Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
107 - Arena Pertandingan (6)


__ADS_3

Sebelum acara benar-benar dimulai, Guru Aneh menghampiri murid didiknya dan memberikan wejangan-wejangan pada mereka. Di antaranya ketika Inay maju nanti, dia tidak diizinkan menggunakan kekuatan berlebihan karena ditakutkan Inay akan mengalami luka parah. Ketika sudah berada di ambang batas, Inay harus segera mengatakan menyerah. Menurut Guru Aneh, sekarang keselamatan anak muridnya lebih penting daripada kemenangan.


Tentu saja Inay merasa diperhatikan, sama seperti di Organisasi Elang Putih. Dia awalnya menolak karena tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan besar. Namun, setelah diberikan beberapa penjelasan kembali, dia akhirnya mengerti. Guru Aneh tidak ingin dia terluka hanya untuk sebuah kemenangan. Guru Aneh mengkhawatirkan dirinya pula karena dia sudah dianggap anak Guru Aneh. Yah, semua itu tentunya harus melihat kekuatan lawan terlebih dahulu.


Kesalahan Guru Aneh yang dia sesali adalah dirinya jarang memberikan wejangan pada murid didiknya. Bahkan sejak pertandingan awal, dia tidak mengingatkan Amdara agar lebih menjaga diri dari lawan yang tangguh. Melihat Amdara terluka parah karena pertarungan dengan senior, hati kecil Guru Aneh terluka. Dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.


Guru Aneh mengetahui bahwa Atma telah berhasil membuat ramuan aneh, tetapi dia juga sudah mendengar bahwa mereka mendapatkan penawarnya. Guru Aneh tidak bertanya lebih, melihat reaksi murid didiknya ini dia yakin ada yang sedang mereka sembunyikan. Guru Aneh hanya tersenyum, dia tidak boleh terlalu ikut campur urusan mereka. Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan yang ingin Guru Aneh tanyakan, tetapi antara waktu dirinya yang harus mengurus suatu urusan dan anak didiknya yang juga kadang sibuk dengan peraturan Akademi, dia jadi sulit mengatur waktu menanyakan banyak hal.


Mendapat perhatian dari Guru Aneh, Inay bertekad ingin tetap memenangkan pertandingan bagaimana pun caranya. Dia tidak ingin mengecewakan gurunya, walaupun telah diperingati keselamatan lebih utama. Namun, yang namanya Inay pasti keras kepala sama seperti Amdara. Jika tubuhnya merasa mampu, maka dia akan terus melangkah walaupun harus berseok-seok.


Arena pertandingan kali ini disinari oleh cahaya dari atas yang jelas tidak akan mengganggu peserta. Bukan hanya itu, bahkan beberapa cahaya yang berbentuk binatang juga menjadi hiasan. Rasa-rasanya ini dilakukan agar tidak terlalu tegang saat pertarungan.


Acara dimulai dengan sambutan dari beberapa Tetua, dan juga Guru Besar. Mereka lebih menyemangati dan tidak bosan mengatakan bahwa pertandingan ini diadakan untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan juga mengasah kemampuan.


Mendengar hal tersebut nyaris saja Aray dan Atma membanting bangku peserta jika tidak ditenangkan oleh Dirgan dan Inay yang juga bisa menahan amarah.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita lanjutkan pertandingan antar kelas ini dengan tertib. Aku sebagai wasit akan langsung menyebut peserta pertama."


Tetua Wan mulai menyebut nama-nama peserta yang langsung melesat ke arena pertandingan dan memberikan hormat sebelum memulai pertandingan. Bunyi kembang api sebagai petanda dimulainya pertandingan.


Beruntung bukan kelas Satu C yang maju pertama. Jika tidak, mampus sudah nasib Inay yang harus melawan kelas Tiga Tinggi.


Bocah berumur kisaran 16 tahun perwakilan kelas Tiga Tinggi itu melesatkan serangan bertubi-tubi pada lawan yang juga melesatkan serangan cahaya sambil membuat perisai pelindung. Pertarungan semakin sengit menit demi menitnya. Dari mereka belum ada yang terluka dan belum mengeluarkan jurus pamungkas.


Perwakilan dari lawan kelas Tiga Tinggi adalah kelas Tiga Tingkat A yang jelas-jelas konon telah bertahun-tahun menjadi lawan yang sengit sekaligus sulit dihadapi. Dari mereka tentu saja tidak ada perasaan benci, tetapi berbeda ketika memasuki arena pertandingan. Tidak kenal siapa teman siapa lawan, mereka hanya harus mengalahkan lawan dan mendapatkan kemenangan.


Salah seorang perwakilan kelas Tiga Tingkat A merupakan seorang laki-laki juga berumur 17 tahun yang memiliki kekuatan teleportasi dan bisa membuat lawan terpental hanya dengan gerakan jari saja. Kekuatan mengagumkan dari lawannya juga bukan main yang mana bisa mengeluarkan hewan dari kekuatan nyaris sama kekuatannya dengan Tetua Haki.


Perwakilan kelas Tiga Tingkat A itu menerjang lawan tanpa kekuatan secuil pun. Ketika nyaris mendapatkan lawan, dia berteleportasi dan muncul di atas kepala lawan dengan sebuah kekuatannya yang berkumpul pada tangan dan langsung dilesatkan begitu lawan belum menyadari. Tidak sampai di sana, dia bahkan menggunakan jari-jarinya untuk membuat lawan berkali-kali menghantam arena pertandingan dengan keras.


Karena perwakilan kelas Tiga Tinggi telah banyak mengeluarkan kekuatan, serta telah berusaha sekeras tenaga namun lawan kali ini tidak memberinya celah melawan balik. Sekarang alur pertandingan berbanding balik. Seolah perwakilan kelas Tiga Tinggi dibiarkan menang diawal dan pada akhirnya harus mendapat serangan tak terduga di akhir.

__ADS_1


Amdara yang melihat pertandingan berdecak kagum. Dia tidak mengalihkan perhatian, dan terus belajar seni peserta yang tengah bertarung. Dari segi tekhnik serta kekuatan, Amdara kalah telak.


Sebuah cahaya hitam yang amat tipis terlihat di bawah kaki peserta perwakilan kelas Tiga Tingkat A dan perlahan merambat ke seluruh tubuh. Seketika aura tidak asing dapat dirasakan Amdara. Dia menyipitkan mata pada peserta tersebut.


Cahaya yang dilihat Amdara tidak diketahui oleh siapa pun bahkan para Tetua sendiri yang menikmati pertandingan sambil terus memuji karena murid-murid Akademi Magic Awan Langit memang sangatlah berbakat. Inay sendiri juga tidak dapat melihat serta merasakan apa yang dirasakan Amdara saat ini.


Padahal seharusnya murid didikan langsung dari Organisasi Elang Putih yang notabenenya sering menjumpai serta mendapat kekuatan untuk merasakan hawa keberadaan dan memahami ciri-ciri Roh Hitam dan Iblis lebih peka. Seperti Amdara saat ini yang semakin mengepalkan tangan ketika dia merasakan ada aura Roh Hitam yang tipis berada di tubuh perwakilan kelas Tiga Tingkat A tersebut.


Awalnya Amdara memang tidak menyadarinya, tetapi semakin lama pertandingan nampaknya Roh Hitam tersebut mulai kehilangan kendali atas kekuatannya yang seharusnya tidak memperlihatkan kekuatan Roh Hitam. Entah itu benar-benar Roh Hitam yang menyamar, atau Roh Hitam tersebut yang mengambil kendali atas tubuh manusia. Amdara belum bisa memastikan sekarang.


Pantas saja pertandingan berbalik alur begitu cepat. Walaupun perwakilan kelas Tiga Tinggi belum juga menyerah dan berusaha menyerang, tapi Amdara yakin dia akan kalah. Mengalahkan Roh Hitam bukanlah perkara mudah, harus menggunakan jurus khusus untuk melenyapkan apabila menggunakan jurus biasa, pastinya akan merepotkan dan lama.


"Apa hanya satu?" Amdara segera mengedarkan pandangan dan menajamkan penglihatan untuk mencari Roh Hitam lain.


Namun, yang dia rasakan saat ini hanya ada satu. Dan itu kini telah memenangkan pertandingan dengan lawan yang babak belur. Amdara tidak bisa langsung menyerang, yang ada semua orang tidak ada yang akan percaya. Dia juga tidak bisa mendadak menghampiri dan mengajak Roh Hitam tersebut ke suatu tempat dan lalu menyerang, akan ada kecurigaan dan bisa saja Roh Hitam itu malah menyandara salah satu murid atau melarikan diri. Jika dilihat dari segi kekuatan, Amdara memang kalah. Namun, Amdara memiliki jurus khusus melenyapkan Roh Hitam.

__ADS_1


"Mn, sudah lama tidak bertindak." Amdara mengulas senyum tipis ke arah Roh Hitam yang sekarang sedang berkumpul dengan teman-temannya.


Amdara berharap besok bisa berhadapan dengan perwakilan kelas Tiga Tingkat A ini.


__ADS_2