
Aray terbatuk-batuk mendengar sambutan Tetua Haki. Dia mengelus-elus dada sendiri mengatur napas.
"Apanya yang mempererat hubungan persaudaraan? Yang ada kau malah mempererat hubungan persengketaan."
Aray mendengus kesal dan menatap tak suka ke arah Tetua Haki yang masih melanjutkan sambutan.
Atma yang duduk di belakangnya mengangguk setuju. Dan berkata, "kau benar, Aray. Pertandingan ini bukanlah persaudaraan melainkan nyaris saling membu**h."
Pasalnya yang mereka rasakan demikian. Pertandingan ini saling berebut kemenangan dengan cara apa pun. Tak peduli cara yang dilakukan dan malah nyaris menghilangkan nyawa lawan, asalkan tak ada yang menuturkan.
"Khakhaa. Kurasa kali ini kita tidak akan cedera lama. Khakhaa. Ini karena yang menjadi wasit adalah Tetua Wan."
Nada yang duduk di bangku sebelah Atma tertawa cekikikan sambil memegang boneka. Matanya yang terlihat menyeramkan menatap ke arah Tetua Wan.
Rinai memeluk lutut seperti biasa. Rambut panjang yang terlihat tidak terawat menjuntai menutupi wajah. Jika orang lain yang melihat, mereka akan berpikir Rinai anak jalanan yang tidak pernah merawat diri. Padahal, itu adalah ciri khasnya sendiri.
"Huhuhu. Kuharap Tetua Wan bisa teliti menjadi wasit."
Dirgan yang mendengar menimpali dengan dengusan kesal. "Kau ini sedang meledek Tetua Wan, Rinai? Dia itu Tetua paling adil. Tentu saja teliti dalam segalanya."
"Hei, siapa tahu dia tidak akan adil pada kita sama seperti yang lainnya, 'kan?"
Perkataan Aray barusan membuat Atma, Rinai, Nada, dan Dirgan tersentak bukan main. Dirgan menggeleng tegas. Tetua Wan adalah orang yang dikagumi dan juga orang yang selalu Dirgan tauladani. Walaupun di akademi ini mereka merasa dianaktirikan, tetapi Dirgan yakin Tetua Wan tidaklah demikian.
"Jaga bicaramu, Aray. Tetua Wan tidak sama dengan yang lain. Jangan samakan dia dengan orang-orang akademi ini atau pun para bangsawan."
Dirgan mengepalkan tangan saat bicara. Dia menaikkan intonasi nada. Tidak setuju dengan Aray. Tetapi Aray malah menyilangkan kedua tangan dan mencondongkan tubuh agar bisa menoleh ke arah Dirgan yang duduk di sebelah Amdara.
Amdara sendiri diam, tidak ingin ikut campur perdebatan dua temannya ini. Dirinya fokus mendengar sambutan dari Tetua Haki.
Aray berkata sinis, "benarkah? Apa kau mengenal Tetua Wan sampai begitu yakin padanya?"
Dirgan semakin mengepalkan tangan. Dia menatap Aray marah. Ingin sekali menendang pant** temannya yang satu ini. "Jangan pancing emosiku, Aray."
__ADS_1
"Aku tidak memancing emosimu, tuh."
"Kau jelas-jelas sedang menyulut emosiku!"
"Tidak sama sekali."
Aray tersenyum remeh, membuat Dirgan menghentakkan kaki dan berdiri menatap Aray amat kesal.
"Kau--!"
"Kalian memancing emosiku."
Amdara mengeluarkan aura kekuatannya, dan membuat Dirgan dan Aray merasakan pundaknya tertekan hebat. Dirgan yang tak sanggup terjatuh berlutut menyentuh tanah.
Aray menelan ludah susah payah. Dia melihat Amdara yang diam, tetapi auranya mencekam.
Aura yang dikeluarkan Amdara sengaja dibuat pada Aray dan Dirgan. Sehingga orang lain tidak merasakan apa-apa. Membuat aura untuk menekan seseorang yang diinginkan dan tanpa membuat orang lain tidak merasakan aura tersebut sebenarnya sulit dilakukan. Ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa serta ketenangan yang bisa membuat kekuatan dalam tubuh terkontrol dengan baik.
"Diam, dan dengarkan."
Bocah berambut itu seperti memiliki aura mengintimidasi. Aray berkeringat dingin dibuatnya dan menarik napas saja jadi terasa berat.
Suara tepuk tangan dan sorakan terdengar. Pertandingan kali ini nyatanya lebih membuat antusias para murid termasuk peserta sendiri yang tidak sabar. Tetua Haki mengangkat tangan, petanda para penonton diharapkan tertib. Tetua Haki kemudian tersenyum dan melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti.
"Aku harap kalian mengikuti pertandingan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Selamat dan sukses untuk kalian."
Tetua Haki melibaskan tangan dan detik berikutnya banyak kupu-kupu warna-warni yang berterbangan.
Amdara bergumam, takjub dengan yang dilakukan Tetua Haki. Membuat benda hidup sangatlah sulit bahkan bisa dikatakan mustahil.
Tetua Haki kembali ke bangkunya. Tetua Wan bertepuk tangan dan mengembangkan senyum.
"Seperti yang telah disampaikan Tetua Haki. Ini adalah pertandingan persahabatan bukan permusuhan. Siapa pun pemenangnya nanti, kalian tidak boleh ada rasa dendam satu sama lain."
__ADS_1
"Aku akan membacakan syarat dan ketentuan di pertandingan ini." Tetua Wan memperkeras suara hingga sangat jelas terdengar oleh penonton.
Dalam pertandingan kali ini dijelaskan bahwa para peserta tidak dibenarkan untuk membunuh lawan, menggunakan senjata rahasia atau pun racun. Pertandingan harus berjalan sportif tanpa adanya tipu muslihat. Jika sampai salah satu dari peserta melakukan kecurangan, maka akan langsung didiskualifikasi oleh wasit.
Selanjutnya Tetua Wan menjelaskan bahwa peserta akan dianggap kalah ketika tidak sadarkan diri dan keluar dari arena pertandingan serta pertandingan akan dihentikan jika peserta mengalami luka serius, dan satu lagi jika peserta mengatakan menyerah.
"Pertandingan hari ini adalah individu dari setiap kelompok mengirim tiga. Jika ketiganya lolos, maka akan langsung berlanjut untuk pertandingan babak utama."
Kata-kata Tetua Wan memicu kegaduhan. Sangat tidak menyangka pertandingan kali ini adalah individu. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang berkelompok.
"Baiklah. Dengan ini pertandingan dimulai ...!"
Bunyi terompet dan gong yang dikeluarkan oleh kekuatan Tetua Wan bersahutan meriah dengan suasana gaduh yang pecah. Para penonton yang tidak menyangka tetapi tetap menyambutnya dengan semangat.
Berbeda dengan beberapa peserta yang menunjuk teman-teman satu kelompok untuk maju.
Tetua Wan menerbangkan nama-nama kelompok pada sebuah lencana. Kemudian mengacaknya.
"Kelompok kelas Satu Tingkat A melawan kelas Dua Tingkat A."
Suara gemuruh para peserta memicu semangat. Mereka tak sabar melihat pertandingan individu ini. Apalagi dari wali kelas masing-masing langsung berdiri dan menyerukan nama murid didiknya serta memberi semangat.
Seorang bocah yang usianya lebih muda dari perwakilan kelas Dua Tingkat A nampak bergetar saat berjalan ke arena pertandingan. Wajahnya sudah pucat pasi.
Kedua perwakilan kelompok itu saling berhadapan dan memberi hormat. Di tengah-tengah mereka Tetua Wan sebagai wasit memberi aba-aba untuk keduanya memulai pertandingan.
Setelahnya perwakilan kelompok kelas Dua A melesat dan menyerang tanpa meninggalkan celah. Sementara lawan yang kesulitan nampak terpental langsung.
Pertandingan terlihat monoton karena tidak ada perlawanan serius. Satunya menyerang, satunya memilih bertahan. Apalagi kekuatan mereka tidaklah menarik untuk dilihat. Pertandingan yang tidak menarik itu tidak jadi tidak terlalu diperhatikan oleh penonton.
Sampai pertandingan kedua dimulai, dan lawan yang dengan bodohnya keluar dari arena pertandingan karena terus mengambil posisi bertahan. Kejadian itu membuat sebagian penonton nampak menyoraki.
Amdara mengembuskan napas melihat pertandingan di depannya. Dia akan mendapat kesempatan mewakili kelompok begitu pula dengan Inay dan Aray yang jelas-jelas bisa mengeluarkan kekuatan.
__ADS_1
Beberapa lama pertandiangan bosan juga melihatnya karena terlihat tidak seru. Padahal peserta yang tengah berduel itu sedang mengerahkan kekuatan agar bisa memenangkan pertandingan awal. Sampai empat kelompok berakhir begitu cepat.
"Kelompok selanjutnya kelas Satu C melawan kelas Tiga Tingkat Unggulan."