
"Kau bisa jelaskan semuanya."
Kini Fans dan Amdara berjalan beriringan di tengah-tengah kota yang tidak terlalu ramai. Amdara mengembuskan napas sebelum berbicara. Dirinya tidak tahu harus berbicara dari mana.
"Aku menjalankan misi dari sekolah dan Inay menghilang."
Amdara tidak mengatakan secara jelas. Bahkan dirinya tidak mengatakan masalah di penginapan. Pasalnya Amdara tidak ingin dipandang remeh oleh senior Fans sebab akan terlihat dirinya lemah.
Senior Fans menghentikan langkah dan menoleh. "Jelaskan semuanya. Bagaimana bisa Inay menghilang? Atau kau yang malah menghilang?"
Amdara menghentikan langkah dan kemudian berkata, "aku tidak bisa menjaga diri sampai kalah dari lawan."
Amdara mengalihkan pandangan. Dia mengepalkan tangan kuat. Menjelaskan awal mula dirinya sampai kalah dan Inay yang pergi membawa teman-temannya ke tempat aman dan pada akhirnya dia diselamatkan Nenek Nian. Amdara masih belum mengetahui keberadaan Inay. Dia berharap Inay baik-baik saja.
"Hah, kau memang lemah." Senior Fans menepuk pelan kepala Amdara kemudian melanjutkan berjalan.
Fans tahu Amdara tidak sekuat yang Tetua Bram katakan. Entah ada alasan apa Tetua Bram mengirim Amdara ke negeri ini hanya untuk melenyapkan Roh Hitam.
"Sekarang bukan waktunya mencari Inay. Tapi mencari cara agar kau bisa menggunakan kekuatanmu dengan baik."
Amdara tersentak, dia berjalan dan berkata, "aku baik-baik saja. Kita cari Inay sekarang."
"Benang merah itu akan segera menyebar jika kau tidak segera mencari cara menghilangkannya atau setidaknya mencegah penyebaran benang tersebut."
Fans memiliki mata langka yang mana bisa melihat penyakit apa pun dari dalam tubuh manusia. Kemampuannya itu hanya beberapa orang saja yang mengetahui dan Amdara salah satunya.
"Senior tahu caranya?" Amdara tentu akan merasa kesulitan saat menyerang musuh. Tetapi waktu yang dibutuhkan pasti tidaklah sedikit.
"Tidak." Fans berkata datar. Amdara mengembuskan napas kesal.
"Kau cari tahu sendiri."
Amdara hanya mengangguk. Dia sama sekali tidak berpikir meminta bantuan orang seperti Senior Fans yang dingin dan kejam.
__ADS_1
Angin sore meniup rambut Amdara. Matanya terpejam sejenak. Mungkin jika dia tidak mengajak teman-temannya, dia tidak akan kehilangan mereka. Jika saja dirinya tidak menghiraukan teman-temannya untuk ikut menjalankan misi, keadaan tidak akan seperti sekarang. Amdara menyesal. Ini salahnya.
Amdara mengepalkan tangan kuat. Perasaan aneh itu muncul kembali. Perasaan takut kehilangan dan kekhawatiran yang semakin menjadi.
Amdara menaikan sebelah alis ketika pendengarannya seperti mendengar sesuatu yang tidak jauh darinya. Ketika dirinya memfokuskan pikiran untuk mendengar, raut wajahnya seketika memburuk.
Seperti yang dikatakan Nenek Nian, pelatihan yang diberikan akan efektif jika seseorang tersebut genius. Sekarang Amdara lebih peka terhadap sekeliling dan ini merupakan hal yang cukup menakjubkan.
Amdara langsung membuka mata dan melesat begitu saja ke atap salah satu toko. Senior Fans yang melihat terkejut dan terbang ke arah Amdara.
"Ada apa?"
Amdara menunjuk segerombolan bocah berpakaian khas Akademi yang tengah berjalan sambil berbincang.
"Kau mengenalnya?"
Sekitar lima orang bocah dan salah satunya adalah bocah yang dikenal Amdara. Mata hitam pekat dan wajah yang dingin tetapi tampan itu berjalan paling depan. Yang tidak lain Cakrabuana.
Amdara baru saja akan mengubah warna rambut tetapi rasanya sangat sulit. Kekuatannya terhambat.
Bocah berambut putih itu langsung bersembunyi di belakang Senior Fans. Detakan jantungnya berpacu lebih cepat. Dia merasakan bahaya yang akan menimpa jika Cakra yang barusan menatap dari jauh mengenalinya.
"Mn?"
Senior Fans tentu merasa keheranan. Dia menoleh ke belakang melihat Amdara yang berwajah sedikit pucat walaupun datar.
Tatapan Senior Fans langsung menuju ke arah segerombolan anak berseragam Akademi.
Tatapan Senior Fans bertemu dengan Cakra. Mereka saling tatap tanpa ada sepatah kata yang keluar.
"Sebaiknya kita segera pergi." Fans langsung melesat, Amdara yang tersentak mengikuti dari belakang tanpa bertanya kembali. Amdara rasa Cakra pasti telah diperintahkan oleh Tetua untuk mencarinya dan yang lain terlebih Amdara dan Inay adalah penyusup bagi mereka. Ketidak hadiran mereka selama ini jelas akan dicurigai.
Yang dikatakan Amdara memang benar. Saat ini Aray dan murid kelas Satu C tengah mencari Amdara, Inay, Ketua Kelas Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada yang tiga hari tidak kelihatan batang hidungnya. Mereka telah mencari di asrama dan sekeliling sekolah tetapi tidak menemukan. Antara rasa khawatir dan curiga jelas terlihat di wajah Aray dan Guru Aneh yang sekarang berada di kediaman Guru Aneh.
__ADS_1
"Ke mana sebenarnya mereka pergi?"
Terlihat Aray mengepalkan tangan dan tatapannya terlihat tajam. Guru Aneh hanya bisa mengembuskan napas. Kabar mengenai hilangnya anak muridnya belum menyebar. Tentu ini kabar baik. Tetapi bukan berarti kabar ini akan terus tertutup. Sebab memang Amdara dan Inay adalah penyusup di sekolah ini jika mereka ketahuan menghilang tentu pencarian akan segera dilakukan. Namun, nyatanya sampai sekarang tidak terdengar tindakan dari Tetua maupun guru.
Guru Aneh sama sekali tidak berpikir Amdara dan yang lain melarikan diri. Dia masih berpikir positif.
"Apa kau bertanya pada murid lain dari kelas Satu C?"
Guru Aneh bertanya pada Aray yang langsung dijawab, "tidak. Untuk apa aku bertanya? Mereka pasti tidak tidak tahu."
"Kau belum mencoba. Ini hari ke-tiga mereka menghilang. Kita harus cepat mencari mereka atau hal buruk akan terjadi."
"Aku tahu. Tapi Guru, memang siapa yang harus aku tanyai?"
"Terserah kau."
Aray berdecak kesal. Dia memikirkan siapa yang akan ditanyai. Malam akan segera tiba, dirinya bahkan belum menemukan petunjuk apa pun.
Sinar bulan menyinari di gelapnya malam. Dua orang masih terus melesat dengan cepat tak tentu arah.
Lesatan merah baru saja akan melilit tubuh Amdara jika saja Senior Fans tidak cepat menangkis. Percikan api dari seledang hitam dan kekuatan Senior Fans membuat Amdara tersentak. Sebab dia tidak merasakan hawa keberadaan seseorang di sekitar. Begitu pula Fans yang untungnya mata tajamnya melihat lesatan cepat yang nyaris mengenai adik seperguruannya.
Hawa keberadaan seseorang sangatlah penting. Jika seseorang dapat menghilangkan hawa keberadaan, bahkan Senuor Fans sendiri tidak bisa mendeteksi orang tersebut maka lawan kali ini jauh mebjh berbahaya.
Perasaan Amdara memburuk. Kekhawatiran mulai muncul. Tubuhnya sekarang dalam kesulitan menyerap kekuatan dan sekarang harus berhadapan dengan musuh yang entah berasal dari mana.
Senior Fans menajamkan mata, waspada.
"Wah~ kali ini aku sangat beruntung bertemu pria tampan."
Seseorang muncul di balik selendang hitam. Wanita berumur 25 tahun bernama Fusi itu nampak menyeringai, jubah hitamnya dilamai-lambaikan oleh angin malam. Di bawah sinar rembulan, wanita itu terlihat cantik tetapi matanya amat tajam menatap dua orang di hadapannya.
Benar. Wanita itu yang pernah melilit tubuh Inay sebelumnya ketika malam Amdara hampir kehilangan nyawa. Fusi yang sekarang di hadapan Fans dan Amdara berubah wujud menjadi selendang hitam dan tanpa berkata kembali melesat menyerang.
__ADS_1