sekaligus takut jika sampai kehidupannya hanya sampai di sini. Mayat hidup yang ternyata bisa mengeluarkan suara itu selalu membuat Inay merinding.


Di tempat Senior Fans, mayat hidup jauh lebih banyak. Dia bahkan beberapakali harus mengeluarkan jurus hebat agar para mayat hidup itu langsung lenyap.


Blaaar!

__ADS_1


Senior Fans melakukan gerakan aneh sambil melayang. Tatapannya tajam menusuk ke arah kerumunan para mayat hidup.


Sebuah cahaya kuning muncul di bawah kakinya yang langsung melesat ke arah mayat hidup.


"Jurus Pemusnah Roh Elang Putih ...!"


Dalam jarak sepuluh meter, jurus Senior Fans berhasil menghanguskan sebagian mayat hidup.


Melenyapkan mayat hidup lebih mengerikan daripada Roh Hitam dan manusia. Ini kali pertama Senior Fans bertarung melawan mayat hidup.


Senior Fans tak menyia-nyiakan waktu, dia kembali melesatkan serangan beruntun hingga semua mayat hidup lenyap.


Senior Fans mengembuskan napas saat semuanya dibereskan. Namun, dirinya teringat Inay yang tidak lagi bersamanya dan Amdara yang tidak tahu bersembunyi ke mana.


"Ini bukan misiku. Kenapa aku terus terlibat?"


Senior Fans mengeratkan kepalan tangan. Dia melesat mencari kedua adik seperguruannya. Dirinya berniat pergi dari desa ini setelah menemukan Amdara dan Inay. Tidak ada gunanya mereka melawan manusia yang sudah tidak bernyawa. Tidak ada yang perlu diselamatkan juga.


Namun, berbeda dengan pemikiran Amdara yang kini harus menyelesaikan masalah di desa Bumi Selatan. Jika tidak diselesaikan oleh mereka, siapa lagi yang mau menyelesaikan? Tidak mungkin para mayat hidup itu dibiarkan saja. Itu akan membahayakan desa lain.


Bau menyengat mulai terasa di hidung Amdara, setelah beberapa menit para mayat hidup melewati rumah tempat persembunyiannya.


Tanah di bawahnya tiba-tiba bergerak, Amdara melompat dan tersentak saat sesuatu muncul dari tanah.


Di rumah yang hanya beberapa celah cahaya yang masuk itu masih bisa membuat Amdara melihat sebuah tangan yang muncul dari bawah tanah.


Amdara tak sempat bereaksi saat tangan itu keluar dan tubuh lain ikut keluar. Sekarang yang berdiri di hadapan Amdara adalah manusia dengan bintik-bintik ungu di seluruh tubuh, kaki yang terluka parah, dan ... tatapan mata merah menusuk kini bertatapan langsung dengan Amdara.


Mayat hidup itu membuka lebar mulut dan langsung menerjang Amdara. Amdara menghindar, mendobrak pintu dan lari secepat yang dia bisa. Bocah berambut putih itu merasakan jantungnya yang berdetak keras.


Mayat hidup itu mengejar Amdara, kecepatannya tidak bisa diremehkan. Amdara yang lari biasa hampir tersandung karena menoleh ke belakang tepat mayat hidup tengah mengejarnya. Suara dari mayat hidup itu membuat beberapa mayat hidup yang tidak jauh langsung berlari dan mencari sumber suara.


Amdara menelan ludah. Dia mencoba mengeluarkan kekuatan, tetapi rasanya sangat sulit dan sakit.


Amdara melemparkan sebuah batu ke arah mayat hidup itu tetapi bisa dihindari dengan mudah. Namun, mayat hidup itu semakin cepat mengejar. "Gawat!"


Mayat hidup itu meloncat dan mencengkram leher Amdara.


Amdara mencoba melepaskan, tetapi lehernya terasa sakit dan dirinya jadi terasa lemas.


Suara dari mayat hidup lain terdengar berlari ke arahnya. Amdara tidak bisa melakukan perlawanan, napasnya terasa sulit keluar.

__ADS_1


__ADS_2