Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
163 - Sosok Misterius


__ADS_3

Sosok tersebut memejamkan mata. Menunggu si anak manusia tersadar kembali walau mungkin dalam waktu lama lantaran serangannya cukup fatal. Aura dari sosok tersebut sangat kental dengan kemisteriusan. wajahnya yang tidak terlihat membuat siapa pun tidak mengenali siapa dia sebenarnya.


Dugaannya memang benar. Satu hari terlewat tanpa ada tanda-tanda bocah itu berkutik. Bahkan ketika malam kedua pun, bocah itu masih menutup mata tenang. Sementara tidak ada rasa kepedulian dari sosok yang juga bergeming di atas batu.


Sampai akhirnya jari telunjuk Amdara berkutik sebelum matanya mulai terbuka perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit gelap. Setelah kesadarannya benar-benar terkumpul, dia tersentak dengan merasa kondisi tubuhnya terasa aneh lebih tepatnya seperti mendapat tekanan spiritual. Dia sontak menolehkan pandangan ketika mendengar suara geraman mengerikan bahkan menggetarkan gua tersebut.


Sesosok berjubah hitam mendekat ke arahnya. Aura mengintimidasi sangat terasa bahkan membuat bocah itu gemetar sebelum bibirnya bertanya siapa sosok di hadapannya. Tidak ada jawaban, tetapi Amdara dapat merasakan bahaya luar biasa jika sampai berurusan sosok berjubah hitam ini.


"Manusia lemah." Satu kata itu berhasil didengar Amdara. Dia menelan ludah kesulitan. Entah siapa sosok dihadapannya. Sosok itu mengangkat tangan, detik berikutnya Amdara merasa tekanan spiritual langsung menghilang. Sosok itu berkata dingin, "tapi tubuhmu istimewa."


Sosok tersebut kembali menggeram. Amdara langsung mengambil sikap waspada dengan berdiri dan menatap tajam lawan bicara.


"Apakah ini kutukan atau keberuntungan bagi umat manusia?" sosok tersebut kembali berujar. Dari suaranya, dia seorang pria dewasa.


Amdara tidak tahu apa dimaksud sosok di depannya. Bahkan Amdara tidak merasakan adanya hawa manusia, roh, atau siluman. Sangat misterius dan sangat membahayakan.


Sosok berjubah itu berbalik badan, sama sekali tidak mempedulikan Amdara yang sangat waspada terhadapnya.


Satu yang pasti, Amdara harus segera pergi dari gua aneh ini


Dia mengedarkan pandangan. Baru saja akan membuat portal untuk pergi, tapi sosok tersebut langsung menekan kekuatannya dan membuat dia jatuh ambruk merasakan dada sesak.


"Berani ingin melarikan diri dihadapanku?"

__ADS_1


Sosok yang masih belum diketahui itu kembali menghadap Amdara. Dia mendengus. Tangannya terangkat hingga membuat tubuh Amdara juga terangkat. Tidak ada perlawanan sama sekali karena Amdara sendiri sudah merasa bukan tandingan dia. Amdara jelas memberontak, mencoba menarik kekuatan alam, tetapi hal tersebut sama sekali tidak bisa diserap.


Tangannya melibas ke arah kanan, detik bersamaan Amdara juga menghantam dinding gua dengan sangat keras bahkan terdengar suara retakkan tulang. Rintihan bocah perempuan itu juga terdengar. Namun, sosok tersebut kembali menghantamkan tubuhnya tiga kali. Darah mencuat dari hidung, mengalir dari telinga bahkan mulutnya membantukkan darah segar. Napas Amdara tidak beraturan, tubuhnya amat sakit karena hantaman barusan.


"Memang lemah. Sangat tidak pantas menjadi pewarisnya." Sosok tersebut menyilangkan kedua tangan depan dada. Dia sama sekali tidak berniat membuka tudung atau memperkenalkan nama.


Amdara yang merasa masuk ke dalam sarang musuh hanya bisa berusaha berdiri walau itu sia-sia. Entah apa salahnya hingga mendapat serangan beruntun yang amat menyakitkan. Amdara terdiam ketika mendengar suara lawan bicara yang mengatakan Amdara tidak akan bisa pergi sebelum mendapat hukuman karena telah lancang mengganggu pergerakannya melawan musuh.


Sontak Amdara tersentak mendengar penuturan tersebut. Teringat terakhir kali tidak sadarkan diri karena mendapatkan serangan spiritual dan tidak asing dengan suara ini. Seketika Amdara menahan napas, melihat sosok yang sudah memunggunginya.


"Kau ... siluman."


Tidak ada jawaban. Namun, Amdara yakin dia adalah siluman yang sudah berumur 100.000 tahun hingga dapat berbicara dan menghilangkan hawa keberadaannya.


Beberapa menit berlalu, tidak ada yang buka suara kembali. Sementara suasana hening tersebut membuat Amdara bertambah waspada. Setelah merasa agak membaik, Amdara akhirnya berkata walau suaranya sangat pelan. Dia meminta maaf karena lancang mengganggu siluman ini, juga menjelaskan bahwa dia saat itu sedang waspada. Namun, lawan bicara malah tidak sepatah pun.


Amdara hanya menarik napas dan menghembusnya perlahan. "Siapa nama senior?"


"Hmph. Kau tidak pantas mengetahuinya."


"Bagaimana caranya agar aku bisa pantas dihadapanmu?"


Sosok yang dianggap siluman tersebut terdiam. Namun, dia malah berjalan ke arah batu dan duduk bersila di atasnya. Dia menggeram dan berkata, "aku akan memberimu hukuman."

__ADS_1


Amdara berkedip mendengar perkataan siluman yang entah apa itu. Dia berkata bingung, "apa setelahnya aku bisa mengetahui namamu?"


"Tsk. Kau akan kuhabisi jika berkata lagi." Dia kemudian menciptakan sebuah lapangan gurun yang mengeluarkan asap hitam. Melihat pemandangan tersebut, Amdara teringat bayangan yang pernah dilihat sebelumnya.


"Pergi, lenyapkan mereka semua." Roh-roh Hitam bermunculan di lapangan gurun tersebut. Tingkat kekuatannya juga berbeda-beda. Dia melirik Amdara yang masih tidak berdaya. Hanya dengan satu libasan tangan, rasa sakit serta luka luar dan dalam Amdara menghilang.


Amdara terkejut. Dia segera berdiri dengan melihat kedua tangannya tidak percaya.


Sosok siluman itu mendengus, dan mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengulang apa yang dia ucapkan barusan. Amdara kembali dibuat berkedip dia buka suara, "apa setelahnya senior akan melepaskanku?"


"Arrghh. Lakukan apa yang kuperintahkan. Ini adalah hukuman untukmu. Jika kau bisa kembali hidup-hidup, aku akan melepasmu."


Amdara menatap lapangan gurun yang sudah dipenuhi oleh Roh-roh hitam. Dia menarik napas dalam kemudian melesat pergi untuk melenyapkan Roh-roh Hitam itu. Dia bukannya tidak percaya dengan perkataan siluman itu, tapi satu hal yang ingin dilakukan Amdara sekarang. Ingin membasmi Roh-roh Hitam karena sudah lama tidak menggunakan jurus andalan dari organisasi.


Dengusan terdengar dari siluman itu, sebelum membatin, "apa ini takdir? Sudah lama aku tidak merasakan hawa kehadiranmu. Melihat bocah itu ... apa dia anakmu dengan manusia itu?"


Siluman tersebut menghela napas. Dia kemudian berujar pelan, "jika benar, maka dunia akan diguncang. Entah jalan apa yang dia ambil. Sampai mengambil jalan itu, dunia manusia hancur. Sementara jika mengambil jalan satunya ... duniamu yang akan hancur."


Dia masih memerhatikan Amdara yang dengan ganas tanpa tanpa gentar menghabisi Roh-roh Hitam. Amdara beberapa kali mengeluarkan jurus angin dan langsung melenyapkan roh hitam. Sudah sangat terlihat kekuatannya meningkat sejak pergi dari Akademi. Amdara juga sudah mendapat banyak pelajaran, walau demikian dia belum menganggap para Tetua dan guru lain sebagai guru sahnya.


Amdara menaik napas dalam. Ternyata bisa menyerap kekuatan alam dengan sangat baik. Hingga mendapat luka dari serangan Roh Hitam pun, regenerasi tubuhnya sangat luar biasa. Nyaris satu jam dia sudah menghabisi setengah dari banyaknya roh. Namun, di sisi lain hati kecilnya entah mengapa ada perasaan aneh. Perasaan yang membuatnya sedih.


Dia berdiri di salah satu batu tinggi. Angin mengibas-ibaskan jubahnya. Di hadapannya sekarang, satu Roh Hitam dengan ukuran tidak biasa menatapnya tajam. Sementara Amdara tidak merasa semangat lagi entah mengapa. Dia mengikat ikat rambut pemberian Are, siluman yang sedari tadi memperhatikan seketika membuka mata lebar dan melempar tudung hingga memperlihatkan wajah aslinya. Wajah silumannya menampakkan keterkejutan luar biasa, apalagi melihat Amdara melesat cepat menyerang satu Roh Hitam yang tersisa.

__ADS_1


__ADS_2