
Inay melesat pergi ke arah gerbang Akademi, dia memutuskan menenangkan pikiran dengan cara mengambil misi dan sekalian berburu Roh Hitam. Beruntung, dia sudah bisa mendapatkan misi karena kemampuannya sudah dianggap mampu membawa sebuah misi.
Inay saat ini butuh pelampiasan. Dan tentu yang menjadi sasarannya adalah Roh Hitam yang berada di sebuah desa. Walaupun Inay belum tahu betul di mana lokasi yang akan dituju, tapi dirinya mendapatkan peta dari salah seorang senior.
"Tidak tahu apakah Luffy melenyapkan Roh Hitam atau tidak. Hmph, aku sangat kesal sekarang. Jika seperti ini, aku akan segera pergi dari Akademi dan kembali ke Organisasi. Rasanya berburu lebih menyenangkan ketimbang harus berkutat dengan pena dan kertas."
Inay menggelembungkan pipi. Saat ini dia sedang menuju lokasi yang dikatakan ada Roh Hitam. Inay teringat dengan teman-temannya yang lain. Emosinya jadi tidak stabil. Dia berucap, "Siapa peduli? Mereka hanya memanfaatkanku dan Luffy. Cih, aku akan membalasnya suatu saat nanti."
*
*
*
Sementara itu, rombongan Dirgan sekarang sudah pergi melakukan aktivitas masing-masing. Dirgan sendiri tengah berada di asramanya. Dia mengambil benda pusaka yang dia dapat dari pertandingan antar kelas.
"Jika bukan karena Luffy, aku tidak akan mendapatkan benda ini."
__ADS_1
Dirgan tersenyum, teringat bagaimana Amdara yang mati-matian berjuang di pertandingan. Dirgan mengusap Tongkat Pusaka, dirinya kemudian memerhatikan tongkat tersebut dengan baik. Satu minggu ini dia sudah belajar menggunakan Tongkat Pusaka. Di luar dugaan, Dirgan sekarang tanpa diketahui siapa pun sudah bisa mengeluarkan kekuatan dari Tongkat Pusaka. Padahal, Dirgan belum bisa mengaktifkan kekuatan dalam tubuh. Ini memang aneh, tapi Ketua Kelas Satu C itu cukup senang dirinya bisa berlatih dengan baik tanpa ada pembimbing.
Dirgan hanya mengandalkan buku di perpustakaan mengenai cara menggunakan sebuah benda pusaka. Dia sudah membaca tiga buku sekaligus untuk memahami menggunakan benda pusaka tersebut.
Dirgan mengangkat tangan yang memegang Tongkat Pusaka, dia menarik napas dalam dan mulai menutup mata. Cahaya emas keluar dari Tongkat Pusaka, kemudian sebuah kekuatan mengelilingi tongkat dan juga Dirgan. Cahaya emas memenuhi kamar. Angin berhembus membawa ketenangan serta kekuatan besar.
Merasakan kekuatan yang hanya mengalir di bagian tangan, Dirgan membuka mata perlahan. Sesuatu yang sangat aneh terjadi. Mata Dirgan dalam sepuluh detik berubah warna menjadi kuning keemasan, bahkan aura wibawa serta agung menguar dari tubuhnya.
Dirgan mengarahkan Tongkat Pusaka ke jendela kamar yang terbuka. Sebuah lesatan cahaya yang merupakan kekuatan dari benda pusaka itu melesat keluar. Suara ledakkan terdengar bahkan sampai membuat bangunan asrama bergetar hebat. Ketua Kelas Satu C itu menurunkan tongkat, berjalan mendekat ke arah jendela dan memandang keluar.
"Aku akan membalas budi dua kali lipat padamu, Luffy. Kau adalah teman sekaligus orang yang kuanggap adik."
Dirgan menarik napas dalam. Dalam hati sudah bertekad agar bisa lebih kuat. Selama tiga tahun yang akan datang, dia berusaha keras menjadi kuat agar bisa melindungi balik bocah berambut putih.
Sebenarnya bukan hanya Dirgan yang saat ini sedang berlatih. Namun, Aray di kediaman Guru Aneh juga sedang berlatih keras. Dia mendapat pengajaran langsung dari Guru Aneh dalam menggunakan benda pusaka berupa Kapak Phoenix.
Kapak Phoenix ini merupakan senjata yang dapat mengeluarkan hawa panas. Bahkan Aray sekarang sedang belajar agar dirinya bisa melesatkan kekuatan berelemen api. Usahanya sangat berat dilakukan. Karena emosinya yang tidak stabil, pembelajaran sering terhenti. Guru Aneh sudah menegur Aray berulangkali agar bisa mengontrol emosi.
__ADS_1
Menggunakan kekuatan haruslah memiliki ketenangan jiwa agar kekuatan yang keluarkan sempurna dan juga stabil. Dalam pertandingan, jika sampai terpancing emosi dan mengeluarkan kekuatan maka kekuatan itu tidak akan terlalu besar. Berbeda dengan bertarung dengan cara yang tenang.
Kediaman Guru Aneh sudah menjadi korban kebakaran oleh kekuatan Kapak Phoenix. Aray sekarang mendapat hukuman barupa harus menulis aturan Akademi sebanyak seribu baris. Tentu seorang Aray akan memberontak, tapi Guru Aneh langsung menciptakan alat aneh agar Aray mau menurut. Alat tersebut dapat membuat Aray tidak bisa bergerak, dan juga bisa menggelitiki tubuh Aray. Bocah yang emosinya tidak stabil itu akhirnya menyerah dan mulai belajar ketenangan diri.
Di sisi lain, teman-temannya yang lain juga sedang fokua berlatih menggunakan benda pusaka. Seperti Rinai yang saat ini berada di hutan buatan membawa Busur Es. Dia tersenyum sekilas, saat ini dirinya sudah berdiri di salah satu batang pohon. Tangannya terulur, bersiap melesatkan panah ke arah salah satu pohon.
Angin sekitar sudah berubah menjadi hawa dingin. Bahkan Rinai merasakan darahnya membeku, tapi dia anehnya merasa nyaman. Tepat ketika satu panah berhasil mengenai satu pohon itu, langsung berubah menjadi es sepenuhnya. Bahkan dalam hitungan detik meledak seketika. Senjata pusaka tingkat menengah ini memang benar-benar mengerikan seperti yang lain.
Senjata Lotus, merupakan senjata dengan bentuk bunga. Benda tersebut sedang dilatih oleh Nada di salah satu tempat kosong. Dia memilih pergi keluar Akademi malam-malam tanpa diketahui siapa pun, tentunya menggunakan jalan rahasia. Nada cukup kesulitan menggunakan benda itu, membutuhkan kelinci percobaan dalam melakukan hal ini. Awalnya Nada berniat membawa Atma, sayang sekali bocah percaya diri itu sedang meracik ramuan aneh lagi.
Atma beberapa kali membuat suara debaman keras karena salah menggunakan resep dari kitab yang pernah diberikan Amdara mengenai obat-obatan. Menggunakan benda Pusaka Periuk, Atma merasa sangat beruntung karena Periuk itu tidak akan pecah ketika ramuannya meledak. Sudah setengah dari kitab yang diberikan Amdara padanya dia baca. Awalnya Atma sangat kebingungan, tapi tidak berlangsung lama sampai dia bisa memahami isi dari kitab tersebut. Banyak usaha yang dilakukan Atma agar bisa mendapatkan tanaman herbal, selain itu dia juga berusaha mencari benda yang digunakan untuk membuat sebuah ramuan.
Berkat kitab yang dipinjamkan itu, Atma merasa dirinya akan segera bermanfaat bagi orang sebentar lagi. Atma juga mendapatkan laporan bahwa ramuan aneh yang pertama kali dia ciptakan memiliki khasiat yang luar biasa. Dari penuturan Para Tetua, mereka yakin Atma suatu saat nanti akan menjadi seorang Alkemis hebat dan membawa nama Akademi Magic Awan Lagit melambung tinggi di dunia ini.
Atma memberikan hasil uji cobanya kepada Tetua, berharap Tetua dapat memberikan izin agar dirinya melakukan uji coba kepada pasien. Tanpa di duga Tetua Akademi tersebut langsung menyetujui. Atma juga sekarang telah diberi beberapa tanaman herbal secara cuma-cuma, tapi dengan syarat bocah itu dapat menciptakan ramuan hebat lainnya untuk Akademi.
Semua teman-teman Amdara sedang berusaha keras menjadi kuat. Mereka berlatih siang dan malam tanpa merasa kelelahan. Malah sangat bersemangat berlatih menggunakan benda pusaka. Mungkin yang belum berlatih dengan benda pusaka adalah Amdara seorang diri. Karena dirinya saat ini belum memiliki kesempatan untuk berlatih.
__ADS_1