
Di ruang perobatan, Tetua Rasmi sudah tidak ada lagi. Dia berteleportasi mencari Tetua Bram. Sementara yang menjaga Amdara sekarang adalah Orion dan rekan-rekannya. Mereka berulangkali memeriksa kondisi Amdara yang kadang detak jantungnya melemah, dan tubuhnya semakin dingin.
Sore datang, Tetua Rasmi belum juga kembali membuat Orion dan yang lain dibuat kebingungan harus melakukan apa.
Di lapangan depan Akademi, Tiga Guru Besar telah melayangkan kertas-kertas hasil ujian. Para peserta berbaris rapi dengan perasaan gusar. Guru Kawi mulai membacakan nilai setiap peserta dan memberi nilai kelompok sekaligus. Nama-nama mulai dibaca, ada yang mendapat nilai di bawah lima puluh, dan langsung diarahkan Guru ke sebelah lain barisan. Kelompok yang tidak sampai mendapat nilai lima puluh ke bawah, menghela napas lega. Sementara kelompok yang mendapat nilai lima puluh kurang terlihat saling menyalahkan.
Kelompok kelas satu c dibacakan, nyaris tak ada yang percaya dengan lontaran kalimat dari Guru Kawi.
"Aku sepertinya meremehkan ikatan batin sebuah pertemanan." Guru Kawi tersenyum ke arah kelompok kelas satu c. Dia mulai berbicara lagi. "Nada, tujuh puluh. Rinai, tujuh puluh. Atma, tujuh puluh. Inay, tujuh puluh. Aray, tujuh puluh. Dirgan, tujuh puluh."
Sontak keadaan dibuat riuh. Dirgan menatap tak percaya ke arah Guru Kawi yang selanjutnya membacakan nilai peserta lain.
Atma juga terlihat tersedak napas sendiri sampai terbatuk tidak percayanya. Dia berkata, "a-apa itu benar?"
Aray membuka mata dan mulut dan seketika menggeleng. "Aku tidak terlalu dekat dengan kalian. Bagaimana mungkin Guru Kawi mengatakan ...."
Inay memukul perut Aray seketika yang langsung ditangkis. Tentu Aray terkejut dengan tindakan teman Amdara ini.
"Apanya yang tidak dekat?! Haih, kita ini kelompok monster kecil. Berjuang memperbaiki nama pribadi dan kelas, tahu ...!"
Inay kali ini mencubit pinggang Aray yang tak sempat menghindar merintih kesakitan. Dia berucap, "hei, hentikan. Aduh!"
Tidak ada yang peduli dengan tingkah kedua bocah itu. Rinai terduduk, dia menangis sejadi-jadinya. Mungkin saja yang dikatakan Guru Kawi benar. Mereka memiliki pertemanan yang cukup erat. Selama lima tahun ini, Rinai merasa mereka tak pernah sedekat ini. Jika dipikir lagi, kedatangan Amdara dan Inay memang membawa perubahan baik pada mereka.
"Khakhakhaa. Kita, lolos? Berhasil? Tiga kali berhasil berturut-turut?" Nada nampak tak percaya. Dia memegang boneka erat.
Cekikikan tetapi buliran air matanya lolos dari pelupuk mata. Tidak peduli dengan nama-nama yang masih disebut Guru Kawi.
Dirgan menghapus setetes air yang keluar dari mata. Dia tersenyum lalu mengangguk membenarkan kalimat Nada. Dia berkata, "usaha yang tidak mengkhianati hasil."
__ADS_1
Atma langsung melompat dan terlihat senang sekali. Dia berkata ini semua karena mereka yakin pada diri sendiri dan pada kelompok. Kekuatan pertemanan yang pertama kali dia rasakan.
"Kita harus merayakannya!" kata Atma semangat dan diangguki yang lain.
"Tapi ...." Aray mengalihkan pandangan ke tempat lain. Raut wajahnya yang awalnya senang terlihat risau oleh sesuatu. Dia berujar, "aku bukannya mengganggu suasana hati kalian. Tapi apa kalian akan bersenang-senang sementara teman satu kita tengah berada dalam kondisi tidak baik?"
Dirgan, Atma, Inay, Rinai, dan Nada seketika bergeming. Mereka hampir melupakan Amdara yang tengah merasakan sakit luar biasa. Raut wajah mereka pun jadi sedih karena mengingat bagaimana perjuangan Amdara.
"Mengapa setiap Luffy mendapat masalah kita tidak berada di sampingnya?"
Perkataan Dirgan membuat teman-temannya merasakan perasaan aneh dan ingat kebaikan Amdara selama ini.
Atma menunduk. Mengingat wajah Amdara membuatnya mengepalkan tangan. Perkataan Dirgan benar. Mereka selalu tidak berada di sisi Amdara saat bocah itu seharusnya mendapat pertolongan mereka. Amdara pernah menolong mereka, tetapi rasa-rasanya Atma dan yang lain belum pernah menolong Amdara.
Inay pun merasa demikian. Teringat saat menjalankan misi pertama, kejadian di penginapan yang mana Amdara mengorbankan nyawa demi menyelamatkan teman-teman. Sementara Inay sendiri tak bisa menyelamatkan Amdara waktu itu yang membuat masalah besar datang. Akibatnya Amdara mendapat Benang Merah yang sulit dihilangkan. Amdara jadi lemah dan tidak bisa melindungi diri sendiri. Semua alur perjalanan mereka membawa Amdara dalam masalah yang dia hadapi sendiri. Inay yang seharusnya bisa melindungi, tetapi dia juga terlalu lemah dan tak bisa berada di samping Amdara.
Inay menenggak ludah gusar. Dia mengepalkan tangan saat mengingat sebenarnya Amdara selalu kesulitan dalam setiap langkah. Hanya saja dia menutupinya dengan wajah tanpa eskpresi itu.
Perasaan bersalah juga dirasakan Rinai dan Nada. Keduanya mengingat betapa baiknya Amdara selama ini.
Suasana yang awalnya gembira seketika berubah drastis. Aray mengembuskan napas dan berkata, "sebaiknya kita lihat keadaan Rambut Putih sekarang."
Dirgan mengangguk setuju. Mereka akhirnya memutuskan pergi ke tempat perobatan setelah acara selesai.
*
*
*
__ADS_1
Suara alir mengalir tenang disertai hawa dingin yang dirasakan seseorang membuat dia membuka mata perlahan. Kejernihan mata birunya nyaris persis dengan ketenangan langit tanpa awan putih. Bocah berambut putih itu duduk dan mengedarkan pandangan ke sekitar.
Di hadapannya sungai biru mengalir tenang di tengah-tengah pepohonan hijau. Tak terlihat binatang atau makhluk lain selain dirinya. Tempat asing sekaligus tempat yang membuatnya tenang. Suara dedaunan pepohonan karena angin menjadi suara penambah ketenangan.
"Di mana ini?"
Namun, bagaimana pun dia harus tetap waspada. Dia bangkit dan berjalan ke arah sungai yang tenang itu. Angin melambai-lambaikan ikat rambut yang dia pakai.
"Dara ...."
Suara lembut seseorang dari belakang bocah yang tidak lain Amdara segera menoleh.
Seorang wanita berparas cantik, memakai jubah hitam dengan corak naga melangkah mendekat. Rambut warna putih bergelombangnya terambai-ambai oleh angin. Jepit rambut berukiran bangau biru terpasang. Dia memakai cadar tipis, tetapi Amdara bisa melihat kecantikan wanita itu. Tatapan mata hitam pekatnya nampak sayu, menatap Amdara lama.
Merasa tak ada bahaya, Amdara masih bergeming. Dia terlalu terlarut melihat wanita anggun itu. Seperti pernah melihatnya tetapi lupa di mana.
"Siapa kau?"
Pertanyaan Amdara membuat wanita kisaran berumur 30 tahun itu tersenyum manis. Dia menghentikan langkah tepat satu langkah dari bocah di depannya.
"Kau tak mengenalku?"
Amdara tak menjawab. Pikirannya yang tenang seketika berubah kacau. Suara yang menenangkan sekaligus terasa menekan membuat Amdara memundurkan langkah. Dia menahan napas sejenak saat wanita itu maju dan tanpa aba-aba mengulurkan tangan menyentuh wajah Amdara.
Tak ada penolakan dari bocah itu. Tubuhnya yang awalnya dingin mulai terasa menghangat mendapat sentuhan pelan itu.
"Kau benar-benar tidak mengingatku, Dara?"
Mata hitam itu terlihat kecewa. Diusapnya pelan pipi putih nan halus itu.
__ADS_1
Amdara menggeleng pelan. Perasaannya mendadak merindukan seseorang. Dia berkata, "apa kau mengenalku?"