Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
168 - Pengetaman Permata Siluman


__ADS_3

"I-ini sungguh mengerikan. H-hah ...." Shi perlahan menarik napas pelan. Tubuhnya masih terasa lemas untuk sekarang.


Amdara yang melihatnya menggelengkan kepala. Dia yang sudah melakukan hal ini saja terlihat tenang, berbeda dengan Shi. Kedua bocah itu sudah pergi lebih jauh dari pertarungan. Duduk bersila sambil menikmati langit malam serta angin dingin yang berhembus.


Pertarungan masih belum usai, bahkan dari kejauhan saja langit terlihat memercikkan kembang api yang berasal dari kekuatan para siluman. Suara jeritan disertai tanah bergetar sejak siang tadi hingga sang dewi malam datang tidak berhenti.


Amdara sudah membantu Shi untuk lebih tenang dengan menepuk-nepuk punggung kakak seniornya ini. Dia berucap tenang, "semua akan baik-baik saja."


Shi mengatupkan bibir. Batinnya masih terguncang hebat, dia melirik Amdara yang sangat tenang tanpa mencemaskan apa-pun.


Shi dengan terbata-bata bertanya, "L-luffy ... b-bagaimana kau bisa memiliki pemikiran seperti ini?"


Amdara menghentikan menepuk-nepuk punggung Shi. Dia terdiam sebelum berujar, "aku ingin cepat kembali."


"I-itu bukan jawaban yang ingin aku dengar," tutur Shi menatap Amdara dalam. Entah mengapa Shi merasa Amdara sudah sedikit berubah. Dari auranya saja, Shi merasa Amdara jauh lebih kuat dari sebelumnya. Padahal mereka berburu di hutan baru beberapa hari.


Amdara menghembuskan napas, bingung sendiri dengan tindakannya ini. Namun, dia tidak berbohong bahwa ingin segera kembali ke kediaman Tetua Haki.


"Senior, kita tidak mungkin melawan mereka untuk mengambil permatanya. Aku melakukan ini agar mereka saling bertarung, sampai lemah. Saat itu kita akan mengambil kesempatan."


"Luffy ... ini memang bagus. Tapi aku merasa, bukankah terlalu kejam membuat mereka saling bertarung mengenaskan? Seperti pecundang yang mengambil kesempatan saat lawan lemah."


"Apa saat kita menghabisi mereka senior memikirkan 'kekejaman'?" Amdara menghela napas. Dia berujar pelan, "di sebuah pertarungan nanti, siapa yang cerdik dia menang. Tidak peduli cara yang digunakan, karena memang sejak awal tidak ada peraturan dalam pertarungan."


Shi terdiam, dia menatap mata sejernih air laut milik lawan bicara. Cara yang digunakan Amdara memang cepat, tetapi Shi yang sudah lama hidup di aliran putih atau di Akademi yang diajarkan agar bertarung secara adil tanpa ada kecurangan, Shi memiliki pemikiran berbeda.

__ADS_1


Shi menggeleng, mencoba menyangkal mengenai 'kekejaman' saat bertarung. Dirinya menepuk lutut Amdara dan kemudian buka suara, "itu sangat berbeda. Saat kita bertarung secara adil, tidak ada kekejaman. Bertarung menggunakan kekuatan masing-masing, dan membuat lawan kalah. Hanya itu."


"Di pertarungan memang tidak memiliki aturan. Tapi bukankah kita diajarkan untuk tidak berbuat curang hanya demi kemenangan? Kemenangan yang keren adalah kemenangan dari segenap kekuatan kita sendiri," lanjutnya.


Shi menurunkan pandangan. Dia membuat Amdara terdiam memikirkan ucapannya. Amdara juga ikut menurunkan pandangan, selama ini dia bertarung secara brutal tanpa memikirkan apakah yang dilakukannya kejam, atau pun curang. Selama ini, bocah itu berlatih sesuai apa yang dipikirkan tanpa peduli pandangan orang lain, lantaran sejak hidup dan diberi ajaran oleh Organisasi Elang Putih, dia ditempa menjadi sosok tanpa belas kasih kepada musuh yang tidak pantas diampuni apalagi diberi kesempatan kedua. Terlebih ke Roh Hitam. Ajaran dari Guru Aneh juga sebenarnya hanya beberapa yang Amdara terapkan, karena menurutnya dia akan bertindak seperti yang dipikirkannya matang-matang dan yang menurutnya benar.


"Sepertinya ajaran kita berbeda, Senior." Amdara menyenderkan kepala ke pohon. Menatap langit malam menenangkan. Tanpa nada berkata kembali, "aku akan melakukan sesuatu yang dianggap benar. Tidak peduli pandangan orang lain. Karena apa yang aku lihat, rasakan, dan dengar mereka tidak akan mengerti."


Dari nada bicaranya, Shi mengartikan suatu hal. Amdara seolah sudah memiliki banyak pengalaman hidup. Makanya bisa berbicara seperti ini. Shi juga menyenderkan kepala di pohon yang sama. Perasaannya sudah tidak lagi ketakutan, bahkan dia tidak memperdulikan suara pertarungan para siluman.


"Kita belajar di satu Akademi. Mengapa bisa berkata demikian?" Shi melirik Amdara. Shi kemudian melanjutkan, "apa sebenarnya kau adalah murid Akademi di Negeri Elang Bulan sebelumnya?"


Amdara tersedak napas sendiri. Melirik teman di samping yang sedang curiga. Dirinya menenangkan diri, dengan cara memejamkan mata. Identitasnya tidak boleh sampai ketahuan.


Dia berujar pelan, "Aku memang pernah belajar di Negeriku."


Amdara membuka mata. Dia tidak ingin berbohong, tapi tidak ingin pula Shi bertanya lebih jauh. "banyak pelajaran yang aku dapat selama ini. Tindakanku sebagian dari pemikiran sendiri."


"Benarkah? Entah mengapa aku merasa kau lebih berpengalaman dariku," kata Shi sambil mendengus.


Keheningan terjadi beberapa saat. Sampai akhirnya Amdara berkata, "senior, pada intinya aku akan tetap melakukan hal yang kuanggap benar. Seberapa banyak pengajaran dari orang lain, aku akan menggunakan pemikiran sendiri dalam bertindak."


*


*

__ADS_1


*


Semalaman pertarungan keempat kelompok siluman sangat sengit. Tidak ada yang mau mengalah, sampai sinar matahari kembali muncul, mereka sudah mulai kewalahan. Kekuatan mereka sudah berkurang sangat banyak. Tempat tersebut menjadi sangat kacau. Bahkan penampilan mereka sudah babak belur.


Amdara dan Shi sudah bersiap menyerang di detik-detik para siluman lengah. Keduanya membagi dua puluh siluman secara adil. Menghabisi mereka dengan cepat dan mengambil permata silumannya.


Menggunakan kekuatan api, Shi membakar Siluman Laba-laba Tikus Bertaring, setelah mengambil permatanya. Dia menarik napas dalam, memerhatikan permata berwarna coklat di genggaman tangan.


"Haih, sudahlah. Setelah ini langsung kembali."


Dia menyimpan permata siluman. Kembali menyerang salah satu Siluman Cacing Berbulu, melesatkan serangan dahsyat. Siluman Cacing Berbulu masih sempat melawan, menangkis serangan yang datang kemudian menyerang balik. Perlawanan terjadi beberapa saat sampai akhirnya dia tewas di tangan Shi di jurus berikutnya.


Darah sudah berceceran di mana-mana. Tubuh para siluman bergelimpangan tidak bernyawa. Amdara dan Shi seolah sedang memanen permata siluman sekarang.


Amdara juga melakukan serangan tapi tidak menggunakan jurus yang berhubungan dengan api karena tidak ingin Shi terkejut dan melakukan pertanyaan beruntun. Dia menggunakan jurus angin beliung dan air untuk dilesatkan. Nyatanya walau para siluman ini sudah lemah, tapi masih kuat untuk memberikan serangan balasan. Apalagi Amdara menyerang tidak langsung di titik vital.


Amdara harus mengeluarkan kekuatan besar untuk menghabisi kesepuluh siluman serta mengambil permata dengan warna berbeda-beda dan tentunya kuliatas juga berbeda.


Amdara menginjak taring Siluman Laba-laba Tikus Bertaring warna putih susu. Dia kemudian mengambilnya dan memerhatikan dengan baik. Tanpa di duga memasukkan taring tersebut ke dalam Cincin Ruang, tidak hanya itu bahkan mengambil kulit dari Siluman Lintah Berbaja. Entah apa yang dipikirkan bocah ini.


"Luffy, apa kau sudah selesai? Mn? Untuk apa kau mengambil kulit siluman ini?"


Shi mendarat di samping Amdara. Dia sudah mengumpulkan permata siluman, dan hendak mengajak Amdara kembali.


"Mn. Kupikir akan berguna suatu saat nanti. Ayo kembali,"

__ADS_1


Shi mengedutkan sebelah alis mendengar jawaban barusan. Dia mengikuti Amdara yang sudah melesat terlebih dahulu.


Keduanya sama sekali tidak menyadari sejak semalam sudah diawasi oleh seseorang. Orang tersebut juga melesat entah ke mana.


__ADS_2